
Dua hari kemudian
Ruang konsultan
Secangkir teh hangat yang tak begitu pekat, aroma yang harum dengan kepulan asap yang tampak bertabrakan dengan suhu yang dingin mengambang di udara.
"Seperti nya kondisi anda lebih baik sekarang?" tanya dr. Dave yang kembali memulai konsultasi nya.
"Benar, saya menemukan sesuatu yang lebih baik di bandingkan obat." ucap nya pada dokter yang sudah menangani nya selama dua tahun terakhir.
"Benarkah apa itu?" tanya nya menatap dengan bingung.
"Sesuatu yang cantik," jawab Lucas dengan senyuman tipis saat ia mengingat tentang gadis nya.
"Lalu anda memperlakukan si cantik itu dengan baik?" tanya dr. Dave yang tak tau apa yang di maksud. Apakah itu benda hidup atau mati.
"Ku rasa aku sudah cukup memperlakukan nya dengan baik?" jawab Lucas sembari memutar ingatan nya jika tak pernah merasa memperlakukan gadis nya dengan buruk.
"Baguslah, tapi mungkin ada beberapa hal yang anda tidak tau jika perlakuan anda mungkin merusak si cantik yang anda sukai itu." ucap nya pada pasien nya.
Ia bahkan masih belum tau jika pria di depan nya telah melihat dengan normal namun masih bersikap seperti tak dapat melihat dengan jelas seperti sebelum nya.
"Rusak ya?" gumam Lucas sembari mengetuk jemari nya di atas paha yang ia silangkan saat duduk.
dr. Dave tak mengatakan apapun, ia masih terus melihat pasien nya yang paling berbahaya di antara semua yang pernah menjalani perawatan pada nya.
"Kalau begitu dia tetap akan rusak di tangan ku kan? Kalau aku merusak nya dia hanya akan terus bersama ku." jawab nya dengan senyuman yang tampak tak merasa takut atau khawatir.
dr. Dave mengernyitkan alis nya sekilas dan berusaha mempertahankan ekspresi nya.
"Apa si cantik itu adalah seorang wanita?" tanya nya yang menangkap pembicaraan yang menceritakan sebuah objek itu.
Lucas tak menjawab, namun ia tersenyum.
dr. Dave terdiam beberapa saat, ia bisa membaca gestur wajah seseorang yang sedang bersama nya saat ini.
"Baik, sebelum saya menutup konsultasi kita saya akan tanyakan ini lebih dulu." ucap nya yang mengambil gambar abstrak yang sama setiap kali ia melakukan konsultasi dengan pasien nya itu.
Namun tentu di setiap konsultasi akan timbul jawaban yang berbeda.
Lucas memiringkan kepala nya sedikit, ia melihat ke arah gambar yang selalu di berikan pada nya di akhir konsultasi.
"Gambar apa yang anda lihat?" tanya dr. Dave pada pria itu.
"Rantai? Wanita?" tanya Lucas yang mulai menafsirkan gambar abstrak itu.
"Kedua benda itu yang terlihat di gambar?" tanya dr. Dave saat ia merasa pria itu memberikan jawaban yang sedikit ambigu padahal sebelum nya begitu yakin.
"Ya, wanita yang di rantai dengan tangan dan kaki yang menghilang, dia hanya memiliki tubuh nya." jawab Lucas yang kali ini seperti biasa nya dengan jawaban yang yakin.
dr. Dave terdiam sejenak dan kemudian tersenyum formal. Jika saja pria di depan nya menjawab pohon yang rimbun atau kupu-kupu dengan kelopak yang indah pasti ia bisa menyimpulkan jika jiwa pria itu sudah mulai membaik.
Namun jawaban yang di berikan masih sebuah kata yang begitu mengerikan dan tak memiliki pikiran seperti orang normal lain nya.
"Baik, saya akan tutup konsultasi kita dan memberikan resep obat anda." ucap dr. Dave pada pria di depan nya dengan pembicaraan yang beragam.
Lucas menarik napas nya, ia beranjak bangun dan pergi.
dr. Dave menarik napas nya, ia tak mengatakan apapun namun ia tau setiap jawaban adalah cerminan dari kejiwaan seseorang saat ini.
