
Tiga Bulan kemudian
Siang dan malam masih terus bergulir tak peduli dengan duka dan perasaan semua orang berada di atas tanah itu.
Pria itu memandang kosong ke arah luar jendela, bangunan yang tinggi dan besar itu dengan beberapa ruang bagian sesuai divisi nya namun di ruang teratas tempat sang pemilik.
Selain tumpukan berkas pekerjaan, kertas yang berada di atas meja kerja pria itu pun penuh dengan keterangan pencarian gadis nya yang masih tak di temukan hingga sekarang.
"Sir?"
Pria itu menoleh, ia menatap ke arah sumber suara yang memanggil nya barusan.
"Aku bawa ini, dan kau sudah memeriksa berkas sebelum nya?" tanya Diego yang memberikan sekali lagi berkas yang baru.
Lucas mendekat dan mengambil apa yang berada di tangan pria itu.
"Sudah, kau bisa mengambil nya dan untuk pengembangan yang terbaru sebaik nya lebih tekan kan di bagian servis pelanggan karna banyak yang mengeluh." jawab Lucas yang kembali duduk ke meja nya.
Diego menatap sejenak ke arah pria itu, terlihat begitu tenang namun dalam dua bulan terkahir pria itu kembali memiliki 'peliharaan' yang di sayat sedikit demi sedikit.
Semenjak ada nya beberapa pelayan yang mati tentu kini Lucas harus bisa sedikit mengontrol diri nya.
"Kau baik-baik saja? dr. Dave bilang kau semakin sulit mengatur emosi mu." ucap Diego yang bertanya pada sepupu nya.
Saat ini terlihat seperti seseorang yang normal namun ketika di malam hari dan seisi mansion nya di penuhi dengan bayang gadis nya pria itu akan menggila.
Lucas tak menjawab, ia diam dan menarik napas nya dan mendekat ke arah sepupu nya.
"Aku sudah lihat hasil terapi Anna, kalau kau tidak membawa nya ke psikiater sialan itu mungkin dia tidak akan memiliki pikiran untuk kabur." ucap Lucas pada Diego.
"Tapi dia akan gila jika tetap seperti itu," ucap Diego yang tentu tak merasa melakukan sesuatu yang salah.
"Gila? Dia harus jadi gila untuk tinggal dengan orang gila seperti ku, kan?" ucap Lucas pada sepupu nya.
Diego diam sejenak saat mendengar nya, tatapan dan wajah kosong itu tampak begitu kesepian seperti tak tertembus oleh apapun.
"Tapi aku juga akan segera menemukan nya, bahkan hukum negara ini juga akan mendukung ku." ucap Lucas lirih.
Diego mengernyit mendengar nya, apa maksud perkataan sepupu nya?
"Psikiater yang melakukan terapi dengan Anna menghilang. Apa ini ada hubungan nya dengan mu?" tanya Diego mengernyit.
Lucas diam sejenak untuk berpikir sebelum menjawab nya.
"Jika kau sudah selesai kau bisa keluar," ucap Lucas yang tak menjelaskan apapun.
Diego terdiam sesaat, rasa nya seperti sepupu nya itu tengah bergerak tanpa melibatkan nya sama sekali.
Ia sedikit cemas dan gelisah karna takut jika ia ketahuan bahwa ia lah yang menbawa kabur Anna.
"Ya," jawab Diego singkat dan kemudian berbalik.
Lucas kembali duduk ke meja nya, untuk sesaat ia melihat ke arah beberapa kertas hasil pencarian dari gadis nya.
Rekaman cctv, riwayat telpon dan juga mobil serta taksi yang di pesan. Semua di temukan namun tak ada tanda-tanda yang menerangkan di mana gadis yang ia cari.
Drrtt.. Drrtt... Drrtt...
Ponsel pria itu berdering, Lucas menoleh dan langsung mengangkat nya karna ia tau siapa yang tengah menghubungi nya saat ini.
"Kau sudah selesai membuat nya?" tanya Lucas tanpa mengatakan kalimat basa-basi.
"Ya, sekarang dia sudah resmi menjadi istri anda. Saya akan bawakan dokumen nya segera."
Lucas menarik napas mendengar nya, kini ia memiliki kebebasan hukum mencari gadis nya.
