
Satu Minggu kemudian.
Mansion Damian.
Anna melirik ke arah pria itu, ia tampak gugup namun sejak pagi tadi tak ada suntikan apapun yang di berikan pada nya lagi bahkan sampai ketika beberapa dokter datang dan memeriksa kondisi luka nya.
"Ada apa?" Lucas bersuara, Anna tersentak seketika dan menatap ke arah pria itu.
"Pekerjaan mu masih lama? Kau tidak bekerja di ruang kerja?" tanya Anna yang sebenarnya sedikit gugup namun ia berusaha bersikap dengan normal.
Lucas tak menjawab, ia memang memindahkan beberapa pekerjaan nya ke dalam kamar agar ia bisa mengawasi kondisi gadis itu.
"Kau mau menyuruh ku tidur atau mau mengusir ku?" tanya Lucas yang menghentikan pekerjaan nya dan menatap ke arah gadis itu.
"Aku? Tentu tidak! Aku..."
"Aku hanya mau tanya sesuatu?" ucap Anna lirih yang dengan cepat bisa mengalihkan pembicaraan pada pria itu.
"Sebentar, aku selesaikan satu dokumen dulu." jawab Lucas singkat yang memang pekerjaan nya hanya tinggal beberapa lagi.
Anna mengangguk, ia melihat ke arah pria itu sekilas dan kembali diam di atas sofa tanpa bisa beranjak sampai seseorang memindahkan nya ke kursi roda lalu membawa nya.
Tak lama kemudian, belum sampai lima menit Lucas pun sudah selesai, ia langsung mendatangi gadis itu.
"Apa yang mau kau tanya?" ucap Lucas yang mendekat.
Anna menengandah, ia menatap ke arah pria yang berdiri dengan tegap di depan nya.
"Kapan aku bisa lihat tempat yang akan kita gunakan untuk menikah nanti?" tanya Anna lirih dengan senyuman kecil di bibir nya.
Lucas diam sejenak, ia kemudian beranjak menggendong gadis itu dan membawa nya ke atas ranjang sembari mengambil salah atau iPad nya.
Tubuh kecil dengan bobot yang ringan itu ia pangku, mungkin bisa di katakan juga jika gadis itu ia tidurkan di atas tubuh nya.
Anna tak mengatakan apapun, ia tak menolak atau pun memberontak. Kepala nya ia sandarkan di atas dada bidang pria itu.
"Aku sudah memilih beberapa gedung yang bisa kita gunakan dan dekorasi yang mau kita pakai nanti." ucap Lucas yang menunjukkan beberapa tempat yang sudah ia pilih beberapa tahun lalu dari sebelum gadis itu pernah kabur dari nya.
Anna melihat pilihan pria itu, tentu memiliki design dan interior yang mewah.
"Karna sudah beberapa tahun jadi mungkin ada beberapa dekorasi yang sudah ketinggalan jaman, jadi aku pilih yang terbaru juga." ucap Lucas yang tampak menunjukan semua persiapan pernikahan kedua nya.
Anna masih tak memberikan jawaban apapun, ia suka karna semua yang di tunjukkan cantik. Hanya saja tempat seperti itu bukan lah yang menjadi impian nya.
Ia ingin pesta pernikahan di taman, saat malam penuh dengan lampu berkilau dan langit yang bertabur bintang.
Dan saat siang, sinar mentari yang hangat menyelimuti di angin yang dingin dengan berbagai bunga yang bermekaran.
"Apa tidak ada tempat dengan dekorasi di taman?" tanya Anna tanpa maksud untuk berkesempatan kabur lagi karna ia sendiri saja sudah takut pria itu akan mengambil putra nya.
Lucas langsung terdiam, semua ucapan gadis itu sangat sensitif dan ia bisa memikirkan hal yang lain nya.
Auch!
Anna meringis, ia terkejut saat tangan yang tadi mengelus dan mengusap kepala nya dengan lembut kini malah menarik nya dengan erat.
