
Malam semakin larut, cuacapun begitu dingin, membuat banyak warga penduduk semakin terlelap dalam tidurnya. Pengaruh cuaca dingin itu pun menghinggapi para warga yang sedang melakukan patroli di wilayah masing-masing, mereka akhirnya melonggarkan pengawasan dengan beristirahat di pos jaga.
Rangkayu tidak bisa memaksa yang lain untuk selalu waspada, karena ia pun memaklumi, warga penduduk sekitar Desa Pendem bukan dari golongan prajurit atau pendekar yang terbiasa berjaga berhari-hari. Akhirnya Rangkayu berkeliling seorang diri di sekitar rumah-rumah warga.
Saat dini hari tiba, Rangkayu sekilas melihat bayangan manusia yang bergerak cepat ke arah timur, terlihat bayangan itu baru saja keluar dari salah satu rumah penduduk, kemudian ia pun mengejarnya.
Rangkayu berlari dengan cepat, berusaha menyusul bayangan manusia tersebut, "heii berhenti!" terdengar suara teriakan keras Rangkayu, tetapi bayangan itu tidak terpengaruh oleh teriakan Rangkayu, ia terus berlari semakin cepat.
__ADS_1
Saat Rangkayu semakin dekat, ia melakukan loncatan panjang dan berusaha memukul punggung bayangan itu "Hiaaath.....desh..."argkh....pukulan Rangkayu dengan telak mengenai punggungnya, membuatnya jatuh tersungkur. Rangkayu pun akan melanjutkan serangan yang lain.."tunggu Rangkayu! ini akuu!" saat melihat sosok orang tersebut memanggil nama aslinya, Rangkayu menghentikan serangannya, betapa kagetnya Rangkayu ketika melihat orang yang terjatuh itu adalah sosok yang sangat di kenalinya, "kau kah itu raden?" kemudian ia pun cepat-cepat membantu untuk berdiri, "kau hampir saja membunuhku Rangkayu!", "Maaf raden aku tidak mengetahui kalau itu adalah engkau, lagi pula apa yang hendak kau lakukan dini hari begini masuk ke dalam rumah penduduk?"
Kemudian mereka berjalan berdua dan duduk di tegalan sawah, "aku telah mencarimu berhari-hari di sekitar Gunung Kemukus, tetapi aku tak menemukan jejakmu sedikitpun 'raden!"
"Aku tersesat Rangkayu, sampai aku pun harus tinggal di desa sebelah Desa Pendem." 'Raden apakah kita akan ke Kotaraja kembali?", "Aku belum tahu Rangkayu, bagaimanakah menurutmu?"
Ketika ke duanya diam, terdengar suara kentongan bertalu-talu dari arah desa, Rangkayu bergegas berdiri, "raden, ayo ikut aku! ada tanda bahaya dari arah Desa Pendem!", "Maaf Rangkayu, aku tidak bisa ikut denganmu saat ini, aku akan menunggumu saja di sini". Suara kentongan tanda bahaya itu terus berbunyi membuat Rangkayu cemas, "kau tunggulah dulu di sini raden! aku harus mengetahui bahaya apa yang sedang melanda warga Desa Pendem", kemudian Rangkayu berlari meninggalkan Arya Permana menuju ke dalam desa.
__ADS_1
"Tong...tong...tong"...bunyi bertalu-talu dari suara kentongan membuat sebagian warga Desa Pendem yang laki-laki keluar rumah dengan membawa senjata masing-masing, saat Rangkayu tiba, mereka sedang mengelilingi seorang mayat yang terbujur kaku, mayat itu kering dan menghitam, sama dengan kondisi mayat yang terdahulu.
Salah satu pemuda yang tadi berpatroli mendekati Rangkayu, "Kakang Sumantri, malam ini ada jatuh korban lagi, Kang Warso yang kemarin malam berpatroli bersama kita, telah menjadi korban!" Rangkayu berdiri tertegun, pikirannya melayang dengan kejadian tadi, bukankah dia melihat Arya Permana keluar dari rumah Warso yang sempat di kejarnya, apakah Arya Permana ada sangkut pautnya dengan kematian Warso?
"Aku harus menanyakan hal ini kepada Raden Arya Permana, apakah selama ini dia yang melakukan pembunuhan kepada penduduk Desa Pendem? kalau memang dia, apa yang menjadi penyebabnya?, aku harus menanyakan hal ini kepadanya".
Hari itu penduduk Desa Pendem kembali berduka, Ki Lurah memimpin penguburan jenazah Warso, setelah penguburan selesai Rangkayu meminta izin kepada Ki Lurah untuk melakukan penyelidikan seorang diri.
__ADS_1