Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Tertunda


__ADS_3

Anna diam, tatapan pria itu tampak berbeda. Mungkin memang benar karna kini pria itu sudah dapat melihat nya dengan jelas.


Tak hanya wajah nya namun semua warna dari bagian diri nya pun juga.


"S..Sir..." panggil nya lirih.


Tangan yang terus mengelus punggung nya dengan satu tangan lain nya yang berada di atas paha yang kecil itu.


Humph!


Mata biru nya membulat, ciuman yang melahap bibir nya membuat nya tersentak. Tubuh nya di tarik semakin masuk ke dalam dekapan pria itu.


Seluruh permukaan kulit nya dapat merasakan kemeja dari pria yang membuat nya semakin melekat seperti lem tersebut.


Plak!


Mata biru itu semakin membelalak, tangan pria itu menepuk bok*ng nya, dan mulai meremas nya dengan gemas seperti bermain squisy.


Ungkh!


Entah apa yang harus di katakan, ciuman atau gigitan?


Bibir nya seakan di makan di cicipi oleh pria itu seperti steik lembut yang kenyal.


Lucas semakin merasa gemas melihat gadis itu, apalagi kini ia bisa melihat wajah dengan jelas dan juga warna kulit yang tampak sangat jelas di mata nya.


Aroma yang memabukkan itu membuat nya mengecup ke leher gadis itu dan menghisap nya seperti biasa sedangkan tangan nya seperti menemukan mainan baru.


"Lembut sekali? Kau ini terbuat dari apa?"


Suara yang terdengar berat itu berbisik di leher nya, deruan napas yang terdengar semakin dalam itu begitu terasa di permukaan kulit nya.


"Si..sir..."


Anna meremang, tangan pria itu semakin kuat meremas bok*ng nya dengan gemas dan tak bisa mengontrol kekuatan nya.


Tentu gadis itu mulai merasa risih, tangan yang tadi nya sibuk menutup dad* kini mulai beranjak ingin menyingkirkan tangan yang terus meremas dengan gemas itu.


"Sir, sakit..." ucap nya lirih yang ingin melepaskan tangan pria itu.


Lucas berhenti, tatapan mata nya kini melihat dekat ke arah ujung yang runcing seperti Piramida.


"Merah muda? Coklat muda? Kenapa terlihat menggemaskan?" tanya nya yang langsung mengalihkan tangan nya ke arah ujung Piramida itu.


Anna langsung tersentak, siapa yang tak akan terkejut ketika bagian sensitif tubuh nya itu di pegang oleh seseorang.


Lucas sempat terdiam, ia merasakan sesuatu yang sama seperti adik nya bagun ketika gadis itu mabuk dan tanpa sadar memainkan nya.


Aliran dalam darah nya seakan melaju cepat begitu pula dengan degup jantung nya yang seakan ingin melompat keluar.


Sesuatu yang lembut itu memiliki ukuran yang pas dalam genggaman nya, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.


Ugh!


Anna tersentak, ia berusaha melepas tangan yang kini mulai meremas Piramida nya dengan gemas dan bahkan memainkan ujung piramida nya.


"Si..sir..."


"Sa..saya..."


Gadis itu takut, namun pria itu terlihat menyukai ketika menyentuh bagian-bagian sensitif nya.


Tak ada jawaban, malah pria itu yang kembali mengigit bahu nya saat merasa gemas dengan aroma khas anak gadis itu.

__ADS_1


Lucas semakin merasakan panas di tubuh nya, ia memang tak pernah dekat ataupun tertarik dengan seseorang sampai menimbulkan hasrat se*su*l yang tak pernah ada walaupun usia nya sudah menginjak 30 tahun.


Namun biarpun begitu, sifat naluri manusia sudah terbentuk sejak lahir sehingga membuat nya tau apa yang ia inginkan saat ini.


Tubuh kecil itu di buat hampir dengan posisi tidur dalam pangkuan pria itu. Anna berusaha melepaskan nya namun tangan yang panjang dan penuh dengan urat yang menonjol itu mulai turun tak lagi memanjat Piramida nya.


Mengusap perut nya dan bermain dengan pusar nya yang tidak timbul atau tidak dalam lalu semakin turun.


"Kau ternyata cukup bersih juga," bisik pria itu saat merasakan sesuatu yang lembut.


Anna tersentak, ia gemetar dan semakin bergerak ke sana ke sini agar bisa sedikit menjauh tanpa sadar apa yang ia lakukan semakin membuat pria seakan tersihir.


"Kau sudah pernah?" bisik pria itu sembari mengangkat wajah nya dan melihat ke arah wajah yang sudah basah kuyup dengan air mata itu.


Anna menggeleng, "Sa..saya..." ucap nya terbata yang kehabisan kata.


Suara nya serak karna tangis, sedangkan Lucas menatap dengan datar. Ia hanya bingung mengapa gadis itu menangis?


"Kau memang cengeng?" tanya nya dengan bingung.


Anna tak menjawab melainkan suara lirih dari isak tangis yang tertahan itu.


Sedangkan Lucas semakin merasakan sesuatu yang sesak di balik resleting nya yang ingin udara bebas.


