
Stone Craft Grup
Wanita itu melihat ke arah kurva yang meningkat di iPad nya.
Ia pun sama karna tak mengkonfirmasi apapun tentang berita yang tengah beredar saat ini.
"Dia tidak mengeluarkan konfirmasi untuk bantahan?" tanya wanita itu sembari melihat ke arah sekertaris nya yang menunggu nya.
"Tidak," jawab pria itu yang melihat ke arah wanita yang tampak diam itu.
"Apa menurut mu dia sudah tau? Tentang perusahaan cabang nya?" tanya Luciana sekali lagi.
"Entahlah, saya kurang yakin nona." jawab pria itu yang juga bingung bagaimana menjawab nya.
Luciana menarik napas nya, seharusnya pria itu sudah tau mengingat sudah berjalan beberapa bulan setelah ia mengambil saham perusahaan itu.
"Dia terlalu tenang, apa menurut mu dia akan meletakkan racun di teh ku nanti?" tanya wanita itu dengan candaan dan mata yang tajam.
Pria itu diam dan tak menjawab candaan bos nya itu.
Luciana pun menarik napas nya dan kemudian beranjak, "Kau sudah bisa keluar dan aku akan makan siang di luar jadi jangan hubungi aku untuk beberapa waktu ke depan." ucap nya yang mengisyaratkan agar sang sekertaris keluar.
Pria itu mengangguk, ia dengan sopan pun beranjak keluar dari ruangan bos nya.
......................
Cafetaria
Anna terdiam, ia berulang kali melihat ke arah wajah cantik wanita yang sebelum nya ia kagumi namun sekarang ia tak nyaman melihat nya.
Entah bagaimana wanita itu bisa berada di cafe yang ia biasa ia kunjungi dan kemudian memilih duduk di dekat nya.
"Kenapa kau diam saja? Dan melihat ku seperti itu?" tanya Luciana sembari memandang wajah yang enggan untuk bicara itu.
"Tidak, hanya saja aku..." ucap Anna lirih yang merasa situasi nya cukup canggung.
"Ada apa? Kau suka cake nya? Mau ku pesankan lagi?" tanya nya sembari menatap ke arah Anna.
Anna menggeleng, ia menatap ke arah wanita cantik berulang kali dan tampak sedikit gugup.
"A.. aku lihat kamu di berita..."
"Di.. Di sana kamu kata nya punya hubungan sama Presdir JNN..."
Luciana melirik dengan senyuman kecil dan kemudian tertawa.
"Ya, aku juga lihat berita nya." jawab nya dengan wajah yang tetap menunjukkan kecantikan dan elegan di setiap kata nya.
"Kamu ga bantah berita itu? Kalian kan ga ada hubungan apapun..." ucap Anna lirih yang tak bisa mengatakan sudah seterganggu apa ia dengan berita itu.
Luciana tertawa mendengar nya, "Kenapa aku harus hapus? Ku rasa tidak ada yang buruk dengan itu."
"Ta.. tapi kan kalian ga punya hubungan apa-apa!" ucap Anna sekali lagi saat melihat wajah santai wanita cantik itu.
"Dari mana kau tau? Kau tidak memantau kami kan?" tanya nya dengan tawa kecil.
"Tapi kan..." Anna tersentak mendengar nya, memang benar ia tak mungkin tau untuk apa yang tidak ia lihat.
"Lagi pula berita itu juga bagus, dan kalau kami nanti menikah pasti akan memiliki dampak yang lebih bagus lagi." ucap Luciana yang membuat gadis di depan nya mematung.
"Me.. menikah?" tanya Anna mengulang dengan suara yang gemetar.
"Ya, itu bukan hal yang buruk sekarang dan itu juga penawaran yang sangat bagus kan? Menurut mu aku cocok dengan pria itu?" tanya Luciana yang pura-pura tak tau hubungan gadis itu.
Anna tak menjawab. Ia hanya diam tanpa mengatakan apapun yang bisa ia keluarkan dari lidah nya.
