Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Liar


__ADS_3

JNN Grup


Diego mendekat, ia melangkah ragu dan menatap ke arah sepupu nya yang tampak biasa saja saat ini.


Terlalu biasa dan tampak seperti tak memiliki sesuatu yang di pikirkan.


"Kau senang sudah menemukan Anna?" tanya Diego yang mencoba membuka pembicaraan tentang gadis itu.


Lucas menoleh, ia menatap nya dan melihat ke arah sepupu yang bertanya tentang gadis nya.


"Ya, tapi dia membawa sesuatu." jawab Lucas singkat yang masih tak menyukai putra nya walau pun berasal dari darah daging nya sendiri.


"Kau tidak suka karna dia punya anak? Luc? Anak itu kan juga anak mu," ucap Diego yang menatap ke arah sepupu nya.


Lucas menatap dengan mata nya yang tajam, "Lalu kau kenapa tidak menikah dengan anak itu? Aku sudah melepaskan nya, aku membiarkan kau memiliki nya,"


"Ya? Kenapa kau bawa masalah ku? Ini berbeda," jawab Diego yang tak mengerti mengapa sepupu nya berbicara demikian.


"Ini masalah yang sama, bukan nya kau juga punya masalah yang mirip?" tanya Lucas yang menatap ke arah sepupu nya yang mencoba memberikan masukan tentang putra yang tidak ia mau itu.


"Kau ingin punya anak, punya pasangan tapi kau tidak mau menikah? Kenapa? Seperti nya kau sangat menyukai dia kan? Maka nya kau berani melawan ku, membawa dia pergi ke Amerika, mengobati nya dan mencoba mengembalikan penampilan nya,"


"Kau juga tidak punya wanita dan teman tidur yang lain semenjak bersama anak itu, lalu kenapa masih belum kau nikahi? Kau tidak punya alasan untuk tidak bisa menikahi nya tapi walaupun begitu kau tetap tidak bisa kan?" ucap Lucas yang membuat Diego diam.


"Ya, ku rasa benar. Kita tidak punya alasan untuk menolak sesuatu tapi kita hanya tidak mau melakukan nya." jawab Diego lirih yang tak jadi mengatakan apapun.


"Lalu kau akan merubah status anak itu?" tanya nya lagi yang tak mencoba memberikan nasihat apapun karna ternyata ia punya kasus yang sama dengan masalah yang berbeda.


"Ya, dia cocok untuk jadi tahanan." jawab Lucas yang berdecak.


Lucas menarik napas nya, ia tampak memikirkan sesuatu yang lain.


"Seharusnya aku membunuh wanita itu lebih buruk lagi, dia membuat identitas palsu..." gumam Lucas lirih.


Ia tau tak mungkin Anna bisa bersembunyi tanpa bantuan seseorang dan dari pencarian nya semua tertuju pada Camilla.


Diego tak mengatakan apapun saat mendengar nya, ia lah yang membuat hal tersebut.


Ia tau orang mati tak akan bisa bicara hingga membuat nya menjadikan Camilla sebagai sasaran nya dari masalah membantu persembunyian. Bagi nya hal itu sama saja menyelamatkan nyawa lebih banyak orang karna ia juga tak terlibat sendirian.


"Aku bisa temui mereka? Aku penasaran dengan anak itu, katanya dia mirip dengan mu." ucap Diego yang seakan menutup telinga nya.


"Kau mau temui anak itu? Bukan Anna?" tanya Lucas sembari menaikkan satu alis nya.


"Ya, aku penasaran dengan anak mu. Siapa nama nya Ecklart?" ucap Diego yang pura-pura tak tau walaupun sebenarnya ia sudah tau semua nya bahkan bagaimana perkembangan anak sepupu nya.


"Estelle," jawab Lucas membenarkan.


"Ya, Estelle! Aku bisa menemui nya? Mungkin dia lebih menggemaskan dari mu-"


Diego menutup mulut nya saat ia menatap ke arah mata tajam begitu ia menyebutkan menggemaskan.


