
Hotel
Gadis itu mengambil pakaian nya kembali dan memakai nya, tangan nya bergerak menyentuh jus jeruk yang di sediakan dan meminum nya.
"Kau mau langsung pulang?" tanya Diego pada gadis itu.
"Nanti, Mama Papa juga ga di rumah." jawab nya yang merapikan wajah nya dengan rambut yang masih basah.
"Pacar mu?" tanya nya pada gadis remaja itu.
"Belum balik," jawab nya singkat.
"Mau ku keringkan?" tanya pria itu sembari memegang untaian rambut panjang yang masih sangat basa karna baru selesai mandi itu.
Ia tak memiliki hubungan dengan gadis itu, hanya mau sama mau dan sesekali melakukan nya tanpa melibatkan perasaan atau pun tidak boleh mencampuri urusan pribadi.
"Kau tidak takut ketahuan?" tanya Diego lagi pada gadis yang tampak tengah memakai pelembab wajah.
"Sama siapa dia?" tanya Samantha yang merujuk ke arah kekasih nya.
"Hm," hanya deheman singkat yang menjadi jawaban.
"Aku juga udah jarang tidur sama dia." jawab Samantha yang memutar mata nya mengingat kekasih nya saat ini.
Diego tersenyum mendengar nya, ia menunduk agar mendekat ke arah telinga gadis yang duduk di depan cermin itu.
"Kenapa? Ketagihan dengan ku?" bisik nya yang menggoda gadis remaja itu.
"Ih! Bu..bukan kok!" jawab Samantha seketika sembari membalik tubuh nya dan menatap ke arah pria itu.
Diego tertawa, "Lain kali mau coba tanpa pengaman?" tanya nya yang menawarkan hal lain.
"Engga deh, nanti hamil." tolak Samantha langsung.
"Padahal kalau kau mau aku bisa belikan pil kontr*s*psi nya." ucap nya pada Samantha sekali lagi.
"Ga mau!" jawab Samantha lagi yang tak ingin beresiko karna takut lupa meminum nya setelah berhubungan.
"Sensasi nya beda loh," tawar Diego lagi dengan senyuman.
"Ih! Udah! Tas aku mana?" tanya nya yang mengalihkan pembicaraan karna tak ingin tergoda.
"Di atas sofa," jawab Diego singkat.
Gadis itu beranjak mengambil tas nya, ia membuka ponsel nya dan melihat ke arah aplikasi belanja.
"Kau beli barang couple? Untuk pacar mu?" tanya Diego yang mendekat dan menyandarkan dagu nya di bahu gadis itu.
"Bukan," jawab gadis itu singkat.
"Kau main dengan pria lain lagi?" tanya nya mengernyit yang tentu berpikir gadis itu punya teman ranjang lain selain diri nya.
"Bukan! Ini tuh buat aku sama Anna!" sambung nya pada pria itu yang membeli gantungan kunci yang kembar.
"Kalau kau bis**s**l pasti dia juga jadi selingkuhan mu," ucap Diego tertawa pada gadis itu.
Samantha tak mengatakan apapun ia hanya tertawa mendengar nya.
"Kalian kenal nya sejak kapan sih?" tanya yang menjauh dan mencari air dingin.
"Dari masuk SMA," jawab Samantha singkat.
"Sam?" panggil pria itu lirih.
"Hum?" gadis itu menoleh setelah meletakkan kembali ponsel nya.
"Mau lagi? Masih sisa dua." ucap nya yang merujuk pada alat pelindung bermain mereka.
"Aku udah mandi!" jawab gadis itu yang seperti tak lain adalah penolakan.
"Nanti ku mandikan lagi," jawab Diego sembari beranjak mendekat dan menggendong gadis itu.
......................
Sekolah
Anna menghentikan langkah nya sejenak saat ia beranjak keluar dari kelas nya di jam istirahat.
"Ada apa kak?" tanya nya melihat kakak kelas nya yang menunggu nya.
"Kau sudah baikan?" tanya nya yang ingat jika gadis itu masuk UKS sebelum nya.
"Aku ga ada sakit kok," jawab Anna menatap dengan wajah datar.
"Mau pergi sebentar?" tanya Gevan yang memberikan soda kaleng pada gadis itu.
Anna diam sejenak dan mengambil nya, remaja tampan itu pun mengangguk kecil dan berbalik membuat gadis itu mengikuti nya.
...
Bangku taman belakang sekolah yang luas dan hanya sesekali di datangi siswa maupun siswi karna letak nya cukup jauh dari bangunan utama sekolah.
"Soal yang kemarin maaf, aku benar-benar tidak maksud membuat mu merasa seperti itu." ucap nya yang terdengar lirih dan seperti merasa bersalah.
