
Tiga hari kemudian
Mansion Damian
Diego menarik napas nya tak percaya, kotak kaca yang memiliki udara yang begitu dingin menjadi tempat tidur seseorang.
"Luc? Kau gila?! Dia sudah mati! Kau harus lakukan pemakaman nya!" ucap nya yang tak percaya.
Sepupu nya tak datang ke perusahaan bahkan setelah liburan nya berakhir dan membuat nya datang dengan sendiri nya hingga tau hal yang tak bisa di ceritakan itu.
"Belum, dia masih hidup. Dia hanya tidur sebentar lalu bangun lagi nanti dan sampai saat itu aku akan menjaga tubuh nya dulu." jawab Lucas dengan datar dan tatapan wajah yang kosong.
Diego kehabisan kata-kata ia membuang wajah nya sampai menangkap mata jernih yang mengintip di balik pintu.
"Estelle? Lalu kau mau apakan dia?" tanya Diego yang tau jika putra dari sepupu nya itu mengintip.
Lucas menoleh mendengar nama anak kesayangan sang istri yang baru saja di sebut.
"Dia? Dia tetap akan sama, lagi pula aku memberi nya semua fasiltas yang cukup kan?" jawab Lucas yang tau walaupun ia tak menyayangi putra kandung nya namun ia juga tak membenci nya sama sekali.
"Kau yakin yang dia butuhkan itu uang mu?" tanya Diego mengulang.
"Kalau dia tumbuh tanpa uang dia tidak akan jadi apapun, jangan munafik." ucap Lucas yang tentu tau jika semua orang membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
"Dia juga butuh orang tua nya, kau pikir semua orang yang ada di sini bisa waras kalau kau menyimpan mayat? Dan lagi anak itu harus melihat ayah nya yang terus menunggu di samping ibu nya yang sudah mati?" tanya Diego yang walaupun ia terkejut namun ia tetap ingin di adakan pemakaman yang layak untuk Anna.
Lucas tak menjawab, walaupun ia sudah memberi tau kronologi singkat nya namun sepupu nya tetap memaksa nya untuk memakamkan wanita yang tentu nanti nya ia tak akan bisa melihat nya lagi.
"Keluar,"
Diego diam sejenak saat mendengar satu kata yang terdengar menyebalkan itu.
"Aku akan kembali Minggu depan ke JNN, jadi sekarang kau bisa pergi." ucap Lucas dengan dingin dan tatapan yang masih menatap ke dalam kotak kaca yang sedingin es itu agar tak membuat daging membusuk.
Diego tak mengatakan apapun, ia beranjak keluar dan tentu menarik anak kecil yang mengintip di balik pintu itu.
...
Tangan mungil itu di gandeng, tak ada penolakan atau tangisan.
"Ada yang mau kau tanyakan?" ucap nya yang mengentikan langkah nya dan berjongkok di depan anak kecil yang terlihat terus diam itu namun dengan wajah yang menyimpan sejuta pertanyaan.
"Mama kan kedinginan, kenapa Papa letak Mama di situ?" tanya nya yang tak mengerti.
Ketika ia menyentuh tangan ibu nya, ia tau jika suhu itu terlalu dingin namun sang ayah malah tetap meletakkan ibu nya di kotak yang juga begitu dingin.
Diego diam sejenak dan tak menjawab nya karna ia masih mencari jawaban.
"Karna Mama kamu sedang sakit jadi dia di tempat itu dulu." ucap Diego sembari melihat mata bulat yang tampak bisa percaya dengan ucapan nya.
Estelle diam tak lagi bertanya seperti sudah mengerti.
"Telus Mati itu apa? Kenapa nama Mama di ubah jadi mayat?" tanya nya yang bingung.
Ia merasa ibu nya sudah ganti nama dua kali karna sebelum nya yang tau nama wanita yang melahirkan nya adalah Varsha Arsene namun setelah ayah kandung nya datang makan berubah menjadi Maurenne Arianna dan sekarang?
Anna Maurenne berubah menjadi Mayat tanpa ia tau jika 'Mayat' bukanlah nama seseorang.
Diego lagi-lagi sulit menjawab, pertanyaan dari anak pendiam tenyata sangat tak mudah.
Ia memegang bahu mungil itu dan menatap mata abu-abu yang sangat mirip dengan sang ayah.
"Tadi Paman bilang kalau Mama sedang sakit kan?" tanya nya mengulang pernyataan nya.
Satu anggukan terlihat, dengan wajah polos yang tampak berusaha untuk mengerti.
"Karna Mama sakit maka nya Mama jadi mati, dan mati itu artinya tidak akan bangun lagi. Karna Mama tidak akan bangun lagi maka nya orang lain mengatakan dia mayat." terang Diego yang menatap ke arah anak kecil itu.
Estelle masih diam, bagi nya cukup aneh dan tiba-tiba mendengar ibu nya tak akan bangun lagi sedangkan ia masih tak tau apa itu arti nya mati.