"Ya, aku pasti gila jika menyebut orang seperti mu menggemaskan." ucap Diego yang menatap ke arah sepupu nya.


"Kalau hanya anak itu, kau bisa temui dia tapi di tempat ku dan sesuai dengan aturan ku." jawab Lucas yang tentu juga tak bisa membiarkan putra yang tak ia suka itu bisa beresiko hilang.


Karna bagi nya putra yang tak ia anggap itu lebih mirip ke sebuah investasi yang tak akan bisa ia ganti untuk menjadi penahan agar sang istri tetap bersama nya.


Diego diam sejenak dan kemudian memberikan satu anggukan.


......................


Mansion Damian.


Anna menatap ke arah putra kecil nya yang tampak tengah bermain itu, dan tentu bukan permainan yang sebebas saat di rumah nya.


Anak kecil itu bermain di kamar, sang ibu duduk di sofa tunggal itu sementara putra nya duduk di lantai yang beralaskan selimut tebal yang empuk.


"Estelle mau pakai mobil nya?" tanya Anna yang menyodorkan mainan lain nya.


Estelle menoleh, ia hanya memegang ke arah robot mainan yang di berikan ibu nya saat baru pertama kali pindah.


Memang semua itu dari Lucas namun Anna yang memberikan nya sehingga anak kecil itu menganggap jika mainan itu pemberian dari ibu nya.


"Mama udah ga sedih lagi?" tanya Estelle yang menatap ke arah sang ibu.


Anna tersenyum tipis, ia menyesal karna menunjukkan tangis yang tak bisa ia hentikan atau membuat putra nya melihat dan mendengar sesuatu yang seharusnya tak pantas di dengar anak kecil.


"Kenapa Mama sedih? Mama tuh seneng loh ada Estelle!" ucap Anna yang tersenyum dengan menunjukkan rasa semnagat nya.


Estelle menatap ke arah senyuman sang ibu, ia melihat wanita yang terlihat tampak baik-baik saja kini.


"Ma? Kita main di luar yuk? Di sana." ajak nya pada ibu nya yang kini masih belum bisa berjalan.


Atau mungkin tak akan bisa berjalan selamanya?


Terlebih lagi ia pun tak boleh keluar dari kamar mewah itu bahkan untuk ke luar mansion yang lain dan ke taman nya.


Anna terdiam sejenak saat mendengar ajakan putra nya, "Gimana kalau Mama lihat dari atas Estelle yang main ke sana?" tanya Anna yang tak melarang putra nya keluar atau menahan untuk bersama nya.


Estelle diam sejenak, ia kembali duduk dengan tenang dan bermain dengan robot nya walau hanya memegang dan mengusap nya saja.


"Estelle sama Mama aja," jawab nya saat bermain dengan mainan yang berada di tangan nya.


Tak!


Mata abu-abu gelap itu berkedip, ia tak sengaja menarik tangan yang robot nya terlalu kuat hingga membuat nya kaku dan tak bisa di gerakan.


"Mama? Lusak?" tanya nya yang langsung bangun dan mendekat ke arah sang ibu.


"Rusak? Mana? Sini Mama lihat?" ucap Anna yang mengulurkan tangan nya.


Estelle memberikan nya, menunggu sang ibu memperbaiki mainan nya sama seperti yang sudah terjadi sebelum nya.


"Engga kok, cuma perlu di tekan lagi aja." jawab Anna yang membenarkan posisi nya lalu memberikan nya lagi.

__ADS_1


Estelle mengambil nya, ia diam tak menjawab apapun dan melihat kembali ke arah mainan yang di berikan.


Mata nya melirik ke arah sang ibu, ia tak duduk kembali di karpet nya dan hanya berdiri seperti menunggu suatu ajakan dan tawaran.


Anna diam, ia tau tatapan dan wajah menggemaskan yang sebenarnya menunggu untuk di pangku.


Putra nya tak pernah menunjukkan suatu keinginan secara kuat, terlalu banyak memperhatikan perasaan nya sampai terkadang membuat anak tampan itu ragu untuk meminta sesuatu.


"Estelle mau pangku Mama?" tanya Anna yang menatap ke arah putra nya.