......................
Mansion Walker
"Ini apa?"
Suara bariton yang terdengar lebih berat karna faktor usia itu membuat langkah seorang pria yang berjalan itu berhenti.
Ia tak menjawab namun melihat ke arah kartu nama yang di pegang oleh sang ayah.
Pria yang tampak berumur setengah abad lebih itu terlihat murka. Ia meremas kartu nama itu dan melempar nya ke wajah putra nya.
"Kau mau membuat ku malu sampai mana lagi? Sudah masuk jurusan yang tidak jelas dan kemudian kau masuk agensi? Mereka bilang kau sudah tanda tangan kontrak nya!" ucap pria itu yang sudah tampak murka.
Gevan tersenyum, lebih tepat nya ia ingin tertawa melihat sang ayah yang baru kali ini berbicara dengan nya lagi.
"Sekarang baru peduli?" tanya nya yang melihat dengan senyuman tipis.
"Apa?" pria itu mengernyit menatap ke arah putra nya.
"Sebelum nya Papa juga tidak pernah peduli, mau sekolah ku bagaimana? Mau aku kerja apa? Mau aku lakukan apa? Papa pernah peduli? Mau aku sakit, mau aku sehat. Papa pernah lihat?" tanya nya yang menatap ke arah sang ayah.
__ADS_1
"Aku ini kerja untuk mu! Dasar anak kurang ajar!" ucap nya yang membentak putra nya itu.
Gevan mengepalkan tangan nya saat mendengar hal itu, alasan ia sudah menyerah dengan sang ayah karna ia sudah mengetahui rahasia lain yang di simpan pria tua itu.
"Untuk ku atau untuk wanita simpanan dan anak mu yang lain itu? Kau tidak punya waktu untuk ku tapi punya waktu untuk mereka!" ucap nya dengan meninggikan suara nya.
"A.. apa?!" pria itu tersentak, ia memang menyembunyikan hubungan nya.
"Apa nanti aku juga akan bagi aset dengan anak mu itu?" tanya Gevan sekali lagi.
"Diam!" pria itu memilih untuk menutup mulut putra nya.
"Dulu ku pikir kau tidak mau melihat ku karna menganggap aku yang membuat Mama meninggal, ternyata punya yang lain. Ck! Pantas!" ucap nya yang berdecak namun dengan senyuman miring.
Pria itu tak mengatakan apapun untuk sesaat dan melihat ke arah wajah putra nya.
"Aku saja sampai bingung. Apa nanti kalau aku mati Papa datang ke pemakaman ku?" tanya nya lagi dengan senyuman tipis.
"Gevan! Kalau kau membuka mulut mu lagi aku akan-"
"Akan apa? Pa? Bahkan sampai sekarang Papa juga tidak pernah tanya alasan kenapa aku sejauh ini kan? Sekarang pun juga, Papa tidak mau tau alasan aku pilih agensi ini? Atau jurusan ku?" potong nya pada sang ayah.
Tak ada balasan yang terdengar dari pria itu, "Keluar dari agensi itu dan pindah jurusan mu." ucap nya yang memilih diam dengan semua pertanyaan itu.
Walau bagaimana pun ia tetaplah seorang ayah dan masih memiliki setidaknya cinta kasih yang ada di hati nya walaupun sedikit.
"Kenapa aku harus menurut?" tanya Gevan yang tak ingin mendengar perintah ayah nya.
"Karna kau masih anak ku!" ucap nya yang langsung menjawab dengan tegas.
Gevan diam sejenak sebelum menjawab. "Lalu? Bagaimana cara nya agar aku tidak jadi anak mu lagi?" tanya yang menatap ke arah sang ayah.
Plak!
"Anak kurang ajar!" ucap nya yang kali ini benar-benar murka.
Wajah pria itu tampak tak meringis atau pun terluka dengan tamparan yang ia terima. Rasa nya sudah hambar sekarang karna ia tak ingin lagi mencari perhatian sang ayah.