"Seperti nya wanita itu sedang dalam bahaya..." gumam nya lirih yang bahkan jika tau pun tak akan bisa melakukan apapun karna ia juga masih takut untuk mati.
......................
Mansion Damian
Anna membuang napas nya lirih, ia libur untuk beberapa hari. Saat kembali dari liburan nya pria itu tampak memiliki suasana hati yang lebih baik dan terlihat semakin posesif untuk semua yang ia kerjakan.
Bahkan ia tak bisa melihat ponsel nya saat bersama dengan pria itu.
Dan kini ia sudah kembali masuk ke dalam mansion mewah yang tak seorang pun akan bicara pada nya kecuali urusan pekerjaan.
Greb!
Tubuh kecil itu tersentak, seseorang memeluk bahu nya dari belakang membuat nya langsung menoleh.
"Kau keluarkan kamar hari ini?" tanya pria itu di telinga gadis yang berdiri melamun di depan air mancur yang berada di mansion itu.
"Aku bosan, kamu udah selesai rapat nya?" tanya Anna yang langsung tau siapa yang memeluk dan kini ia tak lagi menggunakan bahasa formal.
"Bosan? Kau mau sekolah lagi besok?" tanya nya Lucas yang melepaskan pelukan nya dan memutar bahu gadis itu agar melihat ke arah nya.
__ADS_1
Mata biru itu tampak bersinar mendengar nya, walau ia tak lagi memiliki pertemanan dan menutup diri nya di sosial namun setidak nya ia melihat orang-orang yang tampak hidup.
Berbicara, tertawa, tersenyum dan kehidupan remaja lain nya. Bukan orang-orang dengan ekspresi kaku bagaikan manekin yang tercetak di pabrik.
"Bisa, tapi jangan terlalu dekat dengan orang lain terutama pria dan jangan mudah tersenyum." ucap Lucas yang mengusap pipi lembut gadis itu.
Anna mengangguk, ia menatap ke arah pria yang entah mengapa menjadi lebih lembut pada nya dalam berbicara dan bersikap kecuali saat tengah merasa terganggu atau marah dengan hal kecil.
Lucas tersenyum, ia mengusap pipi gadis itu dan mengecup bibir nya sekali lagi.
Anna selalu tersentak saat bibir nya tersentuh, sentuhan di bagian yang cukup dekat dapat mengundang pria itu untuk melakukan hal yang lebih.
Dan ia terlalu lelah untuk kembali di guncang dengan skala yang bisa membuat nya kehilangan kesadaran.
"Kau mau makan sesuatu?" tanya Lucas yang memegang dan membawa gadis itu masuk ke dalam mansion nya.
Anna hanya menurut, pria itu sangat suka memberinya makan. Entah karna merasa tubuh nya terlihat seperti kecil dan akan menghilang jika terlalu banyak di benam.
"Kau suka ini?" tanya Lucas saat sembari mengeluarkan sesuatu di balik jas nya dan melihat ke arah gadis itu.
Anna terdiam beberapa saat walaupun ia tengah memakan cake yang di belikan untuk nya.
"Anting?" tanya nya lirih yang melihat ke arah perhiasan yang cantik itu.
"Hm, ini keluaran terbaru." ucap nya yang membelikan perhiasan dari salah satu brand yang cukup terkenal.
"Terimaksih," ucap Anna yang memberikan senyuman tipis dengan perasaan yang sedikit canggung karna terus menerima pemberian yang membuat nya sedikit terbebani.
"Kau tidak pernah pakai kartu yang ku berikan jadi aku akan membelikan sesuatu untuk mu." ucap nya dengan sembari mengusap kepala gadis itu.
"A.. aku akan pakai kartu yang kamu kasih!" ucap Anna yang tersentak dan berusaha mengatakan apa yang di sukai pria itu.
"Tentu, jangan terlalu hemat. Kau harus sedikit boros." ucap nya yang malah ingin gadis itu menghamburkan uang nya.
"I.. iya!" jawab Anna dengan senyuman kecil yang tampak gugup.