Estelle langsung menoleh, ia mengangguk dengan cepat dan menunggu sang ibu mengangkat tubuh nya seperti biasa.


"Boleh, ambil dulu itu." ucap Anna yang menyuruh putra nya mengambil kain yang lain karna ia harus melapis kaki nya yang mungkin akan kembali terluka jika di timpa beban berat saat memangku putra nya.


Estelle menurut, ia beranjak mendekat dan mengambil apa yang di tunjuk sang ibu, "Ini Ma."


Anna memberikan senyuman nya, "Nah sekarang pangku sama Mama..." ucap nya yang beranjak mengangkat tubuh mungil itu ke pangkuan.


Ukh...


Suara ringisan nya terdengar lirih saat ia merasa luka basah nya di duduki oleh putra nya.


Estelle beranjak memeluk tubuh ibu nya, "Ma..."


"Mau pulang..."


Rengek nya yang terdengar lirih walau ia biasa nya tak pernah meminta sesuatu secara terus menerus apa lagi sudah di beri tau oleh ibu nya.


"Ini kan rumah Estelle sekarang nak, Estelle mau pulang ke mana? Sekarang kan sudah di rumah." ucap Anna yang membuat putra nya diam.


"Maaf ma..." jawab anak kecil yang memiliki wajah datar itu.


Anna menarik napas nya di tenggorokan nya yang selalu merasa tercekat jika melihat ekspresi dan mata jernih itu.


"Estelle? Estelle mau ga senyum lagi buat Mama, kayak tadi..." ucap Anna yang meminta putra nya untuk kembali memberikan senyuman.


Estelle menatap bingung, ia sama sekali tak tau saat membicarakan tentang rumah membuat nya tersenyum tipis.


"Yang begini loh sayang, lihat Mama..." ucap Anna yang menarik kedua ujung bibir mungil putra nya dan kemudian sembari memberikan contoh senyuman.


"Oh? Senyum itu yang buat Mama cantik ya?" tanya Estelle dengan polos nya saat ia baru sadar jika senyum adalah eskpresi cantik ibu nya.


Anna mengangguk, "Iya! Senyum yang begitu, tadi Estelle begitu juga kok waktu bilang mau pulang,"


"Estelle cantik kayak Mama?" tanya nya yang bingung menatap ke arah ibu nya.


Anna tertawa kecil mendengar ucapan polos putra nya, rasa sakit di kaki nya terasa hambar jika melewati waktu dengan anak kecil yang sangat ia sayangi itu.


"Iya, tadi Estelle cantik kayak Mama." ucap nya pada putra nya.


"Mama suka kalau Estelle cantik?" tanya nya sekali lagi dengan bingung.


"Suka! Mama kan suka Estelle! Mau Estelle jadi cantik atau tidak," ucap Anna yang mulai mengecupi pipi bulat putra nya.


...


Pukul 07.32 pm


Cup!


Anna tersentak, sebuah kecupan datang ke pipi nya membuat ia langsung menoleh.


"Kau makan malam lebih dulu?" tanya Lucas yang baru kembali dan kemudian mendekat serta langsung membuka kain yang menutup luka di paha gadis cantik itu karna ulah nya.


"Seperti nya harus di ganti perban nya," ucap nya lirih yang kemudian mengambil perban yang berada di kamar itu.


Ia sudah tau luka yang terjadi untuk memangku putra nya karna ia memantau dari cctv yang ia letakkan di kamar nya tanpa sepengetahuan gadis itu.


"Karna luka nya tidak terlalu parah aku yang akan mengganti nya," ucap Lucas yang kemudian berlutut di lantai agar bisa mengganti perban di kaki sang istri.


Anna masih tak mengatakan apapun, ia menatap ke arah pria yang bisa memberikan nya sentuhan tangan yang lembut namun memiliki hati yang sekeras batu.


"Luc?" panggil nya lirih yang menatap ke arah pria itu.


"Hm? Apa?" jawab Lucas tanpa menoleh sama sekali sedangkan ia meletakan satu kaki gadis itu di pundak nya agar lebih mudah untuk mengganti perban nya.


