
Pandangan pria itu mengabur, tawa getir terdengar bersamaan dengan ringisan. Rumah nya berantakan, lantai nya di penuhi dengan bercak darah dan ia pun merasa mungkin ada beberapa dari bagian tulang tubuh nya yang patah.
Namun ia tak begitu membenci seseorang yang baru memukul nya.
"Apa aku akan mati? Tidak, aku belum mau mati sekarang..."
"Neraka mengerikan..."
Gumam nya lirih yang memang sadar diri jika ia tak mungkin bisa masuk ke surga setelah apa yang ia lakukan.
......................
Universitas
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt...
Ponsel gadis itu bergetar, ia menoleh melihat ke arah nama yang memanggil nya.
"Kenapa dia menelpon ku?" gumam Anna yang melihat ke arah ponsel nya.
Ia tak bisa mengangkat nya karna saat ini sedang ada dosen yang tengah mengajar.
Anna mematikan nya dan mengalihkan nya dengan pesan.
Ponsel nya ia angkat sedikit dan kemudian memotret ke arah podium kelas nya yang masih di isi dengan layar proyektor beserta dengan pengajar nya.
"Aku ga bisa angkat sekarang, kami masih belajar."
Ucap nya di pesan yang ia kirimkan dan kemudian menutup ponsel nya sekali lagi.
Ting!
Balasan yang langsung datang untuk nya begitu ia mengirim pesan.
"Turun ke bawah, aku menunggu mu."
Anna membaca nya, dosen yang tengah mengajar saat ini sebentar lagi jam nya akan habis dan tentu jika tak ada banyak pertanyaan ia bisa keluar dengan cepat.
"Sekitar 30 menit? Mungkin akan selesai sebentar lagi. Dia dosen yang melihat kompetitif!"
Balas Anna dan kemudian menutup ponsel nya.
Pelajaran pun berlanjut, setelah ia mengirim pesan tak ada lagi balasan dan tentu pesan nya sudah terbaca.
...
Gadis yang memakai rok pendek dengan blouse sweter yang longgar dan besar itu tampak membuat nya menggemaskan sekaligus sedikit dewasa karna menunjukan garis leher dan bahu yang sedikit terbuka karena di bagian leher sweter yang lebar.
"Luc?" Anna langsung mendekat, ia masih membawa tas nya yang berisi satu note, perlengkapan alat tulis dan juga laptop.
Greb!
Anna tersentak, tangan nya langsung di tarik dan kemudian di masukkan ke mobil.
Pria itu tampak sedang tak senang hari ini, mood nya sangat buruk dan bahkan tatapan nya gelap serta tajam.
"Aku masih ada kelas," ucap Anna saat pria itu memasukan nya ke mobil dan kemudian menutup pintu nya.
Tak ada jawaban apapun, ia hanya diam tak mengatakan apapun.
Walaupun tak tau apa yang terjadi sekarang namun ia tau setidak nya suasana hati pria itu sedang sangat buruk sehingga jika ia semakin memancing emosi pria itu maka ia sendiri yang akan menanggung akibat nya.
Anna tak mengatakan apapun sepanjang perjalanan dan pria itu pun sama tak mengatakan apapun.
Mata nya melirik ke arah tangan yang terluka, tampak seperti tengah habis memukuli sesuatu.
CKIT!!!
Anna tersentak, ia memegang sabuk pengaman nya dengan kuat saat mobil itu berhenti di salah satu jalanan raya yang sunyi.
"Kau tau?"
Gadis itu langsung menoleh menatap ke arah pria yang bicara pada nya.
"Aku mendengar omong kosong, dan seperti nya itu sangat membuat ku terganggu."
Anna terdiam, lidah nya kelu untuk beberapa saat.
Apa aku melakukan kesalahan? Apa ini berhubungan dengan ku lagi?
Ia takut bertanya dan menyuarakan isi hati nya. Mata nya hanya menatap gelisah dan mencoba mencari kesalahan nya sendiri.
"Itu sangat mengganggu, harus nya aku tidak mendengar kata-kata seperti itu kan?" tanya Lucas yang saat ini menatap dan menoleh ke arah gadis yang meremang ketakutan itu.
