Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Menyentuh


__ADS_3

Wanita itu tersentak, ia sadar telah memukul putri nya dan langsung beranjak memegang wajah cantik anak yang ia lahirkan dari rahim nya itu.


"Sam? Kamu ga apa-apa sayang?" tanya nya dengan suara lembut sembari memegang wajah putri nya itu.


Samantha tak mengatakan apapun, bibir nya bungkam seribu bahasa dan bahkan tak mampu melihat ke arah ibu nya yang mengkhawatirkan nya.


Ia berbalik, menepis halus tangan yang selalu mengusap nya dengan kasih sayang itu dan beranjak ke kamar nya.


"Sam?"


Mrs. Laura mengikuti langkah kaki putri nya sampai ia berhenti ketika pintu kamar itu tertutup untuk nya dan tak terbuka.


"Kamu mau tidur nak? Istirahat yah? Maaf, Mamah lagi sedikit sensitif saja..." ucap nya pada putri nya itu.


Samantha tak menjawab apapun, ia duduk di atas tempat tidur nya dan meneteskan air mata nya.


"Pasti bohong..."


"Yang aku dengar tadi bohong..." gumam nya lirih.


......................


Sekolah


Gadis itu mengambil seragam olahraga nya dari loker, sedikit sunyi tak ada lagi teman nya yang berisik seperti biasa nya.


Samantha membuang napas nya, ia melirik ke arah teman sekelas nya yang seperti nya, mengambil seragam olahraga untuk di pakai.


"Ann?" panggil nya lirih dengan suara yang sangat pelan dan sekarang terasa begitu canggung.


Gadis yang saat ini mengikat rambut pirang bergelombang nya itu kebelakang tak mendengar.


Ia menutup loker nya dan beranjak pergi, sedangkan suara seseorang yang memanggil nya tak bersuara dan seakan tenggelam di tenggorokan.


...


Pelajaran yang meningkatkan stamina itu di mulai, permainan voli yang di lakukan saat ini.


"Sudah di bagi tim nya, masuk dan ambil posisi masing-masing." ucap sang guru dan kemudian mundur agar membiarkan siswa-siswi nya itu memulai sendiri permainan nya.


Lemparan bola di mulai, suara yang terdengar dari permainan para siswa siswi itu memenuhi ruangan olahraga itu.


Terkadang senyuman terlihat di wajah para regu yang mencetak nilai namun,


"Loh? Ann? Kamu tadi kena bola?"


Gadis itu tersentak, guru pun mulai menghentikan permainan dan melihat ke arah salah satu siswi nya.


Anna mengernyit, ia tak merasakan apapun selain sesuatu yang mengalir jatuh dari hidung nya.


Darah lagi? Apa aku panas dalam lagi? Masa iya kelelahan terus?


"Kena bola tadi?" tanya sang guru yang mendekat.


"Tidak, Sir." jawab Anna menggeleng pada sang guru.


Pengajar yang mengenakan celana training dan baju olahraga itu pun berbalik.


"Sam? Antar Anna," ucap nya yang menyuruh gadis yang berada di sisi lawan saat bermain itu karna sebelum nya di pelajaran olaharga juga gadis itu lah yang mengantar teman nya.


Samantha yang awal nya hanya melihat dari jauh perlahan mendekat, "I..iya Sir.." jawab nya yang gugup karna ia merasa begitu canggung dengan teman yang biasa nya selalu bersama nya itu dulu.


Anna tak mengatakan apapun, ia tak menolak ataupun menatap ke arah teman nya.


...


UKS


Perawat yang berjaga pun langsung datang mendekat dan mencoba menghentikan darah mimisan yang keluar dengan lancar seperti ada yang bocor di dalam kepala gadis itu.


"Kau merasa pusing?" tanya nya pada gadis remaja itu.


Anna menggeleng, ia tak merasakan apapun namun tentu wajah nya mulai pucat saat ini karna terus mengeluarkan darah dari hidung nya.


Perawat itu tak menyia-nyiakan apapun lagi, ia hanya fokus untuk menghentikan perdarahan agar tak terjadi kejang.


15 menit kemudian


Ruangan yang memang selalu hening itu kini kembali sunyi setelah keributan yang sempat terjadi akibat gadis yang datang dua kali ke UKS hanya karna mimisan.


"Kenapa masih di sini? Kamu kan harus nya balik," Anna merasa tak nyaman.


