
Mansion Damian
Keheningan malam dan suasana kamar yang sunyi kini terisi dengan suara kecupan yang begitu membekas dan melekat.
Tubuh kecil yang berada di bawah kungkungan pria yang memiliki bentuk lebih besar dari nya menggeliat.
Ia tak bisa banyak berkata, setiap kali ia ingin protes ia tak bisa mengeluarkan suara nya.
Di gigit, di remas, di hisap dan di l*mat membuat nya menggeliat ingin pria itu berhenti membuat nya menjadi santapan malam.
"Hah..."
Lucas beranjak bangun setelah melepaskan gigitan nya pada ujung Piramida yang runcing dan ranum itu.
Ia menatap ke arah gadis yang tampak sayu itu, tangan nya memegang pipi yang yang terasa hangat gadis di bawah nya.
"S..sir..."
"Sa..saya melakukan kesalahan?"
Anna bertanya lirih, mata pria itu tak bisa ia baca. Apa itu kemarahan atau pun kegilaan yang datang.
Lucas tak menjawab, ia mengusap pipi gadis itu dengan menggerakkan ibu jari nya.
Pria itu diam seribu bahasa namun ia membuka kemeja nya dan membuat nya ikut polos sama seperti gadis itu.
"Sir!"
Mata biru gadis itu membulat seketika, ia merasakan sesuatu yang bangun kembali dari pria itu setelah lelah melemaskan nya barusan.
"Anna..." panggil nya lirih dengan suara gemetar saat menahan hasrat nya.
Anna diam, pria itu sangat jarang memanggil nama nya dengan benar. Mungkin bisa di hitung dengan jari selama beberapa bulan ia bertemu.
"Atau mau ku panggil nona Maurenne?" tanya nya dengan smrik yang naik.
Perasaan pria itu sedikit membalik saat ia 'bermain' dengan 'peliharaan spesial' nya atau sekarang sudah berubah menjadi satu-satu nya wanita yang bisa menghadapi nya.
Anna tak menjawab, pria itu kembali mencium nya, membuat bibir nya sampai kebas dan mungkin akan bengkak ke essokkan hari nya.
Uhh!
"S..sir..."
Gadis itu merintih, sesekali tangan nya mencakar lengan pria itu saat ia mendapatkan gigitan yang membuat nya menahan sakit.
Tak lama kemudian, pria itu membalik tubuh nya, mata biru membulat sempurna. Ia berusaha untuk menolak dan tak menginginkan posisi itu namun.
Plak!
Tubuh nya menggeliat, pukulan keras melayang di b*kong mulus nya yang putih itu.
"Sstt..."
Pria itu memberi nya isyarat untuk membuat nya diam, ia merasakan bagian kecupan pria itu lagi.
Tangan nya meremas bantal yang berada di dekat nya. Ia sendiri tak tau kenapa tubuh nya selalu ikut merasakan hal yang aneh saat pria itu melakukan sesuatu pada nya.
Deg!
Sesuatu yang hangat menyentuh nya, dan ia tau kali ini bukan lah kecupan pria itu sama sekali.
Kepala nya langsung mendongak ke belakang dan melihat apa yang di lakukan oleh pria itu.
"S..sir? Bu..bukan nya a..anda sudah berjanji?" tanya nya lirih dengan suara gemetar dan langsung takut pria itu memasukkan lampu gantung ajaib yang berdiri tegak itu.
Lucas tak menjawab nya, ia menarik kaki gadis itu dan merapatkan nya.
"Kau tidak percaya pada ku?" tanya nya dengan suara yang berat dan gemetar.
Anna terdiam, ia mengigit bibir bawah nya. Merasakan sesuatu yang panas melewati nya berulang kali namun tak terhubung dengan nya.
Lucas yang melihat gadis itu mengigit bibir nya langsung membuka dengan jemari nya agar gadis itu bersuara.
Rasa nya ia sangat ingin pura-pura bodoh dengan melesatkan nya ke tempat yang seharus nya dan menembus nya dalam satu kali hentakan namun menunggu sampai hari tertentu juga memberikan rasa penasaran dan kenikmatan tersendiri untuk nya.
Uhm!
Anna tanpa sadar bersuara, pria itu masih mengigiti nya dan meremas nya dengan kasar namun sesuatu yang panas membuat nya tak begitu merasakan nya.
"Good girl," bisik pria itu dengan suara serak nya.
...
Pukul 12.30 am
Sudah lewat tengah malam, kini kamar yang sebelum nya begitu berisik itu mulai kembali tenang, setenang suasana hati pria itu yang mulai membaik.
Ia masih belum pergi melainkan masih berada di tempat itu.
Tangan nya menyentuh wajah yang terlihat kacau itu, bulu mata yang lentik menghiasi kelopak yang tengah terpejam itu.
