Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Broken Smile


__ADS_3

Mansion Damian


Tak ada pembicaraan apapun selama berada di dalam mobil, gadis itu masih mematung dengan wajah yang sembab dan mata yang merah.


Langkah nya mengikuti pria yang masuk ke dalam kamar itu.


"Kenapa kau bisa ada di sana tadi?" tanya Lucas dengan mengernyitkan dahi nya.


Tentu ia merasa curiga jika gadis nya pergi dengan seseorang tapi memiliki kartu untuk masuk ke dalam ruangan itu juga sudah merupakan salah satu hal yang aneh juga.


Anna masih terdiam, mata yang gemetar itu melihat ke arah pria yang berada di depan nya.


Ia sedikit mendekat, aroma parfum yang tak biasa nya ia cium dari tubuh pria itu kini terasa berbeda.


"Ka.. kalian tidur ba.. bareng tadi?" tanya Anna dengan gelombang suara yang gemetar dan lirih.


Lucas melihat ke arah gadis yang tampak gelisah dan takut itu, wajah nya tak menunjukkan apapun.


"Tidak," jawab nya singkat dengan datar.


"Lalu kau belum menjawab pertanyaan ku walaupun aku yang tanya lebih dulu." ucap nya sekali lagi pada gadis yang masih tampak menangis itu.


"Terus tadi apa? Pakaian kalian di..." ucap nya yang tercekat mengingat pakaian wanita yang berserakan itu.


"Itu bukan urusan mu, jangan menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak perlu kau pikirkan." ucap pria itu yang langsung membuat gadis itu tersentak.


Anna terdiam beberapa saat, wajah tampan itu selalu datar. Mata nya setenang lautan yang belum mengalami pasang. Ekspresi nya tampak datar.


"Di atas hotel itu juga ada pesta kan? Aku..." ucap nya lirih yang kemudian menunduk.


Ia tau tentang pesta itu namun pria di depan nya tak mengatakan apapun bahkan mengajak nya dan tentu ia memikirkan sesuatu di kepala kecil nya itu.


"Anna? Kau memeriksa meja kerja ku?" tanya Lucas yang mengernyitkan dahi nya.


Anna tak menjawab, soal undangan dari pesta perusahaan itu ia tau tanpa sengaja.


"Kamu malu sa.. sama aku? Ja.. jadi kamu sama dia?" tanya nya lirih yang sama sekali tak menjawab.


"Aku pergi dengan Diego," jawab Lucas sekali lagi.


Ia tau cara menjawab namun ia tak tau bagaimana cara nya menjelaskan sesuatu yang mirip dengan hal seperti ini.


Anna tak mengatakan apapun lagi, ia masih diam dan tak menjawab apapun.


"Sekarang jawab, kenapa kau bisa di sana?" tanya Lucas yang masih belum mendapatkan jawaban apapun.


"Kamu tidak mau jelasin apapun?" tanya Anna sekali lagi dengan mata nya yang memerah dan suara yang gemetar.


Lucas menarik napas nya, raut wajah nya mulai kesal. Ia memang sedang tak dalam mood yang baik saat ini karna kejadian di hotel tadi.


"Aku sudah bilang tidak! Tapi kenapa kau masih tanya?!" ucap nya yang tanpa sadar membentak gadis itu.


Deg!


Anna tersentak, tubuh nya memaku beberapa saat ketika mendengar suara keras yang masuk ke dalam telinga nya itu.


Jawaban pria itu hanya terdengar seperti menyangkal pada nya.


Greb!


"Ukh!"


Gadis itu meringis, ia menatap ke arah pria yang tampak datar namun mata yang memiliki lautan api itu.


"Kenapa kau bisa di sana? Kau pergi dengan seseorang? Atau ada yang menyuruh mu ke sana?" tanya Lucas sekali lagi dengan nada penekanan.


Anna meringis, ia tak menjawab kecuali tangisan lirih.


Ia masih terkejut dan pria itu tak memberi nya ruang untuk menenangkan diri nya lebih dulu.


