Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Papa?


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


Berlin


Suara napas pria itu tampak berat, ia terbangun secara tiba-tiba ketika mengalami mimpi buruk yang terus berulang itu.


Langkah nya tak stabil namun ia mencoba untuk berjalan ke tempat di mana ia menyimpan obat nya.


Hah...


Hah...


Hah...


Ia menarik napas nya dengan panjang sembari melihat ke arah tangan nya yang masih gemetar karna terbawa saat ia bangun.


"Tidak, dia masih hidup..."


"Dia belum mati dan aku belum membunuh nya..."


Gumam lirih yang terasa seperti kehabisan tenaga, ia sudah benar-benar akan gila karna tak kunjung menemukan gadis itu.


Lucas berjalan ke arah ruangan kerja nya, ia membaca semua yang berkaitan dengan gadis itu di mulai dari kesehatan yang sempat terganggu dan juga beberapa data diri lain nya.


"Musim semi lagi?" gumam nya saat melihat bunga yang mulai bermekaran di halaman mansion nya namun ia masih belum mendapatkan musim semi nya.


......................


Wegen


Mentari mulai datang, tak lagi udara yang membawa serpihan salju namun kali ini musim semi mulai datang.


"Estelle, jangan di makan lagi sayang." ucap nya yang mengambil makanan yang berada di tangan putra nya.


Estelle diam tak mengatakan apapun, ia tak tau jika mengambil makanan yang jatuh itu tak boleh.


"Nak? Sekarang Mama dapat kerjaan baru! Kamu senang ga? Seneng dong!" ucap Anna yang tersenyum menatap ke arah putra nya yang menggemaskan itu.


"Kalo kelja nanti Mama pelgi?" tanya nya yang menatap ke arah sang ibu.


Anna tersenyum kecil, ia menggeleng mendengar nya. "Mamah cuma buat kerjaan yang bisa di buat di rumah. Seperti yogurt yang kita buat waktu di rumah lama."


"Mama?" panggil anak lelaki dengan mata bulat yang gelap itu.


"Ya?" jawab Anna dengan cepat.


"Estelle ga punya Papa? Jhon punya Ma," ucap nya yang menyebutkan nama anak tetangga karna memang Anna sekarang lebih menyuruh putra nya untuk berteman dengan orang lain agar menambah wawasan bersosialisasi.


Anna diam sejenak, ia tak tau kalau putra nya akan mengatakan demikian sekarang ini.


"Punya kok, tapi Papa Estelle itu sekarang lagi jauh banget." ucap nya yang menjawab dengan bingung pula.


"Jauh? Sejauh apa? Alanet Nepunus?" tanya Estelle dengan polos.


"Alanet Nepunus?" tanya Anna mengulang.


Ia tak begitu memahami bahasa yang belum sempurna dari putra nya, dan tentu ia tak bisa mengartikan 'Planet Neptunus' karna ia sendiri juga tak hafal nama planet.


"Ah Iya..." jawab nya yang menangguk.


"Mama pergi dulu ya sayang," ucap nya yang mengecup pipi putra nya.


Estelle memang belum bersekolah, namun Camilla atau dirinya sering membacakan buku dan juga cerita pada anak kecil itu.


Hingga menambah banyak wawasan dan pengetahuan nya.


......................


Bern


Pria itu memainkan ponsel nya, sedangkan seseorang tengah menyiapkan beberapa peralatan nya untuk pergi siang ini.


"Kita bukan membuat video klip nya di sini?" tanya Gevan yang melihat ke arah manager nya.


"Kau tidak baca jadwal mu? Kita akan membuat nya di Wengen dan kita berangkat sore ini." ucap pria itu yang menarik napas nya.


"Aku kan cuma di beri tau di Swiss saja," gumam nya yang melempar ponsel nya dan mengganti baju karna bersiap akan pergi.


Pria yang saat ini mulai sibuk karna mengurus beberapa hal semenjak ia debut. Sang ayah tak lagi menghubungi nya. Entah karna tak lagi menganggap nya sebagai anak atau memang tak lagi peduli pada diri nya.


