Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kemelut IV


__ADS_3

Wirayudha mengembangkan tangannya, di lanjutkan dengan gerakan yang sangat cepat memutari tubuh Raden Gilang Seta, putaran tubuhnya menimbulkan angin topan yang kencang membuat pakaian Raden Gilang Seta berkibar-kibar terkena tenaga putaran angin tersebut. Di Saat tubuhnya memperkokoh kuda-kuda kaki, punggung Raden Gilang Seta terkena tendangan yang cukup keras..."Hiaaath...Desssh!"...hampir saja tubuhnya tersungkur ke depan andai kuda-kuda itu tidak kokoh.


"Hmmm....gila! kemampuannya tidak seperti yang kuduga, aku tidak bisa bermain-main dengan anak ini." Kaki Kanan Raden Gilang Seta membentuk Sigondewa di lanjutkan tendangan kaki kiri yang meluncur cepat seperti anak panah menuju Wirayudha yang sedang berputar.


"Hiaaath....plash...plash" tendangan tersebut mengenai angin, Tubuh Wirayudha berjumpalitan ke udara, saat tubuhnya mendarat ke tanah dari samping kiri dan kanannya muncul sosok Tujuh bayangan yang langsung menyerang Raden Gilang Seta.


"Wush...wush...blarh...blarh" pukulan-pukulan dari Tujuh sosok Wirayudha yang di sertai tenaga dalam tinggi membuat tekanan-tekanan, mendesak Raden Gilang Seta yang berusaha berkelit menghindar.


Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Sebagai seorang Panglima Muda ia merasa memiliki pengalaman bertempur yang banyak, tetapi baru kali ini Raden Gilang Seta menghadapi seseorang yang mempunyai kemampuan yang hebat, tidak sebanding dengan usia yang di miliki Wirayudha.

__ADS_1


Ia pun merapal Ajian Gelap Ngampar miliknya, kedua tangannya berputar di depan dada mengumpulkan tenaga dalam, dan mendorong sambil meloncat ke arah Wirayudha, untuk menambah daya gedor Ajian Gelap Ngampar, Raden Gilang Seta berteriak "Hiaaath....Gelap Ngamparrr....Wuuush.....Dhuaaarh!!... pukulan itu dengan telak mengenai tubuh Wirayudha yang sepertinya sengaja menghadang pukulan tersebut.


Awan gelap mengiringi Ajian Gelap Ngampar, hitam membumbung di udara, angin hitam tebal berputar membuat tubuh Wirayudha tidak terlihat.


Perasaan Raden Gilang Seta merasa was-was dan menyesal, karena ia terpancing mempergunakan salah satu Ajian andalannya, kesadarannya muncul karena merasa berlebihan dalam bertindak.


Perlahan-lahan udara yang gelap dan berdebu mulai hilang, memperlihatkan tubuh Wirayudha yang berdiri tegak dengan senyuman. Kemudian senyuman itu mulai hilang tergantikan wajah bengis, "Kraaaagkh.....pekikan Naga langit terdengar dari mulutnya, membuat sekelilingnya bergetar hebat, dan membuat tubuh Raden Gilang Seta terdorong Tiga tombak ke belakang menahan kekuatan pekikan Naga langit milik Wirayudha.


Raden Gilang Seta menarap pria yang berdiri di depannya dengan penuh selidik dan bertanya. "Akkh...aku sepertinya tidak asing dengan wajah ini". Sesaat dia diam terpaku sambil mengingat sosok pria yang berdiri depannya.

__ADS_1


"Anakku, mohon maaf dan berterima kasihlah kepada Panglima Muda Gilang Seta, kau telah bersikap tidak sopan terhadapnya, andai ia serius menghadapimu, tidak mungkin kau masih bisa berdiri!", Wirayudha dengan kepatuhan menjawab perintah ayahnya "baik Romo!", kemudian ia menjura di depan Raden Gilang Seta, "Ampuni aku Gusti Panglima!, aku bersalah dan siap menerima hukuman!"


"Mohon maaf pendekar, apakah engkau Senopati Wiratama?" Raden Gilang Seta beranjak mendekati Wiratama. "Jika nama, memang nama hamba belum terganti Gusti!, hanya saja Syimbol Senopati sudah tidak melekat kepadaku."


"Aaakh..ternyata benar dugaanku, Senopati Wiratama Ksatria pilih tanding! engkau tetap menjadi tauladanku hingga saat ini!". Raden Gilang Seta menjura dalam-dalam memberikan penghormatan terhadap Wiratama.


Di saat melihat orang lain begitu sangat menghormati ayahnya, Wirayudha terlihat tersenyum bangga, sekaligus bersedih. Betapa ayahnya begitu sangat di hormati, tetapi rela berakhir dengan kenestapaan.


Wiratama memandang Raden Gilang Seta, "Jangan berlebihan seperti itu Gusti, kami sekarang hanya pengelana-pengelana yang tersesat di bumi Mataram. Raden Gilang Seta memeluk Wiratama, "Kau pun jangan berlebihan menghormatiku, pengabdianmu terhadap Mataram dan kemampuanku jauuuh di bandingkan dirimu Kangmas Wiratama! buanglah panggilan Gusti kepadaku, itu hanya akan membuatku malu kepadamu!"

__ADS_1


Akhirnya mereka di ajak masuk ke dalam oleh Ki Wisesa menghadap Gusti Panglima Utama Mandala Putra.


Sedangkan Nyai Gendis, bergabung dengan Nini Sangga Geni dan Wirayudha. Sebelum mereka beranjak pergi, Ki Sampang menyusul dan menggandeng Wirayudha yang sudah dia anggap keponakan sendiri, "He...he..he..Cah Bagus, kenapa kau tadi tidak mencoba Ajian Macan Lodaya yang ku ajarkan kepadamu?", Wirayudha mengerenyitkan keningnya, "Kapan-kapan aku akan mencobanya Ki."


__ADS_2