"Kalau kau tetap mau seperti itu! Keluar dari rumah ini dan jangan menggunakan sedikit pun fasiltas yang ku berikan!" ucap nya yang begitu kesal.
"Baik," ucap nya singkat yang meletakan tas nya, melepaskan jam tangan nya dan mengubah sepatu nya hanya dengan memakai sandal rumah.
"Aku akan bawa handphone dan pakaian ku, aku akan kirim biaya nya nanti." ucap nya yang berbalik.
Pria itu tersentak, memang tidak ada yang lebih mengerikan dari hilang nya harapan seseorang.
"Kenapa aku harus kembali? Lagi pula tidak akan ada yang menunggu ku kan? Dan lagi kau juga tidak akan kehilangan ku, kau punya anak yang lain dan kau juga selalu memperlakukan ku seperti tidak ada." ucap nya yang terlihat seperti benar-benar ingin pergi.
"Sama seperti mu, ku rasa aku juga lelah jadi anak mu..." sambung yang kemudian keluar.
Suara pintu yang tertutup itu terdengar dan pria itu kini sendirian.
"Sampai mana kau bisa bertahan!" ucap nya yang merasa putra nya akan kembali dengan sendiri nya tanpa ia tau putra nya sudah menyerah dengan nya.
Masa di mana anak lelaki itu tumbuh dan begitu menginginkan sosok ayah sudah terlewati. Rasa harapan yang besar dan kemudian datang kekecewaan membuat nya sudah lelah.
......................
Mansion Damian.
Lucas menatap ke arah gadis itu yang kali ini pun berisik lagi tentang masalah berita itu.
"Aku bilang aku tidak akan menikah dengan dia kan? Kau pikir aku gila mau dengan wanita seperti itu?" tanya nya pada Anna.
"Kenapa? Dia kan cantik, pinter, kaya bisa buat saham kamu naik!" ucap Anna yang menatap ke arah pria di depan nya.
"Kau memang benar tapi aku tidak setuju di bagian dia cantik, kau lebih cantik." ucap nya yang tentu hanya beranggapan wajah yang pertama kali bisa ia lihat itu adalah yang tercantik.
Anna diam sejenak, ucapan seperti tak mempan lagi pada nya.
"Kalau begitu kamu nikah nya sama siapa?" tanya Anna lagi dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
"Kau tanya hal seperti itu pada ku?" tanya Lucas yang merasa heran dengan pertanyaan yang sudah ada jawaban nya itu.
Anna memamgguk mendengar nya, ia tak tau sudah sebanyak apa ia bergantung dengan pria itu sampai membuat nya kehilangan diri nya sendiri.
"Tentu saja kau, kalau kau mau aku bisa mempercepat nya. Sebelum nya aku berniat setelah kau lulus." ucap Lucas yang memang sudah ada niatan untuk menikahi gadis itu.
"Benarkah?" Mata biru yang jernih itu menatap dengan berbinar pada pria yang berada di depan nya.
Setidak nya ia sekarang sedikit tenang walaupun pria itu masih belum memberikan kata-kata penenang untuk nya.
......................
Tiga hari kemudian.
JNN Grup
__ADS_1
"Kau akan bawa Anna sebagai pasangan mu?" tanya Diego saat melihat ke arah sepupu nya.
Tentu ia pun juga mendapatkan undangan ulang tahun perusahaan elektronik yang besar itu.
Lucas diam sejenak, ia ingat terkahir kali ia membawa Anna, banyak mata yang tertuju pada nya dan ia benci tatapan para pria itu.
"Tidak," jawab Lucas singkat karna membawa gadis itu lagi tanpa hubungan yang sudah benar-benar resmi hanya akan membuat para kumbang itu mendekat.
"Apa menurut mu aku percepat saja?" tanya nya yang menatap ke arah sepupu nya.
"Apa?" Diego tak mengerti.
