
Apart
Diego tak mengatakan apapun, mata nya yang gelap itu tak menunjukkan reaksi apapun.
Ia tak bisa mengendalikan kekuatan tangan nya, mencengkram lengan kecil gadis itu sampai terdengar suara ringisan.
"S..Sir..." panggil nya lirih menatap ke arah pria itu.
"Sa..saya melakukan kesalahan?" tanya Anna lagi dengan wajah yang mulai menunjukkan rasa takut.
Diego masih diam, ia semakin mencengkram lengan gadis itu dan tak membiarkan wajah itu menjauh dari pandangan nya.
Tak!
Satu tarikan kuat membuat nya melepaskan genggaman nya.
"Apa yang kau lakukan?!"
Suara bariton yang terdengar murka itu membuat Diego tersentak.
"Hah..." Ia membuang napas nya lirih dan melirik sekilas ke arah sepupu nya yang sudah datang ke apart nya bahkan tanpa ia sadari
Lucas meraih tangan gadis itu dan menyembunyikan tubuh kecil itu di balik tubuh kekar nya.
Mata yang menatap tajam dan wajah tak senang yang kali ini menunjukkan jelas ekspresi nya. Tak seperti dulu yang selalu bersikap tenang.
"Tidak, aku hanya-"
Ukh!
Ucapan nya terputus, kerah kemeja nya di tarik membuat nya terasa tercekik.
"Dengar, aku tidak peduli kehidupan mu itu seperti apa, tapi jangan coba menyentuh apa yang bukan milik mu!" Mata yang menyilang tajam itu menatap seperti ingin melahap nya.
"Oh Luc, tenang lah! Aku tidak memiliki niat seperti itu!" ucap Diego yang langsung tau jika sepupu nya itu mengira ia tertarik sebagai lawan jenis pada gadis itu.
"S..Sir? Sa..saya ti..tidak apa-apa..." ucap Anna lirih sembari memegang ujung ekor kemeja pria itu.
Lucas menoleh sekilas, tangan nya perlahan melepaskan sepupu nya.
"Ganti baju mu, pakai seragam mu lagi! Aku akan memberikan pakaian yang baru untuk mu!" ucap nya yang memandang tak suka ke arah pakaian gadis itu.
"Aku sudah memesan pakaian nya, mungkin akan datang sekitar 10 - 20 men-"
Diego tak lagi melanjutkan kalimat nya, tatapan tak suka pria itu langsung membuat nya bungkam dan tak mengatakan apapun lagi.
"Ba..baik..." jawab Anna lirih yang langsung beranjak mengganti seragam nya.
Walaupun Anna tak menjelaskan situasi apapun dan mengapa ia bisa berganti pakaian di tempat Diego, Lucas sudah mengetahui nya.
Dan tentu itu semua karna chip yang tertanam di tubuh nya.
"Jangan coba-coba melakukan sesuatu yang tidak akan bisa kau tangani," ucap Lucas sekali lagi dengan mengancam sepupu nya itu setelah melihat Anna yang menghilang untuk mengganti pakaian nya.
"Luc? Aku benar-benar tidak punya ketertarikan seperti itu!" ucap Diego yang membantah nya.
"Lalu? Kenapa tadi cara mu melihat berbeda?" tanya Lucas yang tentu tak mempercayai nya sama sekali.
"Aku hanya merasa dia..." ucap Diego yang tak melanjutkan kalimat nya.
"Apa?" tanya Lucas seketika.
Diego tak menjawab, ia menarik napas nya lirih dan melihat ke arah pria itu.
"Kau tidak merasa aneh? Cuma mata nya yang bisa kau lihat, padahal ku juga sering menemui warna mata yang sama?" tanya nya mencoba agar pria itu memikirkan nya.
"Aku merasa aneh atau tidak itu urusan ku, yang jadi urusan mu adalah jangan mencoba menyentuh nya lagi!" jawab Lucas dengan mata yang masih menatap begitu tajam.
Ia memang terus bersama dan bahkan tumbuh dewasa dengan sepupu nya itu. Namun ia tak pernah mempercayai seratus persen pada pria itu.
