
Mansion Damian
Akh!
Suara jeritan terdengar begitu ia membuka pintu kamar nya.
Ia melihat ke arah seseorang yang menggeliat di lantai nya dengan tangan yang di borgol ke belakang dan juga rantai di leher nya.
Memakai gaun yang mengembang seperti princess Disney namun memiliki penampilan yang begitu luar biasa mengerikan.
Terlebih lagi yang menggeliat di kamar ny masih hidup.
"A..Anda baik-baik saja?" tanya nya lirih yang mendekati ke arah seseorang yang tampak seorang wanita dewasa atau gadis muda itu.
Argh!
Anna langsung terduduk di lantai, ia terkejut setengah mati melihat wajah yang rusak dan pipi yang di jahit terutama di bagian mata nya yang tampak begitu mengerikan.
"Hok...hong..." (Tolong) rintih nya mencoba menggeliat dan mendekati Anna.
Anna terkejut benar-benar terkejut sampai ia tak bisa mengatakan apapun dan membatu di tempat nya.
Satu persatu lelehan buliran bening jatuh di mata nya.
"A..anda ma..masih hidup kan?" tanya nya pada gadis muda yang tampak memiliki usia sedikit di atas nya.
"Hohong..." suara yang tak jelas dan hanya seperti suara dari tenggorokan itu terdengar.
Ia berusaha bicara namun lidah nya sudah di potong sehingga membuat nya tak bisa mengatakan apapun.
Pluk!
Deg!
Anna tersentak, mata mainan itu jatuh karna kalah dengan darah yang di keluarkan dari mata gadis muda itu.
"Akh!"
Anna berteriak kencang ketika melihat mata seseorang yang jatuh tepat di depan nya.
Duak!
Anna terdiam, tubuh gadis muda itu di tendang sampai membuat nya menggelinding kesakitan.
"Dia bukan boneka yang bagus?" tanya Lucas yang entah sejak kapan datang namun kini ia berdiri di samping gadis itu dan mengulurkan tangan nya.
Anna masih terdiam, ia seperti kesulitan mencerna situasi saat ini dan hanya menatap ke arah pria yang mengulurkan tangan nya itu.
"Kau menangis?" tanya Lucas yang berjongkok dan melihat ke arah gadis itu.
"Tidak suka?" tanya nya dengan menatap bingung dan kini mulai menghapus air mata gadis yang gemetar hebat itu.
Anna tak mengatakan apapun, ia kembali begitu terkejut lagi sampai membuat nya bungkam tak bisa mengatakan apapun dengan benar.
"Seperti nya dia bukan mainan yang baik," ucap Lucas yang langsung berdiri dan mendekat ke arah hadiah yang ia berikan.
Gadis muda itu menggeliat seperti mencari bantuan namun ia malah mendekat dan.
Bugh!
Satu tendangan kuat melayang di kepala gadis muda itu, tak ada sama sekali simpati dan empati nya sekaligus ia tak mengenal wanita maupun pria saat melihat korban nya.
Bagi nya semua sama saja, tangan nya mengambil rantai di leher gadis muda itu raj menginjak kepala nya keras dan sekuat mungkin.
Sedangkan Anna masih membisu, sekujur tubuh nya membeku dan tak bisa mengatakan apapun.
"Hokh!"
"Ukh!"
Rintihan kesakitan gadis muda itu terdengar dengan jelas di telinga nya seperti meminta tolong.
"Sir!"
Ia langsung beranjak mendekat dan memeluk erat kaki pria yang tidak sedang menginjak kepala gadis muda itu.
"Sa..saya..." tangis nya segugukan dan memeluk erat kaki pria itu seperti sedang mengemis.
"Kau bilang kau suka boneka manusia kan? Aku memberikan mu apa yang kau suka." ucap nya yang dengan bangga nya mengatakan pemberian nya.
__ADS_1
Anna tak bisa mengatakan apapun saat ini, ia tak ingat pernah bilang suka boneka manusia namun mungkin jika ia pernah pun yang ia maksud adalah barbie dan bukan nya manusia sungguhan.