"A.. ada yang memberi tau ku dan mengirim ka.. kartu nya di loker kampus..." ucap nya saat ia mulai bicara.


Lucas tak mengatakan apapun, ia diam dan tampak memikirkan nya. Tangan nya melepaskan pundak gadis itu dan pergi dengan begitu saja.


Anna masih mematung namun ia beranjak dan mengejar pria itu.


"Luc! Tapi kamu belum bilang apapun! A... aku harus tau kan kenapa kamu di sana?" tanya Anna yang juga membutuhkan penjelasan.


Mungkin jika pria itu menjelaskan sesuatu yang bisa ia pahami ia akan mencoba percaya.


Karena bisa jadi kini ia sudah 'rusak' bukan fisik nya namun jiwa nya. Ia kehilangan diri nya sendiri. Mungkin krisis identitas?


Mata nya seperti tertutup dengan apa yang harus nya ia yakini dulu. Ia bahkan tak tau sudah seberapa banyak pengaruh pria itu pada nya.


Lucas tak menjawab apapun, bagi nya menjawab saja sudah cukup dan gadis itu harus mengerti.


Tangan nya melepaskan tangan kecil yang gemetar saat menahan nya itu.


Anna terdiam, air mata nya meleleh dan kemudian mengangkat wajah nya sekali lagi.


"Kalau begitu kamu bisa hapus berita nya kan? Berita tentang kalian! Kalau ada yang tau pasti akan muncul lagi ja-"


"Berita itu menguntungkan perusahaan," jawab nya singkat dengan wajah yang datar itu.


Deg!


Anna tersentak mendengar nya. Bahkan sampai sekarang eksistensi nya masih kalah dengan perusahaan yang sangat berharga itu.


"Aku ini apa sih di mata kamu?" tanya nya lirih.


"Milik ku," jawab Lucas singkat yang kemudian beranjak pergi untuk membersihkan semua aroma yang tertinggal di tubuh nya.


"Aku juga! Kamu bisa pergi dengan wanita lain ja... jadi aku juga!" ucap nya yang mengeluarkan suara nya.


Entah datang dari mana keberanian nya namun ia juga sangat terluka saat ini.


Lucas langsung berbalik, ia menatap ke arah gadis itu.


"Kamu pikir cuma kamu aja? Aku juga bisa, kalau cuma tidur di kamar hotel juga banyak yang mau sama ak- Auch!"


Ucapan nya terpotong, rambut panjang nya di tarik ke belakang dan membuat wajah nya menengandah.


"Kenapa kau terus memancing ku? Jangan menguji kesabaran ku," ucap Lucas yang memang saat itu ia tengah berada di fase yang memiliki kesabaran setipis kertas.


Anna tak menjawab, netra nya bergetar. Untuk pertama kali ia meninggikan suara nya.


"Hah..." Lucas menarik napas nya, tadi nya ia berpikir untuk menghapus aroma wanita sialan itu dengan membersihkan diri nya tapi sekarang ia memikirkan sesuatu yang berbeda.


Kenapa ia harus mandi untuk menyingkirkan aroma wanita itu jika ia bisa menghilangkan nya dan menganti dengan aroma tubuh gadis nya.


Humph!


Mata biru membulat sejenak, tubuh nya langsung bergerak dan memberontak seketika saat pria itu mencium nya bahkan dengan aroma wanita lain yang masih tertinggal.

__ADS_1


Ukh!


Ia berhasil mendorong dan tanpa sadar anggota tubuh nya bergerak dengan sendiri nya sebelum otak nya.


Plak!


Anna tersentak, ia yang memukul namun ia yang begitu terkejut.


"Lu.. Luc?" ucap nya lirih dengan gelombang suara yang gemetar tak hanya suara namun tangan dan tubuh nya pun sama.


Lucas terdiam, baru kali ini ia di tampar dengan gadis yang bahkan dulu tak berani membantah nya.


"Heh," tawa kecil naik di ujung bibir nya, ia mengangkat wajah nya dan menatap ke arah gadis yang tampak begitu terkejut itu.