"Kamu bisa tidak jangan marahi aku di depan Estelle, atau jangan hukum aku di depan dia? Kalau kamu marah tapi ada dia kamu bisa tahan tidak? Kalau dia nanti sudah tidak ada kamu boleh hukum aku sebanyak yang kamu mau." ucap Anna lirih yang meminta sesuatu yang lebih aman untuk mental putra nya.


Lucas tak menjawab apapun, ia hanya mengganti perban itu sampai selesai.


Anna diam sejenak, ia tak memiliki keberanian untuk mendesak sama sekali.


Setelah selesai Lucas pun berdiri dan kemudian meletakkan kembali kaki gadis itu.


Ia bangun dan kemudian menunduk hingga membuat tubuh gadis yang duduk di sofa itu terlihat terkurung oleh nya.


"Tergantung bagaimana sikap mu, dan lagi kenapa aku harus menahan sikap ku di depan anak itu?" tanya nya yang menatap ke arah gadis yang tampak terdiam itu.


Anna menatap dengan iris nya yang gemetar, "Di.. dia anak kamu juga..."


"Aku tidak mau dan karna itu aku ingin dia mati sebelum lahir," jawab Lucas tanpa ragu atau pun merasa menyesal atas apa yang coba ia lakukan dulu ketika berusaha untuk membunuh anak yang belum lahir itu.


Anna menahan napas nya, dada terasa menggelitik dengan ribuan kapas yang memadat hingga membuat nya sesak.


"Luc? Aku mohon..." ucap nya lirih yang memegang tangan yang berada di samping nya karna pria itu menunduk dan mengukung kedua tangan nya pada sofa yang ia duduki.


"Kau tau? Aku semakin membenci nya? Dia mendapatkan perhatian mu, senyuman mu, itu semua..."


"Membuat ku ingin mematahkan leher kecil itu dengan cepat..." sambung Lucas berbisik.


Ia merasa cemburu untuk anak kecil yang mendapatkan kasih sayang ibu nya, ia memperhatikan semua yang terjadi dari rekaman cctv yang ia letakkan.


Anna diam, ia tak tau harus mengatakan apa dan takut mengatakan sesuatu yang salah.


"Kau hanya menangis, memohon dan menatap ku dengan wajah seperti itu saat kita kembali bertemu." jawab Lucas yang perlahan berdiri dengan tegak.

__ADS_1


"Kau tau? Aku mencari mu seperti apa? Aku bahkan mencoba membuat boneka yang mirip dengan mu tapi tidak ada yang bisa menyamai nya." sambung Lucas sekali lagi.


Anna tetap diam, ia tak tau pria itu akan begitu terobsesi pada nya walaupun sudah bertahun-tahun lama nya ia menghilang.


"Luc? Kamu udah bisa punya semua nya, kamu punya kekuasaan, punya kekayaan, punya wajah dan latar belakang yang baik terlepas dari apa yang kamu buat dan bahkan sekarang kamu bisa lihat dengan jelas tanpa harus ada aku kan?" tanya Anna yang hanya tau penglihatan pria itu sudah membaik saat ia kabur.


Lucas diam sejenak, wajah datar nan tampan itu menatap ke arah gadis di depan nya yang seakan ingin mengatakan jika ia akan baik-baik saja tanpa nya.


"Kau benar, kecuali di poin terkahir." ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.


"Hanya kau yang bisa ku lihat, aku sudah bilang kalau itu warna yang ku miliki kan?" sambung nya yang membuat pria itu diam.


"Luc-"


Greb!


Ukh!


Anna tersentak, pipi nya tertangkup dan membuat suara nya menghilang.


"Dari pada kau sibuk mengatakan tentang anak itu kenapa kau tidak pikirkan diri mu sendiri? Kau membuat ku kesal karna membicarakan orang lain saat kita bersama." ucap nya yang melepaskan jam tangan tangan ia pakai.


Anna tak mengatakan apapun, bagi pria itu putra mereka adalah orang asing dan bagi nya putra mereka adalah segala nya yang ia miliki.


