
4 Hari kemudian.
Anna mengaduk salad yang di berikan pada nya sebagai camilan.
Tak ada lagi pelayan di mansion itu yang berani mengajak nya berbicara karna ingat dengan pelayan sebelum nya yang sudah di pecat karna akrab dengan nya.
"Mereka bicara apa?" gumam nya yang melihat sekumpulan pelayan yang siap bekerja sedang berbicara berbisik.
Anna meninggalkan makanan nya dan mendekati para pelayan itu.
"Kalian bicara apa?" tanya Anna mendekat.
Para pelayan itu langsung tersentak, mereka melihat ke arah gadis remaja yang tersenyum cantik dan kemudian menundukkan pandangan nya.
"Maaf, kami akan bekerja kembali nona." jawab si pelayan dengan wajah yang datar dan menunduk.
"Aku bukan mau marahin kok," ucap Anna yang tak ingin merusak suasana.
Para pelayan itu tak menjawab, mereka hanya tetap menundukkan pandangan nya seperti tak ingin di ajak bicara.
"Ada yang nona butuh kan?" tanya salah satu dari pelayan yang berdiri itu.
Anna menggeleng mendengar nya dan menatap ke arah para pelayan itu lagi, "Tidak ada." jawab nya seketika.
"Baik, kalau begitu permisi." jawab para pelayan serempak dan meninggalkan nya.
Gadis itu kembali terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun dan mungkin ia tak akan memiliki teman bicara lagi.
"Aku kenapa?" tanya nya yang bingung saat merasa semua orang di mansion meninggalkan nya ketika ia mendekat.
Gadis itu kembali ke kamar nya lagi, tak ada teman bicara dan juga penggunaan ponsel yang di batasi.
Lebih tepat nya di batasi dalam berhubungan dengan seseorang di luar, setiap kali ia menghubungi teman sekolah nya maka pria pemilik mansion yang saat ini berada di Jepang pun bisa tau membuat nya enggan.
Sejak pagi hari di mana ia mendengar pria itu akan pergi ke Jepang untuk perjalanan bisnis membuat nya merasa senang namun ketika tak ada yang bisa ia lakukan di mansion mewah itu selain makan, tidur, menonton film, dan kegiatan apapun namun tak bicara dengan orang lain membuat nya hampir mati karna bosan.
Suara ketukan terdengar di kamar nya, "Masuk." ucap nya yang sudah tau siapa yang datang.
Pemeriksaan medis secara berkala datang pada nya, memberi nya perawatan intens untuk luka nya sekaligus menghilangkan bekas yang akan membuat kulit nya tak mulus nanti nya.
"Ini obat apa?" tanya nya saat di berikan suntikan di tangan nya.
Ia tak tau apa yang di masukkan ke dalam tubuh nya, yang ia tau hanyalah para dokter itu datang tanpa sepatah kata pun penjelasan dan keluar saat pemeriksaan selesai.
"Sudah?" tanya nya ketika melihat para dokter berberes.
"Coba tunjukkan lengan dan punggung nona," ucap salah satu dokter yang hanya bicara ketika di perlukan.
"Pu...punggung?" tanya Anna yang selalu ragu untuk menunjukkan nya walau setiap kali ia melakukan pemeriksaan.
"Jika nona tidak berbalik, kami terpaksa melihat nya secara paksa." ucap salah satu dokter dengan wajah yang selalu tampak serius.
"Okey," jawab Anna lirih dan mulai membalik tubuh nya serta memperlihatkan punggung nya.
"Tu..tunggu!"
Gadis itu langsung berbalik, kali ini luka di punggung nya juga seperti nya di berikan sesuatu.
"Sir Lucas sendiri yang memerintahkan nya, kami mohon nona bekerja sama." ucap salah satu dokter yang tak bisa memberikan obat jika gadis itu berbalik.
__ADS_1
"A..apa yang dia bilang?" tanya nya lirih pada dokter yang tak ramah itu.
"Untuk menghilangkan seluruh bekas luka di tubuh nona," jawab sang dokter.
Bukan nya ingin bersikap jutek namun mereka harus melakukan nya atas dasar perintah yang di terima.
"A..aku akan bicara pada nya." ucap Anna lirih.
"Ke..keluar..." sambung nya yang meminta para dokter itu untuk keluar dari kamar nya.
Para dokter pun tampak saling melihat satu sama lain namun tak beranjak sedikit pun dari tempat itu.
"Keluar!"
Sambung nya lagi dengan meninggikan suara nya, ia sangat sensitif dengan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu nya.
Luka di punggung nya?
Lubuk hati nya yang terdalam masih tak ingin menghilangkan bekas luka itu.
