Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
She is my mom


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Stone Craft Grup


Laptop yang masih menyala, lembaran dokumen yang terbuka dan juga segelas teh hijau untuk menjaga berat tubuh nya berada di atas meja kerja itu.


"Apa yang akan dia lakukan kalau tau aku mencuri milik nya?" gumam nya kecil dengan smirk di wajah nya.


Perusahaan cabang mulai ia pengaruhi, dengan ada pembelian saham dengan nama lain dan menipu investor serta menyogok beberapa direktur dari anak perusahaan untuk membocorkan proyek.


"Aku harus siapkan skandal nya lebih dulu," ucap nya lirih yang menarik napas nya.


Tentu jika ia menginginkan sesuatu ia harus berpikir untuk mendapatkan nya.


Dan jika ia menginginkan pria, berarti ia harus memberikan balance yang setimpal. Karna tak semua pria bisa tergoda hanya dengan tubuh dan wajah.


"Apa anak itu ku singkirkan lebih dulu? Seperti nya akan sedikit menyenangkan jika aku bermain dengan nya juga." ucap nya lirih dengan senyuman kecil saat ia mengingat tentang gadis yang tampak belum tersentuh dengan gelap nya dunia.


......................


JNN Grup


Anna tersenyum canggung, ia merasa risih dan ingin segera pergi sebelum orang-orang itu datang mengikuti rapat nya.


Meja yang panjang itu terpampang jelas, dan ia masih duduk di pangkuan pria yang tampak tak ingin melepaskan nya itu.


"Luc? Kalau mereka datang gimana?" tanya Anna yang khawatir dan berulang kali melihat jam karna pria itu akan mengadakan rapat.


Lucas menarik napas nya, leher jenjang yang berwarna putih mulus itu menjadi sasaran kecupan nya.


"Kalau begitu kau bisa turun ke cafe dan membeli es krim lebih dulu," ucap nya pada gadis itu dan melepaskan nya.


Anna langsung berdiri dan mengecup pipi pria itu, "Oke, nanti kasih tau kalau kamu udah selesai ya." ucap nya yang langsung pergi tanpa merengek untuk di tahan.


Lucas tak mengatakan apapun, ia melihat gadis yang pergi begitu saja tanpa melihat ke belakang.


"Kenapa dia selalu mau kabur?" gumam nya yang tertawa kecil.


Rapat nya sudah selesai sejak ia memanggil gadis itu ke ruang besar yang sedang ia huni sekarang.


Karna tak ada atasan yang menunggu bawahan nya dan tentu saja tak mungkin ia menunggu lebih dulu.


Lucas beranjak bangun, ia membenarkan posisi celana nya dan mengikat kembali tapi pinggang nya.


Dan tentu tujuan nya memanggil gadis itu, karna ia ingin memiliki pengalaman lain kan?


......................


2 Hari kemudian


Mansion Damian.


Anna tampak gelisah, ia baru menyadari sesuatu setelah tinggal selama 3 tahun dengan pria itu.


"Apa ketinggalan di apart lama ya? Tapi kan kalau udah ada yang tempati pasti juga bakal di buang?" ucap nya lirih yang mencari potret terkahir yang ia miliki tentang ibu.


Selama beberapa tahun terakhir ia hanya memikirkan bagaimana cara nya untuk hidup dengan aman bersama dengan pria psikopat itu.


Dan sampai titik di mana ia hampir melupakan wajah seseorang yang setidak nya pernah mencintai nya dulu.


Mungkin orang pertama yang pernah mencintai nya walau memiliki hubungan yang tak sehat karna penyakit mental.


"Kau cari apa?"


Suara pria terdengar dari arah pintu, ia kembali ke kamar nya namun gadis itu tak berada di atas ranjang.


Dan setelah ia mencari ternyata gadis itu berada di kamar lama nya.


"Poto, dulu waktu kamu ambil semua barang aku yang di apart lama itu udah kamu pindahin semua? Atau di simpan?" tanya Anna langsung menatap ke arah pria itu.


"Barang? Aku tidak membawa nya, semua barang mu seperti sampah." jawab pria itu dengan datar walaupun ia mengatakan kata yang sedikit menyakiti.


"Iya, karna kamu kaya jadi barang begitu kamu anggap sampah!" ucap Anna yang tampak berdecak kesal.


