
Satu Minggu kemudian
JNN grup
Pria itu tampak melihat ke arah peluncuran produk baru yang akan di lakukan perusahaan nya.
"Untuk peluncuran di iklan masukan Anna juga," ucap nya yang memberikan pada pria di depan nya.
"Anna?" tanya Diego mengulang.
"Ya, anak itu bilang mau jadi bintang atau sejenis itu." jawab nya yang memberikan apa yang di inginkan oleh gadis nya.
"Bintang? Kau tak akan masalah?" tanya nya yang tau bagaimana sikap cemburu sepupu nya yang terlihat begitu jelas.
"Ya, akan ku urus sendiri itu dan minggu depan berikan dia guru vokal, seperti nya suara nya tidak terlalu buruk." ucap nya yang sudah mencari tau gadis itu pernah karna paruh waktu untuk menyanyi di beberapa cafe dulu.
"Okey," jawab Diego yang tak lagi mengatakan apapun dan membiarkan nya.
......................
Mansion Damian
Mata biru itu membuka seketika, ia menatap tak percaya ke arah pria di depan nya yang dengan cepat mencarikan pekerjaan yang ia inginkan.
"Iklan?" tanya nya mengulang.
"Ya, tapi kau tetap bukan bintang iklan utama nya karna Zee-"
"Aku fans dia!" potong Anna langsung pada pria itu yang senang saat ia akan melakukan iklan dengan aktris yang ia sukai.
"Padahal kau lebih baik dari dia," ucap Lucas yang tak mengerti mengapa gadis itu mengidolakan seseorang yang bagi nya bukan seseorang yang penting.
Anna melirik, ia menatap ke arah pria yang tampak kesal itu.
"Tapi aku paling suka kamu," ucap nya yang tersenyum dan memeluk pria itu dengan erat.
Lucas langsung tersenyum, ia membalas pelukan gadis itu dan mencium pipi nya dengan gemas.
"Tentu, kau harus lebih menyukai ku dari pada orang lain," ucap Lucas berbisik pada gadis itu.
Anna tak menjawab, namun ia tau ia tak akan bisa pergi dari genggaman pria itu dan hanya dengan pria itu yang akan menjadi tempat paling aman tanpa membahayakan orang-orang di sekitar nya kecuali ia yang menjadi sasaran bahaya itu sendiri.
"Luc?" panggil Anna yang melihat ke arah pria itu saat melepaskan pelukan nya.
Lucas tak menjawab namun ia melihat ke arah gadis itu.
"Aku tadi baca berita kalau Bibi kamu di tangkap polisi," ucap nya yang tau tentang bibi terakhir pria itu yang kemarin siang di tangkap oleh kepolisian dengan tuduhan penggelapan dana dan juga penganiyaan dengan pelayan di kediaman nya.
"Oh dia?" ucap Lucas yang menaikkan satu alis nya dan tampak biasa saja karna ia sendiri yang membuat nya menjadi demikian.
"Mau ku beri tau sesuatu? Yang membunuh kakek adalah dia," sambung nya dengan suara berbisik.
Anna tersentak, selama ini setiap kali mengingat nya ia selalu menyalahkan diri nya sendiri akan kejadian itu.
"Tapi kan kakek meninggal karna tekanan darah ting-"
"Ya, itu karna dia." potong Lucas.
Anna terdiam, ia kehilangan kata-kata sejenak tak percaya jika yang membuat pria tua itu meninggal adalah putri kandung nya sendiri.
Bahkan putri yang tidak di tinggalkan seperti nya karna sang ayah meninggalkan nya.
"Jahat sekali," ucap nya lirih yang tampak marah saat mendengar nya karna ia mulai menganggap pria tua itu sebagai keluarga nya.
"Ya, dia jahat karna membuat mu mendapat kan tuduhan dan putra nya juga menganggu mu di sekolah." ucap Lucas pada gadis itu.
"Haruskah kita berikan dia sedikit hukuman?" tanya nya yang tersenyum dan tentu akan membalas setiap orang yang menganggu gadis nya cepat atau lambat.
"Iya! Dia kan jahat!" jawab Anna yang tak tau setiap kata yang ia ucapkan akan menentukan nyawa manusia.
"Seperti nya gadis kecil itu mulai marah," ucap Lucas terkekeh sembari mengusap kepala gadis itu.
Anna diam tak mengatakan apapun karna tak tau apa yang di maksud pria itu dan hanya membiarkan nya saja.
......................
Satu bulan kemudian.
JNN grup
Mata biru itu tampak berulang kali melirik ke arah wanita yang tampak stylish dengan make up yang cocok dan wajah yang cantik.
Pembicaraan dan briefing tentang iklan yang akan di lakukan berjalan dengan lancar dan tentu saja syuting akan di lakukan dalam dua hari lagi.
__ADS_1
"Ma.. maaf kak?" ucap nya yang mencegah aktris cantik itu untuk pergi.
