
Dua Minggu kemudian.
Anna tersenyum, ia melihat ke arah wajah tampan putra nya yang kali ini sudah memakai tas sekolah dan penampilan yang rapi untuk segera berangkat ke sekolah.
"Mama ga antar Estelle?" tanya anak tampan itu pada sang ibu.
"Kenapa rupa nya? Estelle mau di temani Mama?" tanya Anna yang mengusap kepala mungil putra nya.
Satu anggukan tampak, ia melihat ke arah sang ibu dan berharap ibu nya bisa menuruti nya kali ini.
"Mama kan pakai gelang, gimana bisa keluar? Sama Paman aja ya?" tanya Anna yang mengusap wajah tampan putra nya.
"Gelang Mama ga bisa di potong aja? Estelle potongin pakai gunting," Ucap Estelle yang menatap ke arah sang ibu.
Anna tak menjawab, bagaimana putra nya bisa memotong tali rantai yang kuat?
Walaupun terlihat kecil dan tipis namun tetap saja di buat dari besi pilihan sehingga tak akan mengubah apapun.
"Mama nungguin Estelle pulang di sini, nanti ceritain sama Mama apa yang Estelle buat di sekolah ya?" tanya Anna yang mengusap kepala putra nya dengan lembut.
"Kalau gitu Mama ikut Estelle aja, di sini ga ada yang nemenin Mama." ucap nya yang menatap sang ibu dan mulai ragu untuk ke sekolah karna berpikir tak akan ada yang menemani ibu nya nanti.
"Mama kan bi-"
"Dia sakit, dan dia harus tetap di kamar. Kau tidak bisa mengerti bahasa?"
Estelle langsung menoleh, ia menatap ke arah pria yang baru keluar dari ruang ganti itu dan sudah berpakaian rapi.
"Mama kapan sembuh nya?" tanya Estelle dengan polos dan tentu percaya begitu saja dengan apa yang ia dengar.
"Mama sebentar lagi ba-"
Greb!
Lucas menarik tangan mungil itu, emosi nya selalu naik setiap kali ia mendengar pertanyaan polos putra nya tentang istri yang sangat ia cintai.
"Dia sakit, dia tidak akan sembuh dan di sini selama nya. Kau mengerti?" tanya Lucas yang penuh dengan nada penekanan dan intimidasi pada anak kecil itu.
Estelle diam tak menjawab apapun, sedangkan Anna langsung menarik putra nya dan memeluk nya dengan erat.
"Di.. Dia masih kecil, Kamu ga pergi kerja? Ka.. kalau cepat pergi kan cepat pulang..." ucap Anna lirih sembari memeluk putra nya dengan erat dan Estelle pun tak menolak sama sekali.
Lucas tak menjawab, ia menatap tajam ke arah tangan yang memeluk putra yang berasal dari darah daging nya itu.
"Lepaskan," ucap singkat yang tak suka jika Anna menunjukkan perhatian yang lebih pada sesuatu.
"Ya?" Anna menatap bingung
"Tangan mu, lepaskan dari anak itu." mungkin kekanakan karna ia cemburu dengan putra nya sendiri dan ia tau itu akan terjadi maka nya sejak awal ia tak menginginkan putra nya.
Anna tersentak, ia melepaskan nya secara perlahan dan menahan ke arah pria itu.
__ADS_1
"Kamu nanti bawa cake ya? Ki.. kita makan bareng," ucap Anna yang kembali berusaha tersenyum.
Estelle menatap ke arah sang ibu yang tetap tersenyum dan tentu ia tak tau apa itu nama nya senyuman palsu atau asli.
......................
Sekolah
Tempat yang baru dan suasana yang baru, semua anak-anak yang turun dari mobil di antar oleh orang tua nya, baik itu kedua nya atau hanya salah satu nya entah itu ayah atau ibu.
Sedangkan diri nya?
Tidak ada orang tua yang mengantar kecuali pengawal yang sudah merangkap menjadi supir dan pengasuh nya.
"Jangan tinggalkan ini dan hubungi saya kalau terjadi sesuatu." ucap sang pengawal.
Estelle hanya mengangguk, setelah memberikan nya jam tangan pintar pengawal yang ikut pada nya itu langsung kembali ke mobil.
"Mama sakit, maka ga bisa sama Estelle..." gumam nya lirih yang menatap ke arah sekolah baru nya.
"Ke sini," para pengajar untuk anak-anak kecil itu sudah menunggu di depan sekolah.
"Mama Papa nya mana?" tanya nya ke arah anak kecil yang berjalan sendiri tak seperti anak lain nya yang diantar sampai menemui para guru.
"Mama sakit..." ucap Estelle lirih yang menatap ke arah wanita yang menyambut nya karna sejak awal yang ia anggap orang tua hanya lah ibu nya saja.
Sang guru pun tak lagi bertanya saat melihat wajah yang sudah tampak sendu itu.
