Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Menginginkan milik ku


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Rumah Mr. Harris


Pria itu tampak senang beberapa Minggu terakhir, ia memenangkan semua perjudian yang ia lakukan setiap tiga hari sekali tanpa kekalahan.


Dan tentu itu akan membuat nya ketagihan sehingga kini mulai menjadikan nya sebagai 'pekerjaan' baru tanpa tau jika yang akan ia lakukan saat ini begitu menjerumuskan nya.


"Pa?"


Samantha memanggil sang ayah yang kini tampak lebih baik dari sebelum nya, dan jika bertemu ibu nya pun mereka hanya akan terlihat saling membuang mata satu sama lain dengan canggung dan kesal.


Mr. Harris tersenyum pada putri nya yang selama ini sangat ia sayangi, semua kasih sayang yang ia miliki tumpah untuk gadis itu tanpa memikirkan putri nya yang lain.


"Ya? Ada apa?" jawab nya dengan wajah nya yang lembut itu saat melihat ke arah putri kesayangan nya.


Samantha diam sejenak, ia menarik napas nya dan melihat pria itu tanpa mengatakan sesuatu.


"Kamu belakangan ini seperti menghindari Papa? Apa papa salah?" tanya nya pada putri nya itu.


Gadis itu diam namun ia beranjak duduk di sofa yang berada di dekat sang ayah.


"Papa udah baikan sama Mama?" tanya nya pada pria itu.


Ia memang menghindari sang ayah semenjak menanyakan sesuatu pada ibu nya, ia tak tau harus bereaksi seperti apa pada kedua orang tua nya sekarang.


"Baikan? Kami kan tidak bertengkar," ucap Mr. Harris pada putri nya.


"Ya..." Samantha menjawab lirih sembari membuang wajah nya ke samping saat mendengar sanggahan walaupun sudah jelas itu.


"Soal teman aku yang waktu itu..." ucap nya pada sang ayah dengan gugup.


Senyuman Mr. Harris perlahan menurun, walaupun ia sudah mendapatkan ganti pemasukan saat ia kehilangan pekerjaan namun ia belum mendapatkan putri nya yang lain.


Rasa bersalah?


Penyesalan?


Ia bahkan tak yakin benar-benar memiliki perasaan seperti itu, karna jujur saja ia seperti tak punya ikatan apapun karna tak pernah merawat nya.


Namun setiap kali mengingat wajah yang mirip dengan mantan istri nya itu ia mulai sedikit merasa bersalah.


Dan ia membutuhkan putri yang tidak pernah ia pedulikan itu hanya untuk kepuasan ego nya.


"Ya? Apa dia masih marah pada mu?" tanya Mr. Harris dengan senyuman kaku kali ini.


Samantha tak menjawab namun ia menganggukkan kepala nya mengindahkan pertanyaan dari sang ayah.


"Sam? Papa mau tanya," ucap nya pada putri nya sembari membuang napas nya perlahan mencoba menenangkan suara nya sebelum ia berkata lebih lanjut.


Samantha tak mengatakan apapun namun mata nya melihat ke arah sang ayah seperti menunggu pertanyaan apa yang akan di keluarkan.


"Kalau misal nya Papa adopsi satu anak perempuan yang seusia kamu bagaimana?" tanya nya pada putri nya.


Deg!


Kali ini ia sudah mendengar nya, mungkin alasan terbesar ia menghindari sang ayah karna takut mendengar pembicaraan ini.


"Adopsi? Kalau dia masih anak kecil mungkin aku bisa berpikir Papa ingin melakukan sesuatu yang baik, tapi kalau dia seumuran dengan ku, aku jadi memikirkan hal yang berbeda." ucap nya dengan senyuman yang berat.


Walaupun ia sudah tau, namun jujur saja ia ingin menolak kebenaran nya. Ia tak ingin memiliki sejarah keluarga yang seperti itu.


"Bukan! Papa bukan maksud seperti itu!" ucap Mr. Harris yang mengira putri nya salah sangka jika ia menyukai anak-anak remaja dan mengadopsi sebagai dalih dari keinginan nya.


"Iya, aku juga tau kok Pa. Kecuali dia juga anak kandung Papa." ucap nya pada sang ayah.


Mr. Harris tersentak, wajah nya dengan jelas menunjukkan hati nya yang saat ini tak bisa ia kendalikan.


"Ka..kamu bilang apa Sam?" tanya Mr. Harris pada putri kesayangan nya itu.


"Papa punya anak perempuan selain Samantha kan?" tanya nya pada sang ayah.