Greb!
"Ukh!"
Anna tersentak, rahang nya di cengkram saat pria itu menoleh dan menatap ke arah nya.
"Ta.. tangan kamu kenapa? Sa.. sakit?" tanya Anna yang mencoba tentang walau pun ia hampir gemetar.
Wajah nya mencoba tersenyum, tangan nya meraih tangan pria itu dan memegang nya dengan erat mencoba menunjukkan perhatian nya.
Lucas tak mengatakan apapun, ia hanya melihat ke arah wajah yang cantik itu dengan mata biru yang bahkan memantulkan bayangan diri nya.
Mungkin dia adik mu?
Lakukan tes nya...
__ADS_1
Melakukan hubungan sedarah yang menjijikan?
Anna masih mencoba tersenyum kaku walaupun pria itu tak mengatakan apapun dan semakin mencengkram rahang nya.
"Ck! Pers*tan dengan omong kosong itu!" gumam Lucas yang terbayang dengan ucapan yang baru ia dengar.
Humph!
Anna tersentak, bagaimana bisa pria itu mencium bibir nya dengan agresif sedangkan masih mencekik rahang nya.
Gadis itu tak bisa mengatakan apapun, bibir nya terbungkam dan ia tak bisa mengatakan sepatah kata pun ketika lum*tan itu masih menutup mulut nya.
Ukh!
Anna tak bisa bernapas, mungkin jika ciuman itu di lepaskan wajah nya akan memerah.
Lucas melepaskan ciuman nya, tangan nya melonggarkan cengkraman nya hingga membuat gadis itu bisa bernapas.
Mulut gadis itu masih terbuka sedikit, bibir nya basah dan mata yang berair serta wajah yang langsung memerah saat darah nya berhenti mengalir.
Wajah cantik yang tampak kasihan dan sedang mengambil napas itu terlihat menggoda di mata pria psikopat yang itu.
"Kita sudah terlalu jauh kan? Apa menurut mu kita harus berhenti?" bisik nya dengan suara halus.
Anna gemetar, namun ia masih saja tetap mencoba tersenyum seperti yang ia biasa ia lakukan dan tenang.
Ia tak mengerti apa yang Lucas bicarakan, pikiran nya hanya di penuhi dengan mencari kesalahan yang mungkin ia lakukan tanpa sadar.
Lucas diam sejenak, menatap wajah yang entah menangis atau tersenyum itu dan tangan kecil yang gemetaran memegang tangan nya yang masih belum beranjak dari leher jenjang itu.
Sekarang ia sudah menetapkan nya pikiran nya.
Ia tak akan melakukan tes itu, di bandingkan dengan rasa penasaran ia lebih takut dengan hasil yang menunjukkan kebenaran.
Hubungan nya sudah terlalu jauh dan langkah nya sudah terlalu cepat untuk tiba-tiba di hentikan.
Sreg!
Anna tersentak, blouse yang ia kenakan di singkap hingga terbuka, bangku nya di turunkan dan kemudian kedua tangan kecil nya di tahan.
"Luc! Kita di luar!" Anna menolak dan tentu ia menolak kali ini.
Ia takut tiba-tiba ada kendaraan yang lewat karna saat itu keadaan di siang hari dan ia di pinggir jalan.
"Mereka tidak akan memperdulikan nya," ucap pria itu yang kali ini menyingkap rok gadis yang tersudut di mobil nya itu.
"Auch! Sa.. sakit!"
Anna tersentak, tubuh nya langsung melengking dan mencoba menepis tangan yang tiba-tiba menyentuh nya.
Rasa perih dan ngilu menjalar sampai ke paha nya, mata nya berair namun ia tak punya banyak ruang untung bergerak apa lagi kedua tangan nya masih di pegang dengan erat di satu tangan pria itu.
"Luc! Berhenti!"
Anna tak bisa mengatakan apapun lagi selain merengek meminta pria itu untuk menghentikan jemari yang masuk tanpa permisi atau membiarkan tubuh nya 'bersiap'
Lucas tak menjawab, ia hanya memperhatikan dan menatap gadis yang menatap memohon dengan tangisan itu.