Pria yang sanggup membunuh ayah yang sangat mencintai dan menyayangi nya.
Jadi bukan nya tak akan ada kemungkinan jika ia juga akan di tusuk dari belakang seperti itu?
Namun ia juga tak bisa melepaskan hubungan itu begitu saja, tak ada siapapun yang lebih baik untuk di sisi nya selain sepupu nya itu.
"Sir?"
Suara gadis remaja yang terdengar memanggil nya itu, membuat Lucas menoleh.
Greb!
Ia tak mengatakan apapun, ia menarik tangan gadis itu dan langsung membawa nya keluar.
...
Bruk!
Anna menahan bibir nya dari hampir meringis, ia menatap ke arah pria yang memasukkan nya ke mobil secara kasar itu tanpa berkomentar.
"Seharusnya kau lebih hati-hati, aku sudah bilang betapa kali?!" tanya Lucas yang menatap ke arah gadis itu setelah ia juga masuk ke dalam mobil.
"Ma..maaf Sir..."
"Ta..tapi tadi ti..tidak terjadi apapun, seragam saya kena jus yang tumpah jadi Sir Diego di-"
Gadis itu tersentak, tangan nya yang memar akibat cengkraman Diego kini malah di cium dengan hisapan kecil.
"Sir?" panggil nya lirih pada pria yang tampak tengah seperti memakan tangan nya itu.
Auch!
Anna tanpa sadar meringis, hisapan yang awal nya basah dan hangat itu berubah menjadi perih dan sakit saat pria itu menggigit nya.
Gadis itu tak lagi berkomentar, ia menahan suara ringisan nya dan membiarkan pria itu sampai selesai.
__ADS_1
Lucas beranjak, ia mengusap sudut bibir nya yang basah dengan cairan berwarna merah itu.
Ia tak suka jika ada bekas yang di tinggalkan oleh orang lain, baik itu pukulan atau pun yang lain.
Bagi nya hanya ia yang boleh melakukan apapun pada gadis itu, karna dari ujung rambut sampai ujung kaki gadis remaja itu adalah milik nya.
"Kita akan beli pakaian yang baru untuk mu," ucap Lucas tanpa mengatakan maaf dan melepaskan tangan gadis itu.
Cup!
Anna tak mengatakan apapun, namun kecupan mendapat di pipi kanan nya.
Lucas kini melihat wajah gadis itu dari dekat, mata yang berkaca akibat menahan tangis nya.
Ia mengusap pelan pipi gadis itu dan kemudian kembali duduk di kemudi nya lalu mulai menjalankan mobil mewah itu.
"Sir?" panggil Anna lirih saat pria itu melanjukan mobil nya.
Lucas tak menjawab namun tentu ia mendengarkan gadis itu.
"Anda menyukai saya?" tanya Anna lirih sembari memegang tangan nya yang terluka.
"Tentu, aku menyukai mu. Sangat menyukai mu." jawab Lucas yang tak menunjukkan keraguan sama sekali.
"Kau juga menyukai ku, kan?" sambung nya pada gadis itu.
Anna diam sejenak, ia memegang tangan nya yang terluka itu bahkan walaupun darah nya ikut menetes dari sela jemari nya.
"Te..tentu..."
"Saya juga menyukai Anda..." jawab nya dengan senyuman lirih yang harus ia lakukan agar tak membuat pria itu semakin kesal.
Lucas tersenyum kecil, tangan nya mengusap kepala gadis itu.
......................
Tiga hari kemudian.
JNN grup
Lucas membuang napas nya, sang kakek yang sebelum nya sakit kini telah bangun kembali.
"Kenapa dia sangat lama mati nya? Apa aku harus cepat mengirim nya?" gumam Lucas yang sama sekali tak bahagia dengan berita bahwa sang kakek kini sudah sadar.
Ia sendiri di benci oleh kakek nya, mungkin tak hanya diri nya. Sepupu nya pun juga di benci.
Dan alasan terkuat nya adalah karena sang ayah menyukai saudara kandung nya sendiri yang tak lain adalah paman nya dan ayah dari sepupu nya.
