
Pagi menerjap, mata biru itu terbuka dan gadis itu melewatkan makan malam nya hanya untuk terlelap.
Ia tau di mana ia saat ini bahkan sebelum pandangan nya berubah menjadi jernih.
Hening...
Tak ada siapapun di tempat itu, kecuali diri nya sendiri. Sisi ranjang nya yang lain sudah terasa dingin. Menunjukkan jika orang yang harus nya berada di samping sudah pergi sejak tadi.
Anna perlahan bangun, sudah cukup bagi nya untuk tertidur ketika ia juga memiliki beberapa yang harus di lakukan.
"Kemarin aku bolos yah? Nilai ku gimana ya?" gumam nya yang mencoba mengisi kepala nya dengan pikiran lain dan melupakan apa yang di lakukan pria itu.
Ia masih terjebak di tempat itu, bukan raga nya melainkan jiwa nya.
Pikiran nya belum bisa melepaskan diri dari hasutan dan doktrin yang ia terima tanpa sadar.
Dan itu lah yang membuat nya tetap bertahan, walau ia sudah memiliki tawaran untuk melepaskan rantai nya.
Anna berbalik, begitu ia membuka pintu dua pelayan menunggu nya di depan. Entah sejak kapan ia pun tak tau atau berapa lama kedua wanita itu berdiri menunggu nya.
"Ada apa? Kenapa kalian di sini?" tanya nya yang menatap ke arah dua pelayan yang menunduk dan menunggu nya itu.
"Apa nona membutuhkan sesuatu? Tuan menyuruh kami menunggu nona di luar jika nona ingin sesuatu.
"Tidak, aku tidak perlu apapun." jawab Anna dan berlalu pergi meninggalkan pelayan yang menunggu nya itu.
"Kami sudah siapkan sarapan nya nona," ucap sang pelayan pada gadis itu.
Anna tak menjawab namun ia tetap menuju ke arah meja makan.
Tak ada siapapun di sana, pria itu terlihat seperti di telan oleh bumi dan tak menunjukkan di mana pun ia berada, bisa saja karna memang sudah pergi bekerja lebih dulu.
Anna tak bertanya, ia memilih duduk di kursi nya dan para pelayan melayani nya untuk sarapan.
......................
Rumah sakit
Pembersih udara yang mengepul memperlihatkan uap yang wangi dan dingin itu memenuhi ruangan rumah sakit.
Pria itu tak mengatakan apapun, infus masih di tangannya dan perban serta gips yang menempel di tangan kanannya.
Mungkin jika pelayan yang membersihkan apart nya tak datang ketika pagi, pria itu masih berada di sana karna tak berniat mencari bantuan.
"Ada keluhan Sir?"
"Tidak ada," jawabnya pada perawat yang mendatangi nya itu.
"Silahkan panggil kami jika butuh sesuatu," pelayan yang ramah itu terlihat yang di tujukan untuk pasien yang memakai kamar VIP itu.
"Tunggu," ucap nya yang mencegah wanita itu sebelum keluar.
"Iya, ada yang anda butuhkan Sir?" tanyanya yang mencoba kembali mendekat.
"Bisa aku pinjam ponsel mu? Sebentar saja," ucap nya yang meminta tolong akan hal itu karna ia tau ponsel nya tak ada saat ini.
Perawat itu diam sejenak namun ia setuju untuk memberikan ponselnya.
"Ini," Ucap nya yang memberikannya.
Diego menelpon seseorang, walaupun statusnya hanya sekertaris dari seseorang namun ia tetap saja salah satu dari anak konglomerat di negara itu.
"Ini, terimaksih." ucapnya yang memberikan kembali ponsel yang ia pinjam itu.
......................
JNN grup
Lucas mengerjakan pekerjaan yang menjadi tuntunan dalam hidup nya itu. Ia masih belum menemukan keanehan apapun tentang defisit yang mengalir keluar dan saham nya yang di curi karna masih di tutupi dengan begitu rapi dan cantik hingga menemukan cela sedikit pun.
"Stone Craft sudah mengirim file nya? Input data yang masuk dan saring isi nya." ucap nya pada sekertaris pengganti sepupu nya.
"Baik, Sir." ucap nya pada pria itu.
"Dan buatkan janji temu dengan nona Luciana," ucap nya pada pria yang menjadi sekertaris nya saat ini.
"Baik, Sir." jawab pria itu yang memenuhi perintah tuan nya itu.
Pria itu keluar dari ruangan Presdir, sedangkan Lucas masih melihat ke arah laptop nya.
"Apa yang wanita itu pikirkan?" gumam nya saat melihat rancangan yang di modifikasi dari perjanjian awal.
