Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Human doll


__ADS_3

Ke esokkan pagi nya.


Mata gadis remaja itu tampak cekung dan seperti tak bisa tidur sama sekali.


"Yang semalam itu apa? Apa aku baru saja melakukan panggilan..." gumam nya lirih yang tak bisa tidur karena panggilan dewasa nya semalam.


"Astaga..." sambung nya lirih yang berguling di tempat tidur nya tanpa keinginan untuk bisa bangun.


......................


Tokyo, Jepang


Diego melihat ke arah pria yang tampak lebih baik hari ini di bandingkan dengan hari biasanya.


Walaupun wajah sama-sama datar namun ia bisa membedakan mana yang dalam suasana hati yang baik dan mana yang dalam suasana hati yang buruk.


"Setelah, penyusunan berkas dan penandatanganan nya lusa, aku akan langsung pulang." ucap nya pada seseorang yang saat ini merupakan sekertaris nya walaupun saat di luar pria itu adalah sepupu nya.


"Anna?" bukan nya menjawab ya dan tidak atau jawaban yang masih dalam topik pekerjaan namun ia malah menjawab dengan nama seseorang.


Lucas mengernyit, ia langsung menoleh ke arah seseorang yang menyebut nama gadis yang ada di pikiran nya saat ini.


"Kenapa kau sebut dia?" tanya nya dengan bingung.


"Kau tidak pernah ingin cepat-cepat kembali, dan yang kemarin kau juga cepat kembali karna ingin menemui anak itu kan? Sekarang juga?" tanya nya yang menebak.


"Memang kenapa?" tanya nya dengan bingung yang merasa tak ada yang salah.


"Kau melihat nya sebagai apa? Peliharaan? Atau wanita?" tanya nya pada pria itu.


"Why you ask me like that?" tanya Lucas membuang wajah nya dan melanjutkan pekerjaan nya.


Diego diam sejenak dan menarik napas nya, "Do you love her?" tanya nya lirih.


Lucas langsung menoleh menatap pria itu dengan mata nya sejenak.


"Aku harus jawab?" tanya nya sembari melihat ke arah pria itu.


"Tidak, tapi itu jawaban untuk mu sendiri." jawab nya sembari mengambil pekerjaan nya juga.


Lucas tampak tak mengatakan apapun, ia diam sejenak dan kembali menatap layar laptop di depan nya.


"Tapi kau juga tetap aktifkan chip nya?" tanya Diego di selang pekerjaan nya.


"Ya," jawaban singkat yang begitu jelas.


Pria itu terdiam sejenak, "Bukan nya gelombang radiasi nya akan semakin tinggi kalau jarak nya semakin jauh?" tanya nya yang heran.


"Lagi pula dia juga cuma di mansion kan? Tidak ke mana pun." ucap nya sekali lagi.


Lucas tak menjawab, ia hanya suka mendengar suara gadis itu dan ingin tau semua yang di lakukan nya.


"Kau tadi tanya apa aku mencintai nya kan?" tanya Lucas menatap wajah sepupu nya dengan datar karna ia tak bisa melihat wajah pria itu.


Diego menatap seseorang yang bertanya pada nya tanpa mengatakan apapun.


"Ya, I love her." sambung nya dengan enteng seperti tak bisa di lihat kesungguhan nya.


"And you love her but wanna make her die slowly?" tanya nya menatap ke arah pria itu.


"Kenapa dia mati? Aku mengobati nya setiap saat, aku juga memberikan perawatan terbaik dan obat yang terbaik juga." ucap Lucas pada pria itu.


Diego tak mengatakan apapun, "Kenapa? Kau sangat sensitif semenjak dia bisa terkena kanker? Apa karna mirip seseorang? Usia nya juga sama waktu anak itu meninggal kan?" tanya nya menatap ke arah sepupu nya.


Diego membuang menarik napas nya dengan berat dan membuang nya perlahan.

__ADS_1


"Kupikir kau tidak akan terpengaruh dengan anak itu, rupa nya kau bahkan masih belum bisa melupakan nya." sambung nya sekali.