"Kenapa Mama ga mau bangun? Kalna Estelle? Kalna Estelle buat Mama nangis? Waktu Estelle masih ga bisa gelak Estelle selalu dengel Mama nangis buat minta Estelle bangun..." ucap nya dengan polos yang seperti tak tau.
Diego diam sekali lagi, ia tau anak itu pernah memasuki kondisi vegetatif dan koma lalu sadar tanpa ada kecacatan sama sekali seperti sebuah keajaiban.
"Kau dengar apa yang pernah di bilang Mama mu?" tanya Diego mengernyit.
Satu anggukan menjadi jawaban dari anak kecil yang mungil itu.
"Mama bilang kalau Mama mau Estelle bangun telus Papa bilang kalau mau Estelle yang mati, itu mati yang sama kayak Mama?" tanya nya dengan wajah polos seperti tak mengerti.
Diego tak menjawab apapun, ia menatap ke arah anak kecil itu dan kemudian kembali berdiri.
"Kau mau makan cake?" tanya nya yang kembali menggandeng tangan mungil di samping nya.
__ADS_1
Estelle menggeleng, ia mau makan makanan yang manis itu namun ia mau buatan ibu nya.
"Mau Mama..." jawab nya singkat yang hanya menginginkan ibu nya karna ia masih belum bisa begitu mengerti apa arti kata 'mati' yang di jelaskan.
...
23th June, 2031
Luc?
Aku ga tau kenapa buat ini, mungkin biar kelihatan seperti yang di film.
Kan biasa nya kalau ada ucapan yang ga bisa di katakan selalu kirim dari pesan atau surat.
Tapi aku tidak tau cara nya buat pesan waktu jadi aku buat surat aja...
Rasa nya tuh aneh tau, buat surat begini, tapi ga apa-apa.
Karna ada yang mau aku bilang tapi bisa ga bisa aku bilang langsung.
Sebenernya aku yang buat kamu sakit, aku yang selalu kasih kamu teh yang udah aku campur bahan kimia lain yang bisa buat kamu sakit.
Aku mau lihat kamu menderita, aku mau lihat kamu itu bener-bener sakit dan mati biar aku bisa tenang sama Estelle.
Biar Bibi Camilla bisa tenang karna aku udah buat orang yang bunuh dia jadi mati juga.
Aku jahat kan?
Iya aku tau, karna aku jahat aku harap kamu benci sama aku terus kamu boleh kok marah sama aku.
Tapi jangan sama Estelle ya?
Dia ga salah apa-apa, dan lagi dia juga ga bisa milih kan siapa orang tua nya.
Memang dia bukan ada di rencana hidup kamu, tapi kamu juga jangan lupa kalau dia hidup juga karna kamu.
Aku ga bisa tuh buat Estelle sendirian, buat juga barengan sama kamu kan?
Luc? Sebenernya aku minta liburan karna ada yang mau aku buat sama kamu, aku itu jahat Luc...
Aku mau lihat kamu sakit, tapi aku itu juga aneh, karna kalau lihat kamu sakit rasa nya ku juga ikutan sakit tapi aku ga bisa berhenti juga...
Aku ga tau kapan mau bilang ini sama kamu karna mungkin setelah liburan aku udah ga bisa bicara sama kamu lagi.
Tadi aku baru beli apa gitu, aku lupa nama nya tapi katanya bisa buat organ di dalam tubuh kita jadi rusak, aku mau kasih itu ke kamu.
Aku jahat kan?
Tapi Luc...
Apapun yang terjadi nanti aku juga ga akan tau, sebenarnya aku mau lihat kamu yang pergi, tapi rasa nya aku juga udah ga tahan Luc...
Aku benci kamu, sebenci itu sampai buat kamu sakit tapi...
Kamu juga orang pertama yang pernah sayang sama aku, aku juga ga tau kamu itu beneran sayang atau cuma obsesi aja sama aku?
Tapi sebelum aku minta maaf, aku mau bilang terimakasih.
Karna kamu orang pertama yang pernah bilang kalau aku berharga, kalau aku juga pernah di cintai seseorang dan aku bukan penyesalan karna udah lahir...
Luc?
Mungkin aku munafik tapi, sebenarnya aku mau lihat kamu bahagia, aku dan juga Estelle...
Apa itu bisa?
Kamu, aku...
Kita?
Kita bisa bahagia?
*Luc? Kalau nanti aku berubah pikiran, atau ada yang terjadi sama aku, aku ga minta banyak...
Aku ga akan minta kamu buat sayang sama Estelle ku, aku cuma minta kamu buat jagain dia, jangan benci dia walaupun kamu ga akan bisa sayang...
Anggap aja permintaan aku sebagai hadiah pernikahan kita*...
^^^~Maurenne Arianna^^^
....
Pukul 12.30 am
__ADS_1
Pria itu masih duduk di tempat yang sama, menunggu seseorang untuk bangun seperti hanya sebuah mimpi buruk di musim dingin.