"Mack? Kau sudah temukan gadis yang waktu itu aku suruh cari?" tanya Gevan saat mengganti baju nya.


"Yang Anna itu? Dia siapa? Mantan pacar mu? Cinta pertama?" tanya pria itu yang menatap ke arah penyanyi yang ia urus itu.


"Sudah dapat atau belum?" tanya Gevan mengulang namun tak menjawab sama sekali.


"Aku dapat info ini dari teman ku yang bekerja di kantor sipil," ucap nya yang menatap ke arah pria itu.


"Lalu?" Gevan mendengarkan dengan seksama dan menatap ke arah pria itu.


"Kata nya Anna Maurenne sudah menikah," ucap nya yang menatap ke arah Gevan.


"Apa? Menikah? Dengan siapa?!" tanya Gevan yang langsung terkejut.


"Tidak bisa di lihat sampai sejauh itu, tapi di catatan sipil nya Anna Maurenne sudah menikah." jawab Mack yang memang hanya info itu yang ia dapatkan.


"Jadi, jangan mendekati nya karna hanya akan menimbulkan skandal selingkuh! Kau baru saja naik dan sekarang sudah mau masuk skandal perselingkuhan dengan istri orang?!" tanya Mack yang menyadarkan penyanyi nya itu.


Gevan masih membatu, bagaimana bisa gadis itu tiba-tiba menghilang dan sekarang malah menikah?

__ADS_1


"Yasudah, aku akan menunggu dia bercerai atau jadi janda sekalian." ucap Gevan yang mendengus kesal.


"Gila, kenapa aku bekerja pada mu? Seharusnya aku mengundurkan diri." ucap Mack yang menatap ke arah pria yang tampak seperti anak-anak itu saat menginginkan sesuatu.


......................


Wegen


"Estelle juga unya Papa, Papa Estelle di sana." ucap anak tampan itu sembari menunjuk ke arah langit tempat di mana planet Neptunus mengorbit matahari.


Ayah Jhon yang saat itu melihat langsung menarik putra nya dan menggelengkan kepala nya agar tak bertanya lagi.


Karna ia mengirim jika ayah dari anak tampan itu sudah meninggal sebab Estelle menunjuk ke arah langit.


"Di langit? Kelja nya jauh benel?" ucap Jhon yang memang tak begitu sulit berkomunikasi karna bahasa di Swiss pun hampir 65% dari masyarakat nya menggunakan bahasa Jerman dan bahasa itu yang lebih umum di gunakan.


Estelle tak menjawab lagi namun ia mengangguk, ia tak banyak bicara. Sangat berbeda dari teman nya yang begitu aktif.


"Estelle? Aku ikat ya?" ucap Jhon saat bermain dengan anak tampan itu dan berniat mengikat rambut nya.


Estelle hanya mengangguk mendengar nya, tidak banyak pilih, tidak cengeng dan tidak merepotkan. Itu lah yang menjadi sifat anak tampan itu.


...


Stasiun Kreta


"Kau yakin mau naik ini? Kita pakai mobil saja." ucap Mack yang menatap ke arah penyanyinya itu.


"Lagi pula kalau terlalu lama sendiri dan tidak melihat orang lain aku bisa jadi fosil." ucap Gevan yang menolak angkutan pribadi dan memilih menaiki angkutan umum sekaligus melihat pemandangan.


"Kalau kau mau naik mobil juga tidak apa-apa, nanti beri tau aku di mana tempat nya. Lagi pula mereka juga tidak terlalu mengenal ku." ucap nya yang juga ingin kembali ke kehidupan normal nya.


"Ya, aku naik mobil saja. Aku punya ketakutan untuk naik kereta," ucap Mack yang beranjak pergi.


Sementara itu.


"Estelle? Mau minum susu lagi?" tanya gadis itu yang menatap ke arah putra nya yang terdiam.


"Ma? Lasanya aneh." ucap anak tampan itu saat pertama kali menaiki kreta bersama ibu nya.