Memang tak buruk dan tak merugikan nya, namun ia tau untuk orang-orang seperti nya tak ada kebaikan tanpa balasan, tak ada pemberian yang gratis dan semua nya memiliki timbal balik dengan reward yang sama.
Mungkin jika wanita itu hanya menggoda nya dengan tubuh dan wajah yang cantik tentu ia tak perlu menjanjikan jadwal kedua tentang pertemuan pribadi.
Namun semua yang berhubungan dengan JNN adalah sesuatu yang tak bisa di ganggu gugat.
......................
Rumah sakit
Pukul 03.45 pm
Siang sudah mulai menjelang sore, namun mentari masih begitu terang menyebarkan cahaya hangat nya.
Anna terlihat berkedip dan menatap tak percaya pada seseorang yang masih terbaring di atas ranjang pasien itu.
"Anda kenapa?" tanya Anna yang melihat ke arah pria yang penuh luka lebam itu.
"Aku bertengkar dengan gurita raksasa, seperti nya gurita sangat nakal sampai ku jadikan sashimi." jawab nya yang masih bisa tersenyum dan tertawa ramah seperti biasa nya walau ia senyuman nya tak pernah sungguh-sungguh.
Anna mengernyitkan dahi nya, orang kaya tetaplah orang kaya.
Maka dari itu, pria di depan nya bisa menyuruh seseorang untuk menjemput dan membawa nya ke sana.
"Astaga, saya kita tadi saya akan di culik." ucap Anna yang memilih tak melanjutkan pertanyaan tentang mengapa pria itu terluka dan menyindir cara ia di bawa ke sana.
"Aku sudah menyuruh mereka untuk menjemput mu dengan cara yang baik," ucap Diego yang membuang senyuman nya.
"Cara yang baik apa? Mereka malah tarik tangan saya dan menghalangi jalan." ucap Anna yang mengadu kesal.
Diego tersenyum kecil namun perlahan senyuman nya menghilang.
"Kau baik-baik saja?" tanya nya yang menatap ke arah wajah yang cantik itu.
__ADS_1
"Ya, saya selalu baik-baik saja." jawab Anna dengan cepat.
"Benarkah? Terkadang seseorang tidak pernah tau dia terluka sampai dia kehilangan napas nya." ucap pria itu dengan kata-kata ambigu.
Anna terdiam, mata biru nya menatap ke arah pria itu dengan alis yang mengkerut.
Namun ia memilih untuk tak bertanya apapun.
Diego pun tak mengatakan apapun setelah nya, untuk pemeriksaan saudara kandung seibu tak semudah pemeriksaan DNA untuk menentukan orang tua biologis dengan anak.
Dibutuhkan kerja sama dalam artian tak bisa di lakukan diam-diam seperti adegan film yang hanya menggunakan sikat gigi yang sudah di pakai.
"Lucas memperlakukan mu dengan baik?" tanya Diego yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Anna terdiam sejenak, ia menarik napas nya untuk beberapa saat.
"Ya, dia baik. Dulu kan dia suka mengancam mau mengambil mata ku." ucap Anna dengan senyuman kecil yang mencoba mencairkan suasana.
Diego menanggapi nya dengan senyuman yang menyimpan arti. Gadis itu terlihat tak ingin mengatakan tentang tawaran nya yang masih berlaku.
Ia ingin mengatakan tentang kecurigaan nya agar bisa menyakinkan sepupu nya untuk melakukan tes, tapi ia juga tau jika sepupu nya itu bisa menggila bahkan dengan gadis itu.
"Aku tidak pernah dengar apapun tentang mu, padahal aku sudah ceritakan tentang adik dan ibu ku." ucap Diego yang mencoba mencari tau.
"Tidak ada yang spesial dari saya, saya tidak punya ayah dan tinggal dengan ibu saya dulu sebelum di pindah ke panti." ucap Anna yang mengatakan tentang apa yang ia ingat.
"Kau tidak punya Paman dan Bibi? Atau Kakek dan Nenek?" tanya Diego pada gadis itu.
Anna menggeleng menatap ke arah pria itu, "Ibu saya bilang mereka sudah tidak ada." jawab Anna dengan wajah yang tampak tak ingin bicara mengenai keluarga nya.
Diego tak mengatakan apapun lagi, ia kembali mengubah topik pembicaraan dan perbincangan remeh seperti tentang pelajaran atau kenakalan anak-anak kuliah yang terdengar lucu.
......................
Satu Minggu kemudian.
Luciana memberikan jeda waktu, membuat nya tak bisa di temui dengan mudah begitu pertemuan di inginkan.
