Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam II


__ADS_3

"Kurang ajar, belum pernah aku terkalahkan seperti ini!", Dewi Pramudita yang masih bersemayam dalam tubuh Rangkayu mendengus kesal, karena baru saja dia terkalahkan oleh Aswangga, sampai kemudian dia melarikan diri. "aku harus segera memulihkan kekuatanku".


Beberapa hari kemudian di sekitar Kotaraja terdengar kabar yang tidak mengenakan yang menyangkut keamanan, di temukan beberapa mayat dari penduduk dengan kondisi yang mengenaskan, kering tanpa darah dan hitam gosong.


Masalah ini akhirnya membuat situasi Kotaraja yang semula aman dan tentram, penduduknya menjadi resah, pihak keamanan pun saat ini memperketat penjagaan di seluruh Kotaraja.


Sesuai perintah dari Panglima Mandala Putra, Ki Wisesa telah menghubungi pengawal-pengawal ekspedisi barang yang biasa menjadi perantara dirinya dengan Wiratama, tetapi kali ini ia tidak hanya sekedar menunggu kedatangan Wiratama, Ki Wisesa membuntuti pengawal-pengawal itu untuk mengetahui di mana keberadaan Wiratama.


Dari kejauhan ia terus mengikuti seseorang yang melarikan kudanya dengan cepat, "hmm...beruntung aku telah menyediakan kuda yang kuat sebelumnya, arahnya menuju daerah Parangtritis, dimana sebenarnya Dimas Wiratama selama ini menetap?"...Ki Wisesa menunggangi Kudanya menyusuri tepian pantai.


Tetapi sesaat kemudian, kudanya meringkik panjang dan mengangkat kaki depannya, membuat Ki Wisesa hampir terjatuh, beruntung dengan cepat ia melompat berjumpalitan dan hinggap di tanah kembali.

__ADS_1


"Kroaaarkh.....bumh...bumh...tanah pasir di depannya ambrol menyentak ke atas, dari dalam lubang tanah berpasir itu meloncat sesosok tubuh yang dengan gesit berjumpalitan dan berdiri di depan Ki Wisesa, terlihat oleh Ki Wisesa seorang pemuda tanggung yang sebenarnya juga belum pantas di katakan sebagai remaja, berdiri di depannya tanpa memakai baju. Ada yang membuat Ki Wisesa terkesima, tubuh anak itu di lapisi oleh sesuatu yang mirip sisik- sisik ular yang saat tertimpa cahaya matahari menjadi gemerlap memantulkan cahaya.


"Nakmas, siapakah kau yang mengejutkanku? Ki Wisesa mendahului bertanya, "Aki seharusnya aku yang bertanya kepadamu! tapi tidak masalah aku akan menjawab pertanyaanmu dulu, aku Wirayudha penjaga pantai Parangtritis!"


"He...he..he..Nakmas jangan mencoba mengelabuiku!... nanti kau akan di tegur oleh Nyi Ratu Segoro Kidul sebagai penguasa lautan!" Ki Wisesa tertawa sambil mencoba menakuti Widayudha yang berada di depannya.


"Aku tidak sedang bergurau Ki!"... Ki Wisesa terkejut, bukan karena jawaban dari Wirayudha, karena ia melihat yang tadi bersuara adalah sesosok yang baru muncul dari dalam air, bukan yang berada di depannya. tetapi keduanya mempunyai kemiripan satu sama lain.


"Byar....byar...byar...terdengar riak air laut yang membuncah, kemudian muncul lima sosok Wirayuda yang lain dari dalam air laut. "Bagaimana Ki? apakah sekarang kau percaya kalau kami adalah penjaga pantai Parangtritis ini?"


"Ki, siapa dirimu? dan mempunyai tujuan apa masuk ke wilayah penjagaanku?".. Ki Wisesa yang menyadari seseorang yang di depannya adalah sosok istimewa, tidak berusaha berbohong dan mengelak, "Aku Wisesa 'raden!, maksud dan tujuanku kesini adalah mencari sahabatku yang bernama Raden Wiratama!"

__ADS_1


Saat mendengar nama ayahnya yang di sebutkan, ke enam tubuh Wirayudha yang muncul dari dalam laut kemudian menghilang.


"Tunggulah di sini Ki! aku akan memastikan dahulu, apakah ayahku mengenalimu atau tidak?"


Kemudian Widayudha mengeluarkan pekikan yang sangat keras "Kraqqgk....kraaakh...kraaakh...tak lama kemudian Dua Pasang burung Alap- alap terlihat terbang mendekati mereka. kemudian terbang berputar-putar di atas, dan hinggap di permukaan pasir laut dekat kaki Wirayudha.


Entah apa yang di katakan Wirayudha kepada kedua ekor burung Alap- alapnya, karena saat dia selesai bicara, kedua ekor Alap-alap itu kembali terbang menuju arah Hutan Bakau.


"Nakmas, apakah engkau putra dari Raden Wiratama?" dengan hati-hati Ki Wisesa bertanya, "benar Ki! apakah aku pernah berjumpa denganmu Ki?", "Tidak Nakmas, tetapi ayahmu pernah bercerita saat beliau kehilanganmu bersama ibumu", Ki Wisesa mencoba meyakinkan kepada Wirayudha,


bahwa dia benar-benar mengenal Wiratama.

__ADS_1


"Tunggu dan bersabarlah!...sampai aku mendapat jawaban dari ayahku tentang dirimu 'Ki".


Ki Wisesa akhirnya diam dan menunggu sambil tersenyum dalam hati " Hmm...anak ini masih muda belia, tetapi kemampuannya di luar nalarku".


__ADS_2