
Mata biru perlahan terbangun, cahaya yang sayup masuk ke netra nya membuat nya menyipitkan kelopak mata yang di penuhi dengan bulu yang lentik itu.
Rasa sakit yang masih tertinggal perlahan mulai menyebar kembali ke seluruh tubuh nya.
"Ugh..."
Gadis itu meringis, bagian inti nya terasa perih dan ngilu, kepala nya terasa berat dan seluruh tulang nya terasa ingin patah.
Ia tak berusaha bangun, tetap di tempat nya semula dan hanya menggerakkan kepala nya ke kiri dan ke kanan berulang kali untuk melihat ke arah kamar yang luas dengan nuansa hitam putih itu.
Gadis itu diam tanpa mengatakan apapun, ia marah. Perasaan yang tentu tak dapat menerima perlakuan yang ia dapatkan.
Klek
Suara pintu yang terbuka tak membuat gadis itu menoleh karna ia tak menyadari nya.
"Anna?"
Suara bariton yang memanggil nya dengan nada yang rendah dan pelan itu membuat nya tersentak.
Mata biru yang gemetar itu langsung menoleh ke arah sang suara.
"Kau sudah bangun?"
Sentuhan yang mendekat, ujung jemari yang hangat dan kekar itu menyentuh kepala nya dan mengusap ke arah luka-luka di wajah nya termasuk bibir yang memiliki beberapa bekas akibat ******* nya.
Anna merasa marah, ia benci dengan pria yang menyakiti nya itu.
Memang nya apa kesalahan nya?
Karna ia keluar dengan pria?
Karna berbohong? Atau karna ia bernyanyi di pesta pernikahan?
"Kau sudah bangun, masih terasa begitu sakit?" pria itu bertanya sekali lagi walau sebelum nya tak ada jawaban.
Ia mendekat, mengecup pelan hidung dan dahi gadis itu.
Selimut tebal yang berwarna putih dan sudah terganti itu tampak mulai mengkerut saat kepalan tangan kecil itu begitu kuat meremas nya walau tenaga nya masih lemah karena baru bangun.
Tubuh nya bergetar, rasa amarah nya beradu dengan perasaan lain dan logika yang membuat nya hampir kehilangan arah.
Anna tak tau bagaimana cara mengendalikan, perasaan, pikiran, tubuh dan logika yang harus nya sejalan dengan akal.
Selama beberapa tahun terakhir ia terus menerima pengaruh dan sugesti yang tanamkan pada nya untuk membuat nya bersandar dan berpikir ia hanya bisa hidup dengan mengantungkan diri nya pada pria itu.
Dan tentu semua itu membuahkan hasil. Terlebih lagi ketika ia menjalani perawatan dan di kurung dari dunia selama hampir setahun penuh.
Siang dan malam yang tidak di ketahui, matahari yang bergulir dengan bulan namun tak memberikan cahaya sama sekali untuk gadis itu.
Siapa yang akan tetap bisa memiliki akal yang sehat setelah apa yang sudah terjadi?
Untuk semua itu ia memilih satu jalan yang bahkan tak pernah ia pikirkan sama sekali.
Cara diri nya untuk mempertahankan kewarasan nya adalah mengikuti alur yang di buat dari pria yang mampu memanipulasi diri nya itu
Dan itu adalah dengan cara mencintai dan menyukai pria tersebut.
Merasa ketergantungan yang semakin menjadi, menjadikan pria itu sebagai sandaran akan segala nya.
Tes...
Mata biru itu meneteskan buliran bening nya, Lucas tak mengatakan apapun. Ia mengusap nya dengan lembut dan melihat ke arah wajah yang tak bisa mengatakan apapun dengan mulut yang masih terkunci rapat itu.
__ADS_1
"Kau masih menangis? Kenapa kau sering menangis? Padahal dulu tidak?" tanya pria itu yang merasa heran.
Anna masih tak mengatakan sepatah kata pun semenjak ia bangun, tubuh nya bergetar dan tangis nya terdengar terisak yang mungkin akan membuat orang lain merasa iba.