Anna membatu, kenapa pria itu tersenyum?


Ukh!


Napas nya terasa tercekat, tangan yang besar itu melingkar di leher nya dengan erat.


"Sekarang kau semakin berani ya? Kau membantah ku, lalu membangkang dan sekarang? Apa aku sudah terlalu banyak memanjakan mu?" tanya pria itu dengan suara yang terdengar lembut namun menusuk di telinga nya.


Anna tak menjawab, ia tangan nya berusaha melepaskan cekikan pria itu namun ia tak bisa melakukan nya walaupun ujung kuku nya sudah mencakar tangan itu.


Bruk!


Tubuh kecil gadis itu di lempar ke ranjang, ia bahkan masih belum mengatakan apapun.


Ukh!


Mata nya yang berair dan wajah yang memerah itu menatap ke arah pria yang menindih tubuh kecil nya hingga membuat ruang gerak nya terbatas.


Kedua tangan nya di satukan dan mulai terikat ketika tubuh kecil nya di balik. Tentu rasa nya sakit saat bahu nya pun nyaman dan tangan yang keram jika di ikat ke belakang.


Anna tak mengatakan apapun, bahkan tangis nya pun tak bersuara dan hanya tak bisa mengatur wajah pilu nya itu.


Pria itu menatap datar, ujung ibu jari nya mengusap air mata nya yang jatuh itu sebelum tangan nya merobek paksa pakaian gadis itu dan membuka nya.


Suara Anna seperti hilang di telan oleh tenggorokan nya, ruangan yang ber AC itu membuat nya merasa merinding.


Kepala nya menggeleng menatap ke arah pria yang berada tegak di atas tubuh nya karna setengah duduk.


Plak!


Plak!


Ack!


Anna meringis, bukan di wajah nya namun di atas Piramida nya yang runcing itu.


Bekas tamparan yang memerah itu terlihat jelas di ujung yang runcing dengan kulit yang seputih susu itu.


"Auch!"


Tubuh nya membusur dan menggeliat seketika saat pria itu mengigit nya dan meremas nya di saat yang bersamaan.


Tak ada kenikmatan apapun yang ia rasakan, hanya sakit dan sakit.


Bekas gigitan di atas tubuh nya membuat meninggalkan jejak luka. Hisapan kuat yang membuat memar di atas kulit putih itu.


"Keras kepala..." gumam pria itu saat memeriksa jika kondisi fisiologis gadis itu tak menerima nya.


Ya, tentu saja karna tangan nya tak basah sama sekali bahkan setelah ia menjamah bagian sensitif itu.


Ukh!


Ya, tapi ia tetap tidak akan mati sungguhan dan itu lah yang menjadi penyiksaan untuk nya.


Malam panjang itu mulai berlalu, kini hanya ada dua aroma yang menyatu.


Suara tangisan dan er*ngan beradu menjadi satu dengan harmonisasi deritan ranjang.


Wajah cantik itu kini sudah memerah sembab, bahkan air mata nya telah kering dan tubuh nya kehilangan semua tenaga nya.


Tubuh nya masih telungkup, dan seseorang mulai bergerak melambat di atas nya.


"Kau salah?" tanya pria itu lirih yang baru berbicara setelah nya.


Mata biru diam sejenak, mendengar pertanyaan singkat itu membuat nya memproduksi buliran bening itu lagi.


"Ya, aku salah..." jawab gadis itu dengan wajah yang tak menunjukkan raut apapun namun ekspresi pilu yang menyedihkan itu terlihat.


Meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan tak ia lakukan, mengakui kesalahan yang tidak ia ketahui.


Ia sudah terbiasa melakukan nya, sampai tak tau lagi cara membedakan nya.


...


Pukul 03.12 am


Waktu dini hari namun pria itu masih belum tertidur sama sekali. Sedangkan gadis yang tadi nya kesakitan kini terlelap entah terlelap atau mungkin pingsan?


Ia membuka ponsel nya, semua data sudah masuk ke dalam nya.