"Sa..saya..." tangis nya yang gugup dan tampak begitu takut hingga ia terus memejamkan mata nya tak ingin melihat boneka manusia yang di buat Lucas khusus untuk nya.
"Saya suka anda! Saya mau anda!" ucap nya yang kini dapat mengeluarkan suara nya dengan jelas.
Lucas terdiam, ia menurunkan kaki nya yang sebelum nya menginjak kepala gadis muda itu dan menjatuhkan rantai nya.
Ia menatap ke arah gadis yang memohon dan memeluk kaki nya seperti sedang mengemis dan memohon.
"Kau suka pada ku?" tanya nya sembari memegang dagu gadis itu.
Anna mengangguk mendengar nya dengan lelehan buliran bening yang masih terjatuh.
"Aku juga suka pada mu," balas Lucas dengan senyuman devil nya.
"Ba..bawa saya keluar dari sini, sa..saya hanya mau bersama anda..." ucap nya gugup dan terdengar gagap karna masih menangis ketakutan.
"Baik, Ayo keluar." ucap Lucas yang membawa gadis itu keluar dan membawa nya ke tempat lain.
Namun ia juga tak membawa gadis itu secara cuma-cuma karna ia seperti meminta 'bayaran' dari hadiah yang ia berikan.
Tubuh nya bergetar, gadis itu mulai lihai dengan apa yang ia ajari walaupun melakukan nya campur tangis dan takut.
Ungh!
Ia menahan kepala gadis itu yang membuat nya merasa sampai awan yang tinggi.
Namun Anna hampir tersedak tak bisa bernapas karna sesuatu yang mencolok masuk ke dalam tenggorokan nya.
"Kali ini banyak terkena gigi," ucap nya yang mengusap vanila yang menetes di sudut bibir gadis yang tampak masih menangis itu namun juga tetap menuruti nya.
Ia tak melakukan nya selama seminggu selama di Jepang karna hanya ingin gadis itu yang melakukan itu untuk nya, walaupun jika ia mau maka ia bisa meminta wanita mana saja untuk melepaskan hasrat nya.
"Kenapa wajah mu seperti itu?" tanya nya yang memegang dagu gadis itu.
"Tersenyum," perintah nya.
Anna masih mengatur napas nya tak beraturan karna tangis nya.
Perlahan senyuman yang di paksa itu kembali terlihat.
Sedangkan tangan nya mengusap punggung yang tampak jelas di depan mata nya karna seluruh pakaian gadis itu sudah tertanggal di lantai.
Humpkh!
Anna tersentak, mata biru nya membulat seketika saat ia merasa pria itu tiba-tiba kembali mencekoki nya dan kini seperti masuk ke dalam tenggorokan nya.
"Lagi, aku belum cukup..." perintah pria itu yang memegang rambut bergelombang berwarna pirang itu dan membuat nya bergerak sesuai kemauan nya.
....
Dua hari kemudian.
Sekolah
Kali ini Anna sudah dapat kembali ke sekolah nya, dan tentu nya teman nya yang khawatir karena ia tak datang seminggu langsung memeluk nya dengan erat.
"Kamu sakit apa sih? Kok sakit Mulu?" tanya Samantha yang memeluk gadis itu dengan erat.
"Aku sehat kok, sekarang kayak nya mau sakit nih!" keluh Anna saat gadis itu memeluk nya dengan begitu erat.
"Tapi kamu tuh ga datang seminggu lebih tau Ann! Padahal kamu dulu itu jarang absen!" ucap Samantha yang menatap ke arah teman nya dengan tatapan kesal.
"Iya, tapi sekarang aku datang kan?" tanya nya pada teman nya yang tampak cemberut itu.
Samantha tak menjawab namun ia tampak tak akan lagi bertanya dan kembali memeluk teman nya.
Anna tak mengatakan apapun yang terjadi pada nya, ia bahkan tau nasib gadis muda yang tampak mengerikan di kamar nya itu karna ketika ia kembali maka semua nya sudah tampak begitu rapi seperti semula.
...
Pelajaran olahraga.