Anna diam sejenak, ia menghela dan melihat ke arah sepatu nya yang kali ini tampak mahal semenjak ia tinggal dengan pria itu.
"Lagi pula udah berlaku kan? Juga ga ada terjadi apa-apa kok," ucap nya pada remaja itu.
Walaupun saat kembali ia mendapatkan hukuman namun ia tak begitu memikirkan karna seperti sudah biasa menahan sakit.
"Maaf..." ucap Gevan sekali lagi.
"Iya, kalo kakak kayak begini jadi kayak besok mau mati aja? Tiba-tiba berubah," ucap Anna dengan pembicaraan lain.
Gevan melihat ke arah gadis yang saat ini kembali tersenyum.
__ADS_1
"Duh!" ucap nya yang mencubit pipi gadis itu saat merasa gemas.
"Sakit tau! Baru aja di maafin!" ucap Anna yang tampak kesal.
"Siapa yang suruh bikin mau cubit? Mochi!" ucap Gavan dengan tangan yang malah mencubit kedua sisi pipi gadis itu.
"Tapi..." ucap nya yang berhenti mencubit namun dengan tangan yang masih di pipi gadis itu.
"Apa?" tanya Anna dengan suara tak jelas dan juga mengernyit kesal.
"Berat mu semakin tambah ya? Kok sekarang makin gembul?" tanya Gevan pada gadis itu.
Duk!
Anna langsung menginjak kuat kaki kakak kelas nya itu dan melihat nya dengan kesal.
Gevan langsung meringis namun juga tertawa di saat yang bersamaan.
"Mau balik ke kelas!" ucap Anna kesal yang langsung pergi.
Tentu saja berat badan nya naik karna ia yang selalu di berikan makan setiap hari dengan jumlah yang banyak oleh pria psikopat itu
...
Kelas
"Anna!" Samantha mendekat dengan wajah ceria nya.
"Iya?" gadis remaja yang memiliki rambut pirang kecoklatan itu mendekat.
"Lihat! Aku beli gantungan kunci baru!" ucap nya yang tampak senang sembari memberikan nya pada teman nya itu.
"Ih! Imut banget!" sahut Anna yang menyukai gantungan kunci dengan pola kucing yang menggemaskan itu.
"Nanti aku traktir deh waktu pulang sekolah." ucap Anna pada teman nya itu.
"Memang nya kamu boleh pergi nanti? Biasa nya kan di lihatin sama supir yang serem itu!" jawab Samantha pada teman cantik nya.
"Boleh sih, tapi kamu ikut masuk ke mobil jemputan aku, kayak kemarin." ucap nya yang mengatakan saat mereka pernah keluar.
......................
JNN grup
Pria itu sudah tau jika gadis pergi dengan teman nya melalui pesan yang di kirimkan.
Ia membiarkan nya, dan kembali melanjutkan pekerjaan nya sebelum menghadiri rapat berikut nya.
Pintu nya terketuk, pria itu tak melihat ke arah pintu dan beranjak mengatakan masuk.
"Masuk," ucap nya singkat.
"Maaf Sir? Saya ingin memberikan ini," ucap seseorang yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Lucas menoleh, ia menatap seseorang yang tak lain adalah salah satu peneliti chip yang di kembangkan.
"Pertumbuhan sel darah putih yang meningkat?" gumam nya melihat ke arah kertas yang menunjukkan semua hasil tes lab.
"Benar Sir, kemungkinan jika terus seperti ini subjek akan mengalami leukimia stadium satu." ucap nya pada pria itu.
Lucas meletakkan kertas itu di atas meja dan menjentikkan jemari di atas meja.
"Kalau begitu bagaimana jika mengganti chip nya?" tanya nya lagi yang tetap tak ingin membatalkan uji coba nya.
"Mungkin efek radiasi bisa di perkecil tapi karna sudah ada perubahan genetika maka mungkin saja tetap berisiko." ucap sang peneliti.
"Lanjutkan uji coba nya dan jadwalkan operasi untuk pergantian chip." perintah nya yang tetap kukuh untuk memasang chip di tubuh gadis remaja itu.
Selain dengan alasan untuk menambah penelitian dari produk nya ia juga merasa lebih aman karena berpikir gadis itu tak akan mungkin bisa kabur dari nya selama chip itu masih terpasang.
......................
Mansion Damian
Pukul 02.45 am
Semua nya sudah sunyi senyap, seluruh orang yang berada di sana sudah tertidur kecuali penjaga malam di mansion itu.
Pria itu tampak gelisah di tidur nya, keringat nya keluar walau ia tengah berada di kamar yang memiliki AC.
...
Luc?
Ke sini...
Kenapa kamu diam saja? Senyum dong...
Tangan yang terasa lembut memegang pipi nya, seseorang bicara dengan nada yang halus menatap nya namun ia tak bisa melihat wajah itu.