Teman nya itu terus berada di ruangan itu dan menatap ke arah nya.


"Ann? Kamu bilang kamu ga bisa lihat aku karna kamu jadi teringat ayah kamu kan?" tanya nya sembari menjentik kuku kuku nya satu sama lain.


"Hm..." Anna tak menjawab, hanya deguman nya yang mengatakan 'Ya'


"Kamu benci sama dia?" tanya nya lagi pada gadis itu.


Anna menoleh, ia menatap dan mengernyit melihat ke arah gadis itu.


"Kenapa kamu tanya itu?" ucap Anna mengernyit.


"Aku cuma mau tau aja, kamu bilang kan kamu ga mau temenan sama aku karna ingat ayah kamu jadi..." Jawab Sam yang tak bisa melanjutkan kalimat nya.


"Iya, aku benci." Anna membuang napas lirih saat menjawab pertanyaan gadis itu sebelum nya.


"Dia ga pernah datang di ulang tahun, di hari pertama aku masuk sekolah, dia juga ga pernah ngabisin waktu sama aku atau sama Mama ku, aku rasa dia juga nikah waktu Mama ku meninggal." sambung nya lirih.


"Tapi, mungkin dia ga sempat! Dia mungkin aja-" tanpa sadar Samantha membela sang ayah karna yang ia tau ayah nya adalah manusia super yang begitu baik di dunia.


Namun ucapan nya terpotong, tatapan dari gadis itu membuat lidah nya kelu dan tak bisa mengatakan apapun.


"Dia punya banyak waktu, sebelum Mama ku meninggal dia kadang pulang tapi dia ga pernah lihat aku, mereka cuma bertengkar." ucap Anna yang membuat gadis itu bungkam seketika.


"Ann?" panggil nya lirih.


Anna tak menjawab namun mata nya menoleh ke arah gadis itu.


"Kamu kesulitan?" suara yang terdengar berat itu bertanya.


Mata biru itu menatap, wajah yang tak mengatakan apapun namun menjawab pertanyaan itu.


"Aku balik dulu, nanti aku minta Sena yang jemput atau kalau kamu perlu sesuatu bisa telpon aku." ucap nya pada gadis itu.


"Sam? Kamu tau? Aku selalu berharap kalau orang itu ga akan pernah bahagia, aku juga berharap wanita yang buat Mama ku menangis setiap hari akan menangis juga sampai dia lupa cara tersenyum." ucap nya sebelum gadis itu beranjak keluar.

__ADS_1


Samantha tak mengatakan apapun, ia hanya membuka pintu nya dan beranjak keluar.


...


Jam pulang.


Seluruh siswa dan siswi di sekolah besar itu berhamburan keluar. Ada yang berlari, ada yang tertawa, ada yang hanya berjalan sampai menuju ke halte atau pun menunggu jemputan nya.


"Pa?" Gadis itu beranjak mendekat pada sang ayah yang kali ini menjemput nya lagi.


"Papa tumben jemput Sam?" tanya nya yang bingung karna biasa nya sang ayah akan bekerja dan jarang memiliki waktu untuk menjemput nya.


Mr. Harris hanya mengusap kepala putri nya, "Teman yang waktu itu sama kamu sudah pulang?" tanya pada putri kesayangan nya itu tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan pada nya.


Samantha menggeleng, ia menatap ke arah sang ayah, "Yauda kamu masuk ke mobil dulu, Papa mau nemui teman kamu itu, kemarin kan Papa ga sengaja mukul dia." ucap nya dengan senyuman lembut pada putri nya.


Samantha diam, ia melangkah ke mobil lebih dulu dan menunggu. Ia tak tau sang ayah memang ingin meminta maaf atau membicarakan hal lain.


Mr. Harris menunggu di dekat pintu keluar gedung besar sekolah itu sampai seseorang yang ingin ia temui keluar.


Anna menghentikan langkah nya, ia tersentak melihat pria yang berdiri menatap nya itu.


Langkah nya memundur, ia berbalik tak ingin melihat wajah yang setiap kali ia lihat selalu membuat dada nya bergemuruh.


"Anna? Maurenne Arianna?" Panggil Mr. Harris pada gadis itu.


Langkah Anna terasa berat, ia tak bisa berbalik menatap ke arah pria yang memanggil nya.


"Nak?" suara yang memanggil nya kali ini menurunkan nada nya.


Deg!