Namun pria yang bahkan sebelum nya tak mengenal emosi itu tentu tak bisa merasakan apapun yang merujuk pada simpati dan empati untuk seseorang.
Ia mendekat dan memeluk gadis itu, mengusap tubuh nya dengan lembut dan membagi kehangatan nya agar membuat gadis itu tenang.
"Kenapa kau nakal sekali? Jangan menangis lagi, seharusnya kau tersenyum karna aku tidak membunuh mu juga." ucap nya lirih di telinga gadis itu.
Ia bermaksud menenangkan namun ia tak tau cara nya menenangkan atau menghibur seseorang yang terluka karna hukuman nya.
......................
Dua hari kemudian.
Walaupun kini Lucas telah mampu melihat semua warna namun konsultasi nya masih belum di hentikan karna sang dokter tak pernah mengatakan ia sudah benar-benar sembuh.
Konsultasi pun sudah berjalan, pria itu melihat ke arah buku catatan nya.
Ia sudah mendengar semua yang di lakukan oleh pasien nya termasuk tentang menguliti seseorang yang menyentuh gadis nya dan tentang hukuman yang ia lakukan pada seseorang yang ia cintai.
"Kenapa kau belum mengatakan apapun? Ku rasa aku tidak perlu datang lagi. Aku tidak mengalami serangan panik lagi atau perasaan jijik saat bersentuhan dengan orang lain, dan..."
"Penglihatan ku juga sudah membaik," ucap nya yang merasa tak ada yang salah pada nya sama sekali.
"Benar, anda benar sekali Sir! Tapi, seperti nya bagian lobus frontal anda masih belum membaik," ucap dr. Dave yang melihat ke arah pasien nya itu.
NB KET : Bagian otak yang mengontrol emosi dan perilaku.
Wajah datar tanpa emosi seperti mesin yang di design tanpa senyuman dan air mata.
"Benarkah?" Lucas tak merasa demikian namun pria yang mengobati nya itu selalu saja berpikir ia adalah orang 'sakit' secara jiwa.
"Ya, aku mencintai nya." jawab nya singkat dengan jawaban yang terdengar yakin dan tak main-main.
"Lalu anda lebih suka melihat dia menangis atau tersenyum?" tanya dr. Dave sekali lagi.
"Aku suka ketika dia menangis, tapi kalau dia tersenyum..." Lucas berhenti sejenak pikiran nya untuk sesaat membayangkan senyuman cerah gadis itu yang berbicara dengan nada cerewet pada nya.
"Aku lebih suka ketika dia tersenyum, dia cantik dan bersinar..." ucap nya yang memberikan reaksi dengan berubah nya ekspresi di wajah datar nya.
dr. Dave diam sejenak tanpa mengatakan apapun untuk beberapa saat.
"Anda mencintai nya dan suka melihat dia tersenyum, lalu ketika anda memberikan hukuman karena dia nakal apa dia tersenyum? Bagaimana kalau dia terluka? Apa anda menikmati saat melukai nya juga?" tanya nya dr. Dave dengan pertanyaan membuat pria itu kembali dengan ekspresi wajah nya sebelum nya.
Lucas berpikir sejenak, ia sadar ia mencintai gadis itu maka nya ia begitu ingin untuk mendominasi hidup gadis remaja itu.
Ia ingin melihat nya terus tersenyum dan bersinar, ia tidak ingin menyakiti nya tapi ia bahkan tidak bisa mengendalikan diri nya.
Bagian kepala pria itu memang bermasalah dan ia pun mengetahuinya maka dari itu ia saat ini berusaha menyembuhkan.
Lobus frontal yang harus nya bisa mengendalikan emosi dan perilaku itu masih belum berfungsi secara baik seperti orang normal lain nya yang membuat nya tak pernah memiliki ekspresi di wajah nya.
Bahkan untuk merasakan emosi seperti orang-orang pun membuat nya sulit, tindakan yang tak sejalan dengan apa yang ia inginkan.