"Mungkin dia akan cepat menyadari nya," gumam pria itu saat memikirkan sesuatu.


Mata nya menoleh ke arah gadis itu, ia meletakan ponsel nya dan beranjak mendekat lalu membelai kepala itu.


Tak ada rasa bersalah di hati nya, namun kemarahan nya atas sikap provokasi itu sudah mereda bersamaan dengan mood nya yang sebelum nya memang tak bagus.


"Apa menurut saja sesulit itu?" gumam nya yang merasa kasihan namun tak merasa bersalah.


...


Pagi menerjap kali, gadis itu terbangun ia tak bisa bergerak ketika rasa sakit di tubuh nya kembali menyebar seperti jutaan semut yang datang.


Kali ini melewatkan kelas pagi nya namun ia tak memikirkan nya sama sekali.


Kamar yang sunyi dan hening seperti menunjukkan tak pernah terjadi apapun.


Pil beserta dengan air sudah di siapkan di atas nakas nya. Anna menoleh, pria itu seperti nya sangat menjaga agar diri nya tak hamil.


......................


JNN Grup


Diego menatap ke arah sepupu nya yang tiba-tiba bisa mendapatkan data pribadi dari ponsel seseorang yang tak mungkin bisa di retas.


"Bagaimana kau mendapatkan nya?" tanya nya yang bahkan tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.


Lucas tak menjawab apapun, hanya ujung ekor mata nya yang bergerak dan melirik melihat ke arah sepupu nya.


"Cari tau tentang itu," ucap nya yang kemudian berbalik dan pergi.

__ADS_1


Ia kembali ke ruangan nya, membuka iPad nya dan melihat ke arah latar tempat yang terlihat bagus karna ia sekarang mulai memilih tempat-tempat bagus yang bisa ia gunakan nanti nya.


......................


Satu Minggu kemudian.


Waktu berlalu dengan sendiri nya, dan masalah malam itu pun terpendam. Anna tak mengatakan sesuatu atau bertanya lagi.


Ia masih bertahan, karna arah yang dulu ia pegang kuat telah hilang.


"Anna?"


Deg!


Gadis itu tersentak saat seseorang menyentuh nya, ia berbalik dan menatap ke arah pria yang memiliki mata yang hijau itu.


"Kau kenapa sangat gelisah?" tanya Gevan yang menatap ke arah gadis yang kini selalu terlihat penuh kekhawatiran.


"Aku kenapa? Aku baik-baik saja," ucap nya dengan suara yang tampak panik walau tak melakukan apapun.


"Kau semakin berubah," ucap Gevan lirih yang melihat ke arah gadis yang sangat berbeda saat pertama kali ia temui dulu.


......................


5 Hari kemudian.


JNN grup


Pria itu menatap ke arah gadis yang tampak sangat gelisah dan tak tenang itu.


Bukan hanya itu, wajah gadis itu selalu tampak panik. Beberapa gerakan kecil dari seseorang bahkan membuat nya begitu mudah terkejut dan kali ini bahkan muntah.


"Lucas tau?" tanya nya yang melihat wajah pucat gadis itu.


"Apa?" tanya Anna menatap ke arah pria di depan nya sebelum seseorang yang memanggil nya ke tempat itu datang.


"Tawaran ku masih berlaku, kau tidak mau-"


"Berhenti! Cukup! Jangan bicara apapun!" ucap nya yang langsung menolak.


Semakin hari ia semakin berbeda dan tak mengenali diri nya, rasa gelisah dan curiga selalu menyelimuti nya membuat semua akal sehat nya terhenti.


"Seperti nya di bandingkan obat sakit perut kau lebih butuh perawatan jiwa," ucap Diego yang menatap ke arah gadis itu.


Ciri-ciri yang hampir mirip dengan PTSD dan serangan panik, gadis itu mungkin sadar jika ia sedang terluka namun ia tak bisa melepaskan luka nya.


"Aku masih waras," ucap Anna yang tak terima mendengar nya.