"Kalau begitu kau bisa cari lagi ke sana," ucap Lucas yang memberi tau sembari menarik tangan gadis itu untuk tidur.


"Tapi kan udah lama, kalau ada penghuni baru pasti bakalan di bua-"


"Penghuni?" tanya nya mengulang dengan senyuman miring.


"Yang mau tinggal di sana itu cuma kau, apartemen yang sebentar lagi akan rubuh, kotor, lembab, bau dan berada di daerah yang tidak aman. Kau pikir orang waras mau tinggal di sana?" tanya Lucas yang mengatakan sesuatu yang tak salah.


Anna tak menjawab, memang benar apa yang di katakan pria itu dan mungkin saja hanya ia yang mau tinggal di sana karna dulu pun di bangunan apartemen tua yang tampak besar itu hanya di huni dengan tiga orang termasuk diri nya.


"Kau bisa ke sana besok, aku akan minta Diego untuk menemani mu." ucap Lucas yang tak ingin menunggu lagi dan melempar tubuh gadis itu ke ranjang.


Anna berdecak, mata nya tampak mengerut karna kali ini ia benar-benar tak ingin melakukan apapun.


Greb!


Mata nya membuat sejenak, pria itu tak melepaskan pakaian nya namun malah memeluk nya.


"Aku sangat mengantuk tapi kenapa kau tidak mau tidur dari tadi?" ucap pria yang memeluk tubuh kecil yang mirip dengan guling itu.


"Hum?" Mata biru itu menengandah melihat ke arah pria yang mendekap nya dan memeluk nya.


......................

__ADS_1


Apart


Diego melihat ke arah bibi kedua nya itu, putri dari sang kakek yang masih ada walaupun putra nya sudah mati di tangan sepupu nya.


Dan memang dari sanak keluarga nya hanya tinggal bibi kedua nya yang masih hidup bebas, setelah bibi pertama nya mati dan bibi ketiga yang masuk ke dalam sel penjara tak tau apakah akan keluar dalam keadaan hidup atau tidak.


"Kenapa anda ke sini?" tanya nya yang melihat ke arah wanita yang langsung mengunjungi nya itu.


"Kematian putra ku ada hubungan nya dengan kalian kan?" tanya Megan yang menatap ke arah keponakan nya itu.


"Hubungan? Kami berhubungan karna kami juga sepupu nya." ucap pria itu yang berusaha mengabaikan nya.


Wanita itu tersenyum getir, ia melihat ke apartemen mewah itu yang di tinggali oleh satu orang saja.


"Kenapa kau mau jadi budak anak itu? Padahal kalian kan punya hak yang sama," tanya wanita yang terlihat masih cantik itu walupun sudah memasuki usia 40 tahun lebih.


"Itu urusan ku, tidak ada hubungan nya dengan anda." ucap Diego yang membuang wajah nya.


Walaupun ia tak ingin wanita itu masuk ke rumah nya namun ia tak bisa membiarkan nya berdiri di depan pintu rumah nya.


"Para kakak laki-laki ku menikahi sembarangan wanita hanya untuk menutup skandal mereka dan akhir nya?" ucap nya yang menggantung.


Tentu kakak pertama nya menghasilkan satu putra yang merupakan keponakan tertua dan di susul dengan pria di depan nya dengan hanya perbedaan waktu lahir dua bulan yang di hasilkan dari kakak laki-laki kedua nya.


Dan tentu wanita yang di nikahi oleh kedua kakak laki-laki nya hanyalah wanita yang du bayar untuk di jadikan istri kontrak sampai memberi keturunan.


Dapat di pastikan jika kedua wanita itu bukanlah berasal dari orang-orang terpandang atau memiliki kedudukan yang sama.


"Anda tidak berada di sini hanya untuk mengomentari hidup saya kan?" ucap nya yang merasa jengah.


"Ya, tentu bukan..." ucap Megan yang meminum teh yang di berikan untuk nya.


"Lalu apa tujuan anda ke sini?" tanya Diego yang menatap ke arah wanita itu.


"Ayo kerja sama, kau tidak ingin kekuasaan?" tanya nya yang menatap ke arah pria itu setelah meletakkan teh nya.


"Saya anggap tidak mendengar nya, anda bisa keluar." ucap nya yang kali ini mengusir bibi nya.