"Luc? Kau tidak fokus karna kakek sudah bangun?" tanya Diego yang menatap ke arah sepupu nya.
Dan ia tau sepupu nya itu masih sangat marah dengan nya hingga memberikan nya tugas yang sulit dan pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari.
Lucas tak menjawab, ia hanya melihat kembali ke arah dokumen yang di berikan pada nya.
"Anna?" tanya Diego lagi dan tentu pria itu langsung merespon nya.
"Lalu aku harus bilang apa?" tanya Diego yang membuang napas nya lirih.
Lucas tak menjawab, wajah dan ekspresi serta mood nya sangat buruk belakangan ini.
"Bukan nya itu bagus? Kalau dia tau kau punya wanita dia tidak akan berpikir kita punya hubungan juga kan? Dan rumor itu akan menghilang." ucap Diego yang sangat tau jika kakek nya juga sangat membenci nya karna mengira ia akan seperti sang ayah yang menyukai satu jenis dan lebih buruk nya dengan saudara sendiri.
"Manusia kapitalis itu? Kalau dia tau latar belakang anak itu pasti..." ucap nya lirih yang tak bisa melanjutkan kalimat nya.
Walaupun ia sudah menduduki kursi Presdir dan jabatan tertinggi di perusahaan besar itu namun jika sang kakek hidup dan memilih untuk melawan nya maka posisi nya bisa goyah.
Ia bisa tetap bertahan atau mungkin tak lagi menduduki kursi tahta nya itu.
"Dia akan menyingkirkan anak itu dan membuat mu menikah dengan yang sepadan," ucap Diego lirih.
"Seperti nya kau yang akan lebih dulu menikah, ku dengar dia sudah mengatur kencan mu." jawab Lucas dengan wajah masam.
Diego tak mengatakan apapun, memang sang kakek seperti bencana yang sangat sulit di singkirkan.
"Apa kita lenyapkan saja dia?" tanya nya pada pria itu.
Lucas diam sejenak, ia tak pernah berpikiran untuk melenyapkan kakek nya sama sekali namun hubungan yang kian merenggang membuat nya semakin menjauh.
"Tergantung situasi," jawab nya yang memberikan lampu hijau.
......................
Satu Minggu kemudian.
Rumah Mr. Harris
Samantha membuka pintu rumah nya yang di ketuk oleh seseorang.
Ia mengernyit melihat siapa yang datang namun tak menunjukkan keramahan sama sekali.
"Mana Harris?!" tanya nya salah satu pria yang langsung menyolot dengan nada tak bersahabat.
"Kenapa anda bertanya dengan tidak sopan?" tanya Samantha yang tentu tak menyukai tamu yang tak di undang itu.
"Sam!"
Suara sang ayah yang langsung datang dan menarik tangan nya ke dalam, "Kamu di kamar saja." ucap nya pada putri nya dengan senyuman yang ia buat.
Samantha tak mengatakan apapun namun ia menurut, ia pergi tapi tak ke kamar nya dan mendengarkan pembicaraan sang ayah.
"Bayar hutang mu!"
"Beri waktu sedikit lagi, aku akan melunasi nya."
"Satu Minggu lagi! Kalau tidak aku akan mengambil uang ku sendiri!"
__ADS_1
Mata hitam itu membulat, Samantha yang mendengarkan dari balik sudut yang lain memegang mulut nya seperti menutup nya.
...
Pukul 10.35 pm
Prang!
Suara yang keras itu terdengar nyaring memenuhi seisi rumah.
Barang-barang yang pecah dengan suara argumen yang beradu dan membentak satu sama lain tak peduli lagi jika ada yang mendengar nya atau tidak.
Sementara itu, gadis yang menutup kedua telinga nya dan berdiam diri di kamar itu tampak gemetar.
Ia menangis saat pertengkaran kedua orang tua nya memberikan rasa takut tersendiri karna sebelum nya ia tak pernah menghadapi situasi seperti itu.
"Kapan mereka berhenti..." gumam nya lirih dengan suara yang serak sembari menutup kedua telinga nya yang masih dapat mendekat pertengkaran hebat itu dengan jelas.
......................