Karna ia sekarang adalah suami sah yang tercatat secara resmi sesuai hukum negara yang berlaku dan tentu ia adalah wali utama gadis itu saat ini.
Pernikahan tanpa ada nya gaun ataupun pasang cincin, tak ada altar apalagi saling mengucap janji.
Tanpa pengantin dan tanpa iringan musik, namun ia sudah menikah sekarang.
"Aku akan segara menemukan mu," gumam nya sembari menoleh ke arah sofa yang biasa di duduki gadis itu.
Ia melihat objek warna, objek yang datang dan menghilang sesuka nya saat pikiran nya hanya tengah memikirkan satu orang.
Gadis itu tesbeyum tipis, mata biru nya yang cerah, bibir nya yang tipis dan kemerahan serta rambut panjang yang bergelombang berwarna pirang itu tampak begitu mengkilap di bawah sinar.
Lucas terpaku sejenak, ia tau apa yang ia lihat di depan mata nya saat ini adalah tipuan.
"Jangan tersenyum pada ku seperti itu setelah kau meninggalkan ku." ucap Lucas lirih sebelum bayangan itu menghilang dengan sendiri nya.
Hah!
Lucas membuang napas nya dengan kasar, pelipis nya terasa pegal hingga membuat nya memijat nya.
"Anna..."
"Kau senang setelah membuang ku?"
Jujur ia begitu marah, kekesalan yang di penuhi dengan emosi meluap.
Namun kerinduan nya juga sebanding dengan amarah nya, ia memaki dan kemudian kesepian setelah nya.
Marah dan sedih setelah nya, tak tau apa lagi yang bisa ia lakukan nanti.
......................
Hiddensee
Perut gadis itu masih tak begitu membulat walau kini sudah mencapai usia 4 bulan lebih.
"Kau mendapat kan SIM mu," ucap wanita itu yang memberikan SIM setelah gadis bermata cantik itu lolos tes.
"Yes! Terima Kasih!" ucap Anna yang menerima SIM nya.
Kali ini ia bisa bepergian sendiri seperti apa yang ia impikan.
"Varsha Arsene," gumam nya yang melihat nama yang tercetak.
Memang ia yang lolos tes namun yang nama yang tertulis bukan nama asli nya.
Anna menarik napas nya dan kemudian mengusap perut nya yang masih terlihat tak begitu membulat.
"Cherry Mama mau makan? Kita makan yuk?" ucap Anna yang memberikan nama sementara.
__ADS_1
"Varsha?"
Anna masih mengusap perut nya, ia tak menoleh karna lupa dengan nama yang baru ia dapatkan beberapa bulan yang lalu itu.
"Varsha Arsene!"
"Eh?"
Gadis itu tersentak, kali ini ia menoleh dan menatap ke arah wanita yang cukup tua itu.
"Bibi? Kapan bibi sampai?" tanya Anna yang tersenyum tanpa sadar saat melihat wanita itu.
"Sudah lama sampai, aku memanggil mu dari tadi tapi kau tidak melihat." ucap Camilla yang mengajak gadis itu.
"Bibi? Ayo kita cari makan, dia juga sudah lapar seperti nya." ucap Anna yang mengusap perut nya yang masih tak terlalu besar itu.
"Seperti nya yang lapar itu kau, tapi kau memang harus makan lebih banyak." ucap Camilla yang setidak nya tak lagi melihat gadis kekurangan gizi sekarang.
Anna tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum dan mengikuti wanita itu sembari bercerita tentang SIM nya.
....
Restauran
Deg!
Deg!
Deg!
Mata biru itu menatap dengan tatapan yang risau dan gelisah.
"Varsha!"
Camilla sekali lagi menepuk bahu nya, hingga membuat gadis itu tersentak.
"Ya?"
Terdengar jelas keterkejutan nya dan kemudian mata biru itu melirik lagi ke arah seseorang yang memiliki sosok dengan punggung mirip dengan yang ia kenal.
Bukan! Itu bukan dia! Aku...
Aku akan baik-baik saja...
Anna bernapas lega, ia memang terlihat masih baik-baik saja namun tentu rasa takut dan kekhawatiran selalu membuncah di dalam diri nya.