Pria itu diam sejenak, lidah nya kelu tak bisa berkata apapun untuk sementara waktu.


Ia mengambil napas nya dengan dalam sebelum ia memulai pembicaraan nya lagi, "Mama kamu ada bilang sesuatu?" tanya pria itu yang menatap lurus ke arah putri nya.


Samantha diam tak menjawab sembari melihat wajah sang ayah yang begitu memperhatikan nya.


"Berarti iya kan?" tanya nya lagi tanpa menjawab pertanyaan yang baru di lontarkan pria yang ia panggil 'Papa' itu.


"Ini bukan sesuatu yang bisa di ketahui anak kecil seperti kamu," ucap Mr. Harris sembari membuang pandangan nya ke arah lain tak bisa menatap mata putri nya yang bertanya.


"Aku anak kecil? Aku bukan anak kecil lagi Pa! Aku tau!" ucap nya sembari mengepalkan tangan nya.


"Kamu tau apa? Jangan melewati batas, kembali ke kamar mu!" ucap Mr. Harris yang malah kini memarahi putri nya.


Samantha tersenyum kecil sembari menahan raut wajah nya. Ia tak mengatakan apapun lagi sekarang namun ia beranjak pergi menuruti permintaan sang ayah pada nya.


......................


Sementara itu


Anna melihat ke arah jalanan yang aspal yang mulus dengan pepohonan yang mengelilingi sepanjang jalan.



"Kita mau kemana Sir?" tanya sembari melihat ke arah jendela.


Tak ada yang mendahului mereka, tidak ada juga mobil yang berada di depan atau pun di belakang mereka saat ini.


"Menemui seseorang yang menyebalkan..." jawab Lucas lirih pada gadis itu.


"Kalau menyebalkan kenapa anda jauh-jauh datang, dan kenapa saya ikut?" tanya Anna dengan mata jernih yang menatap ke arah pria itu saat ini.


Lucas menarik napas nya, "Karna aku membutuhkan nya, dia menolak Diego dan minta aku yang datang langsung,"


"Dan aku mengajak mu karna aku mau mengajak mu," sambung nya pada gadis itu.


Anna mengernyit mendengar alasan ia di bawa, "Memang alasan yang di luar perkiraan," gumam bagus itu menggeleng.


"Memang nya dia siapa sih, Sir?" tanya Anna lagi yang mulai mengoceh pada pria itu karna kini Lucas semakin melunak pada nya.


"Pembuat design, dia juga bisa merancang software." jawab pria itu yang masih meladeni ocehan gadis remaja itu.


"Dia membuat anda sampai datang sendiri? Saya kira kalau jadi bos bisa duduk di kantor terus nyuruh bawahan nya." ucap Anna pada pria itu.


"Mungkin kau bisa pikir ulang pekerjaan bos itu seperti apa," jawab Lucas yang seakan mengatakan memiliki posisi yang lebih tinggi berarti memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi juga.

__ADS_1


"Kalau begitu saya mau jadi seperti dia nanti," ucap nya pada pria itu yang mengatakan cita-cita nya saat dewasa.


"Kenapa?" tanya Lucas heran.


"Iya! Karna dia bisa buat orang seperti anda datang langsung," jawab Anna dengan senyuman manis nya.


Pria itu membuang napas nya lirih dengan senyuman simpul nya saat mendengar ucapan yang bagi nya seperti impian anak kecil, atau ia memang melihat gadis itu seperti anak kecil?


"Maka nya belajar yang rajin," ucap Lucas sembari mengusap kepala gadis itu sekilas.


Anna memamgguk dan diam sejenak, mata biru nya kembali menoleh ke arah pepohonan yang mereka lewati.


"Sir?" panggil nya lagi.


Lucas tak menjawab namun ia masih mendengarkan gadis itu sembari membawa mobil nya.


"Boleh saya buka jendela?" tanya nya lirih sembari menoleh ke arah pria yang masih memegang stir itu.


Lucas melihat ke arah wajah gadis itu sekilas, "Ya, kau bisa melakukan nya." ucap nya pada gadis itu memberi persetujuan.


Anna tersenyum, ia menurunkan habis kaca jendela mobil mewah itu dan membiarkan udara yang segar menerpa wajah nya.


"Kalau biasa nya kita ga pernah dapat udara yang gini, iya kan Sir?" tanya nya sembari mengeluarkan wajah nya dari jendela.


Pria itu diam tak menjawab namun ia menoleh melihat ke arah gadis itu yang tampak senang menikmati udara segar.