Memang seperti menyakitkan namun ia bahkan enggan melupakan rasa sakit itu.
...
Anna membuka ponsel nya, ia ingin menelpon pria itu untuk menanyakan tentang sekolah dan juga tentang bekas luka yang di permasalahkan.
"Eh?" gadis itu tersentak, ia hanya ingin melakukan panggilan biasa namun jemari lentik nya malah melakukan panggilan video.
"Ada apa?"
Belum sampai tiga detik panggilan tersebut sudah tersambung, wajah pria itu muncul di layar ponsel nya sampai membuat nya terkejut.
"Kenapa? Hari kiamat besok?"
Lucas bertanya dengan dahi yang mengernyit melihat panggilan video yang di berikan gadis itu padahal belum nya tak pernah.
"I..itu..." ucap Anna lirih.
"Sa..saya rindu dengan anda, Sir!" sambung nya dengan senyuman lebar.
Lucas mendengar nya dan tak memberi respon kecuali senyuman simpul yang terlihat.
"Luka mu bagaimana?"
Tanya Lucas yang mengalihkan pembicaraan yang lain.
"Sudah baikan!" jawab Anna seketika dengan tersenyum, "Sir?" panggil nya.
"Apa?"
Jawab Lucas saat gadis remaja itu memanggil nya.
"Ka..karna sa..saya sudah sembuh saya boleh kembali sekolah?" tanya nya pada pria itu.
"Kau bisa sekolah setelah aku kembali,"
Jawab Lucas pada gadis itu.
Anna terdiam sejenak, "Da..dan lu..luka di punggung saya ju..juga tidak perlu di obati Sir..." ucap nya pada pria itu.
__ADS_1
Ia membenci seseorang yang memberi nya bekas luka itu namun ia juga sangat merindukan nya.
Seseorang yang menyakiti nya dan juga menyayangi nya. Satu-satu yang pernah berada di sisi nya dan juga satu-satu nya yang ia miliki.
"Soal itu aku yang pikirkan, kau milik ku."
Ucap Lucas yang tampak seperti tak ingin mendengarkan nya.
"Kau sangat jelas, padahal hanya di balik layar."
Suara gumam pria itu yang menatap nya dengan wajah datar namun begitu intens memandang nya.
"Ya?" Anna mengernyit dengan bingung.
"Buka pakaian mu,"
Perintah pria itu dengan datar, namun masih memperlihatkan aura yang menekan membuat gadis itu merasa takut juga seperti saat bertemu langsung.
"U..untuk apa Sir?" tanya nya lirih dengan senyuman canggung.
"Kau di kamar kan?" tanya Lucas memastikan.
"Iya..." jawab Anna lirih.
"Kunci kamar mu dan lepas semua pakaian mu dan juga letakan ponsel mu supaya aku bisa melihat mu."
Ucap Lucas sekali lagi.
"Si..sir?" panggil Anna lirih.
"Kau mau buka sekarang atau mau aku yang buka? Pakai ini,"
Ucap Lucas yang menunjukkan pisau nya di panggilan video tersebut.
Anna tersentak, melihat bayangan pisau lipat yang tajam dan mengkilap itu membuat nya meremang takut.
"Sa..saya buka..." ucap Anna yang berdiri meletakan ponsel nya dan mulai menanggalkan pakaian nya satu persatu.
......................
Tokyo, Jepang
Hotel
Kamar presiden suite yang besar dan sunyi itu tak menunjukkan suara apapun selain suara dari jemari yang mengetuk meja dan juga pria yang tengah melakukan panggilan video itu.
"Berbalik," ucap nya yang melihat ke arah layar laptop nya sembari menyuruh gadis itu memperlihatkan bagian belakang tubuh nya.
Awal nya ia hanya ingin melihat bekas luka di tubuh gadis itu sudah sembuh sejauh mana, namun.
"Duduk di kursi itu, sedikit mendekat ke ponsel mu." ucap nya yang mulai memberikan perintah untuk membuat gadis itu menunjukkan bagian sensitif tubuh nya lebih jelas lagi.
Ia tak tau bahwa di panggilan video saja gadis itu masih memiliki wajah dan warna yang begitu jelas membuat nya merasa nyaman dan menikmati salah satu keindahan yang hanya di miliki oleh gadis remaja itu.
"Kau membuat ku harus berendam air dingin..." ucap Lucas lirih dengan suara yang terdengar berat.
"Bukan nya di sana memang sedang musim salju Sir? Anda mau mandi air dingin?
Suara gadis itu terdengar di balik telpon dengan wajah yang tampak bingung.
__ADS_1
"Hm, karna tidak ada yang akan menghisap nya malam ini." jawab pria itu ambigu.