Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
New Mom


__ADS_3

Gadis itu kini lebih banyak menghabiskan waktu nya di rumah, sekitar duduk di teras yang berada di balkon atau di taman yang berada di depan rumah nya.


Karna sekarang perut yang semakin membesar itu membuat nya merasa sulit untuk bergerak bebas.


"Aduh! Jangan gerak terus, pegel..." ucap Anna mengeluh sembari mengusap perut nya.


Di kehamilan nya hingga menginjak usia 5 bulan bayi yang berada di perut nya tak aktif sama sekali.


Namun sekarang?


Tendangan dari bayi yang belum lahir ke dunia itu terus bergerak.


"Kita cari film ya? Kamu mau lihat film apa?" tanya Anna namun ia tentu mencari serial yang ia sukai.


Sampai salah satu remot nya menangkap wawancara yang di dalam nya adalah seseorang yang ia kenali.


Wajah yang tadi nya berseri itu diam sejenak, memang benar jika produk yang di luncurkan dari gabungan JNN dan Stone Craft saat ini begitu meledak.


Tentu saja harga yang di keluarkan pun sebanding dengan brand yang di tunggu itu.


Anna terdiam sejenak, ia melihat pria yang tampak tersenyum tipis dengan sudut bibir yang sedikit naik dan mata yang tampak kosong.


Terlihat baik-baik saja, seperti sama sekali tak kehilangan diri nya.


Dan di samping nya wanita yang memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang indah itu tampak tersenyum begitu natural.


Gadis itu mengusap perut besar nya, hati nya sedikit sakit karna jujur ia merasa di khianati walau ia lah yang memilih untuk kabur.


"Ada sedikit pertanyaan selain dari AL yang keluar, apa ada yang bersedia menjawab?"


"Ya? Pertanyaan apa itu?"


"Belakangan terakhir banyak gosip yang beredar tentang kalian, tapi tidak ada konfirmasi jadi kami tentu bertanya-tanya untuk itu."


"Oh? Itu...."


Walaupun Anna merasa tak nyaman saat melihat nya namun tangan nya sama sekali tak beranjak untuk mengganti nya.


Wanita cantik yang menjadi bintang tamu selain pria tampan itu menjawab dengan wajah yang tampak sedikit ragu seperti memberikan kode jika sedang berada di dalam hubungan.


Namun pria itu sama sekali tak mengeluarkan kalimat apapun, baik itu sanggahan maupun persetujuan.


"Astaga! Kalian juga memakai cincin yang sama!"


Deg!


Anna tersentak mendengar nya, otomatis mata nya langsung melihat ke arah tangan pria itu.


Wanita cantik itu hanya tersenyum dengan tanggapan sang pembawa acara.


"Ini? Cincin ini tidak sama dengan nya dan aku kurang nyaman untuk membicarakan hubungan asmara."


"Jadi maksud nya tidak sama tapi kalian memakai cincin pasangan?"


Tap!


Anna mematikan televisi nya, niat ingin membuang stres yang ada ia malah semakin stres.


"Br*ngsek!"


Bibir nya bergetar saat mengucapkan nya, ia mengusap air mata nya yang seakan jatuh sia-sia.


Memang benar untuk keluar dari hubungan yang toxic itu sulit dan tentu untuk menyadarkan diri nya dari sindrom stockholm itu pun juga begitu sulit.


Ia memang keluar dan kabur namun alam bawah sadar nya masih terkunci dan terkurung di tempat yang sama.


Entah itu ruang penyiksaan atau ruangan penuh bunga.


......................


Hamburg


Wanita itu masih tersenyum saat mendengar pria tampan yang tadi nya hanya diam itu kini bicara.


"Jadi maksud nya tidak sama tapi kalian memakai cincin pasangan?" tanya sang pembawa acara yang masih terlihat seperti menggoda nya.


Luciana memberikan senyum tipis dan melirik ke arah pria yang membuka suara untuk pertanyaan seputar cincin padahal sebelum nya hanya diam.


"Ya, ini memang cincin pasangan tapi pasangan dari cincin ini masih pergi. Ku rasa dia kabur dari ku, mungkin sedang bermain petak umpet." jawab Lucas yang bisa diam untuk hal lain namun tidak untuk cincin pernikahan nya.


Pembawa acara itu diam sejenak, suasana membeku untuk beberapa saat karna pria itu menyanggah total tentang cincin nya.