"Kau tidak akan tau rasa nya," jawab Diego pada Lucas seperti tak ingin mengatakan hal lain.


"Berhenti memikirkan hal yang sia-sia," sambung Lucas dengan enteng.


Ia tak tau bagaimana rasa nya di tinggal dengan seseorang yang di sayangi karna ia sendiri bahkan tak pernah memiliki orang yang ia sayangi.


"Sia-sia?" tanya Diego tersenyum tipis.


"Ya, kau dulu juga baru kenal dengan anak itu kan?" jawab Lucas dengan singkat.


"Kau benar-benar, itu pasti hanya sia-sia saja." ucap nya dengan membuang napas nya dah tersenyum, "Sia-sia karna bicara dengan mu." sambung nya sekali lagi.


Lucas lambung menoleh kembali melihat ke arah seseorang yang terdengar seperti menyindir nya.


"Kau tidak akan tau rasa nya," jawab nya lirih.


"Dia bukan saudara kandung mu kan? Cuma saudara seibu lagi pula kau juga tidak dekat dengan ibu mu kan?" tanya nya menatap ke arah pria itu.


"Tapi dia tetap adik ku, dan lagi jangan bicara tentang orang yang sudah meninggal." jawab nya singkat dan bergegas pergi.


Pekerjaan yang sibuk dan melelahkan itu masih begitu banyak, Lucas mengerjakan dengan lebih cepat karna ingin kembali dengan cepat.


......................


3 Hari kemudian.


Gadis menatap ke arah pria yang baru saja kembali. Ia tak tau harus senang atau sedih melihat nya.


Jika pria itu tak ada ia seperti hanya pajangan di mansion mewah itu karna tak bisa melakukan apapun yang ia inginkan.


Sedangkan jika pria itu kembali, ia bisa setidaknya melakukan sesuatu yang ia inginkan namun selalu penuh debaran rasa takut.


"Kau rindu aku?" tanya Lucas yang tanpa sadar tersenyum ketika melihat wajah gadis yang tampak lebih nyata di bandingkan ketika ia menelpon.


"Tentu Sir!" jawab nya dengan mata biru yang berseri dengan kilau sinar yang ia sukai.


Lucas tak mengatakan apapun, ia beranjak mendekat dan meraih tangan gadis itu lalu memeluk nya dengan erat.


Greb!


Tubuh kecil itu seperti hilang dalam pelukan pria bertubuh tinggi penuh dengan otot itu.


Anna tak bisa bernapas namun ia tetap membalas pelukan nya dengan erat.


...


Satu persatu buah dengan rasa manis asam segar itu masuk ke dalam mulut mungil harus remaja yang duduk di atas pangkuan seseorang.


"Lagi?" tanya Lucas yang melihat stoberi yang tadi nya ia gunakan untuk menyuapi gadis itu habis.


Anna terdiam, setiap kali ia melihat pria itu baik pada nya ia selalu semakin takut.


"S..sir..." panggil nya yang lirih saat merasa bingung dan tak nyaman ketika ia di manjakan tanpa di minta.


"Karna kau sudah jadi cumi-cumi penurut lagi, aku akan memberi mu hadiah," ucap nya yang membuat mata biru itu bersinar.


"Apa yang kau sukai?" sambung Lucas menanyakan apa yang gadis itu inginkan.


"Uang," jawab Anna singkat dan jelas yang langsung mengatakan apa yang ada di pikiran nya.


"Kau punya kartu tak terbatas, uang untuk apa lagi?" tanya Lucas yang bingung.


"Saya suka yang cash," jawab nya dengan mata biru yang tampak bersinar itu.

__ADS_1


Lucas hanya membuang napas nya, ia tersenyum lirih melihat wajah yang bagi nya sangat jelas dan merupakan sesuatu yang begitu indah bagi nya.


Pria itu mulai mengeluarkan sesuatu dari saku nya dan membuka nya untuk memberikan isi nya pada gadis yang ada di pangkuan nya.


