
Gadis itu mengendus bau yang berbeda, rasa yang asing masuk ke dalam lidah nya dan ia telan sebagai bentuk pertahanan diri nya agar ia masih dapat bernapas.
"Kau mau lihat?" tanya pria itu yang perlahan melepaskan ikatan dasi yang menutup mata biru itu.
Ia memang memberi tau untuk tak melepaskan ikatan di mata itu apapun yang terjadi, dan gadis itu menurut karna begitu menyayangi nyawa nya.
Deg!
Mata biru itu membulat seketika menatap timun besar namun tidak berwarna hijau itu.
"Sekarang sudah tau cara nya kan?" ucap Lucas sembari mengangkat dagu gadis yang berlutut di lantai itu agar melihat ke arah nya.
Eugk!
Gadis itu cegukan dengan mata yang masih membulat, tubuh nya membatu sejenak melihat sesuatu yang bahkan tak pernah ia lihat dalam bentuk visual apapun dan kini melihat langsung secara live.
"Kita akan lakukan ini dua hari sekali, dan lain kali jangan tumpahkan lagi, mengerti?" ucap nya yang mengusap lelehan di sudut bibir gadis itu dan memasukkan nya kembali ke dalam mulut kecil itu dengan ibu jari nya.
Anna yang masih membatu karna sangking terkejut nya menengandah dan menatap ke arah pria yang duduk di kursi bak singgasana itu.
Heuk!
Gadis itu langsung menutup mulut nya dan mulai bangun, ia berlari ke arah pintu yang sekira nya mirip dengan kamar mandi.
Hoek!
Anna memuntahkan nya di wastafel, ia terkejut dan kini dapat memproses nya. Walaupun ia baru mengenal nya setidak nya ia tau cairan aneh apa yang ia telan.
Lucas mendatangi gadis itu dengan wajah yang santai, ia telah memakai pakaian nya dengan lengkap seperti tak terjadi apapun.
Namun gadis itu terlihat sedikit berantakan di seragam yang mengekspos bagian d*da serta rambut yang berserakan dan wajah yang tampak begitu syok.
"Seperti melihat setan saja?" tanya Lucas menatap ekspresi yang baru lagi dari gadis cantik itu.
"S..sir..." panggil gadis itu lirih.
Mata biru nya mulai berair, ia menatap dengan sayu dan lirih.
Lucas mengernyit, suara gadis itu terdengar gemetar saat memanggil nya dan menatap nya dengan begitu sendu.
Tes..
"Hey?" panggil nya yang langsung mendekati gadis remaja yang tampak mulai menangis itu.
"Ka..kalau saya ha..hamil ba..bagaimana?" tanya nya lirih dengan suara yang gemetar dan tampak memang begitu takut tanpa di buat-buat.
Pria itu mengernyit melihat ketakutan tak mendasar gadis itu.
"Kau menelan nya dari mulut bukan dari- Astaga!" ucap nya yang tak melengkapi kalimat nya saat melihat gadis itu.
"Tapi kan tadi dia masuk ke dalam perut saya..." ucap nya dengan mata yang tampak begitu gelisah.
Lucas bukan nya merasa bersalah namun ia ingin tertawa melihat ketakutan gadis itu.
Harus apa yang ia katakan?
Gadis yang lugu?
Tapi tidak selugu itu karna mengerti sedikit hal seperti itu namun pengertian nya yang salah dan juga memang sama saja seperti tak mengerti apapun kecuali hal dasar saja.
"Mau ku beri tau? Kalau kau telan nya dari mulut tidak akan hamil, tapi bisa membuat kepala mu sedikit pintar." ucap nya pada gadis itu.
Buliran bening yang tampak begitu jernih itu masih meleleh jatuh di pipi merah nya yang tampak menggemaskan itu.
"A..anda tidak bohong?" tanya nya lirih dengan tatapan sayup yang sangat berharap.
Pria itu tersenyum, mengusap air mata gadis itu dengan punggung tangan nya.
"Tidak, jadi mulai sekarang kau harus melakukan hal seperti tadi atau aku akan memasukkan cairan nya dari yang di bawah," ucap berbisik di telinga gadis itu.
"Kalau da..dari bawah... bu..bukan nya saya bisa hamil?" tanya nya dengan mata yang polos dan raut yang tampak takut.
Pria itu tersenyum, menyatukan rambut pirang dan bergelombang itu dengan tangan nya lalu semakin mendekat hingga gadis itu semakin dapat merasakan aroma gadis itu.
"Good girl must follow Daddy's words, okey?" bisik nya pada gadis itu.