"Kau tidak pernah berlibur ke tempat seperti ini?" tanya Lucas yang kali sudah memalingkan kembali wajah nya dan melihat ke arah jalan.


"Belum, saya tidak pernah liburan." jawab Anna menggeleng karna ia memang tak pernah berlibur.


Saya ia kecil dulu, ibu nya sedang berada di fase yang tak bisa membawa nya pergi ke mana mana sedangkan saat ia mulai beranjak remaja ia tau jika liburan membutuhkan biaya dan ia tak punya biaya yang bisa di keluarkan untuk kemewahan seperti itu.


"Kenapa?" tanya Lucas mengernyit.


"Saya tidak punya uang," jawab Anna tersenyum dengan mata yang indah seperti bulan sabit di malam yang cerah.


Pria itu terdiam, memang nya semiskin apa seseorang sampai tak memiliki biaya untuk memanjakan diri nya sendiri?


Mana mungkin pria yang sudah di lahirkan kaya semenjak lahir itu tau bagaimana sulit nya mencari uang jika waktu dan menit yang ia habiskan sambil tidur saja dapat memberi nya uang.


"Sekarang kau punya banyak uang," ucap Lucas pada gadis itu.


Kali ini gadis itu yang terdiam, senyuman nya perlahan turun walau sudut bibir nya masih naik.


"Tapi aku tidak punya kebebasan..." gumam nya lirih yang tak terdengar.


"Ya?" Lucas mengernyit sembari menoleh ke arah gadis itu sejenak saat ia merasa gadis itu mengatakan sesuatu.


"Kalau begitu saya boleh pergi kemana pun sekarang?" tanya Anna yang kembali dengan senyuman cerah nya menatap ke arah pria itu.


Lucas kembali melihat ke arah jalan, "Tidak." jawab nya singkat.


Anna tak bertanya ataupun mengatakan sesuatu lagi, jika dulu ia punya banyak kebebasan namun tak memiliki uang, sekarang sebalik nya.


Ia memiliki banyak uang yang di berikan oleh pria di samping nya sampai melarang nya untuk bekerja dalam bentuk apapun namun ia tak lagi memiliki kebebasan sekarang.


...


Mobil itu terparkir di rumah yang terlihat hanya terbuat dari kayu namun begitu mewah dan elegan di saat bersamaan.


Berdiri di tengah hutan yang luas dengan rumah yang nyaman dan begitu tenang.


Anna mengikuti langkah pria itu saat memasuki rumah tersebut.


Walaupun tampak sendiri di tengah hutan namun di dalam nya di isi dengan penjaga sekaligus pelayan yang bekerja dan tinggal di tempat terpisah.


Ia duduk di samping Lucas, mata nya melihat ke arah teh yang di suguhkan untuk nya, terlihat warna hijau yang tidak pekat dengan bunya kering yang tampak cantik serta memberikan aroma harum yang membuat hidung nya termanjakan.


"Sir?" panggil nya lirih sembari menarik lengan pria itu agar bisa bicara berbisik pada pria yang duduk di samping nya.


Saat telinga pria itu sudah berada di dekat nya, "Saya boleh minum teh nya juga?" tanya Anna berbisik pada pria itu.


Lucas menoleh melihat ke arah mata jernih yang bertanya itu.


"Boleh," jawab nya pada gadis itu.


Anna tersenyum, ia tak langsung meminum nya karna ia memang bertanya izin lebih dulu.


"Anda benar-benar datang?"


Suara bariton yang terdengar serak itu membuat kedua pasang mata itu langsung menoleh.


"Gorge, baru kali ini saya lihat pemimpin JNN mendatangi ku secara langsung." ucap nya sembari memberi jabatan tangan.


Lucas membalas jabatan tangan pria itu, "Lucas," ucap nya yang memperkenalkan diri nya juga.


Sedangkan mata biru itu memandang ke arah pria yang terlihat santai dengan hanya mengenakan kaus putih yang kontras dengan kulit nya yang berwarna Tan.


Wajah yang terlihat sudah keriput di makan usia, rambut yang memutih namun tubuh yang masih begitu segar dengan otot-otot yang menggembung di lengan nya dan dada bidang nya.


"Siapa anak ini?" tanya nya sembari memiringkan kepala nya melihat ke arah gadis yang berbinar menatap nya.


Anna sendiri memang suka dengan pria yang memiliki tubuh yang bagus dan di penuhi otot, maka nya ia dulu sempat kagum dengan pria yang menculik nya sebelum ia sadar jika ia di culik dan di jadikan tahanan.


