Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Dimana?


__ADS_3

Mansion Damian.


Anna melihat dari jendela kamar nya jika mobil pria yang membawa putra nya tadi telah kembali.


"Mereka sudah pulang?" gumam Anna yang melihat nya namun tak bisa beranjak ke melihat nya.


Seperti biasa wanita itu menunggu di kamar nya karna tak lama kemudian pasti akan ada langkah kecil yang berlari dengan semangat dan akan membuka pintu nya.


"Estelle?"


Anna mendengar suara pintu yang terbuka dan kemudian menatap ke arah yang menunggu di balik tembok itu.


"Est- Luc?" Anna tampak bingung, tak ada putra kecil nya yang datang dan hanya sang suami yang tampak berlumuran dengan darah di pakaian nya.


"Kamu kenapa?" tanya Anna yang mendekat dengan wajah bingung.


Clang!


Langkah nya terhenti karna ia tak bisa menghampiri pria yang berada di depan pintu nya dan hanya bisa berhenti sesaat beberapa langkah karna rantai yang masih terpakai di kaki nya.


"Luc?" panggil Anna sekali lagi yang sama sekali tak tau bagaimana dan apa yang sedang terjadi pada sang suami.


"Kau menunggu? Ini," ucap Lucas yang kemudian masuk dan melepaskan kemeja nya sembari meletakkan cake yang sempat ia beli setelah ikut mengantarkan putra kecil nya ke rumah sakit.


Cepat atau lambat pasti ia tetap akan di panggil karna merupakan wali dari anak kecil yang tertabrak itu.


Anna memegang ke bungkusan cake yang berada di atas meja itu dan melihat ke arah sang suami yang mulai mandi.


Ia tak bingung, tak tau apapun yang terjadi dan mengapa suami nya kembali dengan jas yang penuh darah lalu putra nya tak tampak.


"Luc? Lucas?" tanya Anna yang mengetuk dari luar sebelum membuka pintu kamar mandi yang tak pernah di kunci itu.


Anna masih berdiri di depan nya melihat tubuh bidang yang sempurna itu mandi di bawah guyuran shower yang deras.


Ia masih tak bertanya apapun sampai pria itu selesai membilas karna ia tau suara nya akan terendam oleh air.


"Kamu udah selesai?" tanya Anna yang mendekat ke arah sang suami sembari membawa satu handuk di tangan nya.


"Kenapa kau masuk? Biasa nya sangat jarang," ucap Lucas yang mengambil handuk yang di bawa oleh Anna.


Ia tau jika sang istri tak pernah sekalipun masuk dengan sengaja saat ia sedang mandi.


Anna hanya tersenyum namun perasaan nya mulai tak nyaman.


"Estelle di mana? Kenapa ga bareng kamu?" tanya Anna yang mencoba bertanya tentang putra nya.


Lucas diam sejenak dan kemudian berjalan ke ruang ganti nya, lalu tentu Anna mengikuti dari belakang.


"Aku lepaskan rantai nya, kau bisa makan cake nya dulu." ucap Lucas yang melepaskan kunci di kaki gadis itu dan kemudian memakai pakaian nya kembali.


Anna masih diam, pertanyaan sama sekali belum di jawab dan pria itu tampak tak ingin mengatakan apapun.


Begitu rantai di kaki nya terlepas wanita itu langsung beranjak pergi, ia keluar dari kamar yang mengurung nya satu harian.


"Estelle?"


"Nak? Kamu di mana? Estelle?"


Panggil nya yang mencoba agar anak kecil itu menyahut seperti biasa.


Hening...


Tak ada jawaban atau bahkan langkah kaki yang semangat dan menggebu mendatangi nya.


"Apa dia sedang tidur?" gumam Anna lirih yang kemudian ke kamar putra nya.


"Aneh sekali? Dia tidak suka tidur siang,"


Wanita itu tetap beranjak ke kamar putra kecil nya dan membuka nya.


"Gimana tadi makan cake nya? Makan sama Mama jug- Eh?" Anna mengernyit tak ada siapapun di kamar dengan ukuran yang besar dan desain yang kemungkinan di sukai oleh anak-anak.