Mata yang bewarna kecoklatan itu dengan kulit eksotis dan tatapan yang tajam serta wajah cantik itu melihat ke arah pria di depan nya.
Senyuman tipis tampak di wajah wanita yang menunjukkan sisi elegan dan dewasa itu.
"Maksud dari pembaruan fitur yang tidak ada kontrak apa? Tidak mungkin itu hanya cuma-cuma kan?" tanya Lucas yang membuka suara lebih dulu karna ia lah yang mengajukan pertemuan.
"Apa aku terlihat sangat mencurigakan?" tanya Luciana dengan nada yang tenang dan cara bicara yang teratur sama seperti pria yang ia hadapi.
"Ya, tidak ada kebaikan tanpa alasan." jawab Lucas yang langsung mengatakan tanpa memoles kata-kata nya dengan kiasan yang lembut.
"Hati ku sedikit sakit mendengar nya, tapi memang benar tidak ada kebaikan tanpa alasan." jawab nya mengangguk yang setuju dengan apa yang di dengar.
"Tapi aku melakukan nya untuk investasi masa depan," sambung nya yang mengatakan tentang tujuan nya.
"Masa kontrak dan kerja sama ini hanya berlaku sampai produk yang baru di luncurkan dan setelah itu pembagian profit nya sudah jelas. Aku masih tidak bisa menerima alasan mu." jawab Lucas yang masih curiga.
Luciana menaikkan senyuman tipis nya, "Kalau begitu anggap saja hal itu sebagai ketidaksopanan saya sama seperti yang anda lakukan saat ini." jawab nya dengan kalimat yang begitu sopan dan formal.
Lucas tak mengatakan apapun, tadi janji temu nya di setujui dan ia mendapatkan langsung telpon dari wanita itu.
Tentu saja ia mengangkat nya, dan berhubung ia memang sedang ada di luar dan wanita itu yang juga berada di dekat tempat nya berada membuat ia setuju jika pertemuan di lakukan di titik tengah berhubung ia masih selalu membawa file nya.
"Kau juga setuju melakukan tempat pertemuan di sini, dan ini juga tempat yang kau tentukan sendiri." ucap Lucas yang merasa tak bisa di salahkan sepenuh nya.
Lucas tak mengatakan apapun, ia berdiri dan kemudian menundukkan sedikit kepala nya sebagai rasa saling menghormati pada rekan bisnis.
"Saya harap anda memperbarui nya sesuai kesepakatan yang di buat dan jika ingin melakukan pembaharuan tolong diskusi kan dengan tim dari perusahaan kami lebih dulu." ucap Lucas yang beranjak pergi setelah makanan wanita itu datang.
Luciana terdiam sejenak, "Apa tidak bisa tinggal sebentar untuk makan bersama?" tanya nya saat pria itu begitu cepat ingin meninggalkan nya.
"Aku punya janji lain, dan sebagai bentuk permintaan maaf aku akan membayar untuk makan siang nya. Silahkan di nikmati." jawab Lucas yang membangun lebih dulu batasan.
"Apa itu dengan kekasih?" tanya Luciana dengan senyuman tipis.
"Ya," jawab Lucas dengan senyuman singkat dan beranjak pergi.
Wanita itu diam tak mengatakan apapun, memang terlihat sepele dengan hal yang kecil seperti meninggalkan nya saat makan siang.
Namun hal itu membuat harga diri nya terluka, "Pria si*lan, aku ingin mencabik mu..." gumam nya yang merasa kesal namun keinginan untuk memiliki semakin besar karena penolakan.
......................
Sementara itu mata biru yang cantik itu tengah melihat ke arah wanita di depan nya. Tampak ada nya perbedaan usia yang cukup terlihat.
"Sudah lama," wanita itu tersenyum ramah pada gadis di depan nya.
"Kak Jofie?" ucap Anna yang memeluk wanita itu sesaat.
"Ya ampun, gadis ini..." ucap nya yang membalas pelukan gadis itu.
Cafe
Minuman dingin dengan rasa yang manis dan juga cake yang tersedia di meja tampak begitu memiliki nilai estetika.
"Kau terlihat lebih baik sekarang?" tanya Jofie pada gadis itu ketika melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut menggunakan pakaian yang mahal sekaligus kondisi tubuh yang terawat.
"Iya," jawab Anna dengan senyuman tipis pada wanita itu.
"Kau keluar sangat cepat, tapi ya memang restoran itu menyebalkan. Mereka sering menyuruh kita mencuci piring dan membersihkan padahal bukan jadwal kita kan?" ucap Jofie yang sedikit bernostalgia dengan gadis di depan nya.