"He's hot like you, Sir!" ucap Anna tanpa sadar pada pria yang berada di samping nya sembari mata yang memandang ke arah pria yang sudah berumur itu.


"Kau punya fetish dengan pria yang lebih tua?" tanya Lucas dengan suara berbisik pada gadis itu dan tampak tak suka dengan sikap gadis itu.


Bukan nya ia merasa malu membawa gadis itu namun ia merasa cemburu melihat gadis itu mengangumi sosok lain.


Mr. Gorge tersenyum, lesung pipi nya yang tertarik dengan kerutan yang tak melunturkan ketampanan nya.


"Anda juga cantik nona," ucap nya sembari melihat ke arah gadis yang tampak seperti anak-anak itu.


"Terimakasih," jawab Anna dengan senyuman yang tampak polos karna tak bisa membaca niat seseorang di balik senyuman nya.


Lucas diam dan mengernyit melihat nya, walaupun ia melihat pria itu tersenyum dengan wajah yang abstrak tak bisa di baca oleh kepala nya namun ia tau pria seperti itu akan menginginkan sesuatu.


"Bagaimana dengan tawaran yang sebelum nya, apa anda berminat?" tanya Lucas yang membuka pembicaraan.


Sedangkan Anna mulai memegang secangkir teh yang di suguhkan pada nya dan mulai meminum nya.


"Anda belum menjawab pertanyaan saya lebih dulu," jawab nya sembari melirik ke arah gadis yang berada di samping Lucas.


Lucas mengernyit dengan wajah nya yang datar mendengar pertanyaan pria itu.


"Siapa yang anda bawa itu," tanya Mr. Gorge kembali mengulang.

__ADS_1


Lucas melirik ke Anna yang tampak tak mendengarkan pembicaraan mereka dan memilih melihat bunga kering yang kembali mekar di teh nya.


"Dia pasangan saya, saya harap anda menurunkan ketertarikan anda." jawab nya yang mengisyaratkan agar pria itu tak lagi bertanya dengan gadis yang ia bawa.


Ia memang tak memiliki maksud apapun saat membawa Anna, ia hanya berpikir perjalanan nya akan lebih menyenangkan jika gadis itu ikut.


Mr. Gorge kembali tersenyum, mata nya melirik ke arah kaki yang mulus dengan kulit putih susu itu, sedangkan gadis yang mengenakan gaun sepanjang lutut berwarna abu-abu muda yang memiliki model V neck dengan lengan balon membuat nya tampak cantik.


"Anda ingin berjalan-jalan di sekitar rumah ini nona?" tanya nya pada gadis itu.


Lucas mengernyit mendengar nya, ia tak yakin apa kah keputusan yang ia ambil tepat atau tidak untuk membawa gadis itu bersama nya hari ini.


Anna langsung menoleh, ia menatap penuh semangat ke arah pria yang duduk di samping nya seperti memimta persetujuan.


Lucas membuang napas nya lirih, lagi pula tak mungkin ada yang bisa terjadi di rumah pribadi seperti itu dan juga sebagian pebisnis memang tak suka pembicaraan nya di dengar oleh orang asing apa lagi ia tau Mr. Gorge cukup memiliki privasi yang ketat maka dari itu memilih tinggal di tempat yang menyendiri.


"Ya, kau bisa keluar dan kembali ke sini dalam 10 menit lagi," ucap nya pada Anna.


Senyuman mengembang di wajah cantik itu mendengar ucapan pria yang mengatakan ia boleh melihat ke arah rumah yang sejak awal sudah sangat ia sukai itu.


Mr. Gorge melihat ke arah gadis yang pergi itu, lalu ia mulai menyeduh teh nya.


"Aku sudah baca semua nya, prospek nya bagus dan ide nya juga cukup menyegarkan." ucap Mr. Gorge pada pria itu.


"Anda memiliki keraguan lain?" tanya Lucas pada pria yang tengah menikmati minuman nya itu.


"Jika dapat bekerja sama di perusahaan yang besar seperti JNN tentu tidak ada keraguan lagi, tapi seperti nya anda juga tau jika saya sedang ingin pensiun kan?" tanya Mr. Gorge pada pria itu.


Lucas tau, namun untuk mendapatkan yang terbaik bagi proyek baru nya ia membutuhkan pria dengan keterampilan yang belum ada pengganti nya itu.