Melihat kamar putra nya yang kosong Anna beranjak membuka kamar mandi yang tak di kunci itu namun tetap sama.

__ADS_1


Ia tak menemukan adanya sang putra sama sekali.


Anna terdiam, ia mulai merasa gelisah namun mencoba untuk tetap berpikir tentang tak memikirkan hal yang negatif ataupun mengerikan.


Ia keluar dan kemudian mencari ke seluruh taman dan area mansion yang lain.


Sedangkan Lucas memperhatikan dari balkon kamar nya yang cukup memberikan akses untuk melihat ke halaman mansion nya yang mewah itu.


"Dia mencari anak itu seperti orang bodoh,"


"Ku harap anak itu memang benar-benar mati..."


Gumam nya lirih karna dari dulu hingga sekarang yang ia inginkan hanya satu orang dan ia tak perlu kebahagian lengkap dengan seorang anak karna kebahagiaan nya sudah ia temukan.


Merasakan ikatan ayah dan anak?


Semacam emosional yang biasa di miliki oleh orang-orang yang normal?


Tentu, jangan mengharapkan itu pada seseorang yang mengalami defisit emosi dan bahkan untuk memahami emosi nya sendiri saja sulit.


......................


Rumah sakit.


Crash!


Darah segar itu mengalir dan menyiprat keluar dengan deras.


"Bawa dua kantung darah lagi!"


Ucap sang dokter yang kesulitan untuk melakukan operasi di tubuh mungil yang sudah terlalu banyak mengalami kerusakan itu.


Mulai dari tulang yang patah dan retak lalu membuat organ penting lain nya tertusuk tulang-tulang yang patah itu.


Ruangan yang gaduh dengan kesibukan dalam diam yang mencoba menyematkan satu nyawa.


9 jam kemudian.


Waktu yang cukup lama untuk bisa menyelamatkan tubuh kecil yang sudah tergores pisau bedah di luar dan dalam itu.


Dan kemungkinan besar akan jatuh dalam kondisi vegetatif karna adanya cidera di kepala yang membuat beberapa komponen utama otak nya menjadi rusak.


"Jika semua anggota tubuh nya sudah membaik dan operasi berhasil, tetap ada kemungkinan besar anak ini mengalami kondisi vegetatif." ucap pria yang melepaskan jubah operasi nya.


"Dan yang terburuk mungkin dia akan koma," ucap sang dokter yang menimpali karna kedua kondisi itu sangat berbeda dan tak bisa di samakan.


Koma adalah kondisi yang sama sekali tak memiliki kesadaran sedangkan vegetatif bisa di katakan memiliki kondisi jantung dan paru-paru layak nya orang yang sehat.


......................


Mansion Damian.


Lucas menuruni anak tangga dan menatap ke arah istri nya yang masih menunggu di ruang tengah hingga ketiduran dan bahkan melewatkan makan malam dengan nya.


Drrtt... Drrtt... Drrtt...


Lucas mengangkat telpon nya dari ponsel yang bergetar itu, ia melihat ke arah nama yang memanggil nya.


"Oh ya? Jadi dia belum mati? Kalau begitu buat dia terus koma atau vegetatif semacam itu." ucap Lucas dengan nada dingin pada Philip.


Seseorang yang ia tugaskan sejak awal untuk mengawasi Estelle semanjak dari Swiss.


Lucas kemudian menutup telpon nya dan mendekat ke arah Anna yang masih tertidur.


Ia ingin beranjak menggendong nya namun seseorang yang tertidur dengan perasaan was-was tentu akan mudah terbangun.


"Eh? Luc?"


Anna memanggil dengan suara serak dan kemudian menatap ke arah pria itu.


"Kamu di sini? Ini udah jam berapa? Estelle belum pulang juga ya?" tanya nya yang langsung bangun dan ingin langsung ke kamar putra nya.


Lucas diam sejenak melihat wanita itu yang menolak tangan nya dan memilih berjalan dengan langkah yang masih setengah mengantuk ke kamar putra nya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ku katakan anak itu sudah mati? Darah yang kau lihat tadi darah nya,"


Deg!