Kotak yang dingin dan bersih berisi banyak bunga mawar putih dan seorang wanita yang memakai gaun berwarna biru muda seperti mata seseorang.
Tangan nya meremas kertas yang berisikan tulisan yang ia temukan di tempat biasa ia mengambil jam tangan nya.
Mungkin agar lebih mudah untuk ia tau.
"Kau menyuruh ku menjaga anak itu? Kalau aku melakukan nya kau akan bangun? Jawab? Jangan bersikap seperti tidak mendengar ku?!" tanya nya yang menatap ke arah sang istri dengan mata yang sayup.
"Kau mau membunuh ku kan? Seharusnya kau tidak merubah rencana mu..." gumam Lucas yang kali ini menurunkan suara nya menjadi lebih pelan.
Tak ada jawaban sama sekali seperti putri tidur yang cantik, mata dan wajah yang sudah di berikan riasan itu hanya memejam.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Seharusnya kau membawa ku..." gumam nya lirih.
......................
Dua Bulan kemudian.
Apart
Wanita itu memeluk erat pria yang ada di depan nya sembari melihat ke arah dua garis yang ada di stick tes yang ada di tangan nya.
"Aku hamil!" ucap nya dengan senyuman cerah.
Pria itu tak mengatakan apapun namun ia ikut tersenyum.
"Kita akan ke dokter nanti, untuk konsultasi." ucap nya yang ikut senang walau tak begitu menunjukkan kegembiraan itu seperti kekasih nya.
"Berarti kamu nanti jadi Papa?" tanya nya yang menatap dengan mata yang berbinar.
"Iya," jawab nya dengan senyuman tipis.
"Aduh! Rasa nya jadi mau di nikahin! Hihi!" tawa nya riang yang kemudian pergi ke arah dapur.
Pria itu tak mengatakan apapun tentang ajakan pernikahan namun ia tak marah, mungkin belum sekarang tapi setelah ia merasa jika pernikahan bukanlah ikatkan yang akan 'memisahkan' pasangan ia akan melakukan nya.
"Ku mohon tunggu sedikit lagi," gumam nya yang menatap ke tempat di mana kekasih nya menghilang.
Mungkin secara hukum wanita itu bukanlah istri nya namun, secara kehidupan yang ia jalani wanita itu sudah lebih menjadi sang istri karna ia menganggap wanita itu sebagai pasangan hidup nya.
Dan sebelum itu ia juga tak mengatakan apapun tentang teman kekasih nya yang telah tiada karna ia tak ingin merusak kebahagiaan yang sudah di jalani kekasih nya saat ini.
Terlebih lagi sepupu nya juga tak pernah mendaftarkan kematian Anna atau pun tak pernah memakamkan nya.
......................
Mansion Damian
Meja makan yang tampak begitu sunyi dengan hanya dua orang yang saling menatap makanan tanpa berbicara sedikit pun.
Pria itu meletakkan sendok nya, ia melirik ke arah anak kecil yang walaupun sangat mirip dengan nya secara fisik namun memiliki kebiasaan yang hampir sama dengan ibu nya.
Di mulai dari cara memegang sendok atau atau cara ia memulai memakan sesuatu.
Pemikiran yang terasa sedikit dangkal dengan pembenaran dan logika yang tak masuk akal.
Pria itu berpikir jika ia melakukan apa yang di inginkan wanita nya mungkin hidup yang seperti mimpi buruk itu akan hilang.
Karna sampai sekarang pun ia masih belum bisa menerima kematian dari wanita nya.
Jika ia akan terbangun dan sang istri yang sangat ia cintai itu memuji apa yang ia lakukan karna sudah menjaga Esttele kesayangan nya.
"Kau akan sekolah mulai Minggu depan," ucap nya yang menatap ke arah anak kecil itu dan membuat mata abu-abu yang sama seperti nya menoleh.
"Mama kapan bangun?" Estelle bukan nya senang atau mengatakan balasan yang sejalan dengan ucapan sang ayah.
Namun ia malah menanyakan tentang ibu nya yang masih juga tertidur.
"Pa? Mama kedinginan di sana, Mama ga boleh keluar?" tanya nya dengan mata dan wajah yang polos walaupun ekspresi nya terkesan datar.
Lucas tak menjawab, tangan nya menggenggam dengan gemetar karna hal itu membuat nya sadar jika kini sang istri tak ada lagi bersama nya.
Brak!
Esttele terdiam, pria itu menggebrak meja saat bangun dan kemudian meninggalkan nya.
Ia takut dan merasa kesepian namun ia juga tak mengeluh ataupun menangis.
Anak malang yang tampan itu hanya diam dan kemudian melihat makanan nya.
"Ma? Kapan bangun? Kata nya mau ajak Estelle pulang?"
__ADS_1
Gumam nya lirih saat melihat kembali ke arah makanan lezat yang terasa hambar di lidah nya.
Waktu berjalan dengan kejam tanpa berhenti ataupun terulang, dan tentu seperti benih tumbuhan seseorang pun juga akan tetap tumbuh tanpa bisa di hentikan.