Perkenalan dan tak seperti anak lain yang berisik dan suka mengamuk namun hanya ada satu anak yang begitu pendiam.
Tak membuat berantakan dan tak merepotkan sama sekali, hanya duduk di satu tempat dengan satu mainan.
"Estelle? Main sama yang lain mau? Ikut Miss yuk?" ajak nya yang mendekat dan ingin membawa anak tampan dan menggemaskan itu.
Estelle menggeleng, ia tak bersemangat karena memikirkan ibu nya yang akan sendirian di kamar dengan gelang yang ingin ia lepaskan.
"Estelle kenapa? Mau cerita sama Miss?" tanya nya yang mendekati anak kecil itu dan duduk di dekat nya.
"Mama sendilian di kamal..." ucap nya lirih yang memang hanya teringat dengan ibu nya saja.
"Estelle kangen Mama?" tanya wanita itu sekali lagi.
Satu anggukan menjadi jawaban, anak kecil yang begitu pendiam tanpa ada rengekan dan drama.
Bahkan jika tak di ajak bicara mungkin orang lain akan mengira jika anak tampan itu bisu.
...
Bell pulang sekolah terdengar, anak-anak kecil itu di giring agar keluar sekolah dengan aman.
"Hum?" mata abu-abu itu menatap ke arah seseorang yang berbeda.
__ADS_1
Ia tak langsung mendekat dan malah meraih tangan guru nya dan itu memang respon alami yang selalu ia lakukan bahkan saat sedang bersama sang ibu.
"Kenapa lama? Ke sini," ucap Lucas yang menatap dengan alis nya yang mengernyit karna ia sebenarnya tak ingin menjemput putra nya itu.
Namun tawaran dari seseorang lebih menggiurkan dan ia bisa menyisihkan waktu lima menit nya.
Estelle tak menjawab melainkan tetap berdiri di tempat semula.
"Maaf? Anda siapa?" tanya wanita itu tentu merasa was-was.
"Aku? Ayah anak itu," jawab Lucas dengan malas dan wajah yang sama sekali tak menunjukkan kasih sayang sebagai ayah.
"Estelle? Dia Papa kamu?" tanya wanita yang berperan sebagai pengajar anak-anak yang menggemaskan itu.
Tak ada jawaban sama sekali karna Estelle memang masih berniat menunggu paman penjaga nya saja.
"Mama mu yang suruh aku jemput, cepat ke sini!" ucap Lucas yang semakin kesal dan menarik tangan mungil itu.
"Mama?" tanya Estelle yang bersuara saat mendengar nama ibu nya.
Namun di pendengaran telinga orang lain itu hanya mirip dengan modus penculikan.
"Lepaskan, tunjukkan bukti nya kalau dia anak anda!" ucap nya yang mulai was-was dan kembali menarik Estelle.
"Bukti apa? Aku harus tunjukkan proses anak itu ku buat?" tanya Lucas yang semakin kesal.
"Setidak nya anda punya foto kalau dia anak anda kan? Foto bersama!" ucap sang guru yang semakin menahan Estelle.
"Miss? Mau ketemu Mama..." ucap Estelle yang ingin melepaskan tangan guru nya.
"Kenapa aku harus punya foto anak ini? Ck!" Lucas berdecak karna semua foto yang ada di ponsel nya hanya berisi satu orang dan itu adalah gadis nya, sang istri kesayangan.
Lucas mulai kehilangan kesabaran nya dan membawa Estelle serta merebut nya secara paksa dan tentu tak ada penolakan atau teriakan dari anak kecil itu karna sejak awal sudah ada iming-iming Mama yang sangat ia sayangi.
Guru wanita itu pun semakin panik, ia seperti melihat penculikan anak di depan mata nya dan membuat nya langsung menelpon pihak berwajib.
"Wajah mirip juga banyak kok yang mirip!" ucap nya yang tak bisa percaya hanya dengan turunan wajah dengan genetik yang sama itu saat melihat sikap sang anak berbeda.
......................
Kantor Polisi.
"Sudah ku bilang aku ayah nya kan? Akan ku lepaskan kulit dari tubuh mu nanti!" ucap Lucas yang semakin geram.
Siapa yang tak marah, karna masalah itu ia jadi membuang waktu untuk menemui istri nya dan ingin segera mendapatkan 'Bayaran' karna sudah mengikuti kemauan gadis itu.
"Maaf tuan! Maafkan saya!" ucap wanita itu berulang kali menundukkan kepala nya.
Setelah ia membawa ke kantor polisi, ia pun terkejut saat tau siapa pria yang ia tuduh sebagai penculik.
Lucas tak menjawab dan berjalan cepat, sedangkan kaki kecil Estelle kesulitan mengimbangi langkah besar sang ayah namun ia dengan sekuat tenaga mengikuti agar tak di tinggal karna ia ingin bertemu ibu nya segara.
__ADS_1