
Setelah berhasil membujuk Putri Retno agar bisa memahami situasi yang sedang berkembang, Wiratama berangkat ke lereng Merapi menyambangi Pusara Eyang Padasukma.
Di depan pusara gurunya, Wiratama menunduk dan menangis pilu "Eyang, maafkan ke tidakmampuaanku untuk menjagamu!, kau adalah orang yang paling mengasihiku lebih dari yang lain!" Kemudian tangannya menggenggam batu kecil yang di ambil dari kuburan gurunya, "kreekkkh....tanpa sadar batu itu di remasnya menjadi abu, "tunggulah, aku akan menyelesaikannya eyang!'.
"Zzzzssh....zzzsssh!".....Wiratama terkejut dan segera berpaling karena mendengar desisan ular, di sekitarnya telah mengelilingi ratusan ular-ular cobra dengan kepala yang berdiri.
"Wiratama, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Nini Sangga geni telah berdiri di belakangnya, "Aakh...Nini, kau mengejutkanku, apa yang kau lakukan disini?" Nini Sangga geni duduk menjeplok di permukaan tanah samping Wiratama, "saat peristiwa itu terjadi, aku berada bersama Kakang Padasukma, kami di keroyok ratusan prajurit saat tengah malam, dan gurumu di bokong seseorang yang bernama Danang Seta". Kemudian Nini Sangga geni menceritakan secara rinci peristiwa penyerbuan yang di alami mereka.
__ADS_1
Wiratama memandang sosok Nini Sangga geni, banyak perubahan yang terjadi padanya, selain sekarang tanpa lengan kiri, kehadiran Nini Sangga geni selalu di ikuti oleh ular-ular yang berada siaga di belakangnya.
Nini Sangga geni menyadari sedang di perhatikan oleh Wiratama, kemudian dia membunyikan sesuatu dari mulutnya "Zzzssh...zzzsssh..., ratusan ular yang mengelilingi mereka perlahan mulai meninggalkan tempat itu dengan merayap di permukaan tanah bersamaan.
Pemandangan itu tak lepas dari sorot mata Wiratama, "Nini, apakah kau mengendalikan ular-ular itu?", "Benar Wiratama, aku telah menguasai Kitab "Sarpa Sahasra", aku terpaksa mempelajari kitab ini agar dapat membalaskan kematian Kakang Padasukma".
Wiratama mengetahui ilmu langka yang di kuasai Nini Sangga geni, karena ia pun lama tinggal di perkampungan Jalaksana yang berada di kaki Gunung Ciremai, dan sering mendengar cerita-cerita tentang penguasa Grojokan Sewu yang bisa menguasai ular.
__ADS_1
Di kediaman Arya Permana terdengar gelak tawa yang ramai, beberapa pengawal-pengawalnya sedang berpesta minum tuak, sedangkan Arya Permana sendiri sedang duduk di kelilingi oleh banyak wanita-wanita cantik yang berada di sampingnya, "Ha..ha..ha, sebentar lagi aku akan menguasai seluruh pasukan Mataram, dan aku tak akan melupakan jasa-jasa kalian semuanya!" senyuman mulai menebar di antara para pengawal-pengawalnya yang mulai membayangkan kedudukan yang akan mereka terima, setelah Arya Permana berhasil menyingkirkan Panglima Mandala Putra.
Di saat mereka sedang menikmati pesta yang sedang berlangsung, Rangkayu dengan terburu-buru menghadap Arya Permana "mohon maaf raden, aku mengganggu ketentramanmu!, ada informasi yang mendesak yang harus aku sampaikan kepadamu", Arya Permana mengangkat tangannya memberikan tanda kepada wanita-wanita yang mendampinginya menyingkir dan menjauh, "ada kabar apa Rangkayu?" Rangkayu menjelaskan dengan posisi berdiri, "maaf raden, beberapa telik sandi kita terbunuh!", sepertinya di antara orang-orang dekat kita ada yang membocorkan sandi rahasia yang beredar di kalangan telik sandi kita!".
"Kurang ajaaar!...cari dia dan bunuh Rangkayu, aku memberikan kewenangan penuh kepadamu untuk menuntaskan masalah ini!", "Baik raden, aku akan melaksanakan perintahmu!" Rangkayu memberikan hormat, membalikan badannya dan pergi.
Rangkayu pergi ke Aula tempat pelatihan, ia akan memulai penyelidikan dan berusaha untuk menangkap pengkhianat di antara mereka, disana ia melihat Ki Sampang yang sedang menyapu aula tempat latihan mereka.
__ADS_1
"Ki Sampang bagaimana keadaan Danang Seta? apakah kau masih merawatnya?", Ki Sampang menghentikan pekerjaannya dan menjawab "Ki Danang sudah mulai membaik, tetapi sepertinya dia belum mau bicara banyak, mungkin butuh satu pekan lagi untuk membuat dia pulih", Rangkayu kemudian berjalan berputar ke sekeliling aula tersebut, dalam hatinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di tempat itu, tetapi ia belum menemukan penyebabnya.
Sementara itu terjadi keributan di penjagaan samping, beberapa pengawal berteriak, karena disana mereka menemukan dua orang yang terikat, baik kaki dan tangan mereka dalam posisi tertelungkup di lantai. mereka di lemparkan seseorang yang kemudian dengan cepat melarikan diri tanpa dapat terkejar oleh para prajurit-prajurit penjaga.