
Mata yang tampak tajam itu menatap dengan lurus tanpa mengatakan apapun, menunggu jawaban yang seperti nya sangat sulit untuk keluar dari mulut pria yang tengah berbicara pada nya.
"Apa? Tidak mungkin kau tidak tau apapun kan?" tanya nya lagi yang mendesak.
Mana mungkin ia bisa menemukan dan mencari nya dengan mudah namun seseorang yang di bidang nya malah tak menemukan nya.
"Sebenarnya aku sudah tau, tapi aku mau tanya dulu karna kan ini teman nya Anna di sekolah." jawab nya berdalih dengan senyuman tipis.
Pria itu mengatakan alasan yang mungkin dapat di terima.
Lucas masih melihat ke arah wajah yang tampak abstrak itu, "Oh ya? Ku kira karna kau terlalu banyak meniduri anak itu." ucap nya sembari melihat ke arah kertas yang menampilkan berapa kali sepupu nya itu melakukan check in di berbagai hotel yang berbeda.
"Lalu kau memang tidak ada perasaan pribadi?" pria itu bertanya dengan sudut bibir yang naik.
"Kau tau kan? Pria yang melindungi wanita nya agar tidak terluka, seperti romansa klise yang sering di putar di bioskop." sambung nya sekali lagi.
Senyuman tipis yang dapat membawa petaka, Diego tau dan ia pun juga tak ingin bermusuhan.
Ia diam sejenak, perasaan pribadi?
Ia memiliki nya?
"Tidak," jawab nya singkat.
Lucas membuang napas nya, "Aku hampir saja takut pada mu tadi." jawab nya tersenyum.
"Aku?" tanya Diego menunjuk diri nya sendiri heran.
Pria itu takut pada nya?
"Ya, ku pikir kau mengkhianati ku, kau tau kan? Semua orang bisa berubah pikiran kapan saja." ucap nya pada pria itu, "Apa lagi jika orang itu terlalu banyak mengetahui rahasia rekan nya yang lain." sambung nya.
Diego merelaksasikan wajah nya yang terasa kaku, "Luc? Kalau pun aku menyembunyikan tentang informasi dari keturunan nya juga bukan berarti aku mengkhianati mu kan? Lagi pula masalah itu sepenuh nya dari Anna bukan masalah dari mu kan?" tanya nya yang bingung.
Ya, masalah kelurga, sang ayah ataupun saudara yang lain itu semua milik gadis remaja bermata biru itu, bukan milik pria yang tengah menanyai nya.
"Memang, tapi kebohongan besar di mulai dari kebohongan kecil." ucap nya pada pria itu.
"Tapi ku rasa tak akan ada masalah kan? Kita juga punya rahasia masing-masing." sambung nya tersenyum.
"Come on, Luc." Diego menatap, ia tau pria itu sedang mengisyaratkan sesuatu pada nya.
"Kalau begitu aku akan anggap ini hanya kesalahpahaman, dan kau bisa keluar." ucap Lucas pada sepupu nya itu.
Diego pergi keluar dari ruangan sepupu nya sekaligus atasan nya itu.
Sedangkan Lucas kini tak ada lagi senyuman tipis hanya, mata yang memandang dingin.
Mungkin berbeda dengan nya yang menunjukkan ketidaksukaan secara langsung, sepupu nya itu sedikit berbeda.
Ia tersenyum ramah pada semua orang dan terlihat seperti anak yang baik namun melenyapkan tanpa ada yang terlihat.
Lahir di tahun yang sama, tumbuh di lingkungan yang sama dan di besarkan secara bersamaan dan berdampingan membuat nya tentu tau beberapa hal yang terjadi.
"Apa aku harus lihat mobil ku kali ini?" gumam nya yang memiringkan kepala nya mengingat jika ada perselisihan di antara kedua nya mungkin sepupu nya akan menggunakan cara yang sama seperti kematian sang ayah dulu.
...
Diego berjalan keluar menelusuri lorong dari perusahaan cabang itu, ia melonggarkan dasi nya dan memasuki lift.
"F***!" ucap nya yang menendang isi lift.
Tunduk?
