
Tubuh Wiratama meluncur deras ke bawah, Lembah Nirbaya yang gelap bersiap menelannya.
Tetapi sebelum tubuh itu hancur tercerai berai, selarik kain putih meluncur dari rongga lembah, melilit dan menariknya ke dalam ruang batu di dinding lembah.
"Bugh...bugh...tubuh Wiratama tergelincir ke dalam kolam kecil yang berisi air. Tidak lama kemudian air kolam menjadi berwarna merah darah.
Terdengar gumaman seseorang dari atas batu yang sedang duduk bersila menatap air kolam...kemudian tubuhnya melayang di atas air kolam dan menyambar Wiratama. "Gusti Yang Agung, siapa insan yang sedang bergelut dengan Malakut maut ini?" tubuh Wiratama di baringkan di atas batu yang lebar.
"Cahaya kehidupannya masih di kandung badan, semoga aku masih bisa menolongnya." "Srakkh...Srakkh, baju Wiratama yang berlumuran darah di robeknya, kemudian dengan cepat ia menotok jalan darah sekitar luka.
Rapalan Do'a kemudian mengumandang terdengar lirih, tangannya mengusap sekitar luka Wiratama. Asap putih keluar dari telapak tangannya dan menyelimuti tubuh Wiratama yang masih terbujur kaku.
Tiba-tiba dari pintu rongga goa terdengar suara geraman.."Grrrh....Auumh...Perlahan suara itu di ikuti dengan munculnya Tujuh Harimau yang mendekat.
Tubuh tua yang sedang berusaha menolong Wiratama berpaling ke arah pintu Goa, tidak ada nampak rasa ketakutan dan ke khawatiran di wajahnya "Haiiss...ternyata engkau Ksatria-ksatria Padjajaran! kenapa harus menampakan wajah bengis kalian kepadaku? tubuh ini sudah renta, lututku tidak kuat jika harus gemetar menahan takut!"
Perlahan-lahan dari tubuh Tujuh Harimau itu keluar asap, membumbung sampai dua tombak ke atas, asap putih menggumpal, semakin lama membentuk tubuh-tubuh manusia.
Wujud lodaya kini berubah menjadi wujud manusia yang tegap dan gagah. Tubuh mereka di lapisi baju perang yang mengkilat ke emasan terkena cahaya dari pantulan celah goa.
__ADS_1
Seseorang yang terlihat paling kuat kemudian maju ke depan memberikan penghormatan, "Maafkan kami Kyai! kami hanya sekedar ingin memastikan keselamatannya!" tangannya sambil menunjuk tubuh Wiratama.
"Percayakanlah kepadaku, aku akan berusaha untuk menyembuhkannya!"
"Kami percaya sepenuhnya kepadamu Kyai! kau adalah orang tua yang waskita, baru kali ini kami menunjukan wujud sebagai manusia, sebagai bentuk penghormatan kepadamu!"
"He..He..He..Aku yang renta adalah Ki Gede Baruna, terimakasih...sanjungan dari Ksatria-ksatria Padjajaran adalah anugerah buat tubuh renta ini.
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepadamu Kyai! mohon izinkan kami untuk andil dalam menyelamatkannya!"
Ki Gede Baruna, adalah sosok sepuh yang waskita, arif dan bijaksana. Dengan ilmu yang linuwih, weruh sa durunge winarah, tetapi bijak dalam mempergunakan ke waskitaannya. Ia pun mengizinkan ke tujuh Ksatria dari Padjajaran untuk andil mengobati Wiratama.
Ki Gede Baruna kembali memandangi tubuh Wiratama "Ngger...entah aku harus menyarankan apa kepadamu nanti, hidupmu penuh dengan kenestapaan, beruntung kau mempunyai ketabahan yang tinggi.
Tiga hari, tiga malam...Ki Gede Baruna mengobati tanpa kenal lelah, Di pagi hari saat hari ke empat, akhirnya Wiratama siuman.
Wiratama telah siuman, matanya nanar memandang ke dinding goa, kemudian mata itu berubah sayu beralih menatap Ki Gede Baruna, "Terimakasih Ki...pastinya engkau yang menyelamatkanku!"
"Ngger...aku tidak membutuhkan ucapan terimakasihmu, aku menginginkan kau mempunyai semangat yang tinggi untuk melangsungkan kehidupanmu, tatapan matamu menampakan keputus asaan..suatu dosa dan kesalahan jika kau merasa putus asa...Hidup adalah ujian, kewajiban kita sebagai manusia menjalaninya!"
__ADS_1
Mata Wiratama terpejam, kata-kata dari Ki Gede Baruna sederhana dan sering ia dengarkan dari orang lain, tetapi entah kenapa saat keluar dari mulut Ki Gede Baruna, kata-kata itu seperti air yang menyejukan hatinya.
"Beristirahatlah dulu! besok pagi adalah hari yang melelahkan bagimu, aku tidak senang dengan laki-laki yang kuat dan perkasa tetapi jiwanya lemah sepertimu!"
"Saudara-saudaramu kemarin telah hadir di sini, mengharapkan kesembuhanmu, jangan kecewakan orang-orang yang mengasihimu!"
"Dan aku Ki Gede Baruna, merasa berjodoh denganmu, sekian lama menyepikan diri, ternyata tanpa sengaja kau hadir menemuiku!"
Kemudian Ki Gede Baruna pergi meninggalkan Wiratama seorang diri.
"Hsss...aku harus sembuh! setidaknya kesembuhanku dapat bermanfaat untuk orang banyak, Wiratama kemudian memulai duduk bersila dan menata kembali jalan nafas serta peredaran darahnya.
Terdengar suara Ki Gede Baruna di sekeliling goa, memantul dan menimbulkan gema "Ngger...bersemedilah di air kolam itu, airnya berkhasiat menyembuhkan lukamu dengan cepat!"
Wiratama meraba dada yang sempat tertusuk pedang, luka itu telah rapat tetapi masih membekas, ia tidak tahu siapa yang menyembuhkan, Ki Gede Baruna atau Lodaya yang sempat menengoknya, karena dalam keadaan setengah sadar, Wiratamapun merasakan kehadiran Lodaya. Perlahan dia berjalan ke arah kolam, kemudian merendamkan dirinya sebatas dada.
Air kolam beriak terlihat mendidih saat Wiratama masuk, hawa dingin dan panas silih berganti memasuki tubuhnya..."Asssh...air apa ini? rasa dingin dan panasnya merasuk sampai tulang-tulang."
Wiratama bertekad untuk tidak bangun dan meninggalkan kolam itu, sampai Ki Gede Baruna sendiri menghentikannya.
__ADS_1