"Astaga! Kami tidak tau jika akan memakai cincin tapi yang ku pakai ini dari teman ku, dia membuat design yang baru." ucap Luciana yang tersenyum tipis untuk memecah suasana.


Pembawa acara itu pun kembali tersenyum, dan tentu semua yang berada di tempat itu pun hanya tersenyum formal saat ini.


...


Wanita itu mengajar pria yang pergi tanpa mengatakan apapun itu, bahkan tak ada ajakan untuk keluar bersama.


"Apa yang kau lakukan tadi? Kau tidak peduli lagi dengan AL mu?" tanya Luciana yang berjalan sembari mengimbangi langkah cepat pria itu.


"Lalu kau memakai perhiasan yang sama dengan ku?" jawab Lucas dengan pertanyaan dan sindiran sekaligus.


"Kau tau itu gosip itu bagus kan? Apa kau perlu menyanggah nya sampai seperti itu? Akan muncul spekulasi lain yang mung-"


"Memang nya apa?" Lucas menghentikan langkah nya dan melihat ke arah wanita itu walau ia tak lagi bisa melihat wajah yang dulu nya begitu jelas.


"Yang menyebarkan nya pertama kali itu juga kau kan? Yang membesarkan berita nya juga kau, kenapa aku harus berpura-pura kalau ini milik mu?" tanya nya sembari menunjukkan dan menggerakkan jemari nya yang memakai cincin.


Luciana mengepal, pria itu selalu tau bagaimana cara nya untuk menghancurkan harga diri nya.


"Kenapa kau sensitif sekali soal cincin itu? Memang nya itu cincin nikah?" tanya nya dengan tawa kecil yang mengejek.

__ADS_1


"Ya,"


"Apa?" Luciana mengernyit mendengar jawaban yang ia baru ia dengar di telinga nya.


"Ini memang cincin nikah, karna aku sudah menikah." jawab Lucas dengan wajah yang datar itu.


Luciana mengernyit mendengar nya, dan tentu walau pun hanya sekedar candaan namun ia tak menyukai nya.


"Nona Casandra? Kau tau? Sekarang tidak ada yang melindungi mu lagi, berhati-hati lah dengan makanan yang kau makan dan air yang kau minum lalu? Selalu perhatikan mobil mu," ucap Lucas yang berbicara dengan nada yang sedikit rendah.


"Kau sendiri tau kan? Seseorang sangat mudah untuk mati," ucap Lucas yang mendekat dengan suara nyaris berbisik dan kemudian beranjak pergi.


Luciana mengepal nya, pria itu memberikan ancaman pembunuhan secara terang-terangan pada nya.


Pria itu kembali ke mobil nya, ia menari napas nya dan membuang nya sembari menyandarkan diri nya di bangku yang nyaman itu.


"Kau memukul nya dengan tangan kecil mu itu kan? Aku juga akan membiarkan mu memukul sesuatu nanti..."


Memang benar jika sekarang tak ada lagi sesuatu yang harus di perhatikan. Peluncuran brand yang menggabungkan dua perusahaan itu sudah di keluarkan.


Tahap pengerjaan nya sudah selesai dan bahkan jika di pindah alih kan pun sudah bisa.


"Aku akan mengambil semua nya," ucap Lucas lirih dan kemudian menjalankan mobil nya untuk kembali ke Berlin malam ini juga.


Ia tentu tak akan lupa jika wanita itu juga mencuri saham nya diam-diam karna selama ini ia hanya pura-pura menutup mata nya.


Dan tentu walaupun ingin ia tak bisa melakukan hal yang sama dengan pembunuhan seperti yang ia lakukan pada pelayan nya.


Karna kematian seseorang yang memiliki nama selalu menjadi kasus yang besar.


......................


Sementara itu


Gadis itu memakai kembali pakaian nya, ekor mata nya melirik ke arah pria yang tengah memakai kemeja nya kembali.


"Sir? Itu..."


"Kau mau menginap di sini selama beberapa hari?" ucap pria yang tampak tak memiliki basa basi untuk saat ini karna masih sibuk memakai jam tangan ataupun jas nya kembali.


Gadis itu menggeleng, "Anna tidak ada kabar, padahal dulu dia sering datang ke cafe." ucap Samantha yang tentu bertanya karna pria itu juga masih mengenal teman nya.


