
3 Hari kemudian.
Mansion Damian
Tak ada yang spesial sama sekali semenjak ia tinggal di tempat itu, bahkan ia sendiri tak pernah bertemu dengan pria yang membawa nya tinggal bersama.
Entah untuk melihat mata nya atau darah nya, "Coba ini deh," ucap nya yang melihat alat pelurus rambut itu.
Rambut yang ikal bergelombang adalah bawaan nya sejak dini namun ia juga sesekali ingin mempunyai rambut yang lurus.
Pagi yang cerah dengan luka-luka yang mulai mengering, selama ia tinggal di tempat yang memiliki kesan mewah itu ia selalu di datangi dokter setiap pagi dan sore untuk memeriksa kondisi luka nya dan mencoba membuat nya tak memiliki bekas.
Gadis itu tersenyum di cermin, walaupun ia merasa tak nyaman, namun ia selalu berada di kamar nya.
Kecuali untuk makan ataupun minum, Anna keluar. Seragam yang rapi dan tak lagi memakai jaket membuat nya merasa lebih baik.
Walaupun ia sudah tinggal di tempat yang mewah namun tetap saja ia menganggukkan bus sebagai sarana kendaraan nya.
"Kau tidak mau pergi dengan ku? Aku juga akan melewati sekolah mu,"
Suara pria yang terdengar begitu keluar dari bangunan mewah itu, Anna menoleh.
Berbeda dengan pria berwajah datar yang suka dengan mata dan darah nya itu, pria yang berbicara dengan nya saat ini tampak ramah.
Namun wajah ramah itu menjadi lebih mengerikan, karna ia semakin tak bisa menebak bagaimana kemarahan nya.
"Tidak Sir," ucap Anna menolak.
Awal nya ia kagum dengan pria yang ramah ketika ia bertanya tentang arah pemotretan dulu sewaktu pertama kali bertemu namun ketika ia tau kalau pria ramah itu termasuk dalam 'komplotan' orang yang bagi nya jahat ia tak lagi merasa kagum.
"Naik," ucap Diego dengan satu kata seperti tak mendengarkan penolakan gadis itu.
Anna menoleh, namun tetap saja ia tak memiliki keberanian untuk menolak lagi. Gadis itu pun mulai beranjak naik.
"Kau tidak bertanya apapun?" tanya Diego sembari mengemudikan mobil nya.
Anna tak menjawab namun ia menggelengkan kepala nya dengan pelan.
Diego menarik napas nya sejenak, "Nanti malam dia pulang, jadi jangan lakukan sesuatu yang bisa membuat dia kesal." ucap nya memperingatkan gadis itu agar masih tetap hidup saat ia bertemu lagi.
"Pulang? Memang nya dia dari mana?" tanya Anna langsung.
"Kau bilang kau tidak punya pertanyaan," jawab Diego tersenyum kecil.
"Sekarang ada," jawab nya pada pria di samping nya.
Kali ini ia tau mengapa, ia tak melihat pria itu sama sekali selama tiga hari terakhir.
"Rahasia," jawab Diego tertawa kecil dengan mu-main pada gadis remaja itu.
__ADS_1
Anna mengernyit, ia melihat kesal dan kembali memeluk tas nya.
Tas yang kini sangat ia jaga karna berasal dari barang-barang yang memiliki brand ternama itu.
Tak ada lagi pembicaraan sampai ke sekolah gadis itu.
......................
Skip
Sekolah.
Gosip yang beredar tentang anak miskin menjadi orang kaya baru sudah tersebar. Beberapa kali naik mobil mewah dan mengunakan barang-barang bermerek.
"Ann? Aku sekarang kok gak pernah lihat Cindy masuk lagi yah?" tanya Samantha saat waktu istirahat telah datang.
Anna tersentak namun ia menggelengkan kepala nya dan membuang wajah nya, ia tau apa yang terjadi dengan gadis itu namun lebih baik ia menutup mulut nya dan bersikap bodoh.
"Hey? Keluar,"
Anna memejam, suara lelaki yang selalu terdengar dengan jelas karna kelas selalu menjadi sunyi setiap kali ia datang.