"Aku tau, kecelakaan kedua kakak laki-laki ku karna mu." ucap Megan yang tersenyum kecil dan menatap ke arah keponakan nya itu.


Diego terdiam beberapa saat, ia menatap ke arah wanita itu dan kemudian tertawa.


Selama ini yang ia pikir tau rahasia nya tentang hal itu hanya Lucas yang memang sejak awal sudah tau jika ia berencana membunuh sang ayah dan juga paman nya.


Dan tentu Lucas membiarkan nya karna ia memang tak pernah memiliki kedekatan pada sang ayah, apa lagi pada sang ayah yang selalu menyiksa nya secara emosional.


Megan mengernyit, ia menatap ke arah keponakan nya itu.


"Bibi? Anda tau kenapa anda masih hidup?" tanya nya yang mendekat ke arah wanita yang masih duduk di sofa itu.


"Karna anda tidak pernah melakukan apapun, anda selalu diam. Jadi kali ini anda pun harus bersikap seperti ular yang melingkar di sarang nya saja." ucap nya dengan nada yang menekan ke arah wanita itu.


"Kau tunduk pada Lucas hanya karna merasa bersalah sudah membunuh ayah nya juga? Atau karna dia tau rahasia mu itu? Jadi kau merelakan saham mu?" tanya Megan sekali lagi.


Seorang ibu yang kehilangan satu-satu nya putra yang di cintai nya tentu akan bisa melakukan apa saja.


Diego tak mengatakan apapun, dan tentu ia tak perlu menjelaskan jika bukan itu alasan yang sebenarnya.


"Anda tau saya adalah orang yang bisa membunuh ayah saya sendiri, walaupun begitu anda masih tidak takut? Mungkin saya akan menjerat leher anda dengan tali? Tali pancing contoh nya? Benang yang tajam itu akan bagus kan?" ucap nya yang kali ini kembali tersenyum ramah seperti biasa nya.


Megan tak mengatakan apapun, namun ia bangkit dari duduk nya dan beranjak pergi.


"Tawaran ku tadi masih berlaku, kalau kau berubah pikiran beri tau aku." ucap wanita itu yang memilih mengalah.


"Tentu Bi, hati-hati di jalan." ucap nya yang ingin wanita itu segera pergi.


Pintu apart nya telah tertutup dan otomatis terkunci langsung, senyuman formalitas itu langsung menghilang.


Ia melihat ke arah ponsel nya, mencari nama yang bisa di hubungi.


"Ya, lakukan seperti biasa." ucap nya dari telpon dan kemudian menutup nya.


Diego menarik napas nya, ia ke ruang pakaian dan beranjak mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur.


Srek!


Gantungan yang bergeser itu menimbulkan suara, mata nya yang berwarna abu-abu itu menatap ke arah kotak yang ia simpan.


Hey? Menangis lagi?


Sstt...


Anak pintar, tidak apa-apa...


Aku akan memukul batu yang nakal itu


Pria itu tersenyum getir, ia mengingat sesuatu yang sudah seperti mimpi itu namun ia perlahan melupakan sosok dari wajah yang memberikan nya pelukan hangat itu.


"Maaf..." ucap nya lirih yang masih tidak bisa melupakan nya bagaimana wanita itu mati dan alasan di balik kematian nya.


......................


Skip


Mata biru itu terdiam beberapa saat, ucapan yang di katakan oleh Lucas benar.


Tak ada siapapun yang menyewa tempat itu lagi sejak ia tinggalkan.

__ADS_1


Bahkan barang-barang remeh nya pun tak ada yang mengambil ada memindahkan posisi nya.


"Apa yang mau kau cari? Aku akan membantu mu." ucap pria itu yang menemani gadis di samping nya.


"Kotak! Dia dalam nya ada buku harian dan juga beberapa ikat rambut." ucap Anna yang langsung mengatakan apa yang ia inginkan tanpa menyebutkan tentang foto yang ia cari.


"Kotak ya?" Diego langsung berusaha bergerak untuk mencari nya.


Tapi gadis itu langsung beranjak mencoba mencari ke tempat yang ia tau terakhir kali.


"Ini dia!" Anna tesbeyum cerah sembari membawa nya.