Tak ada jawaban yang terdengar, "Aku pergi lebih dulu." jawab Diego singkat dan berlaku.


Gadis itu masih terdiam, ia duduk di sofa itu dengan pakaian yang masih berantakan karna di pakai seadanya saja.


Beberapa bulan yang lalu pria itu kembali mendekati nya, seperti sihir yang di ucapkan oleh mantra ia pun kembali terpengaruh.


"Apa aku menginap saja? Lagi pula mau balik juga jauh kan?" gumam nya yang menoleh ke dinding kaca hotel itu.


......................


Mansion Damian


Klek!


Suara pintu yang terbuka, membuat nya gemetar begitu hebat.


"Ma.. Maaf..."


"Maafkan aku..."


Ucap nya yang memohon dengan sepenuh hati karna tak sanggup untuk di kuliti lagi malam ini.


"Kau lihat dia?" tanya Lucas yang menunjuk ke arah foto yang tersenyum dengan cantik di kamar itu.


"Dia tersenyum jika melihat ku memberi mu hukuman," ucap Lucas sekali lagi dan membuat pria itu semakin gemetar.


"Anak itu yang meminta mu untuk melakukan ini?" ucap Mr. Harris pada pria yang berada di depan nya.


Sekarang Lucas mulai memburu siapapun yang dulu di anggap ancaman oleh gadis nya satu persatu walaupun jika Anna ada ia tak akan meminta kematian atau pembunuhan.


Lucas tak menjawab, namun benda yang tajam itu kembali mengoyak lapisan terluar dari tubuh seseorang itu.


"Arrggghhh!"


Jeritan yang panjang namun tentu tak akan di dengar.


Cairan merah kental itu menyiprat kemana pun. Mengotori lantai putih itu dan membuat nya menjadi berantakan.


Namun itu yang di suka oleh Lucas!


......................


Satu Minggu kemudian


JNN grup


"Kau sudah mengganti nya? Nanti setelah itu bawa juga anak itu," Ucap Lucas dengan wajah yang datar sembari melihat ke arah dokumen nya.


"Dia seperti nya akan terkejut jika melihat kematian ayah nya," ucap Diego yang menatap ke arah sepupu nya.


"Benarkah? Lebih baik lagi jika dia terkejut da kembali." jawab Lucas dengan enteng.


"Luc?" Diego memanggil lirih.


Rencana nya sempurna, sepupu nya tak bisa menemukan Anna dan juga ia tidak ketahuan jika ia lah yang meledakkan mansion dan membawa kabur gadis itu.


Namun ia tak tau jika ada sesuatu yang melenceng dari rencana nya.


"Kau tidak bisa biarkan anak itu? Dia juga teman nya kan? Bukan nya Anna juga tidak akan mau kau membunuh teman nya," ucap Diego lirih.


"Kau bilang seperti itu karna kau yang menyukai anak itu kan? Tentu saja kau terus meniduri nya, mungkin saja dia juga pernah hamil anak mu." ucap Lucas dengan sarkas karna ia tak suka perintah atau keputusan nya di pertanyakan.

__ADS_1


Setelah Mr. Harris kini tentu nya yang menjadi sasaran kedua adalah Mrs. Laura yang bahkan sekarang sudah terkurung.


"Yang dia minta hanya ingin membuat anak itu merasakan apa yang dia rasa, dan ku rasa hukuman nya sudah cukup, anak itu bahkan pernah jadi pel*cur," ucap nya yang memberikan pembelaan karna ia tau kemana target selanjutnya.


"Seharusnya ketika dia jadi pel*cur kau membiarkan dia melayani banyak orang bukan hanya untuk kau sewa sendirian," jawab Lucas yang mengetahui segala nya walau ia tak pernah menyinggung nya sama sekali.


Diego diam sejenak, "Kau melukai dr. Dave dia hari yang lalu di konseling mu."


Lucas kali ini berhenti melakukan pekerjaannya nya menoleh ke arah pria yang berdiri di depan nya.


"Dia benar-benar bodoh, bagaimana mungkin dia tidak bisa memberikan obat penenang yang sesuai untuk ku." ucap Lucas yang menatap ke arah pria di depan nya.


Setiap hari ia melihat bayangan yang sama, dan bahkan sampai saat ini pun bayangan gadis itu sedang berdiri di samping nya dengan senyuman yang cantik seperti biasa.


