Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Red light


__ADS_3

Sekolah


"Ann!" sentak Samantha yang terus menerus melihat teman nya itu melamun.


"Eh? Iya?" Anna tersentak dan langsung melihat ke arah teman cantik nya itu.


"Mikirin apa sih?" tanya Samantha yang mendekat ke arah gadis itu.


"Gak apa-apa," jawab Anna singkat pada teman nya itu.


"Kamu kok pucet sih Ann? Sakit?" tanya Samantha mengulang pada gadis itu.


Semenjak awal masuk sekolah pagi ini teman nya diam saja tanpa mengatakan apapun.


"Mama kamu gimana? Udah mendingan?" tanya Anna yang mengalihkan pembicaraan.


Beberapa hari terakhir ia mulai sangat sering mengantuk, mudah lelah, dan terkadang sakit perut yang teramat sangat.


"Mama aku itu suka kamu kok, dia biasa nya gak pernah gitu tapi mungkin semalam lagi sensitif aja." ucap yang langsung merasa bersalah pada teman nya itu.


"Iya, semoga Mama kamu cepat membaik yah..." ucap nya pada teman nya yang centil itu.


......................


Rumah Samantha


Wanita itu menatap ke arah suami nya yang sebelum nya tak menjawab panggilan nya.


"Dari mana kamu?" tanya nya pada pria itu.


"Dari mana? Kerja lah? Kamu kan tau sendiri aku baru pulang Ra," ucap Mr. Harris pada sang istri.


"Di sana gak ketemu siapa-siapa kan? Kenapa gak angkat telpon ku!" ucap nya yang tampak sangat terganggu.


"Kamu ini kenapa sih? Suami nya baru pulang malah marah gak jelas!" ucap Mr. Harris yang tampak kesal melihat sikap sang istri.


Mrs. Laura menggertakkan gigi nya, semenjak melihat teman putri nya itu membuat nya merasa tak nyaman karna membuat nya teringat dengan seorang wanita yang sangat ia kenal dan tidak bisa ia lupakan.


"Kamu gak temui siapa pun kan?" tanya Mrs. Laura sekali lagi pada sang suami.


"Kamu ini kenapa sih?" tanya Mr. Harris yang terlihat tak begitu mengerti mengapa sang istri sangat gelisah.


Wanita itu tak menjawab, ia memeluk pria yang sudah menjadi suami nya itu.


Memang jika mendapatkan sesuatu setelah mencuri milik orang lain akan membuat nya juga sangat takut untuk di rebut kembali.


......................


Restoran.


"Ekhm...."


Anna menoleh ke arah teman nya itu dan melihat wajah yang tidak nyaman.


"Kenapa Sam? Mau minum lagi?" tanya Anna sembari mengambilkan minuman untuk teman nya itu.


"Ga..gak apa-apa Ann..." jawab Samantha lirih sembari melirik ke arah pria yang juga duduk di meja yang sama dengan mereka.


"Cepat makan nya, Lucas meminta mu datang lagi." ucap pria itu dengan senyuman yang seperti biasa pada gadis itu.


"Kenapa dia panggil aku lagi?" gumam Anna yang lesu saat Lucas kembali memanggil nya ke perusahaan.

__ADS_1


"Kau terlihat pucat? Sakit?" tanya nya saat melihat ke arah wajah gadis yang tampak lebih putih dari sebelum nya itu.


"Saya? Tidak? Mungkin cuma kelelahan aja." ucap nya pada pria itu.


"Baik, habiskan makanan mu," ucap nya yang kembali tersenyum.


Diego hanya tersenyum seperti biasa, senyuman formalitas yang sebenarnya tak menunjukkan keramahan nya sama sekali.


Mata nya menoleh ke arah gadis yang terus mencuri pandangan ke arah nya.


Uhuk!


"Sam? Kenapa? Kamu kesedak terus!" ucap nya pada teman nya.


"Kau mau minum?" ucap Diego yang tersenyum sembari memberikan minuman yang lain pada gadis remaja itu.


"I...iya..." jawab Samantha lirih yang tersenyum canggung melihat ke arah pria yang terlihat biasa saja itu seperti tak pernah terjadi apapun.


"Sam? Aku ke toilet sebentar ya?" ucap Anna pada gadis itu.


Samantha mengangguk kecil dengan sendiri nya, Anna pun tersenyum dan bangun setelah nya.


Kini suasana nya terasa semakin canggung saat teman nya sudah pergi.


"Kau melihat ku terus? Kenapa?" tanya Diego sembari meminum wine yang hanya di berikan ke gelas nya namun tidak dengan kedua gadis remaja itu.


"Ti...tidak! Sa..saya ti..tidak melihat Anda!" jawab nya yang langsung tergagap.


"Anda?" tanya pria itu sembari menaikkan satu alis nya.


"Kau memanggil nama ku dengan semangat malam itu, kenapa sekarang berubah?" tanya nya dengan senyuman yang seperti biasa nya.


Wajah Samantha memerah seketika mendengar nya, rasa nya ia ingin segara menyembunyikan wajah itu.


"Aku bisa memesan kunci untuk mu lagi," sambung yang seakan memberikan kode untuk membawa gadis remaja itu ke kamar hotel.


"Saya sudah punya pacar!" jawab nya seketika.


Diego tertawa kecil mendengar nya, "Bukan nya anak itu tidak bisa memuaskan mu? Kau tidak perlu pakai mainan apapun saat bermain dengan ku kan?" tanya nya dengan senyuman yang menggoda gadis itu.


