
Hari penyeranganpun tiba, ketika semua orang dalam keadaan terlelap, Pasukan Badai sebagai Regu Pandu Tempur telah di turunkan dari atas Kapal, mereka berenang dengan gerakan senyap mendekati garis pantai.
Gerakan senyap mereka di lanjutkan dengan merayap di pasir pantai mendekati benteng-benteng pertahanan agar tiidak nampak oleh para penjaga yang sedang bersiaga di pos-pos penjagaan di atas benteng pertahanan.
"Hups...Hups...Dengan serentak mereka melompat melewati parit-parit dan langsung meloncat naik ke tiap-tiap pos penjagaan, "Crash...Crash...Hekkkh..Tubuh-tubuh penjaga itu jatuh terjungkal dengan leher hampir putus.
Wiratama, Wirayudha dan Ki Pandawa meloncat masuk ke dalam Benteng pertahanan, menyelinap dan membuka pintu benteng yang berada di bawah.
"Hiiath...Craash...Craash...Beberapa Pasukan Badai yang bertemu dengan para perompak yang melakukan patroli berakhir dengan bentrok dan perkelahian.
Setelah pertahanan depan di kuasai, Wiratama mengirim pertanda kepada para prajurit yang berada di Kapal-kapal untuk mulai melakukan pendaratan "Hiaaaath.....Sraaath....Sraaaath...Sraaath! tiga buah lesatan anak panah api nampak di atas Pulau Nusakambangan, Pasukan pun mulai di daratkan.
"Serangaaan!....Serangaaan!, teriakan dan tanda bertalu-talu terdengar dari penghuni Pulau Nusakambangan yang mulai menyadari serangan dari pihak luar.
Matahari mulai nampak, ketika Pasukan Mataram meloncati parit-parit dengan galah yang sudah di persiapkan, mereka dengan aman mulai masuk ke dalam sarang musuh.
Terlihat Strategi Pasukan Mataram selangkah di atas para perompak, mereka terbiasa bergerak dengan susunan dan formasi pertempuran.
"Hiiaaath....Dhuaaar...Dhuarrh!.. sebuah lesatan cahaya berpijar menyerang para Prajurit Mataram, Rakyan dengan pedang di tangan melesat menyerang mereka yang sedang membentuk formasi pertempuran.
Formasi pun pecah tercerai berai, mereka mundur dengan teratur. "Sraaath...Sraaath, puluhan anak panah dari pasukan penunjang lapis dua Pasukan Topan melesat menyerang Rakyan, "Traaang...Traaang! pedang milik Rakyan berputar-putar membentuk putaran kipas besi yang menahan anak-anak panah yang menuju dirinya.
"Habisi mereka! teriakan Rakyan memberikan perintah kepada pasukannya untuk bergerak maju menyerang. Akhirnya terjadilah bentrokan besar antara para prajurit dengan para perompak.
"Hiiaat....Hiiaath...Traang...Traaang....Craaash....Craaash....Aaaarkh...
Suara pekikan, suara senjata beradu dan jeritan kesakitan mulai terdengar ramai.
Dari arah barat dan timur pun Pasukan Mataram mulai melakukan serbuan, terlihat para Perwira unit-unit kecil memberikan instruksi-instruksi yang singkat.
Strategi yang tepat tidak serta merta membuat Prajurit Mataram langsung mendapat kemenangan dengan mudah.
__ADS_1
Ternyata para perampokpun melakukan strategi serang balik, mereka bertarung sambil mundur dan berusaha menjebak para prajurit Mataram untuk masuk ke dalam daerah-daerah yang sudah di persiapkan dengan jebakan-jebakan maut sebagai perangkap.
Kembali kepada pertempuran yang berada di dekat pintu utama gerbang pertahanan, beberapa kali tebasan pedang Rakyan mengenai para prajurit, membuat mereka tewas seketika. Di saat pedangnya kembali akan mengayun, sebuah tombak bermata dua menangkisnya dengan keras, "Traaaang!....
Rakyan memandang ke sosok yang berdiri di depannya, tombak bermata dua yang tadi menghalangi tebasan pedang terlihat melintang di depan dadanya.
"Bocah! akan ku renggut jiwamu!"... "Hiiaaath...Sraaakh!....Rakyan berlari dengan zig zag, untuk mengelabui pandangan lawan kepada arah pedang yang dia tebaskan.
Dari pihak Mataram, Wirayudhalah yang maju untuk mengimbanginya.
Bersiap dengan kuda-kuda kokoh, melintangkan tombak bermata dua di belakang punggungnya., "Hiaaath...Draaang...Draaang!"
Arah tebasan pedang dari Rakyan terbaca dengan tepat ketika Wirayudha mengayunkan tombaknya untuk bertahan, mengakibatkan beberapa kali benturan senjata. Desakan senjata Rakyan yang bertujuan untuk memojokan Wirayudha gagal total.
Setelah beberapa kali menahan serangan Rakyan, Wirayudha pun merubah posisi kaki, "Plaash....Tubuh Wirayudha tiba-tiba lenyap, Ajian Halimun dia pergunakan ketika hendak menyerang lawan.