Akh!


Anna terkejut, tubuh nya dengan cepat seperti melayang di udara saat pria itu melempar nya kembali ke ranjang.


Cup!


Cup!


Cup!


"Si..sir..."


Anna menelan saliva nya dengan sulit ia terkejut dan semakin menegang melihat satu persatu kancing kemeja itu terlepas.


"Hm?"


Lucas dengan wajah yang datar tanpa ekspresi itu menatap nya tanpa merasakan apapun kecuali rasa penasaran yang mulai terselimuti n*fsu.


"Aku akan berikan dokter yang baru juga nanti," ucap nya sembari mengangkat kaki kanan gadis itu dan mengecup dari punggung kaki nya.


Ia mengatakan demikian karna melihat masih ada nya bekas sayatan di paha gadis itu.


Hisapan atau ciuman dari punggung kaki itu semakin naik dan aroma khas dari gadis itu semakin memabukkan nya dan menginginkan lebih.


Anna masih menangis, seperti respon pengingat tubuh nya yang ketika merasa terancam membuat nya tak bisa mengeluarkan suara apapun.


Jangan bersuara dan tetap diam!


Ya!


Sesuatu yang masih melekat dalam kepala nya ketika mendapatkan abuse dari seseorang sehingga membuat nya tak bisa mengatakan 'Jangan' atau 'Tidak'


Merah muda?


Lucas kini mulai melihat warna lain di bagian tersembunyi, sedangkan tubuh gadis itu semakin gemetar ketakutan namun seperti membeku.


"Si..sir..."


"Hiks..."

__ADS_1


Tangis yang tak bisa mengatakan apapun dan terdengar gagap.


Aku tidak tau, tapi bukan nya ini dia masih...


Pria itu tak menjawab, ia malah berpikir setelah memeriksa sesuatu, namun tentu tak lama karna ia juga seperti ingin mencoba seperti apa rasa nya.


Ukh!


Seluruh tubuh Anna tersentak, ia membusur dan bergerak menjauh serta mendorong kepala pria itu agar menjauh dari nya sedangkan mulut nya semakin tak bisa membuka suara.


Lucas mulai terganggu dengan tangan yang mendorong dan menjauhkan nya, ia pun bangun dan menatap dengan dahi yang mengernyit seperti sedang kesal.


Kemeja yang tadi nya berada di samping nya setelah ia lepaskan ia ambil kembali dan mengikat tangan gadis itu agar tak menganggu nya.


"Si..sir..." lidah nya kelu ia tak bisa mengatakan apapun lagi saat semua suara tercekat di tenggorokan nya.


"Sstt? Kau tidak bisa diam? Kenapa hari ini sangat pembangkang?"


Ucap nya dengan nafas yang semakin berat, Anna meremang, seluruh tubuh nya menegang akan rasa takut namun ia tak bsia mengatakan apapun selain menggelengkan kepala nya.


"Kita mulai lagi?" tanya pria itu dengan senyuman yang menyimpul ke atas.


Tubuh kecil itu semakin bergerak menggeliat dengan kuat agar tak bisa di sentuh, namun ternyata sama saja.


Plak!


"Cumi-cumi nakal, kenapa tidak menurut hari ini?"


Pria itu kesal, ia menarik tubuh gadis itu ke samping dan memukul bok*ng yang lembut dan empuk itu dengan gemas dan tak bisa mengontrol kekuatan nya sehingga langsung memberikan warna merah yang tertinggal.


Lucas tersenyum melihat nya, bahkan saat ia tak menggores tubuh gadis itu dengan pisau ia bisa melihat warna lain nya.


"Luc!"


"Luc?!"


"Kau di dalam?"'


Suara ketukan pintu itu terdengar dengan kuat sehingga mulai menganggu.


Namun Lucas mengabaikan nya, karna ia tadi sudah mengunci nya agar sepupu nya itu tak sembarang masuk seperti sebelum nya.


"Hey?! Apapun yang kau lakukan undur dulu!"


"Ini penting!"


Suara yang berteriak itu tentu ia tau siapa karna tak akan ada yang berani meninggikan suara pada nya di mansion tersebut.


"Sh**!" decak nya yang merasa begitu kesal.


Ia beranjak bangun, dan membuka pintu kamar gadis itu.


"Ada apa?!" tanya nya dengan ketus.


Sedangkan Diego terdiam sejenak melihat sepupu nya membuka pintu dengan telanjang dada.


"Robert si tua itu mengambil alih perusahaan DGH!" ucap nya dengan nada kesal.


Lucas mengernyit, "Tunggu sebentar!" ucap nya yang langsung masuk dan menutup pintu kamar itu lagi.


Walaupun ia harus langsung pergi namun ia ingat dengan gadis yang baru ia ikat itu.


"Nanti kita lanjutkan," ucap nya sembari melepaskan ikatan dari kemeja mahal itu dan langsung beranjak keluar.

__ADS_1


Sementara Anna merasa lega sekaligus masih takut, ia masih tak bisa menghentikan air mata nya ataupun memilki tenaga yang lebih untuk segara memakai pakaian nya kembali.


__ADS_2