Sekali lagi Anna membatu mendengar nya, bukan nya merasa luluh mendengar panggilan pria itu melainkan api di dalam dada nya semakin menyeruak membara.


Ia berbalik, menatap dengan tatapan yang menunjukkan rasa amarah, "Ya? Anda siapa?" tanya nya yang melihat seakan tak ingin mengenali pria yang membuat nya hadir di dunia namun tak ingin bertanggung jawab atas kebahagian nya.


Dada pria itu seperti tertampar mendengar nya, memang ia tak bisa menyalahkan gadis itu yang tak mengenali nya karna ia pun juga tak pernah memberikan kenangan apapun untuk putri nya itu.


"Maaf, bisa kita bicara sebentar?" tanya nya yang mulai dengan nada formal pada gadis itu.


Anna diam sejenak, ia melihat ke arah pria yang terlihat memang sangat ingin berbicara itu.


"Untuk apa? Untuk menampar saya lagi?" tanya Anna menatap dengan mata biru yang menyala.


Mr. Harris terbungkam, ia tak bisa mengatakan apapun untuk saat ini. Lidah nya kelu karna memang kesalahan berasal dari nya.


"Bukan, sebelum nya saya minta maaf untuk yang terjadi sebelum nya. Jadi bisa kita bicara sebentar? Mungkin di tempat yang lebih tenang." ucap Mr. Harris sembari melihat ke arah sekeliling nya yang penuh dengan siswa siswi yang berseliweran.


Anna melirik sejenak ke arah siswa dan siswi yang keluar itu.


Gadis itu pun membuang napas nya lirih, "Lima menit." ucap nya pada pria itu.


Mr. Harris bernapas lega, setidak nya gadis itu ingin bicara pada nya.


Merasa sudah berada di tempat yang lumayan tenang walau masih di lingkungan sekolah, Anna menghentikan langkah nya.


"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya nya yang membuat Mr. Harris berbalik.


"Sebelum nya aku ingin meminta maaf dulu," ucap nya pada gadis itu.


"Tidak, saya tidak mau maafkan anda." jawab Anna dengan tegas tanpa terlihat gugup sama sekali.


"Kompensasi seperti apa? Uang? Atau membutakan saya menampar anda kembali?" tanya Anna dengan wajah yang tak menunjukkan keramahan sama sekali.


Mr. Harris terdiam, "Kau ingin aku memberi mu kompensasi apa?" tanya nya pada gadis itu.


"Bahkan kalau anda memberikan kedua nya saya juga tidak akan maafkan anda." ucap Anna pada pria itu.


Ia tak ingin bahkan berniat memaafkan sedikit pun kesalahan pria itu. Ia tak merasakan kerinduan apapun atau kasih sayang di hati nya.


Yang ia rasakan hanya lah kemarahan yang membuat nya terus merasakan panas di dada nya.


Mr. Harris terdiam, ia tak tau gadis itu sudah mengenal nya atau tidak namun lidah nya terasa Kelu setiap kali ia berbicara dengan gadis itu.


"Jangan terlalu formal pada ku, kamu bisa sedikit lebih santai. Kalau kamu mau juga bisa menanggap ku seperti ayah mu." ucap nya yang masih begitu berat mengatakan siapa diri nya yang sebenarnya walau pun gadis itu sudah mengetahui segala nya.


Anna tertawa sinis mendengar nya, menanggap nya sebagai ayah?!


"Kenapa saya harus berpikir demikian?" tanya nya menatap ke arah pria itu.


Mr. Harris kembali diam agar bisa memikirkan kata yang akan ia ucapkan selanjutnya.


"Kau dari panti asuhan kan? Mungkin saja kala-"


"Lalu? Itu salah saya karna berada di panti asuhan?" potong Anna langsung.


Rasa nya ia begitu geram mendengar nya saat pria itu mengungkit tentang ia yang pernah tinggal di panti asuhan.


"Anda tau? Sebenarnya ayah saya masih hidup." ucap nya dengan senyuman tipis.


Mr. Harris tersentak. Ia merasa gadis itu setidaknya masih membutuhkan sosok ayah.


"Ya, kamu mungk-"


"Dan saya sangat ingin dia menderita." potong Anna dengan wajah yang tersenyum manis saat mengatakan nya, seperti ucapan yang begitu tulus dari lubuk hati nya.


Deg!


Mr. Harris tersentak, ia mengernyit tak mengerti mengapa gadis itu seperti menyumpahi kehidupan nya.