"Kalau kau masih waras kau akan pertimbangkan apa yang ku katakan." ucap Diego yang menarik napas nya.


Anna tak mengatakan apapun, tangan nya gemetar saat mendengar nya.


Bobot tubuh nya pun mulai terus menurun walaupun ia mencoba makan seperti biasa, waktu tidur nya tak teratur membuat raut wajah nya terlihat lelah.


"Baik, aku tidak akan mengatakan nya lagi." ucap nya yang beranjak.


Karna ia tau di bandingkan nasihat dan saran gadis itu lebih membutuhkan perawatan untuk tau jika ia sedang 'sakit' atau tidak.


......................


Tiga hari kemudian.


Restoran


Gadis itu diam tak menjawab apapun, tadi nya ia pergi makan bersama sepupu pria nya dan tentu Lucas mengetahui itu.


Namun ia masih membiarkan sepupu nya berpergian dengan gadis nya karna ia tau jika pria itu tak akan bisa melakukan apapun.


Dan yang ia tidak tau adalah apa yang di lakukan sepupu nya selama 'meminjam' gadis nya sejenak.


Wanita itu tersenyum, sebelum nya ia mendengar jika seharusnya gadis di depan nya merupakan anak yang ceria tapi apa yang ia lihat?


Gadis itu tak mengatakan apapun pada nya, hanya melamun dan jemari yang tampak gelisah.


"Aku pernah dengar cerita, ada seseorang yang mencuri anak anjing dan kemudian merawat nya dengan baik. Menurut mu anak itu salah atau tidak?" ucap wanita itu yang berulang kali berbicara walau tak pernah di sahut.


"Apa dia mencuri nya untuk melindungi nya? Kenapa anak itu di salahkan? Mungkin dia kesepian karna menculik anak anjing itu." gadis itu bersuara saat mendengar nya kali ini.


Wanita itu diam sejenak dan kemudian tersenyum.


......................


Skip


Apart


Pria itu melihat ke arah selembar kertas yang berada di tangan nya, hasil nya memang belum begitu akurat karena bisa berubah namun yang jelas nya ada beberapa bagian penting yang tak mungkin salah.


"Kenapa banyak sekali? Pantas saja dia tidak mau kabur?" gumam nya yang menyadari pantas saja ucapan nya tak pernah masuk ke dalam kepala gadis itu.


Depresi berat, Gangguan kecemasan, Trauma dan kemungkinan Stockholm Syndrom.


Karna sebelum nya ia memberi tau pada psikiater wanita itu jika gadis yang ia bawa itu adalah adik nya dan sempat mengalami hubungan abusive dengan kekasih nya sehingga dugaan tentang Stockholm Syndrom itu bisa keluar.


Dan jika ia berbicara tentang kondisi asli mungkin saja diagnosa terakhir itu bukan lah kemungkinan melainkan diagnosa pasti.


......................


Mansion Damian.


Tes..


Tes..


Tes..


Warna merah segar itu terus menetes, mengalir keluar dari ujung pisau yang mengkilap itu semnagat membasahi roti lembut yang berada di tangan nya.


Mata pria itu membulat, secepat kilat ia langsung datang dan menarik tangan gadis itu.


"Kau sudah gila!" ucap Lucas yang menarik tangan gadis itu beserta dengan roti yang seperti di beri selai merah itu.


Anna tersentak, ia bahkan tak menyadari jika hampir memotong tangan nya saat ia tengah memotong roti untuk makan nya.


"Ah..." gumam nya yang menatap dengan mata kosong.


"Aku baik-baik saja Luc, tenanglah..." ucap nya yang kemudian tersenyum seperti tak terjadi apapun.


Darah nya masih menetes jatuh dan menyerap ke atas roti yang berada di atas piring itu sedangkan pisau roti itu kini sudah di tangan pria yang berada di depan nya.


Mata yang menyipit bagai sabit dan bibir yang naik seperti tak merasakan apapun.


Sampai kapan senyuman yang hancur itu bisa bertahan?

__ADS_1


__ADS_2