Dan apapun yang di lakukan oleh dr. Dave tak membuat nya membaik, yang ada ia hanya terus membutuhkan 'obat' nya yang sedang kabur itu.


"Kalua dia mati akan sulit untuk mencari dokter lain yang sudah mempelajari kondisi mu," ucap Diego pada pria itu.


"Kau terus bicara memutar, pada akhir nya kau ingin minta aku untuk melepaskan anak itu kan?" tanya Lucas yang tak melupakan topik utama.


"Ya, kali ini saja. Anggap dia sebagai jaminan untuk ku juga." ucap Diego yang tak menyanggah sama sekali.


"Baik, kau juga bilang dia teman nya Anna kan? Jadi aku akan membiarkan nya hidup tapi..."


"Ambil satu mata nya dan berikan pada ku, lalu jangan memberikan nya donor mata setelah itu tapi kalau kau mau bermain dengan nya kau bisa memberikan mata buatan tapi tidak dengan mata asli." ucap Lucas.


"Apa?" Diego terdiam sejenak mendengar nya.


Lucas tak menjawab lagi namun ia berbalik dan mengambil sesuatu.


"Di sini, letakkan mata nya di sini. Berikan paling lambat Minggu depan atau aku yang ambil sendiri." ucap Lucas sembari memberikan toples kecil.


Diego membatu untuk beberapa saat dan mulai mengambil nya.


"Ya," jawab nya singkat dan kemudian keluar dari ruangan sepupu nya.


......................


Skip


Dua Minggu kemudian


Tempat yang jauh dari jalanan utama dan kota, mobil sedan yang terparkir di jalan sunyi yang masih di tutupi oleh tanah kosong dan lalang yang menjulang tinggi.


"Apa yang kau lakukan?! Buka!"


Ucap wanita itu yang menjerit dan memukul kaca mobil nya berulang kali, ia mencoba untuk membuka nya dari dalam namun tak bisa.


"Kau suka memukul kan? Maka nya aku membiarkan mu memukul sesuatu sampai kau mati." ucap Lucas sembari mengangkat tangan nya untuk memberikan isyarat pada bawahan nya untuk berhenti menyiram bensin di sekitar mobil mewah itu.


Pemantik yang berada di tangan nya mulai menyala, ia melempar nya dan secepat kilat kobaran api itu langsung menyambar tinggi ke atas.


Byar!


Deg!


Lucas tersentak, mata nya terasa sakit saat melihat sinar panas yang begitu menyilaukan mata nya itu.


"Buka!"


"Buka pintu nya!"


"Kau pikir kau akan selamat!"


Teriak wanita itu yang menjerit dengan sekuat tenaga ketika ia di bakar di dalam sebuah mobil dan akan segera menjadi panggangan.


Sedangkan Lucas kembali ke mobil nya, napas nya terasa berat.


Hah...


Hah...


Hah...


Ia merasa terganggu dan membuat nya mengalami serangan panik tanpa ia tau penyebab pasti nya.


Tangan nya segera mengambil obat penenang yang memang ia bawa di mana pun jika berada di P3K mobil nya.


Setelah beberapa menit ia kembali menjadi tenang, tangan nya memutar dan mengusap cincin yang ia pakai lebih dulu.


"Aku sudah menghukum semua orang yang jahat pada mu..."


"Sekarang kau bisa kembali kan?"


"Berhenti sembunyi dari ku..."


Ucap nya lirih sembari memegangi cincin yang berada di jari manis nya itu.


......................


Hiddensee


Gadis itu terlihat meringis, keringat dingin jatuh ke dahi nya dan wajah yang pucat pasi.


"Sa.. sakit..."


"Kenapa dia nakal sekali? Dia tidak mau punya ibu seperti aku?"


Tanya gadis itu lirih sembari menatap ke arah wanita yang menjadi pendamping nya selama ia pindah ke tempat itu.


"Sebentar lagi, rasa sakit nya akan menghilang." ucap Camilla saat tangan nya di pegang erat oleh gadis yang meringis menahan sakit itu.


"Dia tidak mau aku jadi ibu nya, dia membenci ku..."

__ADS_1


Tangis gadis itu yang tentu nya di liputi perasaan yang cemas karna akan menjadi ibu baru terlebih lagi ia yang tak pernah mendapatkan kesiapan apapun atau cara menghadapi bayi nya nanti.


__ADS_2