Mata Anna membulat seketika, uang dengan pecahan tertinggi dan tampak tebal itu keluar dari dompet yang terlihat mahal.


"Ini, di dompet ku hanya ada segini. Aku jarang memakai uang cash." ucap nya pada gadis itu dengan mengeluarkan semua isi dompet nya.


Anna masih tampak melihat uang yang ada di tangan nya saat ini, mata nya yang biru pun bisa jadi hijau jika ia melihat uang sebanyak itu namun hanya seperti kacang rebus bagi pria kaya nan tampan itu.


"I..ini sudah cukup kok..." jawab nya lirih.


Jika dulu ia mendapatkan uang sebanyak ini mungkin ia tak akan memikirkan makanan nya selama tiga bulan.


"Selain itu kau mau apa lagi? Apa yang kau sukai?" tanya Lucas lagi pada gadis yang tampak menghitung uang yang ia sukai itu.


"Boneka," jawab Anna tanpa sadar yang lupa dengan boneka terakhir yang ia dapat dari pria itu.


"Kau mau boneka beruang lagi?" tanya Lucas pada gadis itu.


Anna tersentak, ia langsung menggeleng dan langsung mengingat tentang apa yang ia dapat dari pria itu.


Lucas mengernyit, namun ia ingat jika gadis itu suka dengan boneka manusia yang pernah di katakan nya.


"Aku tau yang kau ingin kan," ucap nya sembari mengecup kening gadis itu.


...


Hah...


Ukh!


Tak ada suara yang bisa di keluarkan, gadis yang sebelum nya memiliki wajah cantik bak boneka itu kini tampak menyeramkan dengan lidah yang terpotong.


"Kau tidak mau tertawa?" tanya nya yang mengernyit.


Bagaimana sebuah boneka jika memiliki wajah yang kacau?


"Seperti nya aku harus membuat mu tersenyum," ucap nya yang beranjak mengambil sebuah gunting di kamar tersebut.


Akh!


Suara teriakan rintihan sakit terdengar dengan jelas saat ia mulai menggunting sudut bibir gadis muda itu sampai ke pipi.


Tangan yang penuh dengan darah itu mulai menjahit pipi gadis muda ke atas dan membuat nya bisa tampak tersenyum namun begitu mengerikan dengan wajah yang di koyak dan di jahit.


Suara lonceng beradu dan terdengar, seperti biasa ia akan selalu memberi gelang yang penuh lonceng di kaki atau tangan seseorang yang tengah menjadi sasaran nya.


Ia suka suara yang seperti musik dengan rintihan rasa sakit seseorang itu.


"Tapi ku dengar mata mu tidak biru? Jadi kita akan ganti sekarang." ucap nya dengan senyuman dan jemari yang mulai masuk ke dalam mata gadis muda itu.


Akh!


Ukh!


Suara yang hilang karna ia memotong lidah nya membuat nya hanya seperti orang bisu yang kesakitan.


Lucas tak menunjukkan ekspresi apapun seperti iba atau rasa kasihan, ia mengambil mata boneka berwarna biru seperti gadis nya walau ia tak bisa melihat warna biru apapun selain mata gadis nya itu.


Tangan nya meletakkan lem dengan banyak di mata boneka itu lalu menempelkan nya di mata yang kosong gadis muda itu.


Baru saja ia kehilangan satu mata nya dengan di congkel kini malah di gantikan dengan mata mainan yang di berikan banyak lem.


Tentu jeritan nya semakin terdengar, namun bukan nya merasa kasihan Lucas lantas kembali mengambil satu mata gadis muda itu dengan pisau karna mengambil dari tangan ternyata lebih sulit.

__ADS_1


Lantai putih marmer itu penuh darah, tak ada yang sanggup dengan penyiksaan nya.


"Nah, sekarang kau sudah jadi boneka yang cantik." ucap nya yang tersenyum tipis membayangkan seseorang yang akan menyukai pemberian nya kali ini.


__ADS_2