"Kau pucat, kau baik-baik saja?" tanya Camilla yang melihat wajah pucat gadis itu.
Anna menangguk mendengar nya, "Aku baik-baik saja Bi.."
......................
Apart
Pria itu menatap ke arah ponsel nya, melihat ke foto dari tangkapan yang ia curi.
Ada yang sedang, duduk, berdiri, bercerita, makan, minum.
"Kau itu kemana sih? Sekarang kau sangat bahagia dengan Sugar mu itu? Kuliah itu harus sampai tamat!"
Ucap Gevan yang berdecak dan kemudian membanting kasar ponsel nya di atas ranjang.
Drrtt.. drrtt.. drrtt...
Ponsel nya berdering, Gevan menoleh dan menatap ke arah yang memanggil nya.
"Ya, aku akan berangkat sekarang." ucap nya yang langsung beranjak.
Ia mengikuti impian seseorang, namun saat ia berusaha memiliki langkah yang sama seseorang yang ia ikuti malah menghilang.
"Lihat saja nanti! Kalau aku terkenal! Aku akan pura-pura lupa dengan mu!" ucap Gevan yang kesal saat memikirkan gadis itu.
......................
Hiddensee
...
Kau pikir kau bisa lari dari ku?
Ukh!
Pegangan yang kencang itu mendarat sempurna di leher kecil yang terlihat jenjang itu.
Atau karna anak ini?
Mata biru itu tersentak, ia melihat pukulan tangan besar itu melayang ke perut nya.
Bugh!
Bugh!
Seluruh tubuh nya merasa sakit, ia menggeliat dan berusaha melepaskan diri namun seseorang yang mengukung dan memeluk lebih erat.
Mati!
Kau harus mati!
....
Gadis itu tampak gelisah dalam tidur nya, keringat dingin turun dan wajah nya yang begitu pucat.
Deg!
Mata biru itu tersentak, seluruh tubuh nya gemetar dan ia pun langsung terduduk saat terbangun.
"Mimpi? Tenanglah..."
"Itu hanya mimpi..."
Gumam Anna dengan tubuh yang gemetar dan wajah yang pucat, karna ia melihat seseorang yang memiliki perawakan yang mirip ia menjadi takut.
Takut dengan bagaimana konsekuensi yang akan ia terima nanti nya jika pria itu benar-benar menemukan nya.
Dan tentu ia juga tidak tau sama sekali jika Anna Maurenne sekarang adalah gadis yang sudah menikah dan terdaftar resmi di Negara.
__ADS_1
Tak hanya itu, bahkan sekarang pun ia memiliki catatan medis gangguan jiwa yang seharusnya masih dalam pemantauan dokter.
Dua hal yang telah berubah dan ia yang tak mengetahui nya sama sekali.
Anna sedikit tenang sekarang, kali ini membuka televisi yang berada di kamar nya.
Iklan yang muncul pertama kali adalah brand dari perusahaan yang ia kenali.
"Tentu..."
"Dia tidak akan mencari ku, dia punya segala nya untuk melakukan sesuatu yang dia mau..."
Anna duduk di atas ranjang nya sembari melihat ke arah iklan tersebut.
Ia merasa pria itu akan segara melupakan nya, karna ia tak lagi memiliki kegunaan.
Pria itu sudah bisa melihat warna dan di tengah itu juga ada wanita yang terlihat anggun dan cantik bahkan ia sendiri pun akan jatuh hati walau sesama perempuan.
Jadi tak mungkin pria itu tidak tergoda kan?
Gadis itu menghidupkan televisi nya, memenuhi ruangan kamar nya dengan volume yang ia keraskan dan kemudian menidurkan diri nya di atas ranjang.
"Jangan takut Ann..."
"Kamu akan baik-baik saja..."
Gumam nya yang mencoba meyakinkan diri nya sendiri.
......................
4 Bulan kemudian
Rumah sakit
Perut yang besar itu kini menjalani pemeriksaan secara rutin sekali lagi.
"Bayi nya sehat dan seperti nya dia akan menjadi anak yang tampan nanti." ucap wanita itu yang melihat ke arah USG nya yang menampilkan gambaran bayi yang masih terpejam itu.
"Benarkah? Tapi kenapa terlihat seperti hamburger?" tanya Anna dengan mata nya polos nya ketika melihat bayi dari hasil USG.
