Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
My Cherry


__ADS_3

Hiddensee


Rumah sakit


Gadis itu menoleh ke keranjang bayi nya, tak ada tempat dalam tabung karna bayi yang ia lahirkan begitu sehat.


"Kau sudah memikirkan nama nya?" tanya Camilla saat melihat bayi tampan yang masih merah dan menggeliat itu.


Anna menggeleng mendengar nya, ia sama sekali belum memikirkan nama untuk bayi laki-laki nya.


"Tapi dia sama sekali tidak mirip dengan mu," ujar Camilla saat melihat bayi yang masih terpejam itu.


Anna tak menjawab namun ia memang merasa bayi nya lebih mirip sang ayah.


Ayah yang menolak kehadiran anak tampan itu sampai ingin membunuh nya berulang kali walaupun belum lahir.


"Tidak apa-apa, karna dia bayi ku nanti dia juga akan mirip dengan ku." jawab Anna sembari mulai ingin mengangkat bayi mungil itu.


Bayi tanpa nama itu menggeliat, suara rengekan kecil nya terdengar dengan begitu imut.


Anna tersenyum tipis, ia mendekat dan mencium dahi bayi nya dengan lembut. Aroma khas dan tubuh mungil yang membuat nya merasa tenang.


Sisa rasa sakit nya masih bisa ia ingat namun untuk saat ini hal itu benar-benar terlupakan oleh nya saat kehadiran anak itu datang.


"Bibi?" panggil nya yang menoleh ke arah wanita yang menunggu nya dari sebelum ia menjalani operasi.


"Ya?" wanita dengan rambut yang sudah banyak berubah warna pudar itu menoleh.


"Terimakasih," ucap Anna dengan senyuman tipis pada wanita itu dan wajah yang tulus.


Camilla diam sejenak, ia tetap mempertahankan wajah dingin nya namun jujur dari hati nya ia pun senang mendengar nya.


"Aku..."


"Benar-benar berterimakasih pada bibi,"


Ucap Anna dengan senyuman yang begitu tulus saat mengatakan tentang rasa terimaksih nya.


"Tidak perlu di pikirkan, yang harus kau lakukan adalah bagaimana cara merawat bayi mu dengan baik. Mengurus anak itu tidak mudah." ucap Camilla yang membuang wajah nya saat melihat ketulusan yang menyerang di wajah cantik ibu muda itu.


"Iya, aku tau. Dulu ibu ku juga mengurus ku sendiri-"


Deg!


Anna tersentak, ia membatu untuk beberapa saat. Awal nya baik-baik saja namun saat mengingat sang ibu membuat nya seketika takut.


Takut untuk jadi orang yang sama!


"Varsha? Kau baik-baik saja?" tanya Camilla yang mendekat dan meraih lengan gadis itu untuk menyadarkan nya.


"Ya?"


"Kau tiba-tiba melamun," ucap Camilla yang melihat wajah yang terkejut itu.


"Bi? Bagaimana kalau nanti aku membunuh anak ini? Ku rasa aku akan melakukan nya nanti..." gumam Anna yang bertanya dengan wajah yang cantik nan pucat itu.


"Apa?" Camilla mengernyit heran mendengar nya, baru saja kurang dari satu menit yang lalu gadis itu begitu senang melihat bayi nya.


"Kenapa kau mau membunuh nya? Kau sangat menyayangi anak mu, ingat? Perjuangan mu untuk sampai di sini?" tanya Camilla yang melihat gadis itu terdiam.


"Tapi aku bisa saja melakukan nya! Bagaimana kalau aku tiba-tiba gila? Atau bagaimana kalau anak ku jadi Monster seperti orang itu!" Mata biru yang jernih itu tampak gelisah seperti seseorang yang kehilangan diri nya.


"Varsha!" Suara melengking wanita yang biasa nya berbicara dengan nada yang rendah itu kini memenuhi telinga Anna.


"Lihat! Lihat anak itu! Kau ingin membunuh nya? Kau bisa melakukan nya! Karna itu kau sampai di sini!" ucap Camilla yang memegang kuat bahu Anna.


Anna masih terdiam, ia menoleh ke arah bayi nya yang tampak menggeliat dengan wajah yang ingin menangis karna mendengar suara yang tinggi dan perdebatan.


"Ssh...."


"Maaf..."


"Maafkan Mama..."


Ucap nya yang tersadar dan kemudian menciumi wajah putra nya yang ia kandung selama 9 bulan dan ia lahirkan dengan rasa sakit yang luar biasa.


......................


Sementara itu


Mobil yang berwarna hitam itu melaju kencang di jalanan yang mulus dan tanpa hambatan itu karna tak ada kendaraan lain.