Ia merupakan teman di satu tempat kerja yang sama dengan gadis itu dulu, dan kedua nya sama-sama pelayan dari salah satu restoran besar.
"Iya! Beban tekanan kerja sama hasil ga sesuai!" jawab Anna yang juga mendengus kesal namun walaupun begitu ia cukup lama bekerja di sana karna keseluruhan nya pelayan yang berada di sana cukup humble pada nya.
Jofie tertawa, "Ternyata bayi kucing kami sudah besar." ucap nya yang melihat gadis itu.
Anna tertawa kecil mendengar nya, Jofie menarik napas nya, "Berarti sekarang keinginan mu sudah tercapai? Seperti nya begitu?" tanya nya saat melihat kondisi gadis itu sekarang.
"Keinginan ku?" Anna mengulang ucapan yang baru ia dengar.
"Kau dulu selalu bilang ingin jadi orang kaya dan tidak ingin memikirkan gaji perjam untuk makanan harian." ucap wanita itu yang tampak ikut senang dengan gadis di depan nya karna ia sekarang juga sudah mendapatkan pekerjaan yang baik.
Anna terdiam sejenak, ia menatap ke arah Jofie dan membalas dengan senyuman kecil.
"Tapi kau sedikit berubah sekarang? Entahlah, tapi kau tidak terlihat seperti dulu lagi." ucap nya yang merasa gadis itu tak seceria saat pertama kali ia bertemu.
"Benarkah? Tapi ku rasa aku tidak berubah," ucap Anna yang memang tak menyadari perubahan diri nya dan bahkan cara berpikir nya.
__ADS_1
"Anna? Aku punya video lama kita? Kau ingat Jack? Dia akan menikah bulan depan, apa kita sedikit mengerjai nya dengan video lama kita? Kau ingat waktu ulang tahun Karina!" ucap Jofie dengan tawa kecil.
Di tempat kerja nya memang ada beberapa orang yang dekat dan gadis itu termasuk dalam kelompok pertemanan antar pelayan di sana.
Anna diam sejenak dan mencoba mengingat, kemudian tawa kecil terdengar.
Jofie pun mengambil ponsel nya dan mencari video lawas kenangan di tempat kerja itu.
Mata biru itu menatap ke arah video yang terputar, senyuman kecil nya berangsur hilang menatap diri nya yang dulu.
Pakaian yang tampak biasa dan sederhana, rambut yang tampak di ikat asal dan tampilan yang terawat dengan seadanya.
Tapi tawa nya berbeda, senyuman nya cerah dan tawa nya lepas. Padahal dulu ia tak memiliki pakaian yang bermerek dan tas atau jam tangan yang mahal.
Tidak memiliki kartu hitam dan juga tidak melakukan perawatan tubuh setiap bulan dan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Tapi kenapa terlihat begitu bahagia ketika hidup nya sangat sulit secara materi.
Apa aku dulu tertawa seperti itu?
Anna diam sejenak, ia bahkan lupa kapan terkahir kali ia tertawa seperti di dalam video yang di tunjukan teman kerja nya dulu.
Ia dulu tertawa untuk hal yang benar-benar menyenangkan dan lucu, namun sekarang ia tertawa untuk melindungi diri nya dan untuk menyenangkan orang lain.
......................
5 Minggu kemudian.
Universitas
Waktu terus berlalu, mentari tetap terbenam dan tenggelam tak peduli apapun yang terjadi. Kecupan setiap orang terus berjalan dan tentu ada beberapa yang hanya mencoba terus bertahan.
"Kau mau ke perpus pusat?" tanya Gevan yang mengejar gadis itu.
"Iya, seperti nya ada bahan yang perlu ku cari. Kamu mau ikut? Eh tunggu, kita sendiri-sendiri aja." ucap Anna sebelum pria itu menjawab pertanyaan nya.
"Buat apa tanya," ucap Gevan yang mendengus kesal.
Anna tak mengatakan apapun dan melanjutkan langkah nya, ia sudah menelpon supir nya untuk datang menjemput nya.
"Luc? Kamu yang jemput?" tanya Anna yang melihat ke arah pria yang menjemput nya alih-alih supir yang biasa.
"Ya," jawab Lucas singkat dan menyuruh gadis itu untuk masuk.
...
Anna melihat sekilas ke arah pria itu, seperti tak pernah terjadi apapun dan semua sikap kasar itu tampak meluap seperti uap panas yang hilang.
"Kau mau ke perpustakaan?" tanya Lucas yang membuka pembicaraan karna sebelumnya gadis itu sudah bicara dengan supir yang akan menjemput nya.