Anna tak mengatakan apapun, pria itu kini seperti berperan sesuai dengan yang tersebar di sekolah nya.
"Okey..." jawab nya lirih tanpa sadar dengan sendiri nya.
...
Sementara itu.
Diego menatap ke arah layar hologram di depan nya, cahaya merah tampak memancar dari pantulan yang terbentuk itu.
"Apa yang salah?" gumam nya melihat ke arah layar yang membentuk bagian tubuh wanita itu.
"Akan baik-baik saja kan? Kenapa bisa seperti ini?" gumam nya lirih menatap ke arah layar tersebut.
Ia mulai mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang yang tentu ia kenal.
"Kau bisa ke sini?" ucap nya dari telpon.
Ia masih memeriksa beberapa bagian dan menatap ke arah layar di depan nya sembari memeriksa data.
Beberapa saat kemudian.
"Ada apa?"
"Coba lihat ini?" ucap nya yang kembali menghidupkan layar hologram di depan nya sembari memberikan iPad yang berisi data keterangan dari hologram tersebut.
Lucas mengernyit, terdapat perubahan genetik yang tampak jelas sampai menimbulkan sinar merah.
"Apa karena aku sering mengaktifkan nya?" tanya nya sembari melihat ke arah layar di depan nya.
"Seperti nya gelombang elektromagnetik nya terlalu besar, dia terlalu terpapar." ucap Diego menatap ke arah pria itu.
Lucas diam tak mengatakan apapun selain melihat ke arah wajah sepupu nya sekilas.
"Aku akan kurangi mengaktifkan chip nya, kita lihat seberapa banyak dia bisa bertahan." ucap nya yang meninggalkan ruangan inti dari otak perusahaan itu.
Diego tak mengatakan apapun lagi, ia hanya melihat ke arah punggung yang berbalik pergi seperti tak begitu peduli.
"Bukan nya kau menyukai nya?" tanya menatap ke arah pria itu.
Lucas menghentikan langkah nya, ia berbalik menatap ke arah pria itu.
"Menurut apa yang lebih berharga untuk di miliki?" tanya nya sekilas dan melanjutkan langkah nya.
Ia memang tau jika ia sudah memberikan sedikit hati nya untuk gadis remaja yang selalu memberi nya kejutan namun ia juga sangat tau jika ia memiliki sesuatu yang lebih besar dan telah menjadi sebagian dari jiwa nya selama bertahun-tahun.
"Tentu JNN yang paling berharga untuk mu kan?" gumam Diego ketika melihat pria itu pergi.
__ADS_1
Berbeda dengan nya, sepupu nya itu di besarkan dengan lebih keras dan lebih parah nya lagi di lahirkan seolah hanya untuk membawa beban perusahaan besar itu.
Bahkan di dalam ingatan nya ketika ia sempat tinggal bersama dengan sepupu nya itu ketika paman nya masih hidup, walau sejenak ia seperti tak sanggup untuk tinggal bersama.
Memang tak ada gangguan fisik dari paman nya namun didikan yang seakan seperti sugesti untuk menjadi seseorang yang sempurna melekat pada nya sampai membuat nya enggan jika harus bersama dengan paman nya yang tak lain adalah kekasih ayah nya itu.
Sedangkan sepupu nya tinggal selama bertahun-tahun dengan didikan seperti itu danyang memang wajar jika kini pria itu memiliki banyak penyakit mental yang bahkan membuat keseharian nya terganggu.
......................
Ke esokkan hari nya.
Rumah sakit.
"Ini kak?" tanya Anna sembari mengangkat salah satu teh instan sembari menatap ke arah kakak kelas nya yang terbaring di atas ranjang pasien itu.
"Bukan, yang kiri." jawab Gevan pada gadis itu.
Sesuai dengan yang ia minta gadis itu menjenguk nya sebentar walau tak bisa memiliki waktu yang lama.
Anna mengambilkan minuman untuk remaja tampan itu dan mendekat.
"Sampai biru gitu kak muka nya, jadi gak ganteng lagi." ucap Anna yang kini mulai bisa lebih santai berbicara dengan remaja tampan itu.
"Mereka masih cari pelaku nya," jawab Gevan sembari memberikan makanan pada gadis itu.
Anna menerima nya, dengan wajah yang tampak polos itu ia memakan makanan yang di berikan.
"Suapin, malah di makan." ucap Gevan yang berdecak kesal.
"Kan gak tau kak..." jawab Anna yang tersenyum lirih.
Ia pun langsung memberikan camilan yang memiliki rasa manis asin gurih pedas itu ke dalam mulut remaja yang bersikap seperti anak kecil itu.
