Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Know You


__ADS_3

2 Hari kemudian.


JNN Grup


Pria itu menatap ke arah kertas di depan nya yang penuh dengan pekerjaan yang memusingkan.


Drrtt... Drrtt... Drrtt...


Getaran ponsel itu membuat mata nya menoleh, ia menatap ke atas seseorang yang memanggil nya dan kemudian mengangkat nya.


"Aku boleh ke sana?"


Suara wanita yang terdengar dari seberang membuat pria itu melihat sekilas ke ponsel nya karna ia menjawab tanpa melihat siapa yang memanggil nya.


"Tidak, tunggu aku di mansion." ucap nya dengan wajah yang datar dan dingin.


Ia memang suka jika bersama sang istri namun ia lebih suka lagi jika wanita itu hanya di mansion karna kesempatan kabur akan semakin sedikit.


"Tapi aku mau ke sana!"


Jawab sang istri yang terlihat kukuh ingin ke tempat yang sama seperti sang suami.


"Luc..."


Panggil nya lirih pada pria yang terdengar dingin itu.


"Untuk apa?" tanya Lucas dengan wajah yang datar saat bertanya.


"Karna aku mau ketemu kamu,"


Lucas tak menjawab, ia menukar tampilan di laptop nya dengan tampilan cctv lalu kemudian membuka pencarian yang tengah di telusuri oleh wanita yang tampak duduk di ruang tengah itu.


"Aku masih ada rapat, akan ku beri tau jika sudah selesai." jawab Lucas singkat dan kemudian menutup panggilan nya.


Pria itu diam sejenak, ia membaca pencarian dari sang istri di situs web.

__ADS_1


"Kenapa dia mencari tentang ini?" gumam nya yang memang tentu tak mengetahui semua hal di dunia.


......................


Mansion Damian


Wanita itu menutup telpon nya, ia menarik napas nya dan melihat apa yang ada di depan nya.


"Serangan jantung? Sampai di dosis yang mana?" gumam nya lirih sembari melihat ke arah komputer nya.


Anna mengangkat teh yang berada di dekat nya, tentu teh yang ia minum tak di beri apapun seperti untuk sang suami.


Tarikan napas terdengar, Anna melakukan pemesanan dan kemudian menutup laptop nya kemudian.


"Ini benar atau salah?" gumam nya lirih yang kemudian menatap ke arah pandangan luas di depan nya sebelum beranjak.


...


Greb!


Wanita itu tersentak, pelukan di pinggang ramping nya membuat nya tersentak dan kemudian langsung menoleh.


Suara yang rendah dengan bariton yang berat serta napas yang hangat di kelilingi dengan aroma parfum dan tubuh yang sudah saling menyatu membuat nya langsung menyadari siapa yang datang dan memeluk nya.


"Buku, kau yang membuat ku tidak bisa keluar jadi tentu aku akan membaca nya untuk menunggu mu kan?" tanya Anna yang menjawab sembari mengambil buku di depan nya.


Selama ia menghilang ia melanjutkan kuliah nya dengan jurusan yang berbeda, hanya saja kali ini ia membaca buku yang sama sekali tak sama dengan apa yang ia pelajari dulu.


"Tumbuhan? Bunga? Kenapa kau membaca nya?" tanya Lucas sembari mengendus leher jenjang sang istri.


"Hum? Itu..."


"Karna aku sedang tidak ada kegiatan," jawab Anna dengan senyuman kaku.


Lucas tak menjawab namun ia mengecupi leher jenjang istri nya.

__ADS_1


"Kalau begitu mau ku beri pekerjaan?" tanya pria itu sembari memasukkan tangan ke dalam kaus longgar yang di kenakan sang istri.


"Luc? Kamu lelah kan? Istirahat dulu, makan atau mandi dulu." ucap Anna saat tau kemana tangan itu melangkah.


Lucas berhenti sejenak dan kemudian membalik tubuh kecil sang istri.


"Mau mandi bersama?" tanya nya yang menatap ke arah mata biru itu.


Anna diam sejenak namun ia mengangguk saat mendengar ajakan sang suami.


...


Aroma sabun yang tercium mengharumkan itu membuat wanita itu menyadarkan diri nya pada perut dan dada bidang sang suami.


"Kamu masih pucat, gimana terapi nya?" tanya Anna yang menoleh ke belakang melihat ke arah pria yang berada di belakang tubuh nya.


"Berjalan dengan baik," jawab Lucas singkat sembari membuat sesuatu gambar yang abstrak di punggung sang istri.


"Luc?" panggil Anna lirih yang melihat ke arah air yang berbusa itu.


Tak ada jawaban namun tentu pria itu mendengar nya.


"Aku berencana membuat racun untuk mu, kau tidak perlu menderita lagi." ucap Anna dengan senyuman yang cerah sembari menoleh ke belakang.


Lucas diam sejenak, ia menarik pipi wanita yang mulus dan lembut itu lalu mengecup nya.


Humph!


Anna diam sejenak, kecupan yang singkat dan dalam itu membuat nya berkedip sesaat.


"Kau sudah seperti racun untuk ku, dan kau juga seperti obat untuk ku...''


"Tidak apa, bunuh aku lalu jangan lupakan aku."


Bisik pria itu yang membuat Anna terdiam, ucapan tanpa emosi. Tak ada kemarahan atau rasa kecewa sama sekali.

__ADS_1


"Bukan nya kamu harus nya marah? Kalau cuma kamu yang pergi aku bisa cari pria lain lagi, pria bukan cuma kamu kan?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.


"Aku mengenal mu, lebih dari yang kau pikirkan." jawab Lucas singkat yang mengecup pipi wanita nya.


__ADS_2