......................
Sementara itu
Suara musik yang terdengar keras, aroma alkohol yang bercampur dengan parfum menyatu di tempat yang memiliki banyak orang yang tengah menari itu.
Gadis yang tampak mengenakan pakaian yang ketat dan cukup terbuka berjalan dengan botol anggur di tangan nya menuju ke arah privat room dari club' malam yang cukup besar itu.
Tak ada jawaban, hanya senyuman manis yang di berikan walau ia sebenarnya tengah merasa jengah.
Percakapan yang memuakkan dan pel*cehan secara verbal yang ia terima namun ia harus tetap bersikap ramah dan tersenyum.
"Kau mau bekerja di tempat lain?" bisik pria berumur sekitar 40 tahun lebih itu dengan suara yang tampak mabuk.
"Anda mau minum lagi tuan?" ucap nya yang tak menjawab dan memberikan senyuman nya.
Rangkulan di pundak nya terasa tak nyaman namun tak menyingkirkan nya.
"Kalau kau mau kau bisa hubungi aku," ucap pria yang sudah mabuk itu sembari menyelipkan kertas dengan nomor telpon nya di dada gadis itu.
Senyuman itu masih terlihat namun ia merasa risih dengan setiap sentuhan yang tak nyaman itu.
"Kau punya dada yang indah," bisik nya sembari meremas gumpalan yang empuk itu dengan tangan kasar nya sekilas.
"Te.. terimakasih..." jawab nya lirih yang begitu risih namun ia tak bisa menolak secara terang-terangan.
Pria itu tampak senang, ia mengeluarkan uang nya lagi dan menyelipkan di dada gadis itu ataupun mengusap paha putih itu dan memberikan nya di paha bagian dalam saat ia tengah mengusap dan mengelus nya.
Pekerjaan yang tampak kotor namun menghasilkan uang yang lebih besar di bandingkan hanya bekerja part time di cafe atau jadi pelayan bahkan jika ia menggabungkan upah dari ke empat pekerjaan paruh waktu nya di siang hari pekerjaan paruh waktu di malam hari ini lebih memberikan nya uang yang lebih banyak.
......................
Satu Minggu kemudian.
Mall
Anna terkejut, ia hampir membatalkan barang belanja yang sudah ia pilih saat melihat total belanja nya.
"107.590 EUR?" gumam nya yang merasa terkejut saat melihat angka yang bisa cukup untuk biaya hidup nya selama setahun.
"Terimaksih, selamat berbelanja kembali." ucap nya salah satu pegawai yang menentukan pelayan yang baik dan ramah karna gadis remaja di depan nya menggunakan kartu hitam.
"I.. iya..." jawab Anna gugup yang takut pria itu akan marah hanya karna membelikan tas yang cukup mahal itu.
Sang supir yang sekarang sudah merangkap sebagai pengawal gadis itu pun langsung membawakan barang belanja nya.
__ADS_1
Anna kembali berjalan dengan sedikit linglung karna untuk pertama kali mengabiskan yang begitu banyak setalah selama bertahun-tahun ia hanya menghemat.
Dan kali ini ia mengikuti apa yang di katakan Lucas untuk memakai kartu yang di berikan pada nya.
"Tau begini aku beli nya di pasar aja," gumam nya lirih yang merasa sedikit menyesal karna masih membawa kebiasaan lama nya.
Duk!
Anna tersentak, seseorang menabrak bahu nya secara tak sengaja dan membuat pengawal yang berada di belakang nya langsung menghalangi.
"Kak Anna?"
Anna menoleh seseorang memanggil nya, ia pun mengintip di balik tubuh kekar pengawal nya.
Mata biru itu tampak bingung sejenak namun wajah remaja laki-laki yang berusia sekitar 14 tahun itu tampak begitu familiar.
"Carl?" tanya nya untuk memastikan.
"Iya!" jawab remaja tampan itu dengan senyuman cerah.
Mata biru itu langsung bersinar, ia tak lagi bersembunyi di balik pengawal nya dan langsung mendekat pada seseorang yang sangat ia kenali itu.