"Kenapa? Kamu tidak boleh bicara seperti untuk ayah mu." ucap nya pada gadis itu.


Anna terdiam, ia tertawa namun tawa itu bukan lah tawa bahagia atau kesenangan.


"Ayah?" tanya nya mengulang dengan tawa yang datang di wajah cantik nya.


"He's not my Dad, He's just a l*ser." sambung nya pada pria itu.


Mr. Harris tentu yang mendengar nya tak menyukai apa yang di katakan oleh gadis itu.


"Bicara mu tidak sopan," ucap nya pada gadis itu.


Anna tertawa pahit mendengar nya, "Ya, saya memang bukan anak yang tau sopan santun." ucap nya pada pria itu.


"Ibu saya depresi dan kesulitan dalam mengajarkan saya sopan santun dulu dan ayah saya tidak pernah mengajarkan apapun karna selalu pergi dengan selingkuhan nya." ucap nya dengan senyuman tipis.


"Dia bahkan tidak mau tau tentang kehidupan kami, dia meninggalkan saya dan bahkan tidak pernah menjadi ayah untuk saya dan saya rasa yang membunuh ibu saya adalah ayah saya sendiri." ucap nya pada pria itu.

__ADS_1


Memang benar jika ibu nya bunuh diri namun siapa yang menyebabkan sang ibu ingin mati?


"Saya memang tidak tau sopan santun jadi jangan berharap kesopanan dari saya untuk di tunjukkan pada anda." sambung nya yang membuat pria itu diam.


Mr. Harris diam sejenak, ia tak bisa menyanggah gadis itu sama sekali.


"Bagaimana kehidupan mu," tanya nya yang mencoba mengalihkan pembicaraan nya.


"Saya tidak baik-baik saja, saya sangat kesakitan dan menderita maka dari itu saya ingin ayah baj*ngan saya juga akan menderita seperti saya," jawab nya dengan senyuman tipis sembari mengatakan kata-kata yang kasar.


Jika ia mau, ia bisa mengatakan semua kata yang kotor dan kasar karena ia memang tumbuh di lingkungan yang keras.


Namun bahkan ia merasa mulut nya hanya akan kotor jika memaki seseorang yang bahkan tak pantas untuk makian nya.


Mr. Harris semakin terbungkam, ia tak bisa mengatakan apapun atau bertanya lagi.


"Saya, rasa waktu lima menit yang anda minta sudah habis." ucap nya pada pria itu dan berbalik begitu saja tanpa menunduk ataupun berpamitan.


Mr. Harris terpaku, ia seperti tak bisa mengatakan apapun, lidah nya terasa Kelu dengan suara yang tertahan di tenggorokan dan bahkan ia tak bisa mencegah gadis itu untuk pergi karna merasa telapak kaki nya seperti tertancap ke dalam tanah.


...


Anna masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu nya itu, ia diam tak mengatakan apapun.


Tak merasakan kesedihan sama sekali, hanya amarah yang ia rasakan.


Tes...


Gadis itu mengernyit, hidung nya kembali terasa seperti menjatuhkan sesuatu.


Ia menyentuh dengan tangan nya dan melihat cairan merah kental itu yang kembali keluar dari hidung mancung nya.


"Mimisan lagi?" gumam nya yang mengambil tissu yang di sediakan mobil itu.


Sembari memegangi tissue ia melihat ke arah jalanan yang tampak berbeda dari arah mansion pria itu.


"Kita mau kemana?" tanya nya pada sang supir yang masih membawa mobil nya.


"Sir Lucas meminta nona untuk datang ke perusahaan." jawab pria yang melirik dari kaca untuk melihat ke bangku belakang.


Ia tak mengatakan apapun, bahkan saat melihat ke arah gadis yang kesulitan memegangi hidung nya itu.


......................


JNN grup


Anna membuang seluruh tissue nya, untung nya mimisan nya kali ini lebih mudah di tangani.


Apa karna aku sudah terlalu banyak mengeluarkan darah? Maka nya pusing?


Wajah nya semakin pucat namun ia tak menyadari nya, jujur nya langkah yang ia gunakan mulai gamang dan terasa limbung saat berjalan namun ia sangat ahli dalam menahan rasa seperti itu.


Wanita resepsionis dengan pakaian formal yang rapi itu mengantar nya sampai ke depan pintu ruangan dari pemilik perusahaan ternama itu.