"Kak?" panggil nya lirih saat melihat ke arah luka di pergelangan tangan remaja itu.
"Hm?"
"Ingat gak yang mukul itu gimana orang nya?" tanya Anna lirih pada remaja itu karna teringat dengan bekas luka yang ia dapat.
"Aku gak lihat karna gelap tapi tinggi nya sekitar 186 cm terus mata nya tajam, dia kuat dan apa lagi yah?" ucap nya yang mengatakan sesuai dengan ciri-ciri yang yang ia temui.
Anna menatap ke arah remaja itu dan melihat sekali lagi ke arah bekas luka itu.
"Sakit tau, jangan di lihatin terus." ucap nya pada remaja itu.
"Iya, sakit..." jawab nya yang tersenyum tipis.
Gevan menatap ke arah wajah yang walaupun tersenyum itu namun terlihat seperti raut yang berbeda. Seperti wajah simpati karna pernah merasakan hal yang sama.
......................
Mansion Damian
Anna menghentikan langkah nya, ia menatap ke arah pria yang melihat nya dengan tajam.
"Dari mana?" tanya nya dengan tatapan mematikan walaupun ia sudah tau jawaban nya.
"I..itu sa..saya ke rumah sakit..." jawab Anna lirih dengan jujur.
Mata yang tajam itu melihat seperti akan menembak nya, "Aku izinkan?" tanya pria itu dengan tajam.
"Hum?" Anna menatap dengan tatapan bingung melihat nya.
"Aku mengizinkan mu?" tanya Lucas mengulang.
"Tentu, bukan nya kau anak baik yang penurut?" tanya nya sembari menyelipkan rambut gadis itu di balik telinga nya.
"Sa..saya cuma menjenguk nya! Tidak lebih! Di..dia di pukuli o..orang asing ja..jad-"
"Makanya itu, dia sudah seperti itu masih tidak sadar juga." potong Lucas pada Anna.
"A..apa..." ucap nya lirih yang terkejut mendengar pria itu seperti yang menjadi dalang dari pemukulan yang di alami Kakak kelas nya.
Pria itu tersenyum, "Jangan melakukan sesuatu yang membuat ku terus mengaktifkan nya? Ini demi diri mu sendiri mengerti?" ucap nya pada gadis itu dengan nada penuh penekanan.
"Mengaktifkan apa?" gumam nya sembari lirih menoleh ke arah pria yang meninggalkan nya dan tampak begitu kesal itu.
...
Jangan!
Jangan! Huhu!
Bunuh!
Bunuh dia!
Mereka memang hanya untuk mainan kita!
Cairan merah itu mulai mengalir mengenai sepatu yang ia kenakan, aroma yang menyeruak membuat nya sesak.
Aku mau keluar...
Keluar? Lihat...
Kau mirip dengan ku, kau itu pasti akan menyukai hal ini juga!
Tangisan terdengar dari tubuh kecil anak lelaki itu hingga membuat nya gemetar ketakutan.
...
Deg!
Mata pria itu terbuka seketika.
Kepala nya terasa sakit begitu ia terbangun, "Mimpi itu lagi?" gumam nya lirih dengan keringat yang jatuh ke dahi nya.
Pria itu terbangun, ia bangkit dan beranjak ke kamar mandi.
Suara guyuran air terdengar ketika wastafel itu hidup dan mengalirkan semua air berwarna bening dan jernih itu.
Luc?
Kau ingin hidup dengan baik?
Kau tidak akan bisa melakukan nya.
Deg!
Pria itu tersentak, ia melihat bayangan diri nya di cermin yang memantulkan nya, wajah yang tak dapat ia lihat namun seluruh objek lain nya begitu jelas walau tak memiliki warna.
Walaupun ia tak dapat melihat bayangan wajah nya sendiri namun pikiran nya terbayang pada wajah yang begitu jelas dan cantik hingga membuat nya tersenyum dengan rasa sakit yang mereda saat mengingat wajah gadis itu.
__ADS_1
Bunuh dia...
Ukh!
Kepala nya berdenyut, terasa ingin pecah. Jantung nya berdegup begitu kencang hingga membuat nya merasakan sakit lagi.
Suara yang beradu di telinga nya ketika ia mengingat wajah cantik yang begitu jelas itu.
"Sial!" decak nya yang merasa seperti serangan panik nya tiba-tiba datang tanpa pemicu apapun di tengah malam itu.
Memimpikan sesuatu yang bahkan tak pernah ia ingat pernah ia alami namun terasa begitu nyata hingga rasa sakit yang membekas di tubuh nya ketika ia bangun.
