
Raden Sangaji dan Ki Sampang medapatkan laporan tentang tenggelamnya Kapal yang membawa Ki Wisesa beserta pasukannya,
mereka berdua menundukan kepalanya seraya memanjatkan do'a-do'a terbaik untuk para prajurit yang gugur.
"Apa yang harus kita lakukan Gusti?" Ki Sampang bertanya kepada Raden Sangaji. "Kita tidak boleh terbawa emosi Kakang, setelah kejadian ini, kita harus berhati-hati dalam bertindak!' untuk patroli laut tetap laksanakan jika perlu lebih intensif lagi di lakukan!'
"Strategi apa yang ajan kita lakukan Gusti?" Ki Sampang dan beberapa pemimpin yang lain menunggu Raden Sangaji memberikan perintah lanjutan.
Raden Sangaji kemudian berdiri di antara prajurit-prajuritnya "Aku tahu, apa yang mereka lakukan adalah membuat strategi kejut untuk kita, agar kita tidak meremehkan kekuatannya, padahal kekuatan mereka mungkin hanya fokus kepada kelompok kecil atau perorangan saja, buktinya setelah mereka melakukan penyerangan, mereka tidak melakukan serangan susulan kepada Kapal-kapal kita yang lain!"
"Ki Sampang! perintahkan kepada Kapal-kapal kita untuk lebih baik lagi berkoordinasi dalam penyerangan! jika ada kapal yang menemukan Kapal perompak yang sedang berkeliaran, jangan lakukan serangan terlebih dahulu, berikan kepada Kapal-kapal sekutu kita sebuah tanda, agar mereka melakukan manuver pengepungan, satukan kekuatan kita untuk menumpasnya, aku ingatkan semua pemimpin di kapal tidak bergerak sendiri-sendiri! semuanya harus bekerjasama!"
"Baik Gusti!" Ki Sampang kemudian bersiap untuk memberikan perintah kepada prajurit-prajurit yang lain.
Sementara itu, terdengar derap langkah para prajurit yang tidak jauh dari perkemahan, kemudian terlihat salah satu prajurit penjaga melaporkan kepada Raden Sangaji, bahwa ada pasukan yang akan bergabung dengan mereka di bawah pimpinan Ki Bondan Wiratama dari Alas Roban.
__ADS_1
Ikut serta dalam rombongan mereka Nini Sangga geni, Wirayudha, Ki Pandawa, Ki Seno Keling, dan Ki Sawung Galih. mereka membawa Pasukan Badai, Gunung dan Topan yang telah siap untuk bertempur.
Raden Sangaji menyambut mereka dengan suka cita setelah mereka menjelaskan maksud dan tujuannya.
Akhirnya Pasukanpun di pecah untuk mulai mempersiapkan diri, baik untuk pertempuran laut, maupun pasukan yang akan melakukan pendaratan di sarang musuh.
Ketika malam tiba, di saat semuanya sedang mempersiapkan diri, Ki Respati bersama Putrinya Candrasih menghadap kepada Raden Sangaji melalui Wirayudha.
"Duduklah Wira, Pendekar mana lagi yang engkau akan hadapkan kepadaku?" wajah Raden Sangaji berseri-seri ketika berbincang langsung dengan Wirayudha, karena Raden Sangaji mengenal Wirayudha, Putra dari Senopati Wiratama yang dia hormati ketika peristiwa di kediaman Panglima Mandala Putra.
Wirayudha memberikan kesempatan kepada Ki Respati dan Candrasih untuk berbicara secara pribadi dengan Raden Sangaji, karena saat pertemuaan dengan Wirayudha, Ki Respati telah bercerita kepada dirinya tentang hubungan pribadi Ki Respati dengan Raden Sangaji.
Raden Sangajipun mengizinkan Wirayudha keluar ruangan, dan menemui Ki Respati dan Candrasih.
"Kisanak, Nisanak, Suatu kehormatan aku bisa menemui para pendekar yang ikut bergabung bersama kami pasukan Mataram, apa yang akan kalian sampaikan?"
__ADS_1
Ki Respati tidak langsung menjawab, ia malah berjalan mengelilingi tenda tersebut dan menyalakan pelita yang sebelumnya padam, membuat suasana tenda tersebut menjadi lebih terang, membuat tanda tanya besar kepada Raden Sangaji.
"Gusti Panglima! namaku Respati, seorang pendekar hina yang tidak pantas mendapatkan penghormatanmu!"
Saat mendengar nama Respati, dan mengamati wajah yang berada di depannya, Raden Sangaji terkejut serasa mendengar petir di siang hari.
Raden Sangaji berdiri mematung sekian lama, tidak bisa membuka mulutnya karena rasa terkejut yang dalam, terbayang di pelupuk matanya pria inilah yang dulu sempat menggendong dan memangkunya sampai dia berumur Sepuluh tahun, canda tawa mesra bersama ibunya, dan kemudian raib tanpa dia sendiri tahu penyebabnya.
"Gusti Panglima, aku datang bukan untuk menorehkan luka kepadamu, bukan pula mengharapkan pengakuan sebagi seorang ayah darimu, penyesalan atas dosa-dosa ku akan aku tunjukan dalam pertempuran yang akan kita hadapi!"
Sesaat setelah dia menunggu dan belum ada jawaban dari Raden Sangaji, Ki Respati kemudian berbalik dan bersiap akan pergi keluar dari tenda.
"Tunggu romo!" Raden Sangaji kemudian mengejar dan langsung memeluk erat Ki Respati, "Romo, aku bukan seorang yang naif, pertempuran demi pertempuran yang aku alami telah menempa diriku untuk melihat semuanya dengan kepala dingin dan ketabahan, tidak ada dendam di dadaku!"..
Ki Respati membalas pelukan erat putranya, dia tidak mengira putranya telah tumbuh menjadi seorang lelaki yang dewasa dan matang, dan dengan mudah dapat menerimanya kembali dalam waktu singkat.
__ADS_1
Keduanya adalah pria sejati, tidak ada tangis isak di antara mereka, walaupun telah terpisah puluhan tahun, tetapi air mata tanpa suara mereka yang menetes, menggambarkan suasana hati mereka sebenarnya.