Pepohonan yang berada di sisi kanan dan kiri jalan tampak menambah suasana dan pemandangan yang menyegarkan namun bukan itu yang menjadi fokus pria itu.


"Kenapa tidak ada yang angkat?!" ucap nya lirih yang berdecak kesal sekaligus jantung yang entah kenapa berdegup kencang sendiri seperti sedang ketakutan.


Panggilan telpon nya tak ada yang terjawab sama sekali, ia tak bisa menghubungi siapapun yang berada di villa nya saat ini.


Kecepatan mobil itu di tambah, tampak jelas gas yang berada di bagian bawah pengemudi itu sudah kandas agar mobil nya melaju lebih cepat.


....


Villa


Pintu gerbang yang tinggi itu terbuka, tak ada yang menjaga seperti biasa nya dan ia pun langsung masuk ke dalam villa nya.


Kaki nya berhenti sejenak, ia termangu untuk beberapa saat ketika melihat keadaan yang tampak kacau itu.


"Sam!"


"Samantha!"


Teriak nya yang menggelegar dengan suara bariton yang berat itu dan langsung mencari ke kamar tempat gadis itu tidur.


Tak ada siapapun yang menjawab nya, tak sehelai rambut gadis yang terlihat di dalam villa mewah itu.


Hanya ada beberapa pengawal yang sudah tak sadarkan diri dan keadaan vila yang berantakan.


"Ck! Si*l!" decak nya yang kemudian berbalik.


Tentu ia tau tujuan selanjutnya namun ia tak bisa asal datang begitu saja.


......................


JNN grup


Lucas mendapat kabar jika sepupu nya mencoba memasuki mansion nya, dan tentu ia sudah mengabari lebih dulu jika pria itu tak boleh masuk.


"Ya, jika kurang panggil pengawal tambahan dan jangan biarkan dia masuk apapun yang terjadi." ucap nya ketika kepala pengawal nya menelpon dan memberi tau.


Ia pun menutup panggilan nya, sudah ia duga pasti sepupu nya itu langsung mendatangi mansion nya.


Memang memulai permusuhan pada seseorang yang tau semua rahasia diri sendiri itu tak bagus.


Namun bukan hanya Diego saja yang tau semua rahasia dan kelemahan nya, ia pun sama.


Sepupu nya pun bukanlah seseorang yang begitu baik walau sering tersenyum. Karna pria yang tersenyum itu sama seperti joker yang bisa melakukan apa saja.


Walau tak ada hobi aneh namun bukan berarti tak pernah menghilangkan nyawa. Bukan berarti juga tidak pernah melakukan penipuan atau manipulasi seseorang untuk keuntungan.


Banyak hal yang kotor dan melanggar hukum yang juga di lakukan oleh sepupu nya. Sehingga ia tau jika Diego tak akan bisa melakukan sesuatu yang sama-sama menghancurkan nya.


......................


Skip


Mansion Damian


Mata yang berwarna abu-abu gelap itu menatap ke arah gadis yang masih tertidur karna bius itu.


Tangan dan kaki nya di rantai dan di berikan gelang lonceng seperti pada peliharaan yang lain nya agar setiap kali ujung pisau yang tajam itu membelah daging dan si 'peliharaan' memberontak maka suara yang bagaikan iringan itu langsung terdengar.

__ADS_1


"Jangan..."


"Jangan ku mohon...."


Wanita itu bersujud di lantai dengan kondisi yang sudah hampir kehilangan setengah dari kulit nya.


Ia ketakutan melihat wajah tampan namun seperti iblis itu menatap ke arah putri nya yang di bawa ke ruangan itu siang tadi.


Lucas menoleh, ia tampak mengernyit namun tak mengatakan apapun.


Pemilihan pisau nya tampak tersusun rapi dan sejajar, ia memilih yang kecil dan tahan serta mengkilap itu.


Pria itu mengambil satu pisau tipis yang kecil dan mulai mendekat ke arah gadis yang tak sadar itu.


"Ja.. jangan..."


"Ku mohon ja.. jangan..."


Wanita itu kembali memohon walau hanya dengan satu tangan.


Lucas tak menghiraukan nya, namun sebelum itu ia menelpon seseorang.


"Jika dia datang, biarkan dia masuk." ucap nya yang memberi tau dan kemudian menutup telpon nya.


Tusk!


Crash!


"Akh!"


Jeritan langsung terdengar, cairan merah itu langsung memuncrat ke wajah nya.


Kring!


Kring!


Kring!


"Akh! Tolong! Sakit!"