Lucas menarik napas nya, ia tak tau mengapa hanya gadis itu yang bisa terlihat oleh nya.
Bukan seperti gadis lain dengan warna mata yang sama.
"Dia benar,"
"Kau memang aneh..."
Gumam nya lirih sembari melihat gadis itu, suatu objek yang begitu jelas. Memiliki warna yang begitu indah dan bentuk yang begitu jelas.
Sprei yang berwarna putih itu memiliki banyak bercak darah, bukan darah kes*cian yang berada di atas sprei itu melainkan darah yang keluar dari bekas gigitan nya yang brutal karna ia begitu gemas.
Pria itu mendekat, ia memeluk tubuh kecil yang tertidur itu.
Kelopak mata itu mengernyit sejenak, beberapa bekas gigitan itu membuat nya terluka dan merasakan sakit.
"Sstt..."
Tepukan di punggung kecil itu membuat gadis cantik itu mulai kembali tenang.
__ADS_1
Malam mulai berlalu, menghilangkan cahaya bintang yang semakin meninggi dan akan tenggelam saat mentari mulai datang.
...
Ke esokkan pagi nya.
Kelopak mata gadis itu bergerak, mentari mulai membangunkan nya saat sinar hangat itu mulai datang menyentuh nya walaupun berada di tempat yang penuh AC.
Anna menggeliat, seluruh tubuh nya merasa sakit dan perih akibat gigitan dan remasan yang di lakukan Lucas.
Mata biru itu terbuka, antara sadar dan tidak. Ia melihat ke arah jam dinding nya.
Deg!
"Astaga!"
Gadis itu tersentak, ia melihat pukul 09.34 am yang tentu ia sudah terlambat untuk pergi ke sekolah nya.
"Auch!"
"Aduh!"
Gadis itu meringis saat merasakan tubuh nya yang merasakan perih.
Namun ia beranjak ke kamar mandi, gadis itu begitu terkejut melihat ke arah seluruh tubuh polos nya yang penuh dengan bekas kemerahan, luka gigitan, serta memar di beberapa tempat seperti di pukuli walau pun ia tak mendapatkan pukulan sama sekali.
"Apa ini metode penyiksaan baru?" gumam nya yang merasa begitu terkejut melihat bekas di tubuh nya.
Ia pun memilih diam dan membersihkan tubuh nya yang terasa lengket itu akibat banyak lava putih yang berhamburan di atas tubuh nya.
"Baru yang seperti semalam saja aku udah begini! Apa lagi nanti dia beneran itu sama aku!" kesal Anna yang sejak tadi menggerutu saat merasakan perih di tubuh nya.
Setelah ia membersihkan tubuh nya Anna keluar dari pintu kamar mandi itu.
Langkah nya terhenti dan ia pun tersentak, ia menatap ke arah beberapa dokter dan pelayan yang membawa kan makanan untuk nya.
"Kami akan lakukan pemeriksaan, kami harap nona dapat bekerja sama." ucap salah satu dokter.
Anna diam, raut nya berubah seketika.
Ia lupa sejenak kalau ia tak memiliki privasi sekarang. Walaupun ia sangat benci tubuh nya di lihat namun saat melakukan pemeriksaan kesehatan yang ia bahkan tak tau apa fungsi nya ia harus melepaskan pakaian nya.
Darah nya kembali di ambil dan di simpan di tabung kecil itu. Bekas luka akibat gigitan itu pun segera di obati dan di tangani.
"Terimakasih nona," ucap orang-orang yang mengenakan jas putih itu dan kemudian keluar.
"Tuan tadi sudah memberi tau jika nona libur hari ini, dia juga mengatakan nona harus menghabiskan sarapan pagi ini." jawab pelayan tersebut pada gadis yang sejak tadi masih terdiam.
"Kamu ga pergi?" tanya Anna pada pelayan tersebut.
Ia mulai berbicara santai dengan para pelayan dan tak berbicara seformal saat dengan pria psikopat yang begitu menginginkan warna nya.
"Saya harus menunggu sampai nona menghabiskan sarapan Anda." jawab pelayan tersebut menunduk.
Anna tak menanyakan apapun lagi, ia tau perintah siapa itu untuk membuat seorang pelayan terus berdiri menunggu nya menghabiskan seluruh makanan yang di berikan untuk nya.
......................
Suasana yang tegang di ruangan yang mewah itu membuat seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih tampak memasang wajah tak suka.
"Aku menyuruh mu untuk datang tapi kau terus beralasan!" suara yang khas manula itu memarahi seseorang.
"Jika anda melihat saya, saya takut anda akan kembali koma." jawab Lucas dengan wajah sama sekali tak merasa ia melakukan kesalahan.