"Kau mau kabur dari ku lagi?" tanya Lucas yang langsung menatap dengan kesal ke arah gadis itu.
Anna menggeleng sembari menahan rambut yang terasa perih.
"Tidak! Aku bahkan tidak berpikir seperti itu sama sekali!" ucap Anna dengan tegas.
"Lalu? Kenapa kau mau menikah di tempat terbuka? Bukan nya kesempatan kabur mu semakin besar?" tuduh Lucas yang tak lagi bisa percaya seperti dulu.
Anna menggeleng mendengar nya, "Luc? Aku ga kabur Luc..." ucap nya lirih dengan mata dan ekspresi memohon sehingga membuat pria itu melepaskan tarikan di tarikan di rambut nya perlahan.
"Ikuti tempat yang sudah ku pilih saja," jawab Lucas yang kemudian mengganti slide di iPad nya.
Anna mengangguk dengan cepat, kepala nya masih terasa pedih namun tak begitu masalah asalkan ia bisa baik-baik saja sekarang.
Lucas mulai mengetakan dan menunjukkan a
hasil dari jahitan gaun pengantin beberapa tahun lalu yang sudah ia pesan pada salah satu perancang busana terkenal namun sayang nya gadis itu sudah lebih dulu lari.
"Tidak perlu buat ulang, pakai yang itu saja, itu juga bagus." ucap Anna yang tak masalah memakan gaun pengantin 4 tahun yang lalu karna bagi nya pakaian itu pun masih baru dan tentu ia masih melihat nya begitu indah.
"Tapi ini sudah tidak baru lagi, sudah lama." ucap Lucas yang ingin membuat gaun pengantin yang baru lagi untuk istri nya.
Anna menarik napas nya, bagi nya sesuatu yang baru bukan dari tahun melainkan dari ia pernah memakai nya atau tidak.
"Aku kan belum pernah pakai, belum ada juga yang pakai kan? Berarti itu masih baru." jawab Anna yang tentu pikiran sewaktu ia masih berada di kehidupan miskin masih terbawa oleh nya.
"Benarkah? Pikiran mu sedikit aneh," ucap Lucas lirih.
"Bukan aneh, kamu aja yang bisa sesuai sama pikiran orang biasa." jawab Anna pada pria itu.
__ADS_1
Lucas pun kembali menjelaskan namun Anna lebih tenggelam dengan pertanyaan di pikiran nya.
"Luc?" panggil nya agar pria itu menoleh dan menatap ke arah nya.
"Aku nanti jalan pakai sepatu kan? Pakai heels yang mutiara yang cantik?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.
Lucas diam sejenak, ia kemudian menatap kembali kebayang iPad nya.
"Kau bisa gunakan sepatu setelah 6 bulan pemulihan, pesta pernikahan kita akan di adakan Sekitar 7 bulan lagi." ucap Lucas yang menghitung waktu pulih kaki gadis itu.
Anna diam sejenak, baru beberapa hari merayu pria itu mulai menuruti nya.
Walaupun masih sangat sensitif jika ia salah bicara dan membuat salah paham.
......................
Skip
4 Bulan kemudian
Anna berjalan pelan, ia sedikit tertatih namun ia mulai bisa berjalan.
Sedangkan Estelle yang menunggu sang ibu selesai terapi menunggu dengan sabar.
"Mama belajal jalan? Dulu kan Mama bisa jalan?" tanya Estelle dengan polos nya menatap sang ibu.
"Iya, sekarang Mama mau jalan biar bisa gendong Estelle lagi." ucap Anna yang kemudian duduk kembali saat dokter nya mendudukkan nya.
Estelle tak menjawab, ia mengangguk dan kembali memainkan boneka dinosaurus di tangan nya.
Sang dokter pun memberi tau bagaimana perkembangan yang terjadi.
Mulai dari operasi lanjutan dan juga sejauh mana terapi yang sudah di lakukan.
Anna mengangguk, kemudian beberapa dokter yang tadi membantu nya keluar dari kamar mewah itu.