Gadis itu tersadar seketika, namun ia tak bisa melihat siapa yang melukai mata kiri nya karna refleks alami nya tentu membuat nya menutup kedua mata nya saat salah satu nya sakit.


Suara lonceng yang berada di kaki dan tangan gadis itu terdengar bersamaan dengan teriakan yang terdengar begitu menyakitkan.


"Sam! Nak!"


Gadis itu menangis dan tentu sekarang bisa di katakan menangis darah karna satu mata nya mengalirkan cairan merah kental itu.


Gadis itu tersentak mendengar suara sang ibu walaupun samar karna tertutup oleh rasa sakit yang luar biasa.


"Sa.. sakit..."


"Tolong..."


Ucap nya memohon lirih karna tak tau tiba-tiba ada sesuatu yang menusuk mata kiri nya.


Tak terdengar apapun, pisau tajam itu di cabut dan wajah yang tampan tanpa ekspresi nya itu melihat nya.


Tangan nya mendekat, ia mulai memasukkan satu jari telunjuk nya dan kemudian menggunakan jempol nya untuk mengorek dan mencungkil mata gadis itu.


Sedikit sulit karena setiap mata di lindungi oleh tengkorak manusia.


"Akh! Tolong!" tangisan dan teriakan menyatu.


Tubuh gadis itu menggeliat dan mengejang kemudian memberontak.


Rasa sakit memenuhi nya, ia tak bisa merasakan apapun lagi kecuali sakit!


Tangisan darah itu tampak, suara lonceng masih bergemuruh dan masih terdengar suara sang ibu yang memanggil nya namun ia tak mampu membuka mata nya.


Tak!


Satu tarikan kuat terlihat, tangan yang penuh darah itu kini menggenggam sesuatu yang bulat dan tampak mengerikan sedangkan gadis itu masih meringis dan menangis dengan darah yang mengotori sprei putih di atas tempat tidur itu.


Suara terbuka dengan tiba-tiba, "Apa yang kau lakukan?"


Suara yang terdengar terengah-engah seperti sedang menarik napas yang berat akibat berlari tampak sangat terkejut melihat gadis yang berlumuran darah di wajah nya dan pria yang dengan tangan yang menggenggam sesuatu.


"Aku mengambil mata nya, mungkin kalau dia kembali dia akan senang melihat nya."


Jawab Lucas dengan senyuman tipis dan mata yang tampak kosong saat membayangkan angan-angan gadis nya yang suka dengan hadiah yang ia kumpulkan.


Diego masih tercekat dan tak bisa bersuara sama sekali.


"Sekarang dia milik mu, tapi jangan memberi nya mata asli nanti karna aku mungkin akan memburu nya juga nanti." ucap Lucas yang memberikan peringatan.


"Kau keterlaluan!" balas Diego dengan mata yang tampak begitu marah kali ini sembari mulai melepaskan rantai yang mengekang gadis yang masih menangis dan mulai lemas itu.


"Keterlaluan? Batas keterlaluan itu di mana? Kalau saja yang ada di situ orang lain dan bukan anak itu kau juga tidak akan peduli." ucap Lucas yang sedikit mentertawakan sepupu nya.


Tak ada balasan apapun namun yang di katakan itu pun tak salah sama sekali.


Diego melirik sejenak ke arah wanita yang menjadi ibu gadis itu yang masih menangis namun ia tak memperdulikan nya dan menggendong Samantha keluar.


......................


Tiga hari kemudian


Hiddensee


Anna kali ini sudah bisa pulang, bekas operasi nya sudah tertutup dan tentu ia sudah bisa berjalan dengan lancar.


Mata biru nya tampak terkejut, berita tentang kematian salah satu tokoh pengusaha penting membuat nya terkejut.


"Lucy? meninggal di mobil? Kecelakaan? Astaga!" Anna menutup mulut nya sebagai tanda keterkejutan nya.


Di katakan tubuh wanita itu hancur dan habis terbakar di dalam mobil itu, bahkan sangat sulit mengidentifikasi nya karna tak lagi berbentuk.


Tap!


Camilla mematikan televisi nya dan mengambil satu syal untuk menutupi leher gadis itu.


"Kenapa kau melihat berita yang mengetikan? Itu tidak baik untuk mu," ucap Camilla sembari melilit syal yang tebal itu.


"Bi? Aku baik-baik saja, kenapa banyak sekali?" tanya Anna saat ia di berikan syal yang tebal dan sweter yang hangat serta kacamata yang sebenarnya tak begitu berpengaruh karna ia masih memiliki mata yang normal.



Namun Camilla memberikan nya saat ia merasa gadis itu tampak cantik seperti boneka.