"Kau tau di mana tempat nya tapi masih meminta ku mencari nya?" tanya pria itu menghela napas nya.


"Kan anda duluan yang menawari bantuan Sir," ucap Anna pada pria tampan itu sembari membuka kotak nya.


Tak ada satu pun barang nya yang kurang di dalam nya, semua nya masih utuh.


"Memang nya apa yang kau cari?" tanya Diego yang beranjak mendekat dan melihat ke isi kotak yang tampak remeh itu.


"Ini!" jawab Anna yang membuka lembaran buku harian nya untuk mencari foto nya.


"Saya tidak punya foto ibu saya sejak di pindahkan ke panti asuhan, rumah saya di jual tapi dia memberi tau makam ibu saya, dan di makam nya ada foto nya jadi saya ambil." terang Anna yang menjelaskan mengapa ia hanya memiliki satu foto ibu nya saja.


Pria itu mengangguk, ia tak tertarik lagi melihat nya karna sudah tau.


Ia pun beranjak melihat ke arah apart kecil itu, jujur saja ia merasa heran mengapa bisa ada manusia yang tinggal di tempat seperti itu.


Karna bahkan hewan peliharaan nya pun memiliki rumah yang lebih baik dari itu.


"Eh? Sir!"


Anna tersentak, awal nya ia ingin bangun namun begitu melihat ke arah pria yang membuka lemari nya ia langsung beranjak datang.


Bruk!


Diego membeku beberapa saat, barang-barang yang berantakan itu jatuh ke lantai.


"Seperti nya kau dulu sangat berantakan," ucap nya yang tersenyum melihat hal itu namun bukan senyuman tulus.


"Ya.. ya begitu lah..." ucap Anna lirih.


Tentu untuk ukuran anak yatim piatu yang tinggal sendiri untuk sekolah dan memenuhi kebutuhan hidup tak akan memiliki waktu untuk hidup rapi.


"Sir? Tadi foto yang saya pegang ke mana ya?" tanya nya yang kebingungan saat menyadari foto yang berada di tangan nya menghilang.


"Astaga, kau sangat ceroboh." ucap pria itu yang beranjak mencari di mana foto yang baru saja di temukan itu.


Mata abu-abu itu menatap ke arah potongan kertas yang berada di dekat kaki meja itu.


"Ini?" ucap nya yang memberikan nya dan tentu melihat juga siapa yang berada di dalam nya.


Deg!


Ia tersentak, tubuh nya membeku untuk beberapa saat ketika ia melihat wajah yang bahkan hampir ia lupakan itu.


"Anda sudah menemukan nya? Terimakasih Sir," ucap Anna yang berbalik mengambil foto itu dari tangan pria yang terdiam itu.


"Anna? Wanita di foto itu siapa?" tanya nya lirih yang bahkan tak bisa mengatur ekspresi nya.


"Wanita? Ini?" tanya Anna yang menunjuk nya.


"Yang ini saya, dan yang ini ibu saya." sambung yang menjelaskan.


Deg


Deg


Deg


Degupan jantung pria itu melaju dengan cepat beberapa saat, ia bagaikan mendengar omong kosong.


Seharusnya wanita yang berada di foto nya sudah mati sebelum gadis itu lahir tapi kenapa bisa ada di sana?


Greb!


"Sir?" Anna tersentak, pria di depan nya menatap nya dengan dalam hingga pantulan wajah nya terlihat di mata abu-abu.


"Katakan sekali lagi? Siapa dia? Dia harus nya sudah mati selama tiga tahun sebelum melahirkan mu," ucap nya pada gadis itu.


Wanita yang ia ingat itu meninggal saat usia diri nya dan sepupu nya 8 tahun tapi perbedaan umur mereka dengan gadis itu adalah 13 tahun.


"Dia ibu ku..."


"Wa.. walaupun kami tinggal berdua ta.. tapi dia ibu ku..." ucap Anna lirih yang meringis ketika lengan nya terasa sakit akibat cengkraman pria itu.


Diego membisu beberapa saat, kini ia tau mengapa wajah gadis itu tak asing untuk nya.


Tunggu?


Kalau dia belum meninggal waktu itu siapa yang di kubur?


Dan...


Bukan nya aku juga tidak melihat kremasi nya?


Kalau itu benar, berarti...

__ADS_1


Anak ini...


__ADS_2