Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Berharap Kembali


__ADS_3

Wiratama dan Tubagus Wiraguna akhirnya berpisah, Tubagus Wiraguna kembali menuju kediaman Arya Permana, sedangkan Wiratama menemui Ki Wisesa.


Setelah sampai di Padepokan Ki Wisesa, Wiratama sempat menginap dan saling tukar informasi mengenai situasi di Kotaraja, akhirnya mereka berdua menuju kediaman Panglima Mandala Putra. Ternyata mereka berdua menghadap dengan melalui beberapa telik sandi yang langsung berhubungan dengan Panglima Mandala Putra, melalui jalur khusus yang selama ini di pakai oleh pasukan bayangan. Setelah mengantar Wiratama, Ki Wisesa kembali ke pedepokannya.


"Wiratama, terimakasih kau memenuhi undanganku, tempat ini adalah tempat khusus aku menerima tamu-tamu yang ku anggap sangat penting", "Hamba yang seharusnya berterimakasih Gusti, Gusti Panglima berkenan menghendaki hamba untuk berkunjung", Wiratama menjura memberikan hormat kepada Panglima Mandala Putra. "Ha...ha...ha, kau sekarang bukan bawahanku Wiratama, tak perlu memakai adat istiadat prajurit, aku mengundangmu secara pribadi, bukan sebagai Panglima Utama".

__ADS_1


"Wira, apakah kau sudah mendapatkan kabar tentang istri dan anakmu?", Wiratama menjawab dengan wajah yang sendu, "sudah Gusti, aku sudah bertemu dengan putraku ia baik-baik saja, tetapi tidak dengan istriku", "apa yang terjadi dengan istrimu, Wira?" Panglima Mandala Putra melihat perubahan wajah Wiratama. kemudian Wiratama menceritakan tentang istrinya yang terbunuh, ia hanya menjelaskan pembunuhan itu di lakukan oleh Pangeran Adiraja, tidak menceritakan bagaimana istrinya sampai terbunuh.


Panglima Mandala Putra menepuk-nepuk bahu Wiratama "bersabarlah, semua ketidak adilan ini mudah-mudahan akan segera berakhir", Wiratama menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, wajahnya yang terlihat sedih, kembali seperti semula.


"Wira, sebenarnya aku ingin memohon bantuanmu!, tetapi rasanya lidahku kelu untuk mengatakannya kepadamu", "Apa yang bisa hamba lakukan Gusti, selama itu masih sesuai dengan kemampuanku, hamba akan melaksanakannya", "Benarkah kau bersedia Wira?" Panglima Mandala Putra menatap Wiratama untuk melihat kesungguhan hatinya. "Hamba bersedia Gusti!" dengan tegas Wiratama menjawabnya.

__ADS_1


"Yang mempunyai pemikiran sepertimu bisa di hitung dengan jari 'Wira !", tapi tidak mengapa, itu adalah hakmu".


"Wiratama, kau membuatku malu untuk meminta bantuanmu, kau yang mempunyai pemikiran yang begitu mendalam tentang arti pengabdian tidak pantas di ajak berbicara dengan masalah - masalah yang kecil, karena terus terang permintaan bantuanku adalah masalah pribadiku".


"Mohon Gusti tidak menilaiku terlalu tinggi, katakan saja apa yang harus hamba lakukan untuk kepentingan pribadi Gusti?" hamba akan mencoba melaksanakannya.

__ADS_1


"Wira, aku mempunyai janji dengan Putriku, akan membawamu kembali kepadanya", aku tahu saat ini sepertinya tidak tepat mengatakannya kepadamu, tapi aku yakin, pemikiranmu tidak akan picik untuk menilaiku, aku terpaksa mengatakannya, Panglima Mandala Putra kemudian berdiri membelakangi Wiratama dan melanjutkan pembicaraannya, "aku adalah seorang ayah, yang menghendaki putrinya mendapat kebahagiaan, selama ini aku sudah mencoba memberikan segalanya, tetapi ternyata kebahagiaannya saat ia berada di sisimu!". "Kau tahu Wira? aku mengatakan kata-kata ini kepadamupun, dengan menggadaikan rasa malu dan harga diriku".


__ADS_2