Hubungan sedarah yang menjijikan?
Adik ku? Gila!
Tidak! Aku tau mungkin ia akan semakin gila!
"Hah..." Lucas menghentikan tangan nya, ia menarik nya di ikuti dengan cengkeraman tangan nya pada kedua tangan kecil itu di lepaskan.
"Akh..." Anna masih meringis, ia menutup rok nya dan sedikit meringkuk di bangku yang di tidurkan itu ketika merasakan ngilu yang bercahaya di bagian inti nya.
"Hahaha!"
Deg!
Mata biru itu bergetar begitu mendengar suara tawa yang menggema di mobil tersebut.
Tangan nya gemetar dan mencoba membuka pintu yang sudah terkunci dari bangku pengemudi itu.
Pria itu tak pernah tertawa bahkan saat ketika membunuh seseorang, tapi sekarang?
"Anna? Mau kemana? Aku sudah mengunci nya, kau mau pergi? Mau kemana? Hm?"
Napas gadis itu terasa akan berhenti, seluruh tubuh nya meremang dan jantung nya berdegup dengan kencang.
Lucas memeluk tubuh gadis itu dari belakang, tangan nya menjarah ke dalam blouse sweter yang longgar itu.
"Ukh!" Anna meringis saat ia merasa sakit di bagian dada nya.
Kondisi emosional pria itu saat ini tengah tak stabil bahkan sangat tak stabil karna jika dulu pasti ia sudah menguliti atau menyayat nadi seseorang.
Aku tidak peduli bahkan jika ucapan itu benar
Aku bukan seseorang yang taat hukum, lagi pula aku juga sudah melanggar semua norma kan?
Karna ia tau membunuh dan menjadikan memainkan nyawa seseorang adalah tindakan yang melanggar hukum dan norma dalam masyarakat.
Lucas tak mengatakan apapun dari mulut nya, ia mengigit telinga gadis itu dengan tangan yang bergerak tak bisa ia kontrol.
Anna gemetar, tangis nya tertahan dan rasa takut menelan nya.
Tak mungkin ia masih menjadi gadis pemberani seperti tiga tahun yang lalu setelah semua yang ia lalui, bukan?
__ADS_1
Lucas melepaskan pelukan nya, Anna tak berbalik dan masih miring menghadap ke pintu. Ia bernapas lega saat pria itu berhenti, namun...
Akh!
Anna tersentak, kedua tangan nya kini di ikat dengan dasi yang baru saja di lepaskan dari kemeja itu.
"Luc..."
"Sakit..."
Mata nya berair walau sebanyak apapun ia mencoba tersenyum dan merayu pria itu untuk tak melakukan apapun pada nya.
"Kalau begitu menangis dan memohon pada ku, mungkin aku akan berubah pikiran." ucap Lucas yang kemudian kembali mencium bibir Anna.
Jika ia melihat gadis bertubuh kecil itu memohon pada nya ia akan merasa gadis itu membutuhkan nya. Seperti penggambaran yang salah dalam apa yang harus nya ia berikan.
Anna bungkam, jeritan nya tertahan dengan lum*tan yang membasahi bibir nya.
Seluruh tubuh nya memberontak dengan mencoba bergerak ke segala arah sebagai respon dari rasa sakit yang ia terima di bagian sensitif nya sedangkan kedua tangan nya sudah terikat dengan rapi ke belakang.
Lucas melepaskan ciuman nya, napas gadis itu terdengar tak beraturan dengan pipi yang basah dan mata yang sembab.
Namun ia hanya melihat sekilas sebelum ia mengecupi dan meninggalkan jejak di leher gadis itu.
Lucas menatap sejenak ke arah bekas kecupan nya di leher jenjang itu, ia mengambil sesuatu di balik jas nya dan tentu ia selalu membawa pisau kesayangan nya kemanapun berada kecuali bandara.
Sreg!
Blouse sweter yang mahal dari merek terkenal itu kini sudah sobek, Anna tak mengatakan apapun namun tangisan nya terdengar.
Kali ini apa lagi yang ia lakukan?
"Ma.. maaf..."
"A.. ampuni aku..."