Humph!


Anna memejam sesaat, tubuh kecil nya di angkat lagi dan kali ini di pindahkan ke ranjang.


Anna meremas kemeja pria itu namun ia tak mendorong nya sama sekali, memar dan bekas percintaan nya kemarin malam masih ada dan tentu semua itu memberikan rasa sakit yang perih untuk nya.


Kali ini mencoba untuk tidak melawan lagi agar pria itu mengurangi sedikit kekuatan nya dan tidak memperlakukan nya dengan sentuhan yang kasar.


"Kau tidak bisa balas ciuman ku?" tanya nya sembari meletakkan gadis itu ke ranjang dan tak membanting nya malam ini.


Anna diam tak mengatakan apapun, ia hanya menatap ke arah pria yang melepaskan jas dan kemeja nya lalu mulai mengukung tubuh nya sekali lagi.


Humph!


Kali ini Anna memilih untuk menuruti apa yang di inginkan pria itu, sentuhan mulai menjalar di tubuh nya dan kali ini tak ada penolakan sama sekali.


...


Pukul 01.24 am


Pria itu merengkuh dan memeluk tubuh kecil gadis nya setelah ia bermain di atas nya.


"Jangan pergi lagi, aku tau kau selalu berpikiran untuk kabur lagi tapi jangan pernah lakukan..."


"Aku mencari mu dan bahkan selalu bermimpi membunuh mu lalu kemudian aku menyadari nya..."


"Aku tidak mau melakukan nya, mungkin itu alasan aku tidak bisa membunuh mu sampai sekarang..."


Ucap nya lirih sembari mengusap punggung gadis itu.


"I love you more than I thought, I think I'm going crazy because of that."


ucap nya yang lirih yang semakin memeluk tubuh kecil itu.


Anna tak tertidur sama sekali, ia masih sadar saat pria itu berbisik di telinga nya setelah berc*nta dengan nya.


Ia diam tak mengatakan apapun atau membantah seperti orang yang tak mendengar apapun sama sekali.


Cinta?


Pria itu mengatakan cinta setelah semua yang di lakukan nya?


Setelah mengambil orang yang ia sayangi dan menjadikan darah daging nya sebagai tahanan.


Wajah nya datar, memikirkan sesuatu yang hanya terlintas di kepala kecil nya. Cara untuk bertahan dan cara bagaimana ia bisa membuat putra nya nyaman.


...


Ke esokkan pagi nya.


Pria itu tampak menggerakkan mata nya yang terpejam, ia merasa seseorang menyentuh pipi nya dan membuat tidur nya terganggu.


Perlahan mata abu-abu itu terbuka, menatap ke arah seseorang yang berada di samping nya.


"Pagi Luc..."


Senyuman yang terlihat dengan mata biru yang cantik itu menyapa nya.


Lucas mengernyit dan masih mengira jika ia bermimpi, ia pun langsung bangun.


Tak ada aba-aba, gadis itu tiba-tiba bersikap manis pada nya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucas yang merasa aneh tiba-tiba.


"Memang nya apa? Aku kan cuma menyapa suami ku? Iya kan?" tanya Anna yang sekali lagi yang kemudian tersenyum seperti apa yang biasa ia tunjukkan dulu.


Lucas masih terdiam, ia merasa heran dan tampak merasa begitu bingung sedangkan Anna mulai bangun dan ikut duduk.


"Morning Luv..." ucap nya sekali lagi sembari memeluk pria itu.


Lucas masih tak mengatakan apapun, ia merasa gadis itu tengah berbohong lagi pada nya namun entah mengapa kalaupun itu adalah sebuah kebohongan ia tak membenci nya.


"Morning..." jawab nya yang membalas pelukan gadis itu dan mengusap punggung kecil yang memeluk nya.


Ya!


Aku tau kau sedang berbohong sekarang, seperti kebohongan mu tiga tahun yang lalu.


Aku mencintai mu walaupun aku tau...


Kau tidak pernah benar-benar mencintai ku...

__ADS_1


__ADS_2