"Ya?" aktris cantik berumur 27 tahun itu berhenti dan menatap ke arah gadis yang akan menjadi rekan nya saat melakukan iklan nanti.
"Bo.. boleh minta tanda tangan?" tanya Anna dengan berbinar pada wanita itu.
Zeevanya tersenyum, ia mengambil buku gadis itu dan memberikan tanda tangan nya.
"Kamu masih SMA?" tanya nya saat melihat buku catatan yang menunjukan coretan khas anak SMA.
Anna mengangguk dengan wajah nya yang tampak begitu senang.
"Baik, kalau begitu mohon bantuan nya." ucap nya pada gadis itu dengan tersenyum.
Anna mengangguk, ia tampak begitu senang dan tak lama kemudian salah satu pengawal dari departemen sekertaris memanggil nya untuk datang ke ruang Presdir.
Mungkin iklan seperti ini tak akan langsung membuat nya terkenal karna ia pun tau setiap hasil membutuhkan proses yang panjang.
......................
Tiga Minggu kemudian.
Ruangan basement yang tempat tinggal yang termurah itu tak ada suara apapun selain suara tv yang menyala.
Mi instan menjadi santapan yang sering ia makan sampai ia merasa muak.
Mata hitam nya berbinar, ia menatap ke arah seseorang yang ia kenali dan membuat nya tersenyum kecil.
"Dia benar-benar akan muncul di tv," gumam nya lirih yang tersenyum kecil saat ingat dulu mendengar tentang impian teman nya.
Prang!
Suara yang keras membuat nya tersentak, ia berbalik dan menatap ke arah sang ibu yang tampak melempar makanan nya lagi.
"Kamu ini niat ga sih kasih Mama makanan?" tanya nya kesal sembari melempar sendok yang masih di tangan nya pada putri nya.
Senyuman kecil yang tadi nya terpancar menjadi datar dan diam.
"Kita ga bisa pilih makanan Ma, Mama tau kan kalau rentenir yang cari Papa setiap hari selalu datang?" tanya nya yang membersihkan kerusuhan yang di buat oleh ibu nya.
"Ck! Katakan saja kalau dia bukan Papa mu lagi!" ucap nya yang kesal dengan suami nya yang lari dan bahkan tak hadir saat ia menggugat nya di meja persidangan perceraian.
Gadis itu diam sejenak, ia melihat kesal ke arah sang ibu yang bisa berkata dengan mudah namun kenyataan tak seindah perkiraan.
"Tapi tetep aja Ma! Meraka cari kita! Aku yang di jadiin jaminan Ma!" ucap nya yang tanpa sadar meninggikan suara nya lagi.
"Kamu harus nya bisa usir mereka..." ucap wanita itu dengan suara mencicit yang tak lagi mengeraskan suara nya.
Gadis itu menarik napas nya dan membersihkan makanan yang berserakan itu beserta dengan piring kaca yang pecah.
"Aku buatin Mama makanan lagi," ucap nya yang berbalik ke dapur.
Dinding yang tampak lembab dan juga udara yang tak bersih menjadi keseharian nya.
"Apa aku harus ganti piring aluminum saja?" gumam nya yang tau kebiasaan sang ibu yang suka melemparkan dan menghancurkan barang.
Gadis itu berbalik, ia menyiapkan makanan lagi untuk ibu nya dan kembali mengantarkan nya.
......................
Apart
Pria itu melihat ke arah ponsel nya, tak ada catatan transaksi apapun yang keluar dari kartu hitam yang pernah ia berikan pada seseorang.
"Hah..."
Ia menarik napas nya, ia memang menurut apa yang di katakan oleh sepupu nya untuk tak memberikan bantuan ataupun memberikan ketertarikan apapun pada salah satu target incaran nya.
Ia berjalan ke arah kamar nya, membuka lemari nya dan ingin mengambil kaus yang lebih nyaman di gunakan nya saat malam sampai sesuatu terjatuh dari lemari pakaian nya.
"Ini?" gumam nya yang membuat nya teringat akan sesuatu.
Deg!
Sesuatu membuat kepala nya sakit, kilasan tentang tangan cantik dari seorang wanita yang tampak berdarah dan kuku yang patah datang di kepala nya saat ia melihat ke arah gelang simpul yang masih ia simpan karna ia memang membuat nya menjadi dua.
"Si*l! Memperburuk suasana nya saja!" decak nya yang bahkan belum selesai memikirkan seseorang yang menganggu nya selama beberapa bulan terakhir saat hilang kabar.
Pintar sekali?
Kamu, memang anak baik. Sini peluk Mommy...
Deg!
__ADS_1
Deg!
Deg!
Pria itu merasa sesak, ia terus melihat ke arah gelang simpul yang pernah ia berikan pada seseorang.
Tangan yang lembut dan halus itu berubah menjadi duri saat ia merasakan nya kembali di kepala nya.
Pelukan yang hangat dan nyaman itu berubah sesak dan mencekik nya ketika ia mengingat nya.
"Ck!"