"Pernikahan, setidak nya orang-orang tidak akan terlalu mudah mendekati nya dan aku bisa membawa nya sebagai pasangan resmi ku." ucap Lucas yang membayangkan jika hal itu terjadi.
Tanpa tau mungkin saja ia nanti nya akan menikah tanpa pengantin wanita.
Diego tak menjawab, kecurigaan nya bahkan belum terjawab dan tentu ia tak sepenuh nya setuju dengan pernikahan itu.
Lucas tak menanyakan apapun lagi, tentu ia sekarang tengah membangun planning nya.
Di mulai dari peluncuran produk terbaru nya lebih dulu dan kemudian mencekik tikus yang berani mencuri dari nya itu dan setelah nya ia bisa mewujudkan pernikahan nya.
......................
Universitas.
Mata biru itu membulat menatap ke arah kartu agensi yang cukup besar itu.
"Kamu beneran masuk ke sini?" tanya nya tak percaya.
"Ya, aku kan sudah bilang akan jadi bintang juga." ucap pria itu dengan tersenyum melihat ke wajah cantik gadis itu yang berbinar.
"Wah! Aku juga mau!" ucap Anna yang merasa iri namun ia juga merasa senang.
"Kalau begitu aku akan terkenal lebih dulu dan kau bisa numpang nama dengan ku, jadi kita akan bersinar bersama?" tanya Gevan yang tertawa kecil.
"His! Nama nya parasit itu!" ucap Anna yang menjawab dengan raut kesal.
"Kan aku cuma nawarin!" ucap Gevan yang tersenyum kecil.
Setelah pertengkaran dengan sang ayah pria itu pergi ke agensi nya untuk mengajukan asrama.
Dan tentu untuk menaikkan nama nya ia harus benar-benar berusaha.
......................
Dua minggu kemudian.
Skip
Hotel
Perayaan di aula hotel yang mewah, kembang api yang dengan meriah nya menari di langit malam.
Namun bukan itu yang menjadi prioritas sekarang.
Jantung gadis itu berdetak dengan kencang, tangan nya gemetar memegang kartu untuk membuka pintu kamar presiden suite itu.
"Ka.. kalau ini cuma iseng gimana?" ucap nya yang gugup dan berulang kali ingin pergi namun ia tak bisa berbalik.
Semua keberanian di dalam diri nya ia kumpulkan, dan benar saja ketika ia meletakkan kartu kamar itu maka pintu terbuka.
Gadis itu masih mematung sejenak, ia menatap ke arah ruangan dengan dekorasi mewah itu sampai,
"Anna?"
Suara wanita membuat nya tersentak, ia membatu sesaat ketika melihat ke arah wanita yang memakai mantel mandi dengan rambut yang basah itu.
Kaki nya seperti tertancap di lantai dan mata nya menelusuri ruangan mewah itu sampai netra nya menangkap sesuatu.
Deg!
Deg!
Deg!
Lidah nya kelu, ia tak bisa mengeluarkan suara apapun dari tenggorokan nya. Wajah nya mematung.
Ia melihat ke arah pria yang tengah mengancingkan kemeja nya itu, mata nya bertemu satu sama lain tanpa suara.
Wajah pria itu datar, tak mengatakan apapun atau menunjukkan kepanikan.
Ia memakai kemeja nya lagi dan mengambil jas nya yang di lantai, kemudian berjalan mendekat.
"Kenapa kau bisa di sini?" suara bariton itu bertanya pada nya, alis yang mengkerut dengan ekspresi datar yang tak bisa ia baca namun membuat nya merasa kehadiran nya tidak di perlukan di tempat itu.
"Ayo, Keluar." ucap pria itu tanpa mengatakan sepatah kata pun pada wanita yang baru saja mandi itu dan kemudian menarik tangan gadis nya.
__ADS_1
Gadis itu tak bisa mengatakan apapun, ia tak tau namun rasa nya ada sesuatu yang remuk tanpa bisa ia ketahui apa itu.