Anna tersentak, rasa kantuk nya hilang seketika dan langsung berbalik dengan menatap ke arah pria yang berwajah datar saat mengatakan nya.


"Luc? Kamu bicara apa? Ini sama sekali ga lucu Luc..." ucap Anna lirih yang menatap ke arah pria itu dengan tatapan yang tak ingin mendengar apapun.


"Aku terlihat bercanda?" tanya Lucas dengan wajah yang memang tak mungkin bisa bercanda karna ia bukan orang yang seperti itu.


Deg!


Anna terdiam, jantung nya berdegup kencang dan tentu langsung memikirkan hal yang buruk tentang pria itu karna memikirkan hal yang buruk juga.


"Dia di mana? Luc?" tanya Anna yang mendekat wajah yang mulai panik.


Tak ada jawaban sama sekali selain wajah yang datar tanpa mengatakan apapun.


"Luc! Jawab!" ucap nya yang menatap ke arah pria itu dan kemudian melihat nya dengan tatapan yang terbakar.


Masih hening, pria itu hanya memperhatikan wajah yang berubah saat ini.


"Ka.. kamu bunuh dia? Ka.. kamu kan udah janji?" tanya Anna lirih dengan menatap ke arah pria itu.


"Aku tidak membunuh nya, itu kecelakaan." ucap pria itu menjawab dengan wajah yang sama sekali tak menunjukan emosi.


Anna terdiam, kecelakaan? Apa yang sedang terjadi.


"Dia di mana? Katakan!" ucap nya yang mulai mendesak.


Lucas membuang napas nya lirih dan kemudian menarik tangan sang istri untuk membawa nya tidur.


Anna menepis nya dengan kuat dan kembali bertanya.


"Kenapa dia bisa kecelakaan? Itu sungguhan?" tanya Anna sekali lagi dengan wajah yang sudah menunjukkan penuh kepanikan.


"Ya, dia keluar dari cafe sendiri tanpa sepengetahuan ku." jawab Lucas yang memang tak memiliki rasa bersalah sama sekali.


"Kamu kan bisa bilang dia buat tetap di sana, dia nurut anak nya! Atau kamu bisa pegangin dia! Kamu kuat Luc!" ucap Anna dengan perasaan was-was yang hanya berharap jika itu semua tak benar.


"Kenapa aku harus repot? Aku tidak menyukai nya sejak awal," jawab Lucas dengan datar.


Deg!


Anna tersentak, jujur perkataan seperti itu tentang putra nya begitu melukai nya.


"Dia di mana? Katakan!" Anna sekali lagi mencoba untuk tau di mana putra kecil nya itu.


Lucas masih tak menjawab, ia melihat wajah yang panik itu dan mendekat satu langkah.


"Menurut mu dia masih hidup? Kau lihat sendiri kan darah yang tadi berada di pakaian ku?" jawab Lucas dengan suara berbisik.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Anna berpacu dengan cepat, tak tau apapun semakin membuat nya takut.


Tangan nya mulai gemetar mendengar hal tersebut dan kemudian menatap sekali lagi ke arah nya.


"Kenapa kau berlebihan? Hanya dengan satu anak? Apa aku harus membuatkan 'Estelle' mu yang lain? Untuk mengganti yang sekarang?"


Anna terdiam, mendengar sesuatu yang menganggu telinga nya seperti mengatakan jika putra nya adalah barang yang bisa hilang dan di buat lagi dengan mudah.


Tangan kecil itu gemetar mendengar nya, wajah yang begitu terkejut itu bahkan tak menunjukan tangisan.


PLAK!


Sesuatu yang panas dan dengan rasa gatal yang perih itu mendarat di pipi nya dan tampak begitu jelas jika ia sedang mendapatkan suatu pukulan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucas yang menatap ke arah sang istri.

__ADS_1


"Di mana Estelle? Kamu ga akan bisa ganti dia dengan apapun, yang aku mau cuma dia..." gumam Anna dengan suara yang bergetar.


__ADS_2