"Semangat Ann," ucap Samantha saat melihat teman nya yang kembali di panggil oleh brandal sekolah itu.
Gadis itu pun berjalan keluar mengikuti ke arah langkah kaki remaja tampan itu.
Gevan berbalik, ia menunduk ke arah gadis pendek itu dan menatap mata biru yang tampak kesal.
"Sampai aku bosan," ucap nya tersenyum dan mengedipkan satu mata nya.
"Cih! Percuma punya muka bagus kalau kelakukan nya engga!" gerutu Anna sembari mengikuti langkah kaki kakak kelas nya itu.
Gevan tersenyum sembari melanjutkan langkah nya, ia suka mengganggu gadis yang mudah kesal sehingga memberikan ekspresi yang lucu.
Kali ini Gevan membuat gadis itu memegang banyak makanan dan minuman yang ia beli sampai membuat nya terlihat kewalahan
"Banyak banget sih? Rakus!" gerutu Anna sembari membawa makanan dan minuman itu.
Gevan berbalik, mata hijau itu melihat nya dengan tajam dan mengernyit.
"Tadi bilang apa?" tanya nya dengan wajah yang siap untuk semakin membuat gadis itu susah.
"Warna mata mu cantik," jawab Anna dengan tersenyum jengkel pada pria itu.
Gevan tak mengatakan apapun namun ia beranjak mengangkat tangan nya.
Akh!
Anna tersentak, postur yang tegap dan lebih tinggi untuk tubuh nya yang pendek membuat pria itu seakan ingin memukul nya.
__ADS_1
Tubuh nya secara refleks bergerak seperti ingin melindungi dirinya sendiri sampai menjatuhkan semua makanan yang berada dalam genggaman nya.
"Kenapa? Kau pikir aku mau memukul mu?" tanya Gevan dengan tawa kecil.
Anna masih terdiam, raut wajah nya berubah seketika. Berbeda dengan Lucas yang pernah mengusap kepala nya namun itu dari samping sehingga gadis itu tak mendongak melihat sosok yang lebih besar mengangkat tangan nya.
"Ann?" panggil Gevan yang melihat wajah gadis yang membeku.
Ekspresi yang sama seperti gadis bisu yang ia kenal dulu.
"Anna!" panggil nya lagi membuat gadis itu tersentak.
"Eh? Iya?" Anna kehilangan fokus nya sejenak dan menatap pria di depan nya.
"Pasti kau cuma dapat kelebihan di wajah saja tapi di sini kurang," ucap Gevan menggeleng sembari menunjuk kepala nya.
"Aku gak bodoh!" sanggah Anna seketika.
"Iya, cuma gak pintar aja kan?" selak Gevan dengan enteng.
......................
Mansion Damian
Langkah gadis itu terhenti, ia menatap ke arah pria yang tak terlihat selama beberapa hari itu kini berdiri di depan nya.
"Sudah lama,"
Suara bariton itu menatap ke arah gadis yang baru kembali dari sekolah nya itu.
"Y..Ya Sir, saya sangat merindukan anda..." jawab Anna yang malah tergagap berbicara dengan pria di depan nya.
Lucas tak mengatakan apapun, ia melihat ke arah gadis itu dan mendekati nya.
"Kau tidak membuat masalah kan?" suara yang terdengar lirih itu berbisik di telinga gadis itu.
Lucas memegang dan menyingkirkan rambut yang tak lagi bergelombang ke samping itu.
"Kau mengubah mode rambut mu?" tanya nya sembari menjauhkan wajah nya dari telinga gadis itu.
Anna tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum dan memundur sedikit demi sedikit.
Sedangkan Lucas diam tak mengatakan apapun, ia memang tak bisa melihat bagaimana wajah gadis itu namun ia bisa melihat bagaimana bentuk rambut yang berubah di kepala gadis yang bermata biru.
"Aku ingin memakan mu..." ucap nya lirih.
Aroma yang membuat nya ingin terus menghirup nya serta warna dan cahaya mata yang terlihat indah baginya membuat nya ingin melahap gadis di depan nya.
"Ma..mau saya buatkan ma..makanan Sir?" tanya Anna dengan gugup.
__ADS_1