
Ki Respati berjongkok di dahan yang paling atas, di balik kerimbunan dedaunan matanya dengan tajam mengawasi, Goa Ratu yang sebelumnya dia tempati, kini menjadi sarang para perompak bekas anggotanya.
Terlihat beberapa orang yang dahulu menjadi anggotanya, kini menjadi kaki tangan Ki Badra dan Nyai Seruni, matanya kini fokus mengawasi seseorang yaitu Adiraja adiknya. Ki Respati merasa yakin Adiraja akan dapat membantunya meloloskan diri dari Pulau Nusakambangan.
Kemudian Ki Respati mengendap, melompat ke arah pohon yang lebih dekat dengan Adiraja, dengan ilmu mengirimkan suara jarak jauh, ia pun mulai berkomunikasi dengan adiknya.
"Dimas! kau dengar suaraku? jika kau dengar tunjukan dengan tanda anggukan kepalamu!"
Adiraja yang semula hendak berjalan dan berencana masuk, terhenti ketika mendengarkan suara Kakaknya, kemudian ia pun menganggukan kepalanya dua kali, pertanda mendengar suara dari Ki Respati.
"Baiklah Dimas! aku melihatmu dari jauh, ikuti perintahku, kau saat ini juga keluar menuju arah selatan dari pintu Goa! setelah menemukan Pohon Beringin tua, berbeloklah ke arah Tenggara.
Pangeran Adiraja mengikuti perintah Ki respati, setelah berjalan ke arah selatan sekitar 100 tombak, ia menemukan pohon Beringin tua, dan melanjutkan berjalan ke arah tenggara.
Setelah berapa lama berlalu, kembali suara Ki Respati mengiang di telinganya kembali, "Dimas! kau telah lepas dari pengawasan para Cecunguk Goa Ratu, sekarang berlarilah menggunakan ilmu lari cepatmu! aku akan tetap mengawasimu!"
Waktu hampir menjelang pagi, ternyata Adiraja di bimbing oleh suara Ki Respati ke arah Pantai Kalipat, di saat Adiraja mulai mendengar suara debur ombak pantai, terlihat bayangan Ki Respati bersembunyi di balik Bukit menunggunya.
__ADS_1
"Akh..Kakang, aku pikir kau telah pergi meninggalkan kami!" kenapa kau tidak bergabung saja dengan kami di Goa Ratu?"
"Tidak Dimas! aku lebih baik keluar dari Nusakambangan ini, dan mengubur semua mimpi-mimpiku untuk menguasai perairan Nusakambangan!"
"Kau pengecut sekali Kakang! bukankah kau seorang yang sakti mandraguna, belum juga kau mencoba bertarung dengan Ki Badra dan Nyai Seruni, kau malah ingin cepat-cepat kabur dari sini!" Adiraja mencoba memprovokasi Kakaknya.
Ki Respati mencoba menyembunyikan rasa ke khawatirannya, "Kau terlalu lama menikmati darah kebangsawananmu sehingga tidak tahu kabar di luaran Dimas! Sepasang Iblis laut tidak hanya bisa di kalahkan oleh Kanuragan, karena mereka adalah pasangan pemuja Siluman, yang setiap saat akan mengorbankan darah orang lain untuk mengabadikan ilmu-ilmu hitamnya!"
"Ha..Ha..Ha..Kakang, ilmu itu hanya ada dalam dongeng, yang selalu di ceritakan oleh para ibu untuk anaknya agar bisa tidur cepat di saat malam hari! aku tidak mengira kau yang selama ini malang melintang di rimba persilatan masih mempercayai ilmu-ilmu dari negeri dongeng!"
Wajah Ki Respati terlihat dongkol, "Perduli setan denganmu Adiraja, kau mau percaya atau tidak, itu urusanmu! aku hanya minta bantuan, sediakan kapal laut agar aku dan Candrasih bisa pergi dari Pulau Nusakambangan, anggap saja aku menagih hutang jasa karena menyelamatkanmu!"
Sebenarnya Ki Respati meragukan Adiraja, tetapi kemudian ia berusaha menepis keraguannya dan mencoba mempercayai Adiraja, karena walau bagaimanapun, Dia adalah adiknya.
Ki Respati menunggu di celah-celah bukit, berharap Adiraja akan benar-benar membantunya.
Matahari semakin terik, beberapa kali Ki Respati menengok ke arah pantai.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, ada senyuman di bibirnya ketika melihat Adiraja kembali.
"Kakang, kita harus bergerak cepat, aku sudah menyiapkan kapal untukmu di Pantai Karangpandan, aku sudah mengkondisikan seluruh penjaga di wilayah Karangpandan agar melakukan kesibukan. Kita harus berangkat sekarang! mana Candrasih?" mata Adiraja mengawasi sekitarnya mencari sosok Candrasih.
"Candrasih masih bersembunyi di suatu tempat, lebih baik kita berdua dulu untuk memastikan wilayah dan kapal itu aman, nanti aku akan menjemputnya!"
"Baiklah Kakang!" merekapun berangkat dengan cara menyusuri tepian pantai, agar tidak di ketahui anggota-anggota perompak yang lain.
Pantai Karangpandan mulai terlihat, ada sebuah Kapal yang cukup besar sedang menyandar di tepian, "Kakang tunggulah di sini, aku akan memeriksa terlebih dahulu. Kemudian Adiraja meninggalkan Ki Respati sendiri di sebuah bangunan kayu yang biasa di jadikan tempat sementara peristirahatan para nelayan.
Telinga yang terlatih dari Ki Respati menangkap gerakan-gerakan yang mencurigakan, " Sraaaat....Debbh...Sraaath...Debbbh..Panah api mulai menghunjami atap-atap bangunan, api mulai menyebar turun ke tiang dan dinding bangunan.
Berusaha menyelamatkan diri, Ki Respati melompat keluar dari bangunan kayu tersebut.
Di saat tubuhnya masih melayang, bulatan -bulatan yang terbuat dari kayu menggelinding di bawahnya dan meledak "Dhuaarh...Dhuaarh...memunculkan asap pekat berwarna merah yang membumbung tinggi ke atas
"Hhhkkk...Asap beracun! Keparaaattt! Adiraja telah menjebakku!!!"....
__ADS_1
Asap pekat berwarna merah melingkupi tubuh Ki Respati yang baru saja menapakan kakinya di pasir pantai.