"Draaang...Draaang... benturan senjata kembali terjadi, kali ini Rakyan yang berhasil memotong gerakan tombak Wirayudha, pendengarannya yang tajam tidak membuat dirinya terpengaruh oleh Ajian Halimun yang di pergunakan oleh Wirayudha.
Moksa Jumena yang melihat keadaan pasukannya yang terdesak, berkelebat hendak menahan gempuran dari Pasukan Badai, "Hiiiaaaat...Sraaath..!... kedua tangan kosongnya merampas pedang-pedang para prajurit sekaligus membuat mereka terhempas ke permukaan tanah dengan terluka.
Wiratama yang sedang mengawasi pergerakan pasukan dengan segera menghentikan serbuan dari Moksa Jumena, "Sraaath...kedua tangannya memukul dalam upaya menghalangi, "Dhuaaarh....! benturan tenaga dalam merekapun terjadi.
Pasukan Badai dan para perompak yang sedang saling menyerang kemudian menepi dan melanjutkan pertempuran mereka dari dua sisi area pertarungan Wiratama dengan Moksa Jumena.
Kedua Pasukan itu menyadari, pertarungan kedua pemimpin mereka walaupun belum mempergunakan senjata, akan mengakibatkan efek-efek samping yang sangat membahayakan jiwa.
Moksa Jumena bersiap dengan kuda-kuda yang ringan, "Akhirnya pertarungan kita akan berlanjut!" hanya kalimat yang singkat itu yang ia ucapkan kepada Wiratama.
"Graaaumh....Pekikan Auman Lodaya terdengar menggetarkan permukaan tanah, wajah Wiratama berubah menjadi manusia setengah Harimau, Rambutnya yang putih keperakan berkibar terkena angin putaran di sekeliling tubuhnya.
"Wusssh...Angin putaran itu kemudian berubah menjadi angin topan badai yang berputar menuju Moksa Jumena dengan cepat.
__ADS_1
"Blaaarh....Blaaarh!" tubuh Moksa Jumena melayang ke atas dengan kedua tangan terpentang menghindari Topan Badai yang hendak menghantamnya.
"Aaaarkh...Arrrkh....Pasukan perompak yang berada di belakang Moksa Jumena terkena hempasan Angin, membuat mereka terpental dan terseret membentur dinding-dinding kayu pertahanan.
"Kurang Ajarrrr!"... geraman kemarahan terdengar dari Moksa Jumena, kedua tangannya yang terpentang di angkat ke atas "Kraaakh..."Jaring Nerakaaaa!" dari atas terdengar suara kilat di susul dengan hujan api yang mengarah kepada Wiratama dan pasukannya, "Sraaaat...Sraaaath...Sraaath...!"
"Aaaarkh....Aaaakh...Aaaaarkh....!"
Cahaya-cahaya api menembus tubuh beberapa Prajurit Mataram dan Pasukan Badai yang berada paling dekat dengan posisi Wiratama yang berdiri, membuat mereka terjungkal dengan tubuh yang terbakar.
Wiratama masih kokoh berdiri dengan wajah setengah Harimaunya, "Kraaakh....Lodaya Membelah Bukit!" Cakar Wiratama laksana pedang mengayun seperti tebasan, cahaya perak keluar dari ujung-ujung jarinya yang runcing membentuk lesatan cahaya pedang.
"Craaash...Craaash..!... Cahaya itu melesat dengan ganas, "Sraaaang!... membentur tubuh Moksa Jumena yang masih melayang di atas, tubuhnya terdorong sampai sepuluh tombak saat menahan dengan kedua tangan yang menyilang.
Walaupun terseret oleh tenaga tebasan Lodaya Membelah Bukit, Moksa Jumena masih mampu untuk bertahan, tetapi tidak untuk pasukannya yang bertahan di reruntuhan kayu-kayu tebal di belakangnya, tebasan cahaya itu membelah kayu-kayu keras tempat persembunyian mereka, sekaligus tubuh mereka yang kemudian terpotong menjadi beberapa bagian.
"Braaaakh...Braaakh! Aaaaakh....Aaaakh!"
Tubuh Wiratama melesat ke atas dengan kedua tangan meluncur dengan jari-jari terpentang, "Graaaamh....Graaaaumh!"..
Tangan yang di tumbuhi bulu-bulu harimau itu memcoba mencengkeram dan berusaha mencabik-cabik tubuh Moksa Jumena yang tiada henti bergerak dengan cepat untuk menghindar.
Moksa Jumena tidak hanya terus menerus menghindar, Kibasan-kibasan lengannya menimbulkan asap-asap hitam yang mengandung racun mencoba menerobos pertahanan dari Wiratama.
Di lain pihak, Kawasan tepi barat pantai, Raden Sangaji bersama pasukannya menghadapi gempuran dari perompak yang di pimpin oleh Pangeran Adiraja dan Nyai Seruni.
Nyai Seruni mengamuk, melampiaskan kemarahan karena kematian pasangannya. Pedang cahaya merah mengayun dan menebas beberapa prajurit yang memyerangnya.
*****......*****
Jangan hanya sekedar lewat, mohon untuk Like and Vote, ...Matur suwwuuunnn....😁😁😁
__ADS_1