Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Tidak bisa menerima


__ADS_3

Pagi menerjap, pria itu masih duduk di tempat yang sama dengan mata yang kosong dan wajah yang pucat.


Ia membersihkan semua darah yang menempel dan juga mengganti pakaian sang istri.


Malam yang panjang itu sudah berlalu, ia sudah kembali mengontrol diri nya hingga tak ada tangisan apapun lagi di wajah nya.


"Kau masih mengantuk? Ini sudah hampir siang," ucap nya lirih yang kemudian mengusap dan membelai wajah yang pucat dan membiru itu.


Tak ada jawaban sama sekali. Lucas pun kembali terdiam, tangan yang dingin dan kaku itu ia genggam dan kemudian menatap ke arah sang istri.


"Anna?"


"Kau bilang mau jalan-jalan dulu kan? Kita pergi jam tiga sore nanti, jadi sebelum itu kau bisa tidur lebih dulu kalau masih mengantuk." ucap Lucas sekali lagi.


Ia tau tak ada nadi yang hangat di tubuh istri nya, ia bahkan tau tak ada detak jantung sama sekali ketika ia berbalik dan pada akhirnya memilih untuk membawa wanita itu kembali masuk ke dalam kamar.


"Ann? Aku tidak tau apa yang ku rasakan sekarang, kau bilang mau mengajari ku banyak hal tentang perasaan kan? Lalu sekarang ini nama nya apa?"


"Rasa nya aneh, aku bukan merasa gelisah tapi aku tidak nyaman, aku..."


"Aku takut dengan besok akan jadi seperti apa dan..."

__ADS_1


Mata abu-abu itu menatap ke arah jam dinding yang telah rusak. Sebenarnya ia lebih suka jam digital yang tanpa suara detikan.


Namun karna rumah itu awal nya milik sang istri dan di tinggali untuk beberapa waktu tentu apa yang ada di dalam nya masih seperti yang sebelum nya.


"Rasa nya aku akan gila jika mendengar jam itu lagi," ucap Lucas lirih karna ia lah yang menghancurkan nya tadi malam.


"Dia seperti mencoba memberi tau ku tentang waktu yang aku tidak mau, perut ku juga rasa nya mual dan aku tidak bisa bernapas."


"Apa aku perlu konsultasi lagi? Mungkin terapi ku memburuk? Aku akan ke sana lagi Minggu depan."


"Kau akan menemani ku, kan?" tanya Lucas yang kali ini sedikit berbicara.


Ia seperti orang yang linglung, tak tau apa itu kesedihan dan tak bisa mengungkapkan atau mengekpresikan nya.


"Aku akan pesan makanan," ucap Lucas yang kemudian beranjak dan memesan makanan untuk nya dan sang istri yang tentu tak akan bisa memakan apapun lagi.


...


Suara guyuran air terdengar, bath up besar itu hanya di isi dengan satu orang saja dan seseorang yang lain memandikan nya.


"Bagaimana air nya? Kau suka?"

__ADS_1


Pria itu memandikan wanita yang masih terlihat cantik itu namun tentu seluruh tubuh nya telah membiru sebagai reaksi dari obat dan racun yang sudah ia minum itu.


Tak ada jawaban sama sekali, Lucas pun tak lagi bertanya dan hanya memandikan seperti nya biasa.


Ia menggendong tubuh sang istri setelah mengeringkan nya dengan handuk dan kemudian mendudukkan nya dengan kursi.


"Aku akan ambilkan pakaian untuk mu," ucap Lucas yang kemudian beranjak pergi dan ingin mengambil pakaian untuk sang istri karna kini wanita itu hanya di balut dengan mantel mandi.


Bruk!


Tubuh yang tak bernyawa itu tentu jatuh ketika tak ada yang memegang nya.


Lucas berbalik menatap ke arah sang istri yang tertidur di lantai dan ia pun dengan cepat langsung mendatangi nya.


"Sstt..."


"Kau jatuh? Tidak apa-apa?" tanya nya dengan suara yang gemetar karna ketika ia memeluk maka ia tau tak bisa merasakan detak jantung sang istri lagi.


"Anna?"


Panggil nya lirih dengan suara yang bergetar dan tubuh yang juga bergetar seperti tak bisa ia kendalikan.

__ADS_1


"Lantai nya dingin? Aku akan membawa mu ke ranjang saja," bisik Lucas dengan suara yang berat dan tercekat.


Ia tau namun ia tak bisa menerima nya, dan tanpa tau meluapkan apa itu kesedihan membuat nya semakin merasa menderita tanpa ia sadari jika ia sudah berada di level tertinggi dari perasaan kalut nya.


__ADS_2