Ia bukan nya tunduk dengan sepupu nya itu, karna ia pun sebenarnya memiliki hak yang sama untuk mewarisi perusahaan besar itu apalagi jika sepupu nya meninggal.
Karna ia berada di urutan pewaris nomor dua setelah Lucas jika dalam silsilah kelurga nya.
Ia memiliki sesuatu yang tidak boleh di ketahui dan pria itu pun memegang rahasia nya begitu juga sebalik nya hanya ia yang tau tentang penyakit mental sepupu nya selain dokter terapis dan korban yang sudah ke sang pencipta.
Tapi!
Satu!
Kesalahan yang pernah ia lakukan pada sepupu nya bahkan ia tak berani mengatakan nya secara langsung.
Kesalahan fatal yang membuat semua nya kacau sampai saat ini!
Karna diri nya lah yang menjadi pemicu dan penyebab awal pria itu mengalami semua penyakit mental nya saat ini!
Namun itu pun juga adalah rahasia yang ia tutup rapat terlebih lagi juga langit yang mendukung nya karna sepupu nya tak ingat apapun.
"Astaga!" gumam nya yang kembali mengatur napas nya dan merapikan jas nya lalu mencoba kembali tersenyum lagi seperti biasa nya.
......................
Dua hari kemudian.
Sekolah
Bel pulang berbunyi, Samantha tak lagi mengikuti teman nya secara terus menerus melainkan kini sudah bisa melihat dari jauh.
Hubungan pertemanan yang mulai canggung hingga membuat kedua nya sering diam.
"Ack!"
__ADS_1
Anna tersentak, pipi nya tiba-tiba terkena benda yang dingin.
"Kenapa bengong? Nanti malah kesurupan loh," ucap Gevan yang dengan santai nya duduk di samping gadis itu.
"Memang nya aku bilang kakak boleh duduk di sini?" tanya Anna yang menatap pria itu sembari memegang minuman kaleng nya yang terasa dingin.
"Boleh lah, kan ini bukan sekolah mu." jawab Gevan santai.
Mata nya melirik ke arah minuman kaleng yang ia berikan namun tak di buka sama sekali dan hanya di pegang.
"Minum, lagi pula kalau bertengkar itu butuh tenaga kan?" tanya nya menatap ke arah gadis itu lalu menatap ke arah lain.
"Lain kali kalau mau kasih ke aku, yang minuman susu aja kak, aku kurang suka soda." jawab Anna yang tak melihat ke pria itu melainkan melihat ke arah siswa-siswi lain nya yang tengah berkeluaran dari kelas saat jam istirahat.
Gevan membuang napas nya, "Yauda, sini! Biar ga usah minum sekalian!" ucap nya yang menyerobot minuman yang awal nya ia berikan.
Anna mengernyit, ia melihat tangan nya yang kosong dan membuat nya merasa kesal.
Tap!
Gadis itu mengambil minuman yang sudah di buka oleh kakak kelas nya dan meminum nya.
"Masa udah di kasih terus di ambil lagi sih?" tanya Anna yang menatap kesal.
Gevan terdiam, ia melihat ke arah dua kaleng soda yang sudah kembali ke tangan nya.
"Ann? Kau tau? Kalau minum dari tempat yang sama itu nama nya ciuman tidak langsung." ucap nya pada gadis itu sembari mendekat.
"Oh ya? Berarti aku udah nyium banyak orang!" sambung Anna yang terlihat tak begitu peduli.
"Ck! Ga asik!" Gevan berdecak melihat gadis itu tak memberikan reaksi.
"Mata mu semakin panda, karna kau masih bertengkar dengan Samantha?" tanya nya menatap ke arah gadis itu.
Anna membuang napas nya, mungkin setengah benar dan setengah salah.
Lingkaran mata nya terjadi karna panggilan video nya tiap malam yang harus ia lakukan dan ia tak boleh tidur atau menutup nya lebih dulu walaupun tak ada pembicaraan sama sekali saat panggilan berlangsung.
"Kenapa sih kak? Ganggu Mulu! Sana ganggu yang mau di ganggu kakak tuh!" ucap Anna yang terdengar kesal dan seperti tak begitu mengharapkan remaja tampan itu datang.