"Kau itu mudah sakit, jadi harus lebih hati-hati." ucap Camilla pada Anna.


Anna menurut begitu saja, ia beranjak melihat ke arah bayi mungil nya yang masih belum ia beri nama itu karna ia memang masih belum memikirkan nya.


"Cherry Mama udah siap?" tanya nya yang melihat ke arah bayi nya yang sudah di ganti pakaian dan di berikan topi oleh Camilla.



Anna masih merasa takjub dengan bayi mungil yang bisa ia keluarkan dari perut nya itu.


Namun tentu ia tak tau rintangan apa yang nanti ia rasakan saat menjadi seorang ibu. Belum lagi kemungkinan mengalami baby blues yang bisa di rasakan oleh siapa saja bahkan untuk seseorang yang tak memiliki trauma yang sama seperti yang pernah ia alami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anak lelaki itu datang dengan wajah yang riang.


"Paman! Bibi Maurenne datang hari ini?" tanya nya dengan mata yang jernih dan bulat itu.


Senyuman tampak di wajah yang tampan itu, "Datang, dan paman sudah memberikan nya hukuman karena perbuatan nya."


Anak lelaki itu tampak memiringkan kepala nya ketika ia lupa dengan kebohongan nya.

__ADS_1


"Dia di kamar, dengan sepupu mu." ucap pria itu dan kemudian beranjak pergi.


Anak lelaki itu pun berjalan sembari mengingat mengapa paman nya mengatakan hukuman.


"Oh iya lupa! Aku kan bilang kalau Bibi Renne jahat! Tapi kok malah hukuman nya masih sama Lucas sih! Nanti aku tambahin deh cerita nya!" ucap nya yang berdecak kesal karna ia pikir rencana nya ingin menjauhkan sepupu nya itu dari ibu nya.


Namun...


Langkah nya terhenti, ruangan itu di penuhi dengan bau anyir darah serta bau gosong.


"Mommy?" panggil nya lirih yang begitu terkejut melihat wanita yang sudah setengah terbakar itu berserta dengan sepupu nya yang tak sadarkan diri dan tak berada jauh di sana.


Ia terpaku beberapa saat dan tak tau jika hanya kebohongan nya membuat sesuatu yang begitu fatal.


...


Pemakaman yang mendung dan hujan itu, dengan masih di hadiri oleh dua anak lelaki karna kelurga dari seseorang yang meninggal itu masih belum di kabari.


"Luc? Kita pulang sekarang." ucap anak lelaki itu meminta pada sepupu nya yang masih menangis tak berhenti.


"Pergi! Kalau kau mau pulang pulang saja sana!" ucap nya yang mendorong ke arah sepupu nya hingga terjatuh.


Hujan turun, suasana berkabung yang di dukung oleh langit.


"Pulang! Memang nya kamu bisa buat Mommy hidup lagi!" ucap anak itu yang marah namun menangis juga.


"Dia Mama aku! Bukan Mama mu! Berhenti panggil dia Mommy!" ucap nya yang marah dan tak terima kali ini.


"Ini karna kamu! Kamu yang buat Mommy mati! Kalau kamu ga ada Mommy ga perlu mati!" anak kecil itu berteriak dan menyalahkan sepupu nya yang tak tau apapun untuk menutup rasa bersalah nya.


Tentu jika sepupu nya tak ada maka kasih sayang bibi nya yang ia panggil 'Mommy' itu akan tertuju pada.


Anak kecil itu diam sejenak namun ia juga tampak marah.


"Mama mati bukan karna aku tapi karna Papa!" ucap nya yang tak terima dan mendorong sepupu nya hingga perkelahian anak kecil itu terjadi di depan makam.


"Lucas!"


Suara yang menggelegar membuat tubuh anak itu tersentak dan kemudian menoleh, tangan yang kasar menarik tubuh nya yang masih kecil agar menyingkir dari sepupu nya yang ia pukuli.


"Kau baik-baik saja?" Pria itu menarik putra yang tergeletak di atas tanah itu.


"Salah kamu! Itu salah kamu!" ucap nya yang berteriak yang masih menyalahkan sepupu nya.


Respon anak kecil tentu berbeda, pikiran yang masih belum jernih dan masih tak tau cara nya merespon masalah serta rasa bersalah yang besar membuat nya menyalahkan seseorang untuk menutupi kesalahan dan rasa bersalah yang besar juga.


"Aku akan memarahi nya," ucap pria tampan itu saat mendengar aduan keponakan nya tentang putra nya.


Terlebih lagi ia memang melihat putra nya menyerang lebih dulu pada anak kekasih nya.


...


"Apa yang kau lakukan tadi?"