"Main apa anak Mama? Mama mau ikut juga," ucap Anna yang setiap hari nya putra nya yang tampan itu selalu datang dan menunggu nya.
"Dinosaulus sama colnosaulus," jawab Estelle dengan lidah nya yang masih celat.
Anna mengangguk, walaupun ia sedikit bingung namun ia bisa mengerti jika putra nya sedang bermain boneka purba.
"Ma? Nanti kalau Mama udah bisa jalan Mama kelual kamal?" tanya Estelle sekali lagi karna ia merasa sang ibu tetap berada di kamar bahkan semenjak datang ke tempat itu.
Anna diam sejenak, walaupun waktu sudah berlalu namun pria itu masih begitu tak mempercayai nya hingga membuat nya tak lagi berani meminta keluar kamar sekarang karna takut di curigai lagi.
"Colat? Memang nya Mama sama Paman itu ulang tahun?" Tanya Estelle yang bahkan belum bisa memanggil pria itu sebagai sebutan untuk panggilan ayah karna ia sangat jarang berbicara satu sama lain.
Anna menggeleng mendengar nya, "Bukan, Mama Papa mau nikah jadi ada pesta." Jawab Anna pada putra nya.
"Nikah itu apa Ma?" tanya Estelle pada ibu nya karna ia memang tak tau apapun.
"Menikah itu artinya Estelle punya Papa, jadi nanti panggil nya jangan Paman lagi tapi Papa ya?" ucap Anna yang memberi tau putra.
Estelle diam, sebenarnya ia tak begitu menyukai pria itu sebagai ayah nya. Ia malah lebih suka dengan seseorang yang dulu ia panggil 'Papa' namun kini tak pernah terlihat lagi.
"Estelle?" panggil Anna yang membuat anak tampan itu mengangguk.
"Iya, Dia jadi Papa Estelle kan?" tanya nya yang tak menolak atau pun mengatakan kalimat sanggahan karna tak mau melihat ibu nya kesulitan.
Anna tersenyum tipis, ia mengusap wajah mungil putra nya dan kemudian mengecup nya sesekali.
...
Pukul 09.34 pm
Tuk!
Lucas berhenti, mainan yang jatuh dan tepat menggelinding di depan nya seperti Dejavu ketika ia pertama kali bertemu dengan putra nya.
Estelle diam sejenak, langkah kaki nya yang mungil berhenti berlari dan menatap ke arah pria yang berdiri tepat di dekat bola karet besar yang menggelinding dan berhenti di depan sepatu mengkilap.
Kedua wajah datar tanpa ekspresi itu saling memandang, namun untuk Lucas tak bisa melihat bagaimana bentuk wajah putra nya dengan jelas.
"Ck!" Lucas kembali melanjutkan langkah nya, ia berdecak dan waktu yang berlalu masih membuat nya tak menyukai anak lelaki itu.
Estelle diam, walaupun ia tak tau apapun namun perasaan anak kecil tau mana yang menyukai nya dan mana yang membenci nya secara terang-terangan.
Mata nya menoleh ke arah pria yang pergi dan berlalu dengan sendiri nya itu.
"Papa? Aku ga mau dia Papa..." gumam nya lirih karna ia juga masih anak kecil yang penuh dengan sifat mengeluh namun ia selalu berusaha menutupi dari sang ibu.
Namun semua yang terjadi tetaplah terjadi, suka atau tidak pria itu yang akan menjadi ayah nya kelak dan mungkin ayah seumur hidup nya karna ibu nya tak akan memiliki kesempatan untuk menikah dengan orang lain selain ayah biologis nya.
Lucas tak menoleh sama sekali untuk melihat putra yang terus menatap ke arah nya.
__ADS_1
Ia hanya berjalan untuk menemui istri kesayangan nya, gadis yang ia nikahi secara hukum dengan kekuasaan yang ia miliki walaupun gadis itu tak hadir sama sekali sewaktu pencatatan sipil.
"Bagaimana? Kau sudah bisa berjalan?" tanya Lucas saat memasuki kamar nya yang ia tau sekarang gadis kesayangan nya akan tetap ada.
