
JNN grup
Pembicaraan tentang harga saham dan juga proyek yang akan di lakukan dengan layar yang masih berganti setiap slide.
Ponsel nya berdering, mata pria itu pun menoleh dan melihat ke arah nya.
Sebuah nomor tak di kenal pun memanggil, Lucas mengernyit dan mematikan nya karna ia pun sedang melakukan pekerjaan sekarang.
Beberapa kali dering di ponsel nya menyala, namun karna berasal dari nomor yang tak ia kenali membuat nya mengabaikan nya dan memilih melanjutkan rapat nya.
......................
Sekolah
Ke empat gadis remaja itu kini tengah berdiri dan tentu menunggu panggilan wali masing-masing.
Semua nya sudah di angkat kecuali satu siswi yang wali nya tak bisa di angkat sama sekali.
"Kalian pikir ini di mana?" tanya salah satu guru yang kesal dan memarahi ke empat gadis remaja itu.
Tiga yang tampak terluka dan memar ringan sedangkan satu diantara nya tampak memiliki luka yang cukup berat dan banyak.
Hampir seluruh tubuh dan wajah nya memar dan bengkak karna memukul secara berkelompok.
"Anna duluan Sir yang mulai!" ucap salah satu siswi yang langsung menyalahkan teman nya itu.
"Aku? Kalian duluan kan yang mulai? Kalian yang coret meja sama bangku aku! Kalian buat gosip yang ga bener! Kalian yang ganti minum aku sama air ken-"
"Cukup! Kalian malah melanjutkan pertengkaran kalian?!" ucap salah satu guru yang marah itu.
Ia menunjukkan anak-anak remaja itu menggunakan tongkat belajar nya, namun ia tak mengusik siswa yang berada di ujung paling kiri karna ia tau walaupun gadis itu yatim piatu namun wali nya bukan sembarang orang.
"Anna? Saya tidak bisa menelpon wali mu," ucap nya yang memberi tau.
Lucas memang menyimpan semua nomor guru gadis nya, namun masalah nya ada beberapa nomor baru yang tak ia ketahui.
Anna diam tak mengatakan apapun, ia takut akan tindakan impulsif nya yang membuat masalah.
Guru tersebut pun tak mengatakan apapun, ia berdecak dan kemudian duduk lagi di kursi nya.
30 menit kemudian.
Wali dan orang tua dari ketiga siswi itu sudah datang dan hanya satu siswi yang tak di temani oleh wali nya.
"Keluarkan anak ini dari sekolah! Apa sekalian kalian sangat tidak bermutu sampai harus mengajar anak seperti ini?" ucap salah satu orang tua siswi yang bertengkar itu.
Ia tentu mempercayai semua yang di katakan oleh putri nya dan langsung memarahi gadis yang sendirian tanpa wali itu.
"Maaf, anda tidak bisa seperti itu madam." ucap sang guru yang mencoba menenangkan nya karna terjadi keributan dan bahkan melibatkan anak yang memiliki sponsor yang bukan main-main itu.
"Anna! Cepat panggil wali mu!" ucap guru pria itu yang menyuruh siswi nya memanggil sendiri setelah panggilan nya tak ada yang di terima dan ia pun sibuk untuk menenangkan ibu-ibu yang menuntut keadilan untuk putri mereka.
"Memang ya! Kalau anak yang tidak punya orang tua pasti selalu saja membuat ulah!" ucap wanita paruh baya itu yang tampak begitu kesal.
Anna melihat dengan mata biru nya saat wanita itu menghina hidup yang bahkan tak pernah ia inginkan itu.
Ia pun mulai mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang yang tentu harus nya datang sebagai wali nya.
Suara panggilan yang terdengar menyambungkan membuat jantung berdegup kencang.
Ia takut pria itu memang tak mau datang maka nya panggilan dari guru nya di abaikan.
"Halo? Anna? Nanti bisa kau telpon lagi? Aku sed-"
__ADS_1
"Luc? Hiks... A.. aku..." gadis itu mulai menangis saat ia mendengar suara pria itu.
"Anna? Kau di mana?"
"Sekolah.. Hiks..." Anna menjawab dengan tangisan lirih, ia bukan nya sengaja namun ia sendiri pun tak tau mengapa langsung menangis begitu mendengar suara pria itu.
......................
JNN Grup
Lucas tersentak, ia pun langsung mematikan ponsel nya dan menghentikan rapat nya begitu mendengar suara tangisan gadis nya dari telpon.
"Dia kenapa?"
Ia merasa gusar, langkah nya dengan cepat keluar dan menyusul gadis nya ke sekolah.
Ia tak tau masalah apa namun begitu mendengar tangisan itu mampu membuat pikiran kosong dan langsung murka.
......................
Sekolah.
Melihat tak ada wali yang datang, para orang tua itu pun semakin memojokkan gadis yang tampak tak sebanding dengan mereka itu.
Walaupun mengenakan sepatu mewah dan jam tangan mewah namun para orang tua itu malah memandang jijik dan merasa gadis itu menjual diri nya untuk mendapatkan hak tersebut. Dan tentu nya pemikiran itu terjadi karna aduan putri-putri nya.
"Anak seperti mu tidak pantas di sini! Kenapa kalian bisa menerima orang seperti dia?"
Anna hanya diam tak mengatakan apapun, bahkan jika ia mengatakan yang sebenarnya dan siapa yang memulai maka tak akan ada yang percaya.
"Harus nya anak seperti mu ini di keluarkan dari sekolah!"