Bahkan mungkin dulu ia menganggap nya sebagai adik yang menggemaskan yang terus mengajak nya bicara saat ia masih mengalami afasia.
"Kamu di sini? Bukan nya yang adopsi kamu dulu itu orang Prancis?" tanya Anna yang melihat seseorang yang ia kenal dari panti asuhan nya dulu.
Carl tersenyum, ia meraih tangan gadis itu dan tampak riang seperti remaja yang tampak tak memiliki beban hidup karna di adopsi oleh orang tua yang tepat.
"Iya! Papa pindah tugas ke sini! Kakak sekarang gimana? Ih! Sekarang aku yang tunggi!" ucap nya yang membanggakan diri nya dengan senang.
Anna tertawa kecil, ia berbicara beberapa hal yang ringan dan sejenak lupa dengan beban yang ia bawa sampai pengawal yang terus berada di belakang nya menyentuh pundak nya dan menyadarkan nya.
"Kita harus kembali nona," ucap nya yang mengingatkan gadis remaja itu.
Carl tersenyum, ia tak punya perasaan ketertarikan lawan jenis namun jujur saja ia merasa senang bertemu dengan seseorang yang dulu sempat di besarkan di tempat yang sama dengan nya.
"Hati-hati kak!" ucap nya yang melambaikan tangan nya.
Anna tersenyum, ia merasa senang karna seperti kembali ke kehidupan yang bebas tanpa di bawah tekanan selain mencari uang.
......................
Mansion Damian
Plak!
Gadis itu tersentak, ia membatu beberapa saat dan tampak tak bisa memproses apa yang sedang terjadi.
Tubuh kecil nya langsung gemetar dan senyuman nya hilang seketika. Untuk pertama kali nya pria di depan nya melayangkan pukulan ke wajah nya.
Padahal ia kira semua akan baik-baik saja sekarang.
"Aku sudah bilang jangan bicara dengan pria lain kan? Kau hanya boleh bicara dan tersenyum pada ku saja." wajah yang tampak datar itu terlihat dengan tatapan yang menyembunyikan amarah yang meledak di dalam diri nya.
Anna membatu, lidah nya terlanjur kelu tak bisa mengatakan apapun lagi dengan degupan jantung yang terasa begitu keras berdetak.
Lucas memiringkan wajah nya sembari mulai mencengkram rahang gadis itu.
Warna rona di wajah cantik itu menghilang dan berubah pucat seketika saat ia merasa takut.
"Aku sudah ingatkan berulang kali, tapi kau tidak menghiraukan nya." ucap Lucas yang melepaskan cengkraman nya dan mengambil sesuatu.
"Yang mana?" tanya nya yang memberikan dua benda untuk membiarkan gadis itu menentukan pilihan nya.
Mata biru itu berkedip dengan bibir yang tak bisa menyuarakan apapun.
Ia melihat pisau lipat yang tampak baru dah mengkilap itu dan benda pelindung saat berhubungan agar mengurangi resiko kehamilan.
"Anna?" suara yang memanggil nya bagai peringatan yang menyuruh nya untuk cepat memilih.
Tangan yang bergetar itu perlahan bergerak dan mengambil alat kontr*sepsi yang tentu memiliki kualitas mahal yang tetap akan membuat seseorang menikmati permainan nya seperti tak menggunakan alat pelindung itu.
Ia takut namun setidaknya diperk*sa sampai pingsan lebih baik di bandingkan sayatan yang membuat nya bisa mati.
Memang tak ada pilihan namun gadis itu berusaha memilih mana yang bisa di tanggung dengan tubuh kecil nya.
Lucas tak mengatakan apapun, tubuh yang gemetar dengan tangan yang dingin karna takut itu sudah meraih pilihan nya.
"Ikut aku," ucap nya yang melempar pisau nya dan membawa gadis remaja itu ke kamar nya.
Penglihatan nya yang telah sempurna membuat nya semakin tak bisa menghilangkan keinginan kotor nya pada gadis itu.
__ADS_1
Rasa cinta yang di balut dengan n*fsu dan obsesi yang besar membuat nya tak bisa mengendalikan diri nya.