"Apa saya bisa mengajukan syarat lain?" tanya Mr. Gorge tersenyum.


Lucas mengernyit namun ia juga harus tetap mendengarkan syarat apa yang di ajukan pria itu.


"Nona yang Anda bawa tadi cukup cantik, boleh saya lebih mengenal nya?" tanya nya dengan senyuman penuh arti.


Ia juga tau setidak nya sisi gelap setengah penguasa seperti pria yang saat ini sedang datang pada nya.


"Saya sudah bilang hilangkan ketertarikan anda dengan dia," ucap Lucas yang mulai berubah.


Mr. Gorge hanya tersenyum, "Saya akan siapkan apa yang di minta dalam waktu satu bulan tapi sebagai pertukaran pembayaran depan saya ingin mengenal nona muda itu malam ini," ucap nya tersenyum.


Mata yang berwarna abu-abu gelap itu tampak semakin tajam saat mendengar nya.


"Apa menurut anda dia akan saya jadikan pertukaran bisnis?" tanya nya pada pria itu.


Senyuman yang terlihat di wajah pria yang sudah cukup berumur itu bahkan dapat di bilang sudah mencapai setengah abad lewat itu.


"Ayolah, bukan nya kita semua juga tau? Mereka di ciptakan untuk kepuasan orang-orang seperti kita?" tanya nya pada pria itu.


Lucas menarik napas nya dan mengatur rasa emosi yang meluap mendengar nya.


"Kalaupun dia di ciptakan untuk kepuasan seseorang, itu hanya kepuasan saya saja." ucap nya dengan bibir yang mulai tersenyum naik.


Mr. Gorge merasa akhir nya pria itu mengerti maksud nya, tanpa ia sadari jika pria itu yang tak pernah menunjukkan ekspresi nya itu kini tersenyum.


Dan tentu itu adalah senyuman maut yang tengah menahan luapan emosi yang akan meledak.


Mr. Gorge mulai berbicara, pembicaraan bisnis yang bercampur dengan pembicaraan yang lain juga.


Sementara itu.


Anna tampak menyukai tempat yang ia kunjungi saat ini, begitu asri dan membuat nya seperti dapat beristirahat dengan tenang.


"Ini bunga apa?" tanya nya pada kelopak ungu yang tampak memar dengan indah itu.


"Ini bung-"


Prang!


Kedua mata itu saling memandang ke arah sumber suara.


Pelayan wanita itu pun langsung berlari ke arah suara tak terkecuali gadis remaja itu yang mengikuti nya dari belakang.


"Akh!"


Suara teriakan pelayan wanita itu membuat, beberapa pengawal yang menjaga di rumah itu datang.


Anna tersentak, tangan pria itu tampak masih memegang teko keramik teh yang tadi di suguhkan untuk mereka dan kini sudah pecah .


Sedangkan pria yang tadi tersenyum ramah itu, tampak melihat ke arah Lucas dangan tatapan tajam beserta dengan kepala yang terluka.


"Kalau kau bersikap seperti ini aku akan menerima tawaran dari perusahaan rival mu," ucap Mr. Gorge pada Lucas.


"Silahkan, dan ku harap anda masih memiliki waktu untuk melakukan nya." ucap nya yang berbalik.


Greb!


Ia tak mengatakan apapun, dan hanya menarik tangan Anna keluar begitu saja.


"Kau akan menyesal! Ini kesalahan besar!"


Teriakan itu tak menghentikan langkah nya, ia hanya terus menarik tangan gadis itu dan membawa nya keluar.


Sedangkan Anna yang tak berani mengatakan apapun itu, hanya bisa meringis menahan sakit di tangan nya.


Bam!


Pintu mobil itu tertutup dengan kuat dan mulai melaju kembali dengan kencang.


......................


Mansion Damian.


Bruk!


Ukh!


Tubuh gadis itu terlempar ke sofa, leher nya yang kecil dan putih mulus itu tercekat dengan tangan yang besar.


"Kau juga tertarik dengan pria tua itu?" tanya nya dengan tatapan yang begitu tajam.


Entah apa yang sudah ia dengar dan apa yang membuat nya sampai begitu marah namun yang Anna tau saat ini sulit meredakan emosi pria itu.


Uhuk!


Anna tak bisa bernapas, pria itu mencekik nya dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Aku akan mengubur nya dan mencabut lidah nya, kau tidak akan melihat nya lagi." ucap pada gadis itu.


"Kau milik ku dan hanya untuk ku!" sambung nya sekali lagi dengan nada penekanan.


__ADS_2