Anna mengangguk dengan senyuman tipis, "Nanti aku boleh undang satu orang tidak?" tanya Anna yang tau semua tamu undangan di pesta pernikahan nya hanya berisi rekan kerja pria itu saja.
"Siapa?" tanya Lucas yang tentu jika dia adalah seorang pria maka ia akan menolak nya dengan segera.
"Samantha, dia te.. teman ku.."
"Ka.. kami waktu sempat berbaikan..." ucap Anna lirih.
"Berbaikan? Dia adalah sumber penderitaan mu kan? Dia yang membuat mu menjadi yatim piatu." ucap Lucas yang juga menganggap jika Samantha sama bersalah nya seperti orang tua nya.
"Tapi kan anak ga minta di lahirin, itu salah orang tua nya. Aku juga ga benci dia kok..." jawab Anna lirih.
Lucas menarik napas nya, ia menatap ke arah gadis itu dan kemudian menarik napas nya.
"Ya, terserah mu." jawab Lucas pada gadis itu.
Anna memberikan senyuman cerah nya, namun tentu tak ada siapapun yang tau isi hati nya.
......................
3 Bulan Kemudian.
Aula Hotel
Suara hening, aroma yang menyeruak memenuhi dari semua bunga asli yang menyebarkan keharuman.
Gadis itu berjalan, dengan sepatu cantik yang di rancang sesuai untuk nya.
Ia tersenyum pada orang-orang yang datang ke pesta pernikahan nya.
Dan di antara orang-orang itu yang ia kenal hanya teman nya, putra nya dan Diego.
Pembacaan ikrar di mulai, janji yang di ucapkan pun terdengar dan kedua nya saling menjawab dengan jawaban yang sudah di ketahui.
Lucas diam sejenak, ia merasa sedikit gugup dan jantung yang ingin meluap.
Mungkin karna ia merasa begitu bahagia?
Di penghujung pernikahan adegan klise dengan berciuman pun tiba. Lucas menarik dagu Anna secara tiba-tiba dan mel*mat bibir nya.
Diego dengan cepat menutup wajah anak tampan itu agar tak melihat nya.
Tepuk tangan terdengar, namun pria itu masih memejam sembari menikmati bibir lembut yang terasa lebih manis saat ini.
Perlahan mata abu-abu terbuka setelah ciuman sumpah nya.
Deg!
Deg!
Deg!
Semua nya mengabur, pandangan yang bahkan tak bisa melihat sosok yang dekat di depan nya saat ia seperti mata dengan minus 10.
Perlahan dengan pasti, semua pandangan yang buram itu mulai jernih.
Lucas diam sejenak, ia membatu beberapa saat ketika melihat sesuatu yang lebih jelas.
Tak hanya wajah namun semua warna gadis itu bahkan dari pakaian atau buket bunga nya.
Lucas mengernyit, ia menghadap tamu undangan dan tersentak saat melihat wajah dengan jelas.
Senyuman tipis pria itu naik, ia mengusap bibir merah muda itu dan kemudian menarik nya lagi.
Sesuatu yang di pengaruhi dengan keadaan dan juga situasi.
Perasaan senang yang meluap membuka sesuatu di dalam diri nya sama seperti ia begitu bahagia ketika mengambil kesucian gadis yang ia nikahi.
Dan sekarang pun ia juga merasa kebahagian yang luar biasa untuk itu.
Tangan nya menggenggam tangan kecil gadis nya, yang sudah ia nikahi jauh hari namun baru sekarang pesta nya.
Menuruni anak tangga dengan perlahan dan mengingat perasaan serta momen yang tak akan terulang lagi itu.
Bahkan jika kau berbohong pura-pura mencintai ku tak masalah...
Aku tetap menyukai nya...
Asalkan kau tetap bersama ku, tidak masalah jika kau berbohong...
Untuk perasaan yang mungkin palsu...
__ADS_1
Aku mencintai mu dan itu cara untuk ku untuk membuat mu tetap di sisi ku...