"Kalian bertengkar kenapa?" tanya Gevan yang ingin bertanya tentang masalah gadis itu dengan teman nya.
"Memang nya kalau kami punya masalah A B C D sampai Z kakak bisa bantu?" tanya Anna berbalik.
Tak!
Auch!
Gevan menjentik dahi gadis itu dengan gemas mendengar jawaban nya, "Aku kan tanya bukan jadi konsultan pemecah masalah!" jawab nya dengan kesal.
"Lagian! Kenapa tanya-tanya sih!" jawab Anna yang tampak kesal.
"Masalah apa?" tanya Anna yang tampak penasaran walau pun awal nya ia sudah bersikap cuek.
"Entah lah, coba tanya sendiri." jawab Gevan sembari mengendikkan bahu nya.
Anna mengernyit, ia menatap kesal ke arah kakak kelas nya itu.
"Kalau bicara nya setengah-setengah mending ga usah kak sekalian!" ucap Anna yang kesal.
"Maka nya kalian baikan," ucap Gevan pada gadis itu.
"Tumben penasaran sama Sam?" selidik Anna dengan tatapan curiga.
"Cemburu?" tanya Gevan yang langsung mendekat kan tubuh nya.
"Ih! Perasaan!" jawab Anna langsung.
"Dia tuh kayak mau baikan terus tau ga? Kemarin aku lihat dia beli ini." ucap nya pada gadis itu yang menunjukkan case handphone yang sesuai tipe ponsel gadis itu.
"Terus? Memang nya itu untuk ku?" tanya Anna melirik sekilas.
"Terus? Memang nya punya siapa lagi? Nih ambil!" ucap Gevan yang memberikan nya.
"Kenapa sama aku? Kalau ini bukan buat aku gimana?" tanya Anna sekali lagi.
"Buat mu itu!" jawab Gevan enteng, "Kalau ga percaya tanya aja ke dia." ucap nya sekali lagi.
"Kalian kalau gini kayak deket gitu," ucap Anna menatap dengan tatapan penuh curiga.
Gevan menarik napas nya, ia mendekat ke arah gadis itu, "Mau ku beri tau sesuatu?" ucap nya dengan suara berbisik.
Anna tak mengatakan apapun, namun ia mendengarkan.
"Kami sepupuan, tapi dia ga suka kalau ada yang tau." bisik Gevan.
"Apa?" Anna langsung mengernyit dengan wajah kesal.
"Sepupu jauh, dari ibu." ucap Gevan sekali lagi.
"Oh," Anna tak memberikan komentar yang banyak.
"Oh?" tanya Gevan mengulang.
"Yauda kak, aku mau balik duluan." ucap Anna yang beranjak dari tempat duduk nya dan pergi lebih dulu.
__ADS_1
Gevan langsung mengikuti, ia mendekat dan menyamakan langkah nya.
"Ann?" panggil nya yang menyamai langkah nya dengan gadis itu.
"Hm?" Anna menjawab tanpa membuka mulut nya.
"Pacaran yuk?" tanya Gevan pada gadis itu.
Anna langsung menghentikan langkah nya dan menatap ke arah remaja tampan yang tersenyum itu.
"Apa? Aku salah dengar ya?" tanya nya mengulang yang tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Memang nya kau dengar apa? Mau ku perjelas?" tanya Gevan sekali lagi.
Mata yang hijau terang itu menatap nya dan dan mendekat satu langkah hingga membuat tubuh gadis itu menghindar.
"Kau mau pacaran dengan ku?" tanya nya lagi mengulang.
"Pacar? Kenapa tiba-tiba? Jangan-jangan karna kakak ga bisa-" ucap Anna yang langsung menyilangkan tangan nya ke dada.
"Kalau masalah itu, aku tidak akan paksa setelah kita pacaran tapi yang penting kita pacaran dulu." ucap nya dengan senyuman yang bisa membuat siapapun jatuh hati.
"Aku punya Sugar Daddy! Dia galak! Jadi jawaban nya 'No' !" ucap Anna yang menolak ajakan pria itu dan langsung berbalik pergi.
"Punya Sugar Daddy sama pacaran beda Anna!" ucap Gevan yang mengikuti langsung.
"Beda nya?" tanya Anna tanpa menghentikan langkah nya.
