
"Nimas, kisah kita telah usai, aku sekarang adalah seorang pengelana, bukan seorang Perwira yang berharga lagi", dengan lembut Wiratama menghapus airmata Putri Retno Ningsih,
"Maafkan aku Kangmas, dahulu aku ikut terjebak fitnah yang mengatakan kau seorang pemberontak, tapi setelah aku mengetahui cerita sebenarnya dari romo, aku menyesal dan mencarimu kembali dan perlu kau tahu romo pun menyesal mempercayai Arya Permana, tapi romo kalah oleh keputusan para bangsawan kerajaan". Wiratama hanya tersenyum mendengarkan penuturan dari Putri Retno, "aku tidak membenci kepadamu Nimas, cinta butuh kepercayaan, dan kau tak mempunyai itu untukku, izinkan aku pergi Nimas, lupakan semuanya yang telah terjadi antara kita, yang bisa kuberikan padamu saat ini hanyalah do'a, semoga engkau selalu berbahagia" Wiratama berbalik kemudian meloncat ke dalam air, tubuhnya melesat di permukaan air, yang terlihat hanya punggung dam rambutnya yang berkibar terkena angin laut, Putri Retno Ningsih berjalan ke depan, menyandarkan kepalanya ke tiang kapal sambil menangis tersedu, "Kangmas, aku tak mungkin bisa melupakanmu, biarlah aku akan menikmati selamanya siksaan kerinduan ini".
__ADS_1
Para inang dan prajurit pengawal mendekat, mereka merasa khawatir, terjadi yang membahayakan pada putri junjungannya,
Putri Retno berpaling dan menatap prajurit pengawal yang mendekat padanya, "pengawal apakah kau tahu siapa dia?" pimpinan prajurit itu menjawab "kami tak mengenalinya Gusti putri" dia adalah bekas Senopati di kerajaan kita, "Senopati Wiratama", seluruh prajurit yang ada disitu terkejut dan menampakan wajah ketakutan "mohon ampun Gusti putri, kami tak mengetahuinya", Putri Retno kembali memerintahkan para inang dan pengawal-pengawalnya menjauh, hatinya berharap, mungkin saja Wiratama tersentuh rasa iba di sanubarinya, dan kembali di hadapannya lagi.
__ADS_1
Di Kotaraja atau Kotagede sendiri, terlihat hiruk pikuk suara para prajurit yang baru kembali melaksanakan misinya dari wilayah timur, pimpinan pasukan itu adalah Panglima Muda wilayah timur Anggoro Pati, setelah Anggoto Pati menghadap dan melaporkan tugas-tugasnya, ia memberikan waktu para prajuritnya untuk pulang berlibur, sedangkan dia sendiri merasa pusing dan bergegas pulang, tetapi tidak ke rumahnya, melainkan ke rumah ayahnya, yaitu pangeran Adiraja, di kepalanya berkecamuk banyak sekali tanda tanya mengenai apa yang dia dengar dan lihat saat ia melaporkan tugas-tugasnya kepada Panglima Utama Mataram. Arya Permana adiknya di rawat, tetapi dalam status sebagai tawanan, dan ia sudah mendengar pula bahwa ayahnya cidera, sampai dengan sekarang tidak bisa beranjak dari peranduannya.
Anggoro Pati melangkah dengan tergesa-gesa dan langsung menemui ayahnya di kamar, pintu kamar itu di bukanya kemudian dia mengucapkan salam, Pangeran Adiraja terkejut melihat anggoro Pati putranya datang, "Ahhh...Anggoro kau sudah kembali?" Anggoro Pati kemudian memeluk ayahnya, "aku baru kembali romo, dan belum sempat pulang ke rumah karena mendapatkan kabar bahwa kau dalam keadaan sakit". kemudian Pangeran Adiraja menceritakan kejadian-kejadian yang menimpa dirinya dan Arya Permana, "begitulah kisahnya yang aku dan adikmu alami, kita kehilangam simpanan semua emas, adikmu di tawan, dan aku cidera. Anggoro Pati mengepalkan tangannya, "aku akan mencari yang telah menyerangmu dan mencuri simpanan kekayaan keluarga kita romo, tapi aku tak peduli dengan Arya Permana, sudah kesekian kali dia bertindak bodoh dan membuat masalah keluarga kita. "tapi dia adikmu Anggoro! sadarkah kau dengan perkataanmu?" pangeran Adiraja menegur sikap Anggoro Pati terhadap adiknya.
__ADS_1