Tangis nya lirih yang mencoba memohon seperti apa yang tadi di katakan oleh pria itu.
Dada nya terasa perih, mungkin hisapan itu akan meninggalkan bekas memar dan gigitan itu akan memerah di dada nya yang masih tampak ranum walaupun sudah habis di jamah pria yang saat ini sedang bersama nya.
Pria itu mendengarkan?
Tentu tidak, pengalihan dari emosi nya kini sudah berubah. Jika dulu ia ketika ia 'meledak' akan memutuskan nadi di leher seseorang maka kini ia akan melakukan semua hasrat nya yang lain pada gadis yang ia sukai.
Mobil mewah berwarna hitam itu tampak berguncang dari luar, beberapa kendaraan lain melintas namun tentu tak ada menghiraukan nya karna mungkin ada sebagain kekasih yang tak sabar untuk ke tempat lain.
Mata biru itu kini sayup, mata menoleh ke arah mentari yang mulai tenggelam dari jendela mobil yang tertutup itu.
Seluruh tubuh nya terasa sakit, bagian sensitif nya mulai terasa kebas. Tubuh nya kehilangan semua tenaga dan mungkin yang akan lebih dulu gelap bukanlah langit namun pandangan nya.
Pria itu merengkuh nya sekali lagi, aroma parfum yang bercampur dengan aroma tubuh yang khas.
Suara des*han berat yang terus berdengung di telinga seakan menyuruh nya untuk mengukir dan mengingat nya.
"Kau mencintai ku kan? Katakan, aku ingin mendengar mu..."
Anna menatap lirih, air mata nya telah kering untuk tangisan. Ketika ia merasa sakit terus menerus mungkin ia akan kebas.
"Ya..."
"Aku mencintai mu..."
Jawab nya lirih dengan senyuman kecil namun manik bening di mata nya mulai mengembun kembali.
Pria itu merasa cukup, ia tak peduli dengan kebenaran karna ia memang tak ingin melakukan tes apapun.
Tak ada wadah penampung kali ini, selain tubuh yang berulang kali di gunakan sebagai penampung nya dan membuat bangku mobil mewah itu kotor untuk cairan yang ia keluarkan.
....
Langit telah berganti, pria itu kembali memakai semua pakaian nya dengan rapi seperti sebelum nya kecuali jas nya yang ia gunakan untuk menutupi tubuh kecil yang penuh dengan bekas kepemilikan dari nya.
Pakaian gadis itu sendiri sudah tak dapat lagi di gunakan, semua nya sobek karna pisau bahkan untuk pakaian dal*m nya.
Anna melirik ke arah pria yang ingin menyalakan mesin itu, wajah nya tampak pucat dan mungkin karna ia yang terus menahan sakit di bagian inti nya sejak tadi.
"Luc?"
Suara nya memanggil lirih namun pria itu masih bisa mendengar nya.
"Aku melakukan kesalahan?" tanya Anna dengan suara kecil karna bahkan untuk berbicara saja pun ia tak memiliki kekuatan lagi.
"Tidak," jawab Lucas singkat sembari mengusap wajah gadis nya.
"Jadi kenapa?" tanya Anna yang tak mengerti mengapa pria itu tampak begitu marah padahal ia tak melakukan apapun.
Lucas menarik napas nya, ia mendekat ke arah telinga gadis itu sembari membenarkan posisi jas yang di tujukan untuk menutup tubuh kecil itu.
"Entah lah..."
"Karna aku ingin?"
Lucas tak bisa menjawab dengan jawaban yang memuaskan gadis itu, sejak awal ia memang buruk dengan cara nya bersosialisasi atau berkomunikasi untuk sosial kecuali untuk bisnis.
Anna tak mengatakan apapun lagi, wajah nya tanpa pedih untuk beberapa saat. Ia memejam, buliran bening itu mengalir di ujung mata nya yang jatuh sekali lagi.
Lucas melihat nya, ia mengecup dahi gadis itu. Ciuman yang terlihat lembut dan dalam berbeda dengan perbuatan brutal nya tadi.
"Tidurlah, aku akan membangunkan mu saat sudah sampai." ucap nya ketika mengecup dahi gadis itu.
__ADS_1