"Anak kurang ajar! Kau tidak mempelajari bagaimana cara nya menghormati orang tua?!" tanya pria tua itu dengan tatapan marah.
"Saya sibuk untuk hal seperti itu dan nyata nya saya memang sibuk," jawab pria itu dengan tegas dan datar.
Tap!
Tongkat yang di pegang di tangan nya itu di hentakkan ke lantai.
"Aku sudah dengar semua rumor nya! Kau juga sama menjijikan nya dengan ayah mu!"
Ucap pria yang bernama Ehrlich Manfred Damian itu. Pendiri pertama dari JNN grup.
"Benarkah? Tapi yang baru anda sebutkan itu juga merupakan putra anda." jawab Lucas dengan santai seperti tak begitu peduli.
"Jaga sikap mu! Atau aku akan menurunkan posisi mu!" ancam Mr. Ehrlich pada cucu pertama nya itu.
Lucas mulai menganggap serius, ia menurunkan teh nya dan menatap ke arah sang kakek yang sejak dulu sangat membenci nya.
"Entah lah, saya rasa itu akan sulit." ucap nya sembari kini mulai memandang sang kakek.
"Saya memiliki saham 24,35 % dan Diego 20,37 % anda memiliki saham 35,57 % persen selebihnya saham para eksekutif. Walaupun anda memiliki saham yang lebih banyak tapi jika saham Diego di gabungkan dengan saham saya maka saham saya lebih tinggi dari yang anda miliki." jawab nya dengan tersenyum tipis.
Lucas tersenyum ia mengatakan fakta sebelum sang kakek jatuh koma dan tak menyebutkan fakta jika saham nya saat ini semakin banyak karna ia yang sudah mengambil alih selama beberapa tahun terakhir.
Mr. Ehrlich membuang wajah nya dengan taj suka saat mendengar nya.
"Kalian juga punya hubungan?" tanya Mr. Ehrlich dengan nada tak suka.
"Siapa? Saya? Dengan Diego?" tanya Lucas yang ingin sang kakek memperjelas pertanyaan nya.
Mr. Ehrlich tak menjawab namun sangat jelas jika wajah nya menunjukkan apa yang ada di pikiran nya saat ini.
"Saya tidak tau rumor semacam apa yang Anda dengar tapi saya tidak punya hubungan seperti itu dan lagi pula kami juga normal. Dia punya kehidupan pribadi nya dan-"
"Dan kau tidak pernah terlibat skandal apapun!" potong Mr. Ehrlich pada cucu nya itu.
"Sebaik nya anda cari tau lebih baik dan sekarang anda bisa keluar dari sini, karna ini sudah menjadi ruangan saya." ucap Lucas dengan nada penuh penekanan pada sang kakek.
Mr. Ehrlich pun mulai bangun, "Pekan depan kau juga harus datang! Makan malam tahunan tetap harus di lakukan!" ucap pria itu sebelum berbalik.
Seperti tradisi kuno yang harus tetap di lestarikan, Mr. Ehrlich selalu ingin seluruh keluarga nya berkumpul bersama untuk makan malam walaupun ia membenci salah satu dari keluarga nya.
Lucas membuang wajah nya, dulu ia sangat jarang datang ke makan malam yang di adakan setiap tahun itu tapi kini ia memang harus datang untuk membungkam mulut sanak saudara nya yang seperti lintah darat itu.
"Apa ku racun saja dia nanti saat makan malam?" decak Lucas yang begitu kesal dengan sang kakek.
.......................
__ADS_1
Rumah Mr. Harris
"Pindah?! Kamu gila ya? Otak mu itu di mana? Kamu berjudi sekarang menggadaikan rumah pada rentenir?!" ucap Mrs. Laura pada sang suami yang begitu marah.
"Kamu yang harus nya mengerti! Situasi kita lagi sulit! Kamu terus belanja! Buat yang habis!" jawab pria itu yang membentak sang istri.
"Dari pada kamu! Kamu buat uang habis untuk hal yang sia-sia! Sekarang kita mau tinggal di mana? Rumah jelek itu?! Yang kamu cari di internet semalam?!" tanya nya yang terus bertengkar.
Pertengkaran yang saling berteriak itu tentu tak akan lagi memperhatikan sekeliling nya.
"Aku pulang,"
Prang!
Gadis itu tersentak, vas bunga keramik itu hampir saja mendarat di kepala nya jika ia tak menghindar.
Ia terkejut, dan kedua orang tua itu tampak diam lalu berdecak kesal dan pergi menjauh satu sama lain tanpa menanyakan keadaan nya.
Samantha diam, ia tak bisa mengatakan apapun dan hanya mencoba untuk menahan nya.
......................