Anna tersenyum, ia memilih berdiri dan membiarkan putra nya duduk, "Estelle suka?" tanya nya dengan senyuman tipis.


Satu anggukan menjadi jawaban dari anak tampan itu.


Kreta berhenti dan menurunkan sebagian penumpang lalu menaikkan penumpang lain nya.


Melihat kursi di samping putra nya kosong Anna langsung beranjak duduk di samping nya.


"Ah..." gadis itu membuang napas nya lirih saat ia merasa sakit perut.


"Estelle? Mama ke kamar mandi sebentar, jam tangan nya jangan di lepas terus kamu jangan ke mana-mana ya?" ucap nya yang menatap ke arah putra nya.


Gevan berjalan dan mencari tempat duduk, ia menatap ke arah bangku kosong di samping anak kecil.


"Jangan sini, ini Mama..." ucap anak kecil itu yang langsung mengusir.


"Hey? Nak? Kalau tempat itu untuk Mama mu seharusnya dia menjaga tempat duduk nya," ucap Gevan yang tetap duduk karna memang itu kursi kosong.


"Olang jahat," ucap Estelle dengan wajah datar nya menatap ke arah pria di samping nya.


Ibu nya sudah berdiri cukup lama tadi, dan tentu nya ia ingin agar bisa duduk berdampingan dengan gadis yang ia panggil 'Mama'


Gevan terperanjat, ia kesal dan langsung bangun, "Nih, makan bangku nya buat Mama mu." ucap nya kesal.


Estelle masih mendongak menatap ke arah pria itu dengan memanyunkan bibir nya.



"Hey? Kenapa terus melihat ku? Memang nya aku penculik apa?" tanya Gevan yang merasa bingung namun anak lelaki itu tak bersuara dan tetap diam.


Sementara itu Anna sudah selesai dengan 'urusan mendesak' dan sekarang tinggal mencuci tangan nya di wastafel menggunakan sabun.


Ia segera berbalik dan berjalan menemui putra nya lagi.


Senyuman nya tampak saat ia menatap ke arah putra nya yang masih duduk dengan tenang.


"Ma? Susu," ucap nya yang langsung meminta minum nya saat bertemu dengan ibu nya.


Gevan yang sedang memainkan ponsel nya langsung menoleh kembali menatap ke arah anak menyebalkan yang mengusir nya itu saat mendengar anak itu menyebutkan ibu nya.


Deg!


Ia langsung tersentak, walaupun gadis itu merubah warna rambut menjadi lebih gelap namun tetap saja ia bisa mengenali nya.


"Anna?"


Deg!


Gadis itu tersentak, ia langsung menoleh ke arah seseorang yang memanggil nya.


Mata biru membulat seketika, ia tak jadi mengeluarkan susu yang ia siapkan dan memilih menggendong putra nya untuk ke dekat pintu agar saat kreta api di buka maka ia bisa kabur lebih cepat.


"Ann! Tunggu!" Gevan mengejar namun tentu sedikit sulit untuk berjalan menembus penumpang lain nya.


"Oh God! Thanks!" gumam Anna saat ia merasa kreta api itu berhenti di stasiun lain saat ia ingin kabur.


Ia langsung keluar, sedangkan pria itu sibuk mengejar nya sampai lupa dengan janji nya jika ia nanti sudah terkenal ia yang akan pura-pura lupa.


"Damn!"

__ADS_1


Gevan hampir kehilangan jejak, namun mata nya mencari dengan cepat.


"Memang nya aku virus? Langsung kabur aja!" ucap nya yang pantang menyerah setelah sekian tahun.


"Astaga!"


Anna menghentikan langkah nya karna pria itu mengejarnya dan mengimbangi lari nya lalu memotong nya.


"Tunggu! Jangan lari lagi," ucap Gevan sembari menarik napas nya.


"Aku bukan Anna," jawab Anna dengan cepat dan ingin pergi lagi.


"Kalau bukan kenapa lari? Anna! Anna Maurenne!" ucap nya yang malah mengulang nama gadis itu dengan lebih kuat.


