Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pelarian


__ADS_3

Nini Sangga geni berlari menuruni lereng Merapi, dadanya terasa sesak, nafasnya tersengal-sengal, terpaksa ia berhenti untuk beristirahat, dengan sisa tenaga yang ada, ia menaiki pohon dan beristirahat di atas.


Matahari mulai muncul dari celah perbukitan yang memagari Gunung Merapi, pagi telah tiba, cahaya mentari mulai menerangi sekeliling Merapi, burung-burung bersahutan menyambut pagi, tetapi keindahan alam itu ternoda oleh pemandangan di padepokan lereng Merapi milik Eyang Padasukma, mayat-mayat berserakan, sebagian gosong terbakar dan sebagian di hiasi darah-darah akibat luka.


"Rangkayu, hampir Delapan puluh prajurit kita yang terbunuh, hanya untuk membunuh Padasukma seorang diri, ini bukan pencapaian yang baik buat kita!" suara Arya Permana terdengar pelan, tetapi terdengar dengan jelas di telinga Rangkayu dan dua puluh pendekar yang tergabung melakukan penyerangan.

__ADS_1


"Bawa seluruh prajurit kita kembali!", bawa sekalian tubuh tidak berguna itu, serahkan kepada Ki Sampang untuk mengobatinya!" telunjuk Arya Permana mengarah ke tubuh Ki Danang Seta yang sebagian telah terbakar tetapi masih hidup. "Baik raden!" Rangkayu membawa tubuh Ki Danang Seta di pundaknya dan segera ia memerintahkan seluruh prajurit turun gunung untuk kembali ke Kotaraja.


"Ki Wanara, kau pancang kepala Padasukma di depan puing-puing padepokannya, agar suatu saat jika ada yang mengunjunginya tahu, akhir bagi seorang pemberontak akan seperti diaa!" Ki Wanara bergegas melakukan perintah Arya Permana.


Akhirnya seluruh prajurit meninggalkan lereng merapi, melewati jalan-jalan setapak yang bisa terlihat oleh Nini Sangga geni yang sedang bersembunyi di salah satu pohon.

__ADS_1


Saat pandangannya melihat puing-puing disana terasa hatinya seperti tertusuk pedang yang sangat tajam, mengiris memberikan luka yang dalam, ia berteriak keras saat melihat kepala Eyang Padasukma yang terpancang dengan tombak di depan puing-puing tersebut "Kakaaang....huu...hu..hu.., kepala itu di dekapnya sambil menangis meraung-raung, akhirnya tubuh Nini Sangga geni roboh tidak sadarkan diri.


Gelap dan gulita saat Nini Sangga geni tersadarkan kembali, dalam kegelapan malam akhirnya mayat Eyang Padasukma di kuburnya, "Kakang, baru saja aku merasakan kebahagiaan berada di sampingmu, kau kini meninggalkan diriku", tenanglah kau di alam sana Kakang!, aku akan membalas semuanya!"


"Hmm....terpaksa aku harus mempelajari ilmu ini, tidak ada jalan lain untuk membalas perbuatan mereka, tangannya meraba sebuah Kitab di balik bajunya, kitab itu berisi pengetahuan bagaimana mengendalikan Ular-ular yang berada di sekitarnya, tetapi salah satu syarat untuk mempelajari ilmu itu, bagi seorang perempuan harus merelakan salah satu tangannya terpotong, untuk menghentikan jalur racun yang akan membalik lewat pembuluh darah, tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapinya Nini sangga geni memasukan serbuk bunga Abadi dari puncak Gunung Ciremai ke dalam tubuhnya, lewat urat nadi yang terbuka, yang sebelumnya sudah dia sayat terlebih dahulu, ada suatu keanehan saat sayatan itu di baluri serbuk tersebut, darah yang mengalir keluar seperti berbalik menghisap serbuk bunga Abadi dan mengalirkan ke seluruh pembuluh darah, Nini Sangga Geni menggumamkan sebuah mantera di dalam hatinya agar bisa bersatu dengan kehidupan ular-ular liar, terlihat tubuhnya di selimuti cahaya merah, "Aaakh.....arrrkh....terdengar teriakan kesakitan dari mulut Nini Sangga geni, tubuhnya terasa terbakar, dari kepala sampai ujung kaki, dadanya serasa akan meledak, aliran-aliran darah terasa mengalir menuju tangan dan kaki, saat aliran darah itu terasa mengalir ke arah tangan kiri, dengan nekad Nini Sangga geni mengambil pedang dan menebas tangannya sendiri. keluar darah hitam dari bahunya yang kini tak memiliki lengan lagi, Nini Sangga geni kembali roboh dan tidak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


Tubuh Nini Sangga geni yang tergeletak di tanah, mengeluarkan suatu aroma yang wangi menusuk, aroma itu mengundang beberapa ular yang berada di sekitarnya berkumpul dan mengelilingi Nini Sangga geni, bahu yang masih meneteskan darah itu sedikit demi sedikit mengering, beberapa ekor ular membelit bahu itu sehingga aliran darahpun berhenti menetes.


__ADS_2