"Memang nya kalian pacaran sekarang?" tanya Gevan pada gadis itu.
"Kan bukan urusan kakak!" jawab Anna yang tak mau melihat kakak kelas nya itu.
"Masih marah sama masalah kemarin?" tanya Gevan yang terus mengikuti langkah Anna.
"Ga," jawab Anna singkat tanpa menoleh.
"Terus?" ucap Gevan yang mempercepat langkah nya dan memblokir jalan gadis itu.
Duk!
Anna langsung tertabrak dada bidang kakak kelas nya itu.
"Kenapa nolak aku?" tanya Gevan yang bingung karna selama ini tak pernah ada yang menolak nya.
"Memang nya aku harus selalu terima kalau ada yang minta pacaran gitu?" tanya Anna tanpa menjawab pertanyaan kakak kelas nya.
"Memang nya aku tipe yang mudah di tolak?" tanya Gevan berbalik.
"Gevan!" ucap Anna kesal yang memanggil nama kakak kelas nya itu.
Gevan tersenyum, "Yes? Babe?" jawab nya dengan senyuman menggoda.
Anna terdiam, bukan nya merasa senang ia malah tiba-tiba teringat dengan pria yang akan menatap nya dengan mata tajam dan wajah yang dingin.
"Astaga! Aku merinding!" gumam nya saat membayangkan wajah marah pria itu lagi.
"Minggir! Babe mata mu!" ucap nya dengan kesal yang langsung memotong pria itu.
......................
Rumah Mr. Harris
Keributan terjadi lagi, kelurga yang sebelum nya damai kini mulai sering terjadi huru-hara.
"Kamu bisa ga sih jangan boros!" ucap Mr. Harris yang pusing melihat sang istri sedangkan ia belum mendapatkan pekerjaan dan tabungan nya menipis.
"Aku baru di pecat! Jadi kamu sekarang harus nya bisa penuhi kebutuhan aku!" ucap Mrs. Laura yang masih tak tau jika sang suami sudah di pecat lebih dulu.
"Apa?" tanya Mr. Harris mengulang.
Ia terduduk di sofa nya, memikirkan sesuatu yang bisa ia lakukan untuk selanjut nya.
"Cobalah menghemat, aku juga sedang tidak dalam kondisi yang bagus!" ucap nya yang tak mengatakan apapun lagi dan ingin kembali ke kamar nya.
"Kamu ini aneh! Harus nya kamu usaha! Bukan malah nyuruh aku ini itu!" ucap wanita itu yang keras tak ingin menerima.
"Memang nya aku nyuruh kamu apa?! Aku cuma bilang buat hemat kan?!" tanya pria itu yang mulai merasa kesal.
"Orang tua aku aja ga pernah nyuruh aku buat hemat dulu!" jawab Mrs. Laura berdecak.
Pria itu menarik napas nya, Ya! Ia pernah berada dalam kondisi keuangan yang buruk dulu.
Sewaktu baru menikah di tahun pertama dengan sang mantan istri nya.
Keuangan nya dulu belum stabil dan ia juga yang masih meniti karir di awal, dan mantan istri nya itu tak pernah mengeluh seperti istri nya yang sekarang.
"Kamu itu beda ya sama Lyn?" tanya nya menatap yang tanpa sadar membandingkan kedua istri nya itu.
Dulu ia tak pernah merasakan perbandingan nya karna keuangan dan finansial nya masih bagus namun kini?
Ia mengahadapi krisis yang hampir mirip dengan tahun pertama nya menikah. Dan memang istri nya yang sekarang tak pernah merasakan memulai dari titik nol karna saat mereka bersama ia sudah berada di karir dan keuangan yang bagus.
Plak!
Mrs. Laura menampar sang suami, "Kamu bandingin aku sama dia? Kalau dia memang yang lebih baik kenapa dulu milih aku? Bukan nya itu udah buktiin kalau aku lebih baik dari dia?!" tanya nya yang merasakan emosi yang naik hingga ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Munafik kamu!" ucap nya yang berjalan mendahului sang suami dengan kesal.
Mr. Harris hanya terlihat berdecak dengan kesal sembari menendang sofa yang tak jauh dari nya.