Anna tersentak mendengar nya, ia takut nama nya itu menimbulkan masalah.


"Aduh! Sst!" refleks Anna yang langsung menutup mulut pria itu sembari masih menggendong putra nya.


......................


Cafe


Gevan masih memakai topi dan masker nya seperti biasa, ia duduk dan menatap ke arah gadis itu dan putra nya berulang kali.


"Dia tampan tapi sedikit menyebalkan..." gumam Gevan yang menatap ke arah anak kecil yang ikut duduk di samping ibu nya dan tampak akan tenggelam dengan meja itu.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Gevan yang membuka suara.


"Baik, dan lagi panggil aku Varsha. Bukan Anna..." ucap Anna lirih.


Gevan diam sejenak dan menatap ke arah gadis itu yang tampak gelisah saat nama nya di sebut.


"Varsha? Okey, kalau kau mau." ucap nya yang kembali melirik ke arah Estelle.


"Ann? Bukan Vars? Aku merindukan mu," ucap Gevan tanpa sadar saat melihat ke arah wajah gadis itu.


Anna terdiam tak mengatakan apapun saat lidah nya terasa Kelu.


"Apa kau memutuskan tinggal di sini setelah menikah?" tanya Gevan yang tersadar dengan ucapan nya yang tiba-tiba.


"Menikah? Siapa? Aku?" tanya Anna dengan bingung.


"Ya?" Gevan mengernyit, wajah gadis itu tampak tak tau sama sekali membuat nya ikut bingung.


Sedangkan Estelle tetap diam, ia tak tau apapun dan hanya mencerna kata-kata yang masih sulit ia pahami namun ia merasa ibu nya mengenal pria yang tadi nya ingin mengambil bangku ibu kesayangan nya.


"Sudahlah, nama nya Estelle kan?" tanya Gevan sekali lagi yang mengganti topik.


Anna menangguk, "Estelle Arsene," Ucap Anna sekali lagi.


"Kalau begitu Estelle? Ini pertemuan pertama kita kan? Maaf tadi aku mengambil bangku ibu mu, kalau tau dia ibu mu aku akan memberikan bangku nya secara suka rela." ucap nya yang berusaha berbaikan dengan anak kecil itu sampai ia lupa jadwal nya.


"Kenapa?" Estelle bertanya dengan mata polos nya dan wajah yang datar itu.


"Karna aku menyukai ibu mu," Jawab Gevan yang membuat mata biru itu mendelik.


"Jadi sekarang kau bisa panggil aku Pam-"


"Papa?"


Uhuk!


Anna hampir tersedak mendengar sambungan kalimat dari putra yang polos itu.


"Ma? Dia Papa Estelle yang balu balik dali alanet Nepunus kan Ma? Itu!" ucap nya yang menunjuk ke arah mainan ponsel yang berbentuk planet itu.


Gevan masih terdiam, tak mungkin anak itu tidak tau ayah nya sampai salah kenal bukan?


"Oh itu? Itu..." ucap Anna yang sedikit bingung.


"Dia bukan Papa tapi Pam-"


"Tapi Papa, uhh anak Papa udah besar sekarang..." sambung Gevan dengan full senyuman karna ia tak terlalu masalah asal bisa dapat ibu nya.


Estelle tak mengatakan apapun namun ia hanya melihat dan menatap ke arah pria itu saja


...


Mack memarahi Gevan yang lama muncul dari waktu janjian yang seharusnya.


"Mack?" ucap Gevan setelah melihat manager nya marah.


"Aku baru saja jadi Papa, kira-kira kapan ya bisa jadi suami?" tanya nya yang menatap ke arah manager nya yang tampak kehabisan kata-kata.


"Jangan bilang kau punya anak di luar nikah?!" tanya Mack terkejut.


...****************...


Hayy


Oh iya Othor mau promosi ya sekalian wkwk



Mampir ya lapak yang ini, kalau susah cari judul nya tinggal klik profil othor terus buka cerita nya😘😘😘


Mana tau suka😘😘


Happy readingπŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2