Di sini sebentar yah sayang...
Suara wanita itu terdengar menenangkan nya saat meminta nya menunggu namun.
Ja..jangan!
Langkah yang gemulai dan lembut khas sekarang wanita yang anggun dan lemah lembut itu berjalan ke kobaran api yang panas.
Kaki nya tak bisa bergerak walau pun ia ingin menarik wanita itu kembali.
Deg!
Ia tersentak, tangan nya memegang korek mancis yang terlihat membakar sesuatu.
Luc?
__ADS_1
Mata biru gelap itu menatap nya sayup, tak ada pembicaraan apapun.
Terlihat menahan sakit sekaligus sendu, bibir nya bergerak, sesuatu terucap namun tak bisa ia dengar ataupun ketahui.
...
Deg!
Mata pria itu langsung terbuka, napas nya terasa hampir habis seperti sedang di kejar oleh sesuatu.
Jantung nya berdegup kencang, ia memimpikan sesuatu yang terasa begitu nyata namun juga bukan seperti kenyataan.
Luc?
Tengg!
Ukh!
Pria itu meringis, kepala nya terasa begitu sakit sampai terasa ingin terbelah. Telinga berdenging.
Ia tak bisa mendengar apa yang ada di telinga nya, rasa nya ia harus nya mendengar sesuatu namun ia tak tau apa itu.
Pria itu beranjak turun dari ranjang nya, ia membuka nakas nya dan mencari obat penenang nya yang telah di resepkan dokter untuk nya.
"Si*l!" decak nya yang merasa begitu kesal karna rasa sakit yang teramat sangat di kepala nya.
Prang!
Barang-barang hias di atas nakas nya mulai jatuh, pandangan nya seperti mengabur hingga membuat nya kesulitan.
"Sir!"
Suara yang terdengar memanggil nya, pria itu menoleh namun seseorang yang datang tampak tak jelas.
"Sir? Anda baik-baik saja?"
Tangan yang terasa lembut menyentuh kedua pipi nya dan melihat ke arah nya.
Luc?
Ukh!
Ia tak bisa melihat siapa yang bicara saat semua terasa gamang dan berputar.
Suara seseorang yang memanggil nama nya membuat kepala nya begitu sakit.
Anna mengernyit, bagi nya pemandangan itu seperti tak asing bagi nya.
Seseorang yang tampak mengalami tekanan yang begitu kuat, ia pernah melihat nya!
Kedua tangan kecil nya perlahan memegang telinga pria itu dan menutup nya.
"Sir? Anda baik-baik saja?" tanya nya lagi mengulang.
Pria itu diam sejenak, tampak mulai tenang dan tak lagi mengeluarkan suara ringisan.
Mata yang sebelum nya memejam, karna menahan sakit kini terbuka dan melihat ke arah nya.
Deg!
Anna tersentak, ia melihat mata yang berbeda dari biasa nya.
Memang pria itu selalu bersikap dingin dan kejam namun tidak dengan aura membunuh yang sekuat ini sama seperti malam ketika ia hampir mati di tangan pria itu.
Tatapan yang kosong itu tampak melihat gadis di depan nya dengan datar.
"S..Sir..." panggil nya lirih yang mulai menyingkirkan tangan nya.
Greb!
Pria itu menarik tangan kecil itu, ia memegang nya dan mencium telapak tangan nya sembari tetap melirik ke arah gadis itu.
"Ya, aku baik-baik saja..." ucap Lucas yang perlahan menj*lat telapak tangan gadis itu dan bagain di mana nadi tangan gadis itu berada seperti sedang menginginkan santapan malam nya.
Deg!
Deg!
Deg!
Kalau kau melihat ku seperti itu lagi, lari dan sembunyi sebaik mungkin dari ku
Ia teringat dengan pesan pria itu sebelum nya, namun saat ini ia tak bisa kabur kemana pun.
"Si..Sir..."
"I..ini saya..." ucap nya lirih dengan jantung yang berdegup kencang.
Pria itu tak menjawab apapun, ia hanya tersenyum simpul dan mulai beranjak mengigit tangan gadis itu.
Ukh!
Anna meringis, darah nya menetes sedangkan bibir pria itu tampak memerah dengan darah segar nya.
Greb!
Pria itu menarik tubuh yang kecil itu mendekat ke arah nya dan langsung memeluk pinggang ramping gadis itu.
"Milik ku..."
"Kesayangan ku..."
"Kalau kau mencoba pergi sekarang, aku akan membunuh mu..."
Bisik nya lirih di telinga gadis itu, sembari memegang tubuh ramping gadis remaja itu.
__ADS_1
Anna meremang, ia tak berani bergerak ataupun mendorong, seluruh tubuh nya membeku tanpa bisa melakukan perlawanan.