Guru yang menangani masalah ini pun sudah lepas tangan dengan orang tua yang tampak tak mau mendengarkan apapun kecuali menyalahkan gadis yang tak memiliki orang tua itu.
"Ya! Dia akan pindah! Urus surat pindah nya segera!"
"Kau siapa? Oh pasti kau itu yang jadi simpanan anak ini kan?" tanya nya salah satu orang tua yang hadir itu.
Lucas tampak tergesa-gesa, ia bahkan sampai datang ke kelas nya dan melihat sisa kekacauan sebelum di beri tau jika ia harus ke ruang guru.
"Tutup mulut mu, aku tidak membedakan wanita atau pria." ucap nya yang memang tak memandang gender dalam hal apapun.
"A.. apa?!"
"Tolong berhenti, kami akan selesai kan ini deng-"
"Siapa yang buat wajah mu seperti ini?" Lucas tersentak begitu melihat wajah dari gadis yang tampak memar di segala arah itu.
Anna tak mengatakan apapun, ia menarik dan memegang lengan pria itu.
"Pulang..."
"Aku mau pulang..."
Ucap nya lirih yang tak ingin bertahan lama di tempat seperti itu.
Lucas menatap tajam ke arah wanita yang tampak sangat berisik itu, hawa kematian yang membuat seluruh nya langsung terdiam seketika.
"Buat surat pindah nya! Sekolah tidak bermutu!" ucap nya yang kesal dan langsung membawa gadis nya keluar tanpa memperdulikan perhatian atau pembicaraan yang harus nya ia dengarkan.
......................
Mansion Damian
__ADS_1
Semua seragam dan pakaian gadis itu jatuh ke lantai, tubuh biru yang memar di segala arah itu terlihat dengan jelas.
Gadis itu mengatakan semua nya yang ia lalui selama beberapa waktu terakhir dan juga apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa kau baru bilang sekarang?" tanya Lucas yang merasa begitu geram.
"Aku pikir mereka bakal berhenti, tapi ternyata engga! Mereka ga berhenti!" ucap Anna lirih sembari menahan tangis nya.
Bahkan tentang gosip yang beredar di sekolah nya pun sudah ia katakan semua nya.
Lucas tak mengatakan apapun, ia melihat gadis yang menangis dangan tubuh polos yang di penuhi dengan memar itu.
Pria itu memegang dagu gadis itu dan menarik nya agar menengandah melihat ke arah nya.
"Anna? Kau tau? Aku sangat tidak suka melihat mu menangis untuk hal lain kecuali aku," ucap nya yang menatap ke arah mata biru itu.
"Luc? Aku ga mau ke sekolah lagi..."
"Aku..."
Anna tak mendengarkan sama sekali, ia sudah takut trauma untuk kembali ke tempat itu walau pun ia sudah menunjukkan perlawanan.
Lucas tak mengatakan apapun untuk beberapa saat, ia menarik bahu gadis itu.
"Sstt! Aku sudah bilang jangan tangisi apapun kecuali aku kan? Dan aku juga akan membalas mereka..." ucap nya berbisik dengan mata yang menyilang tajam.
......................
Dua Minggu kemudian.
Dokumen pindah sekolah sudah di lakukan, walaupun ujian kelulusan hanya tinggal beberapa bulan lagi namun gadis itu sama sekali tak ingin bersekolah di sana lagi.
"Ini," ucap Lucas yang memberikan beberapa kartu kredit pada gadis itu.
"Ini apa?" tanya Anna sesaat melihat kartu itu, ia tau benda itu namun ia tak tau kenapa di berikan pada nya.
"Ganti rugi, aku menuntut tiga anak itu dan itu kompensasi nya." ucap Lucas yang memberikan kartu kredit tersebut.
Anna diam sejenak, ia memang belum memasuki sekolah baru nya karna baru selesai pengurusan dan belum lagi luka memar di wajah itu lama hilang nya.
"Aku tidak mau," ucap Anna yang tak ingin menerima kompensasi itu karna ia tau orang-orang itu tak berniat meminta maaf pada nya.
Lucas tersenyum, ia tentu menyiapkan hal yang lain untuk gadis nya dan bukan hanya sebatas kartu kompensasi.
...
Satu Minggu kemudian.
Sebuah ledakan di salah satu sekolah swasta menewaskan kurang lebih 70 siswa dan 60!siswa mengalami luka, karna ledakan tersebut terdapat di lantai atas dengan bom yang cukup besar.
Di duga hal itu di lakukan oleh salah satu guru yang mengalami depresi dan pada akhirnya melakukan bom bunuh diri di sekolah.
Untuk kasus pembulian tentu di lakukan banyak orang, dan untuk melenyapkan banyak orang tak bisa menculik satu-satu namun bisa di bantai sekaligus.
"Kau suka?"
Anna mematung melihat berita di depan nya, sekolah meledak dan menewaskan seluruh teman sekelas nya berserta dengan anak-anak lain nya.
"Itu kamu yang bu.. buat?" Tanya Anna lirih.
"Ya, aku menyingkirkan semua yang membuat mu menderita, karna penderitaan mu hanya boleh aku yang melakukan nya." ucap Lucas pada gadis nya sembari memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
"Tapi yang tidak salah juga..." Anna terdiam, ia membenci teman teman nya yang membuat gosip tak benar dan menindas nya namun bukan ini yang ia inginkan.
__ADS_1
"Tidak! Mereka semua salah, melihat dan membiarkan penindas itu berarti mereka juga seorang penindas." ucap Lucas dengan mata yang tajam.
Sedangkan Anna hanya terdiam tak bisa mengatakan apapun.