
"Hmmm....kau pikir aku tidak tahu muslihat apa yang sedang kau jalankan" dalam hati Mandala Putra berkata. Kemudian ia berpikir keras bagaimana caranya agar Nyai Gendis yang sedang mengalami pengeroyokan tidak sampai terbunuh dan bisa menjadi tawanannya, sebenarnya bisa saja dia hentikan pertarungan itu dan menangkap Nyai Gendis, tetapi Mandala Putra tidak mau memakai cara itu, ia menginginkan semuanya berjalan alami, dan Arya Permana masih merasa di atas angin dengan beranggapan bahwa Mandala Putra mempercayai penyelamatan yang di lakukan Arya Permana.
Mandala Putra mengawasi jalannya pertarungan sambil berjalan mendekati salah satu prajurit utama nya yang sedang berdiri di dekat pintu benteng keluar, "prajurit kau segeralah pergi ke benteng belakang, perintahkan kepada Ki Wisesa untuk menyelamatkan wanita yang sedang bertarung itu, bawa lari keluar kemudian tawan dia untukku !"... dengan pandangan yang heran dan penuh tanda tanya prajurit utama itu menjawab "baik Gusti, hamba laksanakan".
__ADS_1
Pertarungan antara Nyai Gendis dan ke tujuh pengawal dari Arya Permana masih berlangsung dengan sengit, beberapa bagian tubuh Nyai Gendis mengalami luka yang cukup parah, ia tidak di berikan kesempatan untuk beristirahat barang sebentarpun, serangan-serangan ke tujuh pengeroyoknya bukan bertujuan hanya sekedar untuk melumpuhkan, tetapi mematikan, Karena memang itulah perintah dari Arya Permana kepada tujuh pengawalnya, "bunuh dan jangan berikan kesempatan dia berbicara!"
Nyai Gendis masih posisi dalam lingkaran, rambutnya menutupi sebagian wajahnya, pedang kembar di tangannya masih di selimuti cahaya biru, walaupun cahaya itu kini sudah mulai redup pertanda tenaga dalamnya sudah jauh berkurang, "Hiaaath....pedang kembar itu berkelebat berusaha memotong serangan Pecut geni, tetapi karena pecut itu berusaha membelitnya, Nyai Gendis balik menusuk lawan yang berada di sampingnya, ia melakukan gerakan berputar di udara, crakhhh.....tusukan pedang itu tidak berhasil bersarang dengan tepat, hanya bisa menusuk bahu salah satu pengeroyoknya. tetapi keberhasilan itu pun harus di bayar mahal, saat Nyai Gendis baru saja menapakan kakinya di atas permukaan tanah, dua pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi mengenai punggungnya, "wusssh, ....deagh....deaagh.....membuat Nyai Gendis jatuh tersungkur ke depan, "Hooekkkh....darah kental menyembur dari mulutnya. beberapa senjata berkelebat berusaha mengejar tubuhnya, dheaarh...dheaaarh....senjata itu mengenai permukaan tanah karena Nyai Gendis masih bisa berguling ke tepi. "tak ku sangka riwayatku harus tamat karena penghianatan" batin Nyai Gendis. Secepatnya Nyai Gendis berusaha berdiri dengan bertopang dengan kedua pedangnya, di depannya mata tombak berputar mengarah dada dengan suara berdesing kencang. Arya Permana tersenyum senang melihat sebentar lagi Nyai Gendis akan terkapar.
__ADS_1
Saat mata tombak sedikit lagi mengenai dada, Nyai Nyai Gendis melakukan serangan pamungkas, kedua pedangnya di sabitkan dengan sekuat tenaga, pedang itu meluncur tak kalah cepat, pedang pertama bertabrakan dengan tombak yang meluncur ke arahnya, sedangkan pedang kedua menembus dada pengawal yang sebelumnya bersenjatakan tombak, bertepatan dengan itu Nyai Gendis roboh terduduk di tanah.
"Dhuarh....trang....dhuaarh....trang, suara benturan senjata terdengar keras, sosok laki-laki yang berwajah menyeramkan berdiri memunggunginya, menahan semua senjata yang mengarah tubuh nyai Gendis, sebelum ke enam pengeroyok itu sadar, laki-laki itu mengangkat tubuh Nyai Gendis dan melemparnya ke arah luar benteng seraya berkata "larilah kau menuju arah gunung Sumbing, aku akan menunggumu disana!" daya lempar itu sangat kuat, beruntung Nyai Gendis masih mempunyai sisa tenaga untuk menjaga keseimbangan tubuhnya , kakinya menyentuh tembok benteng dan meloncat keluar berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri.
__ADS_1
Sementara itu Ki Wisesa yang di tugaskan Panglima Mandala putra, memperlihatkan kanuragan tingginya, ke enam pengeroyok Nyai Gendis di buat tak berkutik dengan sekali gebrakan, pukulan dan tendangan kaki nya membuat pukulan dan tendangan beruntun dengan kekuatan yang besar dan tidak dapat di tahan oleh mereka, "dhuarh...dherh....aaargh.....semua tubuh yang menahan serangannya terlempar beberapa tombak dan terkapar. Kedua tangan Ki Wisesa terlihat menyebarkan serbuk putih ke sekeliling, "Munduuuurrr semua! tutup jalan nafas kalian, serbuk itu serbuk bisa ular weling yang mengandung racun ganas" terdengar teriakan Mandala Putra memberikan perintah kepada seluruh prajuritnya, saat para prajurit itu mundur, Ki Wisesa tak menyia nyiakan kesempatan itu, ia melompat keluar benteng untuk melarikan diri. saat barisan prajurit yang berada di belakang akan mengejar, Mandala putra berseru kembali "jangan di kejarr! serentak prajurit itu menghentikan gerakannya, "semuanya segera berkumpul, hei prajurit utama segera kau buatkan penawar racun, bawakan kesini, bagikan kepada seluruh prajurit yang ada".
Wajah Mandala putra saja yang memperlihatkan keseriusan, berbeda dengan hatinya yang tersenyum puas karena bisa menjalankan tipu muslihatnya. sedangkan Arya Permana terlihat khawatir karena dengan selamatnya Nyai Gendis, dia takut muslihat yang dia lakukan akan terbongkar.
__ADS_1