"Ya," Anna menjawab singkat dengan satu anggukan.
Ia melihat ke arah pria itu untuk sekilas, "Sir Diego sudah masuk kerja? Waktu itu kan dia patah tulang." ucap nya Anna yang mencoba melanjutkan perbincangan dengan pembahasan lain.
"Dia cuti dua bulan dan kau juga tidak perlu menjenguk nya seperti yang sebelum nya." ucap Lucas pada gadis itu.
"Ya? Oh baiklah...." jawab Anna lirih tanpa membantah.
......................
Bangunan besar yang berisi buku itu memiliki halaman yang luas di sekitar nya juga.
Sedangkan salah satu mobil sport mahal yang berwarna hitam itu melihat ke arah mobil lain nya yang di tumpangi dua orang.
"Mereka berciuman? Seperti nya aku semakin kesal..." gumam wanita cantik itu yang tanpa sengaja melihat pemandangan yang membuat nya iri.
Pria yang bahkan tak ingin menyantap makanan dengan nya itu malah mencium gadis muda di dalam mobil dan di halaman depan gedung perpustakaan.
Memang terlihat tak begitu jelas karna siluet dari kaca yang memantulkan sinar tapi tetap saja ciuman yang panas di dalam mobil itu bisa terlihat.
...
Perpustakaan
Anna mencari judul dari referensi yang akan ia gunakan, pria yang mengantar nya itu sudah pergi lebih dulu karna ada urusan lain setelah mengantar nya.
"Itu dia!" ucap nya yang bersemangat dan mencoba mengambil buku yang berada di laci bagian atas itu.
Ia mencoba berjinjit namun tak bisa menjangkau nya, sampai ia tergerak untuk menggunakan tangga perpustakaan agar bisa mengambil apa yang ia butuhkan.
"Kau mau yang ini tadi?"
"Hum?" Anna menoleh menatap ke arah wanita cantik nya yang datang dengan buku yang sulit ia raih.
Dan tentu saja wanita itu bisa karna proporsi tubuh nya yang seperti model fashion.
"Lucy? Te.. terimakasih..." ucap nya yang gugup melihat wanita cantik itu.
"Sama-sama," jawab Luciana dengan senyuman kecil.
"Kamu cari apa?" tanya Anna yang mencoba bicara dengan wanita yang ia kagumi dari pertama kali bertemu.
"Beberapa bacaan untuk mengusir rasa bosan? Jadi tadi aku ke bagian buku anak-anak." ucap nya dengan suara berbisik dan senyuman kecil. Padahal ia ke sana karna hiburan nya bukan lah buku melainkan gadis cantik itu.
"Lucy baca dongeng?" tanya Anna.
Senyuman menjadi jawaban dua arah, "Ku rasa dongeng tidak bagus untuk anak-anak."
Anna mengernyit tak mengerti.
"Tadi aku membaca tentang kisah putri dongeng yang bercerita tentang pangeran yang jatuh hati pada gadis biasa, dia mencari ke seluruh penjuru kerajaan untuk menemukan gadis bersatu kaca nya dan kemudian hidup bahagia setelah itu," ucap nya yang sedikit bercerita.
"Lalu apa yang salah?" Anna bingung.
"Karna cerita seperti itu di berikan sejak kita kecil terkadang akan membuat seseorang berpikir hal itu akan terjadi di dunia nyata, tapi..."
"Mereka lupa kalau orang-orang hanya akan berdiri dengan sesuatu yang mirip dengan nya, bukan dengan seseorang yang bahkan tidak memiliki lantai yang sama." ucap nya yang mengatakan tentang perbedaan kasta.
"Cinta tanpa status yang sama? Orang-orang menyukai nya karna seperti kisah dongeng."
Anna tak mengatakan apapun, ia tak mengerti dengan sindiran halus karna ia tak memiliki kemampuan nalar sejauh itu.
"Cinderella itu tidak ada, dan akhir yang bahagia pun juga tidak ada."
"Bahkan cerita asli putri-putri yang di dalam dongeng pun memiliki akhir yang tragis, tidak ada Pangeran dan cinta sejati." sambung yang mendekat dan melihat ke arah gadis yang tampak bingung itu.
__ADS_1
"Tidak ada Cinderella di dunia nyata, itu kan maksud nya?" tanya Anna yang tak bisa mengambil maksud dari cerita cinta dengan status yang begitu tinggi itu hanya karna rasa tertarik di dansa pertama.
Luciana tersenyum, ia tak menjawab dan hanya membiarkan gadis itu berpikir sesuka nya.