Lucas mulai mencari obat penenang nya, ia merasa tak ada pemicu apapun namun ia tiba-tiba merasakan gelombang panik nya.
Ukh!
Prang!
Pria itu menjatuhkan semua obat nya yang berada di dalam botol.
Kepala nya terasa sakit, dada nya terasa begitu sesak hingga membuat nya sulit untuk bernapas.
Bunuh...
Bunuh saja...
Kau pikir kau sama seperti mereka?
Deg!
Rasa sakit nya membuat nya seperti mengembang dan merasakan sesuatu yang melayang di dalam diri nya.
"Apa yang ku pikirkan? Aku hanya perlu menghabisi nya saja kan?" gumam nya yang tertawa.
Ya benar...
Pandangan yang tampak kosong, wajah yang datar terlihat jelas walaupun pria itu memiliki potongan wajah yang tampan.
Ia keluar, pisau yang terasah begitu tajam selalu berada di bawah bantal tempat tidur nya.
Tak hanya membawa nya sampai tidur pria itu pun selalu membawa nya kemanapun di balik jas nya atau di saku celana nya.
Begitu ia keluar dari kamar nya, salah seorang penjaga yang berjalan bertugas menjaga mansion mewah itu terlihat di mata nya.
Perasaan yang seperti gamang dan merasa harus menghabisi semua yang terlihat sesuai dengan intuisi yang berbisik di telinga nya.
Cras!
Cairan merah yang memiliki aroma anyir itu langsung menyebar mengenai wajah nya.
"Si..sir!"
Pengawal tersebut terkejut ketika ia merasa sesuatu yang tajam menusuk leher nya.
Pengawal tersebut pun tanpa sadar membela diri nya, ia berusaha menangkis pisau yang melayang ke arah nya.
Tak ada perubahan wajah dari pria tampan itu. Tampak begitu dingin dan tajam.
Cras!
Satu tebasan itu membelah wajah pengawal nya, cairan segar itu memuncrat mengenai wajah tampan nya.
Sementara itu.
Anna terbangun, gadis itu beranjak kembali ke tempat tidur dari kamar mandi setelah buang air.
Dahi nya mengernyit, ia mendengar suara gaduh dari luar.
Langkah kaki nya beranjak keluar mengikuti suara yang entah berasal dari mana.
Langkah gadis itu tampak berjalan ragu di dalam mansion yang gelap karna beberapa listrik nya sudah di matikan itu hingga hanya beberapa lampu yang menyala.
"Hum?" gadis itu berjongkok.
Sesuatu yang seperti cat merah terlihat membentuk sereten di atas lantai marmer itu.
Greb!
Anna tersentak dan langsung kaget ketika ia merasa tangan nya di tarik.
"Ada lagi?"
Deg!
Seluruh tubuh gadis itu seakan membatu, tatapan pria di depan nya berbeda, mata yang tampak dingin dan kosong.
Tangan, tubuh dan wajah yang tampak memiliki begitu banyak bercak darah.
Bunuh dia...
Sekali lagi bisikan itu datang di telinga nya, membuat nya hanya menatap kosong seperti tak mengenali wajah gadis di depan nya.
"S..sir?" ucap Anna yang gagap dan tampak begitu takut hingga suara nya menjadi gemetar.
Crash!
Pria itu menarik pergelangan tangan gadis itu dan langsung menebas nya dengan pisau tajam milik nya.
Akh!
Gadis itu tersentak, ia langsung mendorong tubuh pria itu segera hingga membuat Lucas melepaskan pegangan nya beserta dengan pisau yang tercampak.
Ukh!
Rambut pirang bergelombang panjang itu langsung tertarik begitu ia mencoba untuk lari.
Bruk!
"Ukh..."
Air mata mulai meleleh di pipi bulat yang cantik itu, tubuh nya gemetar dengan rasa takut yang menjalar melihat pria itu seperti kehilangan diri nya.
Dinding yang memiliki cat berwarna putih mulai memiliki warna lain.
"Si..sir..."
Anna mencoba memanggil pria yang tampak melihat nya datar dengan mata yang kosong itu.
Ukh!
Tenaga gadis itu semakin terkuras, dengan pergelangan tangan yang terus mengalirkan darah segar nya.
Nafas mulai terasa hilang, tangan yang kekar dan kiat itu semakin melingkar dengan erat di leher nya.
__ADS_1
"Si..sir.."
"It's me..." ucap nya lirih yang mencakar tangan yang mencekik nya itu.