Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Lari tapi jangan kabur


__ADS_3

Rambut yang berwarna coklat keemasan itu tampak bersinar, untaian halus dan lembut terlihat rapi di setiap sisiran nya.


"Cantik,"


Gadis kecil menggemaskan itu menoleh ke arah sang ibu yang menyisir rambut panjang nya.


"Anak Mama kenapa cantik sekali?"


Tangan yang hangat, wajah yang cantik, dan senyuman lembut.


Mata biru yang menatap nya terpancar cerah, rambut yang bergelombang pun sama seperti gadis kecil itu.


Mata bulat menyipit saat ia tersenyum, tangan mungil nya naik ke tubuh wanita yang lebih besar dari nya dan mulai memeluk nya dengan erat.


"Manis nya anak Mama..."


Anak kecil itu merasa nyaman di pelukan wanita yang menjadi ibu nya, ia memejamkan mata nya merasakan usapan lembut di punggung nya.


"Ma? Kita tinggal beldua aja gak bisa Ma?"


Suara yang terdengar cedal itu bertanya pada sang ibu, ia menatap ke arah wanita itu saat melonggarkan pelukan nya.


Mata yang menatap lembut, senyuman yang hangat dan wajah yang membuat nya hangat itu tampak berubah.


"Kenapa berdua? Harus nya bertiga kan? Papa kamu akan pulang..."


Ia menatap tajam dan lurus ke arah wajah cantik putri nya yang tampak bingung dan bahkan mungkin lupa dengan wajah ayah nya.


"Dia akan kembali pada kita, karna kita keluarga nya..."


Anak kecil itu tak begitu mengerti, satu-satu nya yang ia tau hanyalah tentang ibu nya.


Ibu nya yang bagai dunia nya, "Mau mama sisir lagi rambut kamu?"


Pipi bulat dengan mata biru bersinar itu tersenyum dengan cerah mendengar nya dan langsung mengangguk.


"Iya! Mama halus sisil lambut ku sampai selatus kali!" ucap nya dengan riang dan langsung berbalik membelakangi sang ibu lagi.


......................


Mansion Damian


Tes...


Pria itu mengusap ke buliran bening yang teras begitu dingin ketika jatuh dari mata yang terpejam itu.


Jemari kelingking nya terasa pegal ketika gadis itu terus memegang nya walau kini sudah tidak sadar.

__ADS_1


"Melindungi? Memang nya kau bisa melindungi apa?" tanya nya dengan senyuman tipis sembari melihat ke arah wajah bulat dengan hidung yang mancung dan pipi yang memiliki rona jika di lihat dengan seksama.


...


Pukul 10.23 pm


Gadis itu perlahan membuka mata nya, pandangan nya mengabur dan semakin jernih sampai ia bisa melihat warna langit-langit kamar nya yang berwarna putih dengan lampu yang bersinar terang.


Kepala nya menoleh ke sisi yang berbeda berulang kali, tak ada satupun yang bersama nya saat ini.


Ruangan yang sunyi dan hening sehingga hanya ada suara napas nya yang terdengar.


"Ukh!"


Kepala gadis itu terasa nyeri, efek bius nya habis sehingga kini luka-luka nya pun kembali terasa begitu ia membuka mata nya.


Deg!


Semua ingatan mengapa ia bisa berada di tempat tidur itu berulang di kepala nya.


Gadis itu langsung turun dari tempat tidur nya, kaki nya terasa lemas namun ia berusaha mengumpulkan semua tenaga nya.


Klek!


"Mau kemana?"


Mata biru itu tampak gemetar, langkah nya memundur sedikit demi sedikit melihat pria yang mendatangi nya dan menatap nya dengan lurus.


"Kembali tidur,"


Gadis itu masih diam, tangan nya gemetar sembari memegang gaun tidur nya.


"Ja..jangan bu..bunuh sa..saya..."


Suara yang tercekat di tenggorokan nya terdengar gemetar dan tak jelas namun jelas wajah nya terlihat begitu takut.


Lucas tak menjawab namun ia tau kini yang berada di balik iris biru itu bukanlah orang lain melainkan diri nya.