Tanya pria itu saat tiba di mansion dan bahkan ia belum mengganti baju yang basah karna hujan itu.


Tak ada jawaban, tubuh anak malang itu hanya gemetar tak berani melihat sang ayah.


"Kenapa tangan mu?" tanya nya yang menarik tangan kecil itu dan melihat darah karna luka.


Tampak ketakutan semakin terlihat di wajah putra nya saat mengetahui tangan nya terluka.


"Kau takut melihat darah? Hanya darah? Si*l! Ku pikir kau akan mirip dengan ku tapi kenapa sekarang kau seperti badut?!" tanya pria itu yang tak habis pikir melihat putra nya.


Ia bahkan tak tau sama sekali bagaimana memahami perasaan seseorang karna ia tak memiliki emosi dan sekali nya punya ia malah memiliki emosi menyimpang dengan mencintai adik lelaki nya.


"Monster..."


"Apa?" tanya nya yang melihat ke arah putranya yang bergumam.


"Kau monster! Dasar Monster!" ucap nya berteriak dan memaki sang ayah.


Pria tampan itu tampak tanpa ekspresi dan kemudian memanggil pengawal nya.


"Darah, ambil kan aku satu ember darah penuh sekarang. Terserah mau itu darah babi, sapi atau manusia." ucap nya yang memberikan perintah.


BYUR!!!


Deg!


Deg!


Deg!


Anak lelaki itu membatu, cairan amis dan anyir memenuhi nya membuat seluruh tubuh nya gemetar begitu hebat.


Ia tak lagi bisa bersuara dan tampak tak bisa mencerna situasi nya.


"Sekarang rasakan rasa takut mu dan belajar rasa patuh? Mengerti? Seperti nya jal*ng memang membawa pengaruh buruk pada mu." ucap nya yang kemudian meninggalkan putra nya.


Anak kecil itu masih terdiam dengan tubuh yang gemetar hebat. Semua pandangan nya di penuhi dengan cairan merah dan aroma yang kuat masuk ke hidung nya.


Ingatan seperti kaset yang berputar berulang kali tentang bagaimana darah sang ibu menggenang melintas di kepala nya.


Bruk!


Ia terjatuh, napas nya terasa sesak dan mulai mengalami kejang karna serangan panik. Tubuh nya masih di atas cairan yang amis dan anyir itu.


Ekspresi wajah sang ibu, darah dan api begitu terlukis di kepala nya memberikan ingatan yang begitu membekas namun juga di iringi dengan rasa takut.


Heuk!


Ukh!


Tubuh kecil itu masih mengalami kejang tanpa suara karna begitu terkejut, ia terus menerus mengalami ledakan emosi dan perasaan yang tidak ia ketahui dan tentu untuk itu semua otaknya mulai berkerja dan membentuk sistem pertahanan dirinya dengan mulai memblokir apapun merasa ancaman atau gangguan.


Mata abu-abu itu tampak berkaca, tubuh anak malang itu masih menegang karena kejang dan buliran bening itu jatuh dari ekor matanya membuat jalur dari wajah yang tampak di penuhi dengan darah itu.


Sebelum memejam dan melupakan segala.


Tak tau darah hewan atau manusia namun yang pasti nya darah itu adalah darah yang masih segar dan baru di keluarkan lalu di tumpahkan padanya.


...


Dua hari kemudian


Anak lelaki itu risau, ia melihat sepupu nya jatuh sakit.


Demam yang begitu tinggi dan seperti berada di antara hidup dan mati karna tak bisa membuka mata nya dan selalu gemetar dengan wajah yang pucat.


"Kenapa dia sakit?" tanyanya pada sang paman.


"Paman hanya memberi nya sedikit hukuman karena nakal pada mu," jawab pria itu, "Daddy mu mana?" tanyanya yang mencari kekasihnya.


"Di ruang piano..." jawab anak itu.


Pria tampan itu pun pergi menemui sang kekasih.


Sedangkan anak kecil itu kini melihat lagi ke arah sepupu nya, "Ma.. maaf..."


"Jangan mati..."


"A.. aku ga tau..."


"Maaf..."


Tangis nya yang kali ini merasa takut dan juga rasa bersalah yang benar-benar memuncak sampai tak bisa lagi menghindari rasa takut nya untuk menyalahkan.


...****************...


Nah sekarang flashback nya udah bener" habis ya, kemarin ini memang lanjutan nya tapi ga othor buat karna ga cukup karna MT/NT punya maksimal kata dan waktu othor sambung di Bab sebelumnya othor yang ga sempat buat panjang wkwk

__ADS_1


Happy Reading💕💕💕


__ADS_2