Sang dokter tak menjawab dan hanya tersenyum.
"Saya akan menjadwalkan operasi nya," ucap wanita itu karna pasien nya ingin persalinan Cesar yang tentu nya bukan operasi biasa.
Layanan operasi yang cukup mahal dan berkualitas.
Anna menangguk, untuk waktu yang cukup lama ia tak berkerja sama sekali karna memiliki uang simpanan yang cukup banyak namun tentu uang ia simpan akan habis dan ia juga tak mungkin akan terus bergantung pada seseorang untuk uang.
Camilla mengantar keluar gadis itu dari ruang pemeriksaan setelah mengatur jadwal.
"Bi? Bagaimana kalau aku membuka toko? Toko suvenir atau mainan, bukan nya di dekat pantai banyak turis? Atau aku membuka peternakan saja?" tanya Anna yang meminta saran untuk memutar uang nya.
"Menurut ku lebih baik peternakan, kau bisa memelihara domba dan menyuruh orang lain mengerjakan nya. Susu, Bulu dan daging nya bisa kau gunakan." ucap Camila yang berpikir.
Anna menangguk kecil, ia memikirkan saran yang masuk pada nya.
......................
Mansion Damian
Pria itu tertidur di tempat yang sempit itu karna ia menyandarkan diri nya di dalam lemari pakaian seorang gadis itu.
Pakaian yang biasa di gunakan dan ingatan yang membuat nya merasa gadis itu di sekitar nya.
Setiap kali ia membuat kotor pakaian cantik itu dengan darah maka ke esokkan hari nya semua menjadi bersih kembali dan ia pun kembali tidur di tempat itu.
"Kau tersenyum lagi? Karna kau tau sekarang hanya kau terlihat berwarna?"
Tanya Lucas pada seseorang yang tak akan bisa menjawab nya.
"Teruslah bersembunyi dengan baik, aku akan segara menemukan mu..."
Gumam nya yang kemudian bayangan itu menghilang. Perasaan yang terasa sulit dan menggelitik nya seperti kupu-kupu yang meluap dan membuat nya sesak seiring waktu.
Pria itu membuang napas nya dengan kasar, ia memainkan pisau lipat yang masih memiliki bercak darah itu dengan tatapan yang kosong.
"Aku akan menemukan mu..."
"Aku akan segera menemukan mu..."
Ucap nya lirih yang terus bergumam saat ia duduk di tempat yang sempit itu walaupun ia memiliki ranjang yang nyaman.
Mata nya menoleh ke arah tangan nya yang berwarna merah karna bercak darah dari seseorang yang baru ia ambil kulit bagian lengan nya.
Lucas menjatuhkan pisau nya, kali ini mata nya menangkap sesuatu yang lebih mencuri perhatian nya di bandingkan objek yang berwarna merah.
"Benar, sekarang kau sudah jadi istri ku..."
"Jadi kau harus kembali..."
"Aku akan memperlakukan mu dengan baik, tidak!"
"Aku akan merantai mu, aku akan memotong kaki dan tangan mu..."
Gumam nya yang mengusap cincin yang terpasang walaupun tak ada pengantin wanita yang memasangkan untuk nya.
Dan tentu pasangan cincin berlian dengan emas putih yang mahal itu masih berada di kotak nya menunggu seseorang harus memiliki nya.
Mata yang berwarna abu-abu gelap itu menyilang dan meringkuk di dalam lemari pakaian itu.
"Tidak, aku akan memeluk mu..."
"Aku tidak akan membiarkan mu lepas dari pelukan ku..."
Bibir nya bergumam, mengatakan kalimat mirip dengan penyesalan, kemarahan dan kemudian mengatakan kalimat yang menunjukkan ketergantungan yang kuat.
Aku akan memegang tangan mu sampai kau harus memotong nya jika ingin pergi dari ku lagi...
Gadis nakal! Gadis jahat!
Kau tidak tau cara menempati janji mu! Kau berbohong!
Aku membenci mu! Aku tidak akan memaafkan mu!
Aku...
__ADS_1
Aku akan memeluk mu lagi dan membuat tubuh kecil mu itu remuk...
Aku merindukan mu...