"Jangan melihat ku dengan mata seperti itu," ucap nya yang terdengar dingin dengan suara bariton nya yang bulat dan sedikit serak khas pria dewasa itu.


Anna menarik napas nya, ia menunduk dan memejamkan mata nya sembari berusaha merubah ekspresi nya kembali.


Langkah pria itu kembali mendekat, gadis itu membuka mata, sepatu kulit berwarna hitam yang kilat dan bersih itu sudah berada di dekat nya.


Bruk!


Kaki nya terasa lemas kembali, ia masih merekam kejadian malam itu dengan begitu jelas.

__ADS_1


Wajah nya menengandah menatap ke arah pria yang berdiri menunduk melihat nya yang terduduk di lantai.


Ujung jemari pria itu menyentuh puncak kepala nya, dan perlahan menyentuh pipi nya yang terasa begitu lembut dan halus itu.


"Jangan bunuh saya Sir..." mata biru itu tampak berkaca.


Senyuman yang terlihat ketika sudut bibir itu naik walaupun dengan tatapan yang begitu sendu dan merasa begitu takut.


Tangan pria itu mulai basah, buliran cairan bening yang jatuh di ujung mata berwarna biru dengan bulu mata lentik itu membuat nya menguncikan pandangan nya.


Gadis itu memang tersenyum, namun mata dan raut wajah nya tak menunjukkan senyuman sama sekali.


"Kenapa kau sangat ingin hidup? Kau tidak memiliki siapapun dan tidak memiliki apapun." ucap nya menatap gadis yang tersenyum namun mata nya terus mengeluarkan buliran bening itu.


Anna terdiam sejenak, ia menatap ke arah wajah datar yang tampak tak akan mengerti alasan apapun yang akan ia gunakan.


"Saya memiliki hidup saya, setidak nya hidup saya adalah milik saya dan kalaupun dunia tidak mencintai saya, saya mencintai diri saya sendiri..." ucap nya lirih dengan senyuman tipis dan mata sendu.


Pria itu terdiam sejenak, ibu jari nya beranjak mengusap pipi yang berair itu.


"Seperti nya aku merasa iri dengan mu," gumam nya lirih yang merasa gadis itu memiliki semangat hidup yang begitu besar.


Anna melihat ke arah pria yang bergumam sesuatu yang tidak bisa ia dengar, pandangan nya menurun mengikuti wajah pria yang berjongkok itu.


"Kau mau hidup?" tanya nya pada gadis itu walau ia sudah tau jawaban nya dengan jelas.


Anna mengangguk atas ucapan pria itu, pria tampan itu tampak memegang wajah nya dan melihat nya dengan tatapan yang lurus dan lekat.


"Lari," ucap nya pada gadis itu, "Kalau kau melihat ku seperti itu lagi, lari dan sembunyi sebaik mungkin dari ku." ucap nya pada sembari memandang lekat wajah yang melihat nya begitu nanar.


"Tapi jangan coba kabur dari ku, karna aku akan menemukan mu di mana pun." ucap nya pada gadis itu.


Anna masih diam tanpa mengiyakan atau pun mengatakan tidak.


"Lalu? Di mana perbedaan nya?" tanya nya yang tak bisa membedakan antara lari dan kabur.


Mengapa ia hanya bisa melakukan yang salah satu nya dan yang lain nya di larang.


"Kau bisa berlari menjauh dan bersembunyi kalau melihat ku seperti malam itu lagi, tapi kalau kau kabur itu berarti kau juga ingin lari bahkan seperti melihat ku saat ini." ucap nya pada gadis itu.


"Apa malam itu dan sekarang adalah orang yang berbeda? Itu bukan anda?" tanya nya pada pria itu.


"Itu aku, semua yang kau lihat adalah aku..."


Gadis itu diam sejenak, ia mendengar suara lirih yang di ucapan pria itu.


"Terkadang aku sedikit sensitif, jadi kau hanya perlu lari jika melihat ku tampak sensitif lagi." ucap nya pada gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2