Melihat tak ada jawaban dr. Dave tak lagi bertanya.
"Baiklah, untuk sesi terakhir sebelum kita menutup nya saya akan menunjukkan gambar lagi dan saya ingin anda mengatakan apa yang anda lihat." ucap dr. Dave yang beranjak mengambil gambar nya.
Jika orang biasa tentu hanya akan menjawab gambar dalam bingkai itu adalah pohon yang rimbun atau kupu-kupu yang besar.
Namun untuk orang-orang yang sebenarnya memiliki masalah akan menafsirkan dengan sesuatu yang terpancar di kepala nya.
__ADS_1
"Wanita?" tanya Lucas yang menjawab namun seperti pertanyaan.
"Wanita? Sedang apa dia?" tanya dr. Dave yang melihat ke arah pasien nya.
"Di rantai, tapi dia tidak punya tangan dan kaki. Dia seperti nya tidak bisa lari. Oh ku rasa dia sudah mati." ucap nya yang melihat secara menelisik terhadap gambar absurd yang selalu memiliki pandangan yang berbeda setiap orang.
Deg!
dr. Dave tersentak begitu mendengar kata 'Mati' ia pun menarik gambar dalam bingkai itu dan menutup nya.
"Saya akan berikan resep yang baru, minumlah setiap kali anda mengalami sakit kepala dan ketika merasa gelisah." ucap nya yang memberikan salam pamit nya.
"Ya," jawab Lucas singkat.
"Dan gadis itu, saya harap anda bisa memperlakukan nya dengan baik, mungkin seperti mengajak nya keluar ke tempat yang bagus?" ucap nya yang memberikan saran.
"Ya," jawab Lucas yang masih begitu singkat dan beranjak keluar.
Melihat pasien nya itu keluar, dr. Dave pun menyandarkan tubuh nya kembali ke sofa.
"Ku harap anak itu akan hidup lebih lama..." gumam nya lirih yang tau pria yang baru saja menjalani konsultasi itu.
Karna ia tau kemungkinan besar pria itu bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya tak ingin di lakukan nya.
Seperti merenggut nyawa seseorang yang di cintai.
...****************...
Hayπππ
Mungkin ada yang merasa ini cerita nya muter atau menderita nya ga habis-habis dan segala yang mirip.
Tapi gimana ya othor bilang nya...
Mungkin karna othor suka nya yang tragedy love atau dark romance maka nya jadi begini huhuπ€§π€§
Dan buat yang ngerasa si Anna nya kenapa ga milih kabur aja sih? Padahal kan Diego udah nawarin buat bantuin dia pergi?
Nah jawaban nya ada di eps yang 'Stockholm sindrom' yah...
Sebenernya si Anna juga udah stress berat hidup sama si Lucas nya ini dan cara biar dia tetep waras yah dengan ngikut alur yang di bentuk sama si Lucas?
Cara nya apa?
Dia mulai bersandar dan kayak kasih harapan tentang hidup nya, it means she chose to love him.
Makanya si Anna kena Syndrom Stockholm itu. (Ketertarikan atau rasa suka sama penculik nya) Karna di sini Lucas termasuk orang yang nyandera si Anna ya.
Jadi Anna nya ga bakalan kabur?
Iya, nanti dia bakal kabur kok, walaupun dia stres sampai hampir gila juga bakal tetep kabur kok ninggalin si Lucas nya.
Karna dia ngerasa si Lucas cuma mau main sama dia aja (Tubuh dan kesenangan seperti boneka) jadi kayak ga beneran sayang atau cinta sama dia jadi dia kayak ngerasa sadar diri gituπ (Btw ini spoiler yah, UPS!πππ)
Kan tau sendiri kan si babang Luc nya itu ga bisa kontrol emosi sama perilaku atau tindakan dia karna memang ada bagian yang bermasalah.
Dan untuk orang normal kayak Anna pasti belum tentu paham juga kan?
Dan sekian terima gaji wkwk
Happy readingπππ
Jangan lupa like, komentar, dan dukungan nya yah πππ
__ADS_1