Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Perintah Arya Permana II


__ADS_3

Pendekar-pendekar yang selama ini mengawal Arya Permana terbiasa dengan peristiwa pembunuhan, tetapi tidak dengan pemandangan yang terpampang seperti saat ini di depan mereka, seseorang yang melukai dirinya sendiri, dan bisa mengambil jantungnya, seperti yang di tunjukan Aswangga.


Keberanian mereka menjadi luntur, dengan peristiwa yang mengerikan tersebut. tetapi bagi Arya Permana, ini adalah merupakan suatu keuntungan jika Aswangga mau bergabung di pihaknya.


Arya Permana yang tadi berdiri menjauh kini mendekati Aswangga, "Pak tua!, kau ternyata seorang yang maha sakti!" aku buta, tidak melihat tingginya puncak Merapi di depanku!"


Lihai mengolah kata menjadi kelebihan Arya Permana dari yang lainnya, sanjungannya langsung mengena di hati Aswangga, "He...he..he..raden, aku ucapkan terimakasih, kau bisa menghargai kemampuanku!", apa yang bisa aku lakukan untukmu?" dan apa yang bisa kau berikan kepada orang yang mempunyai kepandaian sepertiku?", Arya Permana tersenyum puas "kau ku angkat menjadi pengawal pribadiku!, semua apa yang engkau butuhkan akan aku penuhi!"

__ADS_1


"Baik raden, aku terima, aku akan melaksanakan segala perintahmu!" mulai hari itu Aswangga selalu mendampingi kemanapun Arya Permana pergi.


Kembali kepada perjalanan Wiratama, ia melanjutkan perjalanan ke Parangtritis, guna menyiapkan segala sesuatunya untuk melaksanakan rencana yang telah di susun oleh Panglima Mandala Putra, tetapi sebelumnya Wiratama menemui Nini Sangga geni di lereng Merapi. ternyata Nini Sangga geni pun ingin turut serta ke Parangtritis, menjenguk Wirayudha yang dia rindukan.


Sesampai di Parangtritis, Wiratama menjelaskan rencana yang telah di susun oleh Panglima Mandala Putra kepada Ki Bondan, Ki Sawung Galih, Ki Pandawa dan Ki Seno Keling, bahwasannya Panglima Muda Arya Permana akan di kirim untuk menumpas pemberontakan di daerah Kertosono, dan di sanalah Pasukan Bayangan di perintahkan untuk membunuh Arya Permana.


Di luar rencana Panglima Mandala Putra, Wiratama mempunyai rencana cadangan tersendiri, dia menyiapkan seluruh Pasukan pilihan, baik Pasukan Badai, Topan dan Guntur untuk bersiaga, menjadi pelapis dari Pasukan Bayangan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Nini Sangga geni keluar dari tempat pertemuan Ki Bondan beserta yang lain. "Hayoo Wira! aku sudah meminta izin kepada romo dan eyangmu untuk mengajakmu berjalan-jalan ke tepi pantai", terlihat senyum ceria di wajah Wirayudha, "kita berangkat sekarang Nini!", keduanya pun berlari keluar melewati jembatan gantung yang terbuat dari bambu-bambu.


Bukit Gupit, puncaknya sangat indah, dari sana kita dapat melihat keindahan-keindahan di bawahnya, Nini Sangga geni dan Wirayudha dengan cepat telah mencapai puncak Bukit Gupit, keduanya kemudian beristirahat sambil menikmati pemandangan yang terbentang di bawahnya.


Wirayudha mendekati Nini Sangga geni, tangannya mengusap lengan kiri yang kini telah cacat, "Nini, saat kau datang bersama romo, lenganmu sudah tidak ada, apa yang terjadi padamu 'Nini?" Nini Sangga geni mengusap kepala Wirayudha, "Hilangkan wajah sedihmu Wira!" aku baik - baik saja!" dengan tangan kananku pun aku nanti masih mampu menghadapi orang-orang yang akan mengganggu kita". "Sudahlah jangan kau tanyakan lagi dan membahas masalah tanganku!" Wirayudha mengangguk "Maafkan aku Nini!".


"Hei...Wira, apakah kau lupa!, kau mengajakku kesini ingin menunjukan sesuatu, ayoo tunjukan padaku sekarang!", Wirayudha tidak menjawab pertanyaan Nini Sangga geni, ia malah kemudian balik bertanya, "Nini, apakah kau ingat dengan Kitab "Candra Surya" yang kau pinjamkan padaku?" Nini Sangga geni tercengang dengan pertanyaan Wirayudha, "Wira, jangan katakan kepadaku kau mempelajari ilmu-ilmu yang membahayakan dari Kitab itu !" "Maaf Nini, aku tidak mematuhi nasihatmu untuk tidak mempelajari lembaran ke 7, 8 dan 9 Aku mempelajari ke tiga lembaran itu dan aku menguasai semuanya!".

__ADS_1


Nini Sangga geni melihat Wirayudha dengan pandangan penuh ketegangan, "Kau menguasai Aji "Naga Langit" 'Wira?", "Benar Nini, sebelumnya aku membaca di dalam kitab itu, bahwa untuk mempelajari Aji Naga Langit, aku harus meminum darah dari hewan "Naga langit dengan ekor yang bercabang dua" yang terdapat di laut, dan di campurkan dengan akar Pasak Bumi". Nini Sangga geni mendengarkan keterangan Wirayudha masih dalam ketegangan dan dengan pandangan tidak percaya.


Wirayudha bisa menangkap pandangan rasa ketidak percayaan dari gurunya, kemudian ia berdiri menjauh dan membuka bajunya, Nini Sangga geni mengejapkan kedua matanya saat melihat tubuh Wirayudha di penuhi sisik-sisik, mirip seperti sisik kulit ular, hanya saja sisik ular yang terdapat di tubuh Wirayudha lebih besar lingkaran-lingkarannya, "Kraaaaaaghhhh"!!!.....Wirayudha memekik keras, pekikan nya menggetarkan Bukit Gupit , daun-daunan dari pepohonan sekitarnya menjadi rontok, Sisik-sisik Ular yang berada di tubuhnya memancarkan cahaya biru, kemudian Wirayudha menoleh ke samping dan meludahi bongkahan batu di sebelahnya "Sruuuh......blaaarrrhhh...., batu itu meledak hancur, serpihan-serpihan batu bertebaran dan mengenai tubuhnya pula.


__ADS_2