Seluruh siswa siswi di kelas gadis itu kini di kumpulkan di lapangan basket dan tampak mengenakan pakaian olahraga.
Sedangkan Anna sendiri merasa tak bersemangat, seluruh tubuh nya merasa sangat letih dan lelah belum lagi perut yang terasa mulas dan mual di saat bersamaan.
"Anna?" panggil Samantha yang melihat teman nya tampak berbeda.
__ADS_1
"Hm?" gadis itu menoleh.
Wajah nya pucat pasi dan berkeringat dingin.
"Kamu sakit Ann?" tanya Samantha yang beranjak mendekati gadis itu.
"Apa? Engga kok? Mem-"
Tes...
"Ann!" Samantha langsung menjerit dan mendekati teman nya.
"Kamu mimisan? Ketendang bola tadi?" tanya nya yang langsung dengan sigap memapah gadis itu.
"Mu..mungkin cuma kelelahan aja," ucap nya yang masih bisa tersenyum karna sudah menjadi seperti kebiasaan nya.
"Aku panggil guru buat kamu izin ke UKS!" ucap Samantha dengan cepat.
Ia pun mengantar teman nya ke UKS dan meninggalkan nya karna ia harus kembali lebih dulu sesuai dengan peraturan sekolah.
Perawat yang ada UKS pun langsung dengan sigap membantu nya untuk menghentikan mimisan nya.
......................
JNN grup
Rapat lelang kali ini masih di langsungkan, Lucas tak menggunakan ataupun mengaktifkan chip di tubuh Anna karna ia tengah melakukan presentasi.
Tak ada tanda-tanda apapun di ponsel nya dan semua berjalan seperti biasa walaupun saat ini kondisi gadis yang di pasangkan chip itu tengah sakit.
"Ada yang ingin bertanya?" ucap nya pada para petinggi dari kalangan itu dan juga Presdir dari perusahaan besar lain nya.
"Saya, apa di dengan dana..."
Pertanyaan yang cukup panjang dengan jawaban yang memuaskan membuat semua orang di tempat itu merasa tak ragu untuk menginvestasikan harta dan waktu yang ia miliki.
......................
Sekolah
UKS
Gevan melihat ke arah gadis yang tampak sangat pucat itu namun kini sedang tertidur.
Ia tak menemui nya sejak pagi karna merasa enggan dan tak nyaman namun pada akhirnya ia langsung datang saat mendengar gadis itu masuk UKS.
"Hey? Bangun? Kalau kau sakit siapa yang akan ku ganggu?" tanya nya lirih dengan suara yang pelan.
Walaupun ia menyuruh gadis itu untuk bangun namun pada kenyataan dan sikap nya ia tak ingin membuat istirahat gadis itu terganggu.
......................
Sementara itu.
Prang!
Wanita itu melempar vas bunga pada suami nya, ia tampak mengamuk dan marah.
Ia menjadi lebih sensitif saat melihat teman putri nya yang mirip dengan seseorang yang sangat ia kenali.
"Kau selingkuh kan? Siapa tadi?!" tanya nya dengan geram dan menatap penuh curiga pada suami nya.
"Aku?! Dia cuma teman kerja!" jawab pria itu yang menepis tangan sang istri dengan kasar karna merasa kesal akan sikap nya.
"Teman?! Dulu kita juga cuma teman!" jawab nya yang masih tak percaya.
Aku harap kamu nanti tau rasa nya!
Tau sakit nya aku itu seperti apa!
Wanita itu menggeleng, ia teringat perkataan yang sudah belasan tahun lama nya di ucapkan.
"Bukan! Itu bukan salah ku!" gumam nya lirih.
"Laura!" pria itu membentak nama sang istri dan memegang lengan nya dengan erat saat melihat ke arah wanita yang tampak kacau itu.
"Kau mencintai ku kan?" tanya yang melemah pada suami nya.
Pria itu diam sejenak, ia beranjak memegang lengan sang istri, "Ya dan kita harus membereskan nya sebelum dia pulang." ucap nya yang mengacu pada putri mereka.
__ADS_1