Mansion Damian
Pukul 08.45 pm
"Sekolah? Besok? Bukan nya luka mu masih belum pulih?" tanya Lucas melihat ke arah gadis yang masuk ke ruang kerja nya itu dan meminta izin untuk kembali ke sekolah.
"Ji..jika saya terus tidak pergi ke sekolah sa..saya akan melupakan pelajaran nya..." jawab Anna dengan gugup pada pria itu.
Lucas membuang napas nya, "Baik." jawab nya singkat.
Anna langsung menoleh, mata nya menatap dengan berbinar saat mendengar nya dah tentu ia langsung berpikir pria itu memberi nya izin untuk sekolah.
"Benarkah? Terimaka-"
"Aku bukan setuju untuk membiarkan mu sekolah besok, aku mau bilang kalau aku akan mengajari mu agar kau tidak lupa pelajaran mu." ucap Lucas yang langsung membuat binar di mata gadis remaja itu hilang.
"Ha? Ta...tapi saya..." Anna langsung enggan mendengar nya, ia tau apa yang akan terjadi saat belajar bersama setengah belajar dan setengah nya lagi melakukan sesuatu bersama dengan pria itu.
"Ada apa? Sudah kan? Kembali ke kamar mu." ucap Lucas yang menyuruh gadis itu untuk keluar dari ruang kerja nya.
Anna menurut, ia keluar dan membiarkan kembali pria itu melakukan pekerjaan yang sangat ia sukai.
Lucas mulai larut dalam mengerjakan pekerjaan nya sampai ia melupakan waktu dah bekerja hingga larut malam.
Pukul 12.20 am
Pria itu mulai mengistirahatkan tubuh nya, ia memejamkan mata nya saat merebahkan tubuh nya di atas ranjang.
...
Hujan turun dengan deras di hari yang kelabu itu.
Nisan yang tampak mengkilap saat marmer itu basah oleh air hujan pelayat yang sudah pergi dan hanya menyisahkan dua anak lelaki yang menangis tersedu.
"Ma..mama..." tangis nya segugukan sembari terus memegang kepala nisan yang bertuliskan nama seseorang itu.
"Kita kembali?"
Suara kecil yang tampak serak namun masih belum bisa mengalahkan suara hujan dan tangisan anak kecil itu.
Ia mencoba memberikan payung namun langsung di tepis.
Sedangkan seorang anak lelaki yang menangis itu seperti mengeluarkan semua ekspresi kesedihan nya menatap ke arah wajah yang mencoba memberi nya payung.
Awal nya begitu jelas namun...
Deg!
Anak lelaki itu tersentak, mata dan kepala nya menjadi begitu sakit. Ia melihat sesuatu yang tentu bagi anak seumuran nya akan menjadi sangat menakutkan.
Wajah yang memberi nya payung tiba-tiba berubah dengan wajah wanita yang ia lihat terakhir kali.
Ia mencoba melupakan dan tak ingin mengingat nya, tapi apa?
Pandangan nya malah hancur, wajah itu bukan nya terlihat seperti seharusnya melainkan menghilang dan menjadi kabur serta bentuk yang abstrak samai ia tak bisa melihat nya sama sekali.
"Aakkhh!" teriakan panjang anak lelaki itu mencoba menutup mata nya tak ingin melihat seseorang yang berada di depan nya.
"Pergi!"
"Pergi!"
Ia menangis menjerit ketakutan dengan seluruh tubuh yang gemetar, suara nya tenggelam dengan deras nya hujan yang turun ke bumi saat itu.
"Kenapa? Kamu kenapa?" tanya anak lelaki itu yang juga menangis dan mencoba mendekati ke arah teman sebaya nya itu.
"Hua!"
"Pergi!"
Anak kecil yang sangat ketakutan itu menangis begitu hebat, ia mulai melihat sesuatu yang lain.
Warna dari setiap daun dan bunga yang berada di tempat itu mulai menghilang dan hanya menyisakan kelabu sama seperti langit yang menjatuhkan semua tetasan air nya itu.
Dunia nya mulai menghilang, semua yang seharusnya di miliki oleh setiap orang mulai tak lagi ia miliki.
...
Deg!
Lucas terbangun, tubuh nya berkeringat. Tangan nya gemetar dan ia yang langsung terduduk.
Dada nya terasa sesak, ia mengatur napas nya dan mulai mencoba mencari obat penenang nya di dalam nakas.
"Apa itu?" gumam nya lirih dengan tangan yang masih gemetar.
Ia berdiri dan menoleh ke cermin yang berada di kamar nya, melihat bayang nya di balik cermin dan masih sama.
Ia masih belum bisa bisa melihat diri nya sendiri dan seperti apa wajah nya.
__ADS_1