Samantha tak mengatakan apapun lagi, "Saya kan ti-"


"Kalian ngobrol apa?" sela Anna dengan wajah polos nya yang tersenyum saat kembali.


Samantha langsung terdiam, wajah nya memerah malu tak dapat melihat ke arah pria yang terus tersenyum ramah seperti tak terjadi apapun.


Berbeda dengan nya yang hanya baru melakukan sesuatu yang gila dengan kekasih nya, pria itu sangat tak asing dengan olahraga ranjang lagi.


Bagi nya wanita hanya seperti pakaian yang bisa ia lepas pasang kapan pun ia inginkan karena hal tersebut sudah termasuk ke dalam kehidupan pribadi nya.


"Tidak ada, tadi dia bilang ingin mengajak mu keluar lagi," ucap nya pada Anna yang menatap nya dengan mata biru yang jernih.


"Keluar?" tanya Anna yang melihat ke arah Samantha, ia tentu tak bisa lagi keluar jalan-jalan seperti kemarin.


"Ya, Ke-lu-ar ber-sa-ma," ucap nya tersenyum sembari mengeja apa yang ia katakan dan melihat ke arah gadis remaja itu.


Wajah Samantha memerah, mungkin teman nya tak mengerti sama sekali namun ia sangat mengerti maksud nya.


"Sudah selesai? Kalau sudah kita kembali, mau ku antar?" tawar nya pada gadis itu.


"Sa..saya pulang se..sendiri..." ucap Samantha gugup dan langsung berlari berbalik menjauh.

__ADS_1


"Sam?" Anna mengernyit menatap ke arah teman nya yang tampak ingin buru-buru pergi.


"Kalau begitu kita pergi?" tanya Diego yang kemudian menatap Anna setelah Samantha pergi dengan cepat.


...


Mobil yang mulai melaju dan begitu hening tak ada percakapan apapun dan juga suara musik di dalam kendaraan mewah itu.


"Sir?" panggil Anna lirih.


"Ya? Kau mau tanya sesuatu kan? Tanyakan saja," ucap Diego yang seperti mendapati gelagat gadis itu ingin bertanya pada nya.


"Me..menurut Anda S..sir Lucas Ka..kapan bosan nya dengan saya..." tanya Anna lirih dengan ragu karna ia ingin segera terlepas dari pria gila itu.


Diego terdiam sejenak tanpa senyuman ketika mendengar nya, ia sangat mengenal sepupu nya itu dengan baik.


"Seperti nya dia benar-benar suka pada mu jadi kau harus hati-hati," ucap nya pada gadis itu.


"Anda membuat saya takut Sir..." ucap Anna melihat ekspresi serius pria itu.


Diego langsung tersenyum seperti biasa lagi, "Dia hanya sedikit tidak bisa jujur dengan perasaan nya saja," ucap pria itu yang kini bersikap seperti hanya candaan belaka lagi.


"Bukan nya anda juga sama?" tanya Anna lirih.


"Aku? Memang nya aku kenapa?" tanya Diego yang mengernyit bingung.


"Saya belum pernah melihat anda tersenyum," jawab Anna yang lebih peka dengan hal seperti itu terutama dengan wajah senyuman palsu yang di paksa kan.


"Aku? Aku kan tersenyum setiap hari, sekarang pun juga." ucap nya pada gadis itu.


"Tapi itu bukan senyuman anda yang asli, anda hanya membuat nya. Memang sih waktu pertama kali ketemu saya seperti orang yang ramah tapi seperti nya sekarang saya semakin sadar kalau anda sebenarnya tidak ramah atau pun benar-benar tersenyum." terang nya pada pria itu.


Berbeda dengan seseorang yang kaku dan dingin serta tajam seperti poker face maka pria di samping nya saat ini menunjukkan mimik yang di inginkan sesuai dengan Joker face namun memiliki perasaan yang berbeda dengan ekspresi wajah yang di tunjukan.


Diego tersenyum tipis mendengar nya, tak ada yang pernah mengatakan seperti itu pada nya.


"Haha, bayi cumi kita mulai besar rupa nya." ucap nya sembari mengusap kepala gadis remaja itu.


Tes...


"Hum?"


Anna tersentak, awal nya ia memang terkejut karna pria itu tiba-tiba mengelus kepala nya namun sekarang ia malah di kejutkan dengan tetesan darah yang jatuh dari hidung nya.


Tangan pun langsung mengambil tissue yang berada di dalam mobil itu dengan cepat.


Diego melirik ke arah tangan gadis itu yang tampak memiliki banyak bercak cairan merah.


"Kau kenapa?" tanya nya sembari langsung melihat ke arah gadis itu.


"Mimisan?" sambung nya yang langsung mengernyit melihat darah yang sulit di hentikan itu.


"I..iya, mungkin panas dalam..." jawab Anna yang semakin pucat sembari terus memegangi hidung nya dengan tissue.


...


Sementara itu


JNN grup.


Ponsel pria itu menampilkan notifikasi merah, chip yang ia berikan seperti memancarkan suara berisik yang mirip dengan radio mencari siaran.

__ADS_1


"Kenapa gelombang nya terlalu tinggi?" gumam nya yang mematikan chip untuk mendengar yang terjadi pada gadis itu.


Sedangkan ponsel nya yang terhubung dengan aplikasi pengendali chip yang berada di tubuh gadis itu semakin menampilkan notifikasi merah dan alarm tanda peringatan.


__ADS_2