Pria itu berjalan dan langsung berlari ke nakas nya, sama seperti sepupu nya yang memiliki obat tidur dan penenang ia pun juga memiliki nya.
She's not your Mom! Don't call she like that!
Ia menarik napas nya, dan teringat dengan teriakan anak kecil itu yang selalu mengatakan hal yang sama saat berebut kasih sayang ibu dari seorang wanita yang baik dan lemah lembut itu.
"Tidak apa, aku sudah menebus kesalahan ku..." gumam nya lirih dengan tarikan napas yang berat.
Ketika ia terkena serangan panik mendadak yang karna di picu dengan salah satu benda yang membangkitkan ingatan nya tentang sesuatu yang traumatis.
......................
Satu Minggu kemudian.
Di setiap hari libur sekolah dalam satu Minggu Anna selalu ikut dengan pria yang tak ingin melepaskan pandangan dari nya sedikit pun itu.
Gadis itu tampak melihat ke arah sekeliling nya saat ia pertama kali memasuki tempat yang tak biasa itu.
"Luc? Memang nya kita mau ngapain di sini?" tanya nya yang memegang lengan pria itu dan takut dengan suasana asing di sekeliling nya.
"Kau tidak nyaman?" tanya Lucas yang baru menyadari jika club' malam dan tempat dewasa itu tak cocok untuk gadis remaja seperti Anna.
"Kalau kau mau aku akan minta Diego untuk mengantar mu keluar," ucap nya yang memang tak bisa pergi karena memang ada beberapa perbincangan bisnis yang di lakukan di tempat informal.
Dan tentu tak ada penjaga yang menghentikan gadis itu karna ia pergi bersama nya.
Anna menggeleng, ia memegang tangan pria itu dan tetap mengikuti nya dari pada nanti keluar dengan sepupu nya lalu di curigai dengan banyak kecemburuan.
Lucas mengangguk, sesuai dengan pertemuan nya ia pun memasuki salah satu ruangan privat room yang berada di club' tersebut.
"Kau membawa gadis? Apa dia dari club' ini juga?" tanya seseorang yang menyambut di dalam club' tersebut.
"Jangan sentuh, dia milik ku dan bukan dari tempat ini." jawab nya yang langsung menarik batas agar tak ada yang menyentuh gadis itu.
"Baik, karna pembicaraan kita akan di mulai bagaimana kalau ada yang menemani?" ucap pria itu yang tampak memberikan senyuman ramah seperti sebuah formalitas.
"Terserah mu, yang penting jangan menganggu ku." ucap Lucas yang mengisyaratkan jika ia tak ingin ada yang berada di dekat nya kecuali gadis yang saat ini tengah bersama nya.
Anna diam tak mengatakan apapun dan hanya mendengarkan, ia tak mengatakan apapun kecuali tetap duduk di samping pria itu.
"Bawakan soda," Ucap Lucas yang tentu tak akan membiarkan gadis nya minum alkohol kecuali hanya saat sedang bersama nya.
Pelayan pria dari club' tersebut pun menunduk dan beranjak sembari memanggil beberapa gadis itu untuk melayani klien VIP yang mereka punya.
"Luc?" panggil Anna yang tak merasa nyaman di tempat itu.
"Tidak apa-apa," ucap nya yang mengusap kepala gadis itu, "Atau mau keluar saja?" tanya nya yang menawarkan sesuatu.
"Kamu ikut keluar juga?" tanya Anna lirih dengan suara yang masih berbisik.
"Aku tetap di sini, Diego yang akan membawa mu keluar kalau kau mau." ucap nya pada gadis itu.
Perusahaan besar pun pasti memiliki sisi gelap dan tak sebersih yang terlihat di umum dan club' adalah tempat yang paling cocok untuk melakukan suatu negosiasi atau transaksi yang tidak ingin di ketahui.
"Ehem!" pria itu batuk dengan sengaja agar menyadarkan kedua orang yang terlihat seperti pasangan yang kasmaran.
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka yang menandakan jika soda yang di pesan atau wanita yang akan menemani tamu VIP seperti mereka sudah datang.
"Kau makan ini saja dulu," ucap Lucas yang menganbikjan buah anggur dalam mangkuk yang di letakkan di atas meja itu.
Anna memamgguk dan menerima nya sembari memasukkan satu anggur besar berwarna ungu itu ke dalam mulut nya.
"Hay? Siapa nama mu?" tanya pria yang tersenyum itu saat melihat ke arah wanita pendamping yang datang.
Anna menoleh ikut menatap dengan pipi yang masih menggembung dan mengunyah.
Deg!
Mata biru itu tersentak, ia terdiam beberapa saat ketika melihat siapa wanita pendamping di club' itu.
"Sam..." gumam nya lirih yang hampir tak bersuara.
__ADS_1
Sedangkan gadis itu tampak terkejut, ia membatu sejenak dan rasa malu yang memuncak hingga kepala nya.
Lidah nya kelu dan kaki nya untuk sesaat seperti tertancap di tanah dengan lem yang melekat.