Mansion Damian
Anna tak menemui Diego belakangan terkahir semenjak kejadian di apart.
Ia keluar hanya untuk sekolah setelah itu kembali lagi ke mansion dan tentu pria itu masih sangat terus menganggu nya.
Namun beberapa hari terakhir, pria itu sering pulang larut dan bahkan tak terlihat di mansion selama beberapa hari tanpa memberi tau nya lebih dulu seperti biasa.
...
Anna diam berdiri di depan jendela kamar nya yang tampak besar itu, ia tak memiliki balkon kamar seperti di kamar pria pemilik mansion itu.
"Warna..."
"Dia harus bisa segara lihat war-"
Greb!
Gadis itu tersentak, suara nya yang bergumam langsung terdiam saat ia merasakan sesuatu yang merangkul nya dari belakang.
"Kenapa kau selalu wangi?" bisik seseorang dengan suara yang bulat dan serak khas pria dewasa itu.
Anna diam, ia bahkan kini sudah tau aroma parfum yang tercampur dengan aroma tubuh seseorang itu.
"Anda sudah kembali Sir?" tanya nya sembari merasakan kecupan di leher dan di belakang telinga nya.
Lucas tak mengatakan apapun, ia membalik tubuh gadis itu sampai membuat wajah gadis itu melihat ke arah nya.
Tanpa sepatah kata pun ia mengecup bibir bulat yang masih ranum itu dan menghisap nya pelan.
"Kita sudah lama kan?" tanya nya berbisik di telinga gadis itu.
Anna diam, ia tau pria itu meminta sesuatu dari nya.
Lucas kembali menatap gadis itu, dan menekan bahu nya sampai ke membuat Anna berlutut di atas lantai.
"Kau sudah tau kan?" tanya nya tanpa basa-basi.
Anna menarik napas nya sejenak, ia mengangguk walau tak ingin.
Tangan nya mulai membuka tali pinggang pria itu, tanpa sepatah kata pun.
Beberapa waktu kemudian.
"Damn!" gumam pria itu yang menekan kepala gadis yang terlihat sesak dengan mulut yang penuh itu.
Tubuh nya gemetar, gadis itu semakin pandai melakukan sesuatu yang ia inginkan.
Lucas pun menarik tangan gadis itu dan memeluk pinggang ramping nya.
Ia mengusap sudut bibir yang masih terasa hangat dan lengket dan mengembalikan nya kembali ke dalam mulut kecil itu.
Masih hening tak ada satupun yang berbicara, ia pun kembali mengecup bibir gadis itu dengan agresif atau mungkin ia mulai menggigit nya seperti dulu lagi?
Humph!
Anna tersentak, tangan pria itu mulai menarik pakaian nya satu persatu.
Dia kenapa?
Kenapa tiba-tiba jadi agresif?
Dia tidak akan melanggar janji nya kan?
Sedangkan Lucas tak mengatakan apapun, masalah pekerjaan yang membuat nya pusing di tambah dengan masalah keluarga internal yang membuat nya semakin tak bisa mengendalikan diri nya.
Dan tentu ia meluapkan nya pada gadis yang menjadi satu-satu nya obat langka yang tak akan ada pengganti nya.
Ia sendiri juga sedikit bingung, jika dengan orang lain ia pasti akan menyayat kulit nya sampai habis namun kenapa saat meluapkan rasa frustasi nya pada gadis itu malah hasrat nya yang keluar dan mencari ketenangan yang berbeda.
Bruk!
Kedua tubuh itu jatuh bersamaan di atas ranjang yang empuk itu.
"Si..sir!" panggil Anna lirih sembari memegang lengan yang berotot itu.
"Bukan nya nona Maurenne juga perlu pijatan?" tanya nya sembari mengelus bagian sensitif dari tubuh yang sudah polos itu.
"Hum? Ya?" Anna tersentak, pria itu sangat jarang memanggil nama nya apa lagi menggunakan nama belakang nya.
Ack!
Humph!
Ia tak sempat berteriak saat merasakan remasan kuat pria itu karna bibir nya langsung terbungkam.
__ADS_1
Dia kenapa?
Apa aku melakukan kesalahan lagi?