
Somantara berlutut di samping pembaringan Pangeran Adiraja, "Ampun Gusti, ada kabar buruk yang harus hamba sampaikan kepadamu!", Pangeran Adiraja berusaha untuk duduk sambil menahan rasa sakit yang masih bersarang di kedua kakinya, "bangkitlah Somantara!" apa yang ingin kau sampaikan?" Somantara duduk bersila sambil menundukan kepalanya, keraguan menggelayuti hatinya, apa yang pertama kali harus dia ucapkan "Mmmh...mengenai Gusti Muda Arya permana, gusti!" ceritakanlah Somantara!, tak perlu kau ragu!" Pangeran Adiraja menggeser duduknya.
"Ketiwasan Gusti, Gusti muda Arya Permana sekarang sedang di rawat di ruang pengobatan tabib istana", seluruh pasukan yang di bawa, semuanyan tewas di serang pasukan tidak di kenal, hamba tadinya bermaksud membawanya pulang kesini, tapi oleh Panglima Utama, Gusti muda harus melakukan perawatan di bawah pengawasan beliau, dengan kata lain, selain melakukan perawatan, Gusti muda di kenakan status sebagai tawanan, dan setelah sehat kembali akan di lakukan penyelidikan oleh Panglima utama". Pangeran Adiraja bersandar di tiang pembatas tempat tidurnya, sambil menghembuskan nafas lewat mulutnya, "Aah....apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi Somantara, apa yang harus aku lakukan?" keduanya berdiam diri dengan pemikiran masing'masing. Suasana begitu hening.
__ADS_1
Sementara itu, Wiratama begitu cerdas, setelah penyerangan yang dia lakukan, seluruh pasukan Badai dan pasukan Topan gunung seluruhnya di tarik kembali menuju Alas Roban melalui jalur laut, menuju Tanjung Emas, walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama dan di lanjutkan berjalan menuju Alas Roban. yang ia sisakan untuk bersiaga di kotaraja hanya para telik sandi, untuk menjadi mata dan telinga mereka, untuk melaporkan situasi tentang Kotaraja.
Memang Wiratama sedari dulu saat menjadi Senopati, ia adalah sosok Perwira yang sangat pintar dalam menyusun strategi. teliti dalam menganalisa sesuatu, hanya saja kelemahan Wiratama, tidak pernah waspada terhadap orang - orang terdekat. tak pernah berpikir tentang kemelut politik apalagi tentang perebutan jabatan, isi di kepalanya hanya pengabdian dalam tugas saja.
__ADS_1
Di pendopo kediaman Alas Roban, Wiratama sedang berbincang dengan Ki Pandawa dan Ki Seno Keling, "Ki Pandawa sementara pasukan kita, jangan membuat gerakan apapun, isi dengan kegiatan berlatih dulu, aku rasa cukup pertempuran kemarin sebagai pengalaman pertama mereka, kita lihat dulu bagaimana pengaruh penyerangan pasukan kita terhadap Istana, karena dari awal aku tak berkehendak untuk menjadi pemberontak terhadap pihak kerajaan Mataram", aku hanya membenci para bangsawan yang mempunyai jiwa-jiwa budak nafsu, yang tanpa malu memperebutkan jabatan, padahal mereka tidak mempunyai kemampuan, mereka hanya mengandalkan kebangsawanan mereka, "Baik raden" Ki Pandawa menjawab dengan singkat.
"Raden, tujuan jangka panjang apa lagi yang menjadi rencana kita ini?" akhirnya Ki Seno Keling mengajukan pertanyaan. "untuk saat ini selain menghindari bentrokan-bentrokan dengan Pasukan Mataram, kita bantu usaha romo untuk mengembangkan usaha-usahanya, baik usaha pengantaran barang ataupun penjualan rempah-rempah Ki". "Kita berusaha bersaing dengan usaha keluarga Pangeran Adiraja di luar sana, tolong kau usahakan Ki, kita memenangkan persaingan tersebut, aku benar-benar menginginkan keluarga Pangeran Adiraja jatuh, baik sebagai bangsawan istana ataupun sebagai pengusaha.
__ADS_1
"Akupun ingin telik sandi kita mulai mengumpulkan informasi mengenai putra pangeran Adiraja yang lain, yaitu Panglima Muda wilayah timur Anggoro Pati".