Ia mengetuk nya dan beranjak masuk, pria yang sudah menunggu nya di kursi yang tak bisa di duduki oleh sembarangan orang itu langsung melihat ke arah nya.


"Anda memanggil saya Sir?" tanya nya saat melihat ke arah pria itu.


Lucas tak menjawab, tangan nya memberi isyarat agar gadis itu mendekati nya.


Anna datang ke arah pria itu, Lucas langsung menarik nya hingga jatuh ke atas paha nya yang keras itu.


Cup!


Pria itu lambung merengkuh tubuh kecil itu dan mencium pipi nya seketika.


"Anak pintar," ucap nya yang mengelus wajah pucat itu.


Ia mendengar semua yang di katakan oleh gadis itu, pembicaraan yang dapat ia dengar melalui chip nya.


Sekarang ia tau, jika chip yang baru tak bisa mendengar apapun jika sudah menyeberangi lautan ataupun berada di jarak lebih dari 200 km dari tempat nya berada.


Memang membawa hasil yang akurat karna di uji coba pada waktu yang tepat namun tentu juga akan membawa bencana lain nya karna gadis itu masih satu-satu nya manusia yang di pasangi alat seperti itu.


Anna terdiam sejenak, pria itu tiba-tiba mengecup pipi nya namun ia tak merasa terganggu karna ia sudah mulai terbiasa.


Ia hanya tersenyum akan pujian yang di berikan pria itu.


Lucas menatap wajah yang tampak berbeda dari yang biasa ia lihat, "Kau sakit lagi?" tanya nya sembari memerhatikan wajah gadis itu.


Anna menggeleng pada pertanyaan pria itu.


"Benar, kau tadi mimisan di pelajaran olahraga kan?" tanya nya pada gadis itu.


Ia bisa mendengar nya, karna mengaktifkan chip nya saat Anna berada di sekolah dan bisa mendengar keributan yang terjadi di jam olahraga dan di UKS namun ia tak bisa tau saat gadis itu mimisan yang kedua kali di mobil karna tak ada suara apapun.


Anna mengernyit, Bagaimana pria itu bisa tau tadi dia mimisan saat jam olahraga?


"Hanya sedikit Sir," ucap nya yang tak ingin menanyakan bagaimana pria itu bisa tau.


"Aku akan panggilkan dokter untuk mu nanti," ucap Lucas sembari mengecup bibir gadis itu.


Anna tak mengatakan apapun, ia diam tak menjawab. Namun ia mulai merasakan usapan yang ia rasakan di malam terakhir nya beberapa hari ini.


Mata nya nya masih tersadar, ia dapat melihat ke arah ujung jemari yang terasa hangat itu mengusap dan membelai kepala nya.


Mata nya terasa berat, entah mengantuk ataupun karna hari ini terasa cukup berat untuk nya.


Tangan? Aku suka...


Gadis itu seperti merasakan sentuhan yang biasa di berikan ibu nya sebelum tidur, sentuhan lembut yang membelai kepala nya, sesuatu yang selalu ia dapatkan jika sang ibu sedang tak berubah menjadi 'monster' yang menakutkan.


"Sir?" panggil nya pada pria itu dengan mata biru yang berkedip melihat nya.


Lucas tak menjawab, namun ia melihat ke arah gadis itu.


"Bisakah anda terus menyentuh saya? Sampai saya tidur?" tanya nya pada pria yang masih memangku nya itu.


"Menyentuh?" pria itu mengernyit.


Bagi nya arti 'Menyentuh' sangat berbeda dengan apa yang di bayangkan gadis itu dan di inginkan gadis itu.


Anna tak menjawab, dada bidang pria itu seperti alas sandar yang besar untuk tubuh nya yang kecil.


Mata nya terpejam, entah mengantuk atau kehilangan kesadaran nya karna terlalu banyak darah yang terbuang percuma apa lagi saat di UKS mimisan nya begitu tak terkontrol walau ia tak merasakan sakit apapun.


Lucas terdiam, tangan nya berhenti mengusap gadis itu. Ia merengkuh tubuh kecil itu dan mencium dahi nya, aroma ranum gadis muda yang masuk ke indera penciuman nya membuat nya semakin candu.

__ADS_1


"Jangan mencoba menggoda ku, kau tidak tau arti kata yang kau ucapkan." bisik nya di telinga gadis itu.


__ADS_2