Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Luka


__ADS_3

Nafas nya terasa akan habis, ia menatap ke arah pria yang tanpa ampun terus mencekik nya dengan wajah yang datar tanpa ekspresi yang menjelaskan apapun.


Telinga nya seperti mulai kehilangan pendengaran nya, tangan yang basah akan darah nya sendiri itu perlahan melemah.


"Si..sir..."


Air mata yang tetap meleleh itu menatap ke arah pria itu sebelum semua nya terasa begitu berat.


Deg!


Lucas tersentak, perlahan suara yang berbisik pada nya hilang, samar-samar lokasi dan suasana yang berada di sekeliling nya mulai dapat ia rasakan.


Mata biru yang menangis seperti kehilangan harapan nya sebelum sempat ia melepaskan nya.


Cahaya biru yang setidak nya tampak begitu jelas dan cerah itu membuat nya mengingat sesuatu yang menyadarkan nya.


"Anna?"


Ucap nya lirih yang menyebutkan nama gadis itu di bibir nya sekali lagi.


Tubuh kecil yang tampak putih pucat dengan tangan yang terus mengalirkan darah itu tak sadar sama sekali.


"Anna!" panggil nya lagi dan langsung menggendong tubuh kecil itu walaupun tubuh nya sendiri penuh dengan darah yang membuat nya terlihat kotor.


...


Pria itu melihat ke arah beberapa dokter yang berdiri melakukan operasi di pergelangan tangan gadis itu karna ia memang memutus nadi di pergelangan tangan yang kecil itu.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Diego pada pria yang sejak tadi terus terdiam.


Ia pun juga melihat operasi yang di lakukan di mansion mewah itu, tempat yang sama seperti saat mereka memasangkan chip di tubuh kecil itu.


Tak ada jawaban sama sekali dari Lucas, yang ada hanya tatapan yang tampak tak menjelaskan apapun namun tak bisa menyembunyikan kegusaran nya.


"Kau membunuh satu pengawal dan dua pelayan." ucap Diego pada sepupu nya itu.


"Aku mendengar nya lagi," ucap nya pada Diego yang mulai menjawab pertanyaan pria itu.


"Suara? Suara apa?" tanya nya yang langsung mengernyit.


Tak ada jawaban, pria itu hanya mengepalkan tangan nya.


"Halusinasi lagi?" tanya Diego yang menatap pria yang tampak tak bisa mengalihkan pandangan nya dari gadis yang hampir sekarat itu.


Lucas tak menjawab, dan memang benar jika semua korban nya saat ini mati dalam kondisi yang tidak biasa ia lakukan.


Biasa nya ia akan menguliti hingga habis namun kini?


Mati dengan wajah yang terbelah, leher yang akan putus, tangan dan kaki yang putus, serta usus yang keluar.

__ADS_1


"Kau mau aku jadwalkan pertemuan dengan dokter mu lagi? Ini memang belum waktu sampai pertemuan selanjut nya tapi ku rasa kita bisa menemui nya sekarang." ucap Diego pada sepupu nya itu.


"Anak itu akan baik-baik saja kan?" tanya Lucas lirih tanpa menjawab tawaran dari sepupu nya itu.


"Kau takut dia mati? Kalau menyukai nya setidaknya perlakukan dengan lebih baik." ucap nya pada pria itu.


Lucas tak menjawab, namun ia sudah memperlakukan gadis itu sebaik mungkin yang ia bisa.


Hanya saja kejadian malam ini adalah sesuatu yang berada di luar keinginan nya.


...


Pagi telah meninggi, mentari yang mulai naik menebarkan semua cahaya terang nya.


Sinar cerah itu bahkan kini sudah di ganti dengan terang nya senja yang membuat seluruh langit berwarna oranye seperti telur ikan.


Ia melihat ke arah gadis yang tampak lebih putih dari biasa nya dengan kata lain wajah yang lebih pucat karena mati hampir kehabisan darah dan napas.


Pandangan nya turun ke leher yang tampak memar kebiruan dan meninggalkan jejak tangan nya, kepala yang di balut perban karna ia membenturkan nya ke dinding dan tak lupa tangan yang hampir cacat itu karna ulah nya.


"Cumi? Bangun? Kau mau tidur seberapa lama lagi?" gumam nya sembari menyentuh wajah cantik itu dengan ujung jemari nya.


Ia sengaja tak ke perusahaan nya hari ini dan memilih untuk bekerja dari rumah saja agar dapat mengetahui kondisi gadis itu.


Tak masalah dengan orang-orang yang mati tadi malam namun ia sangat peduli dengan keadaan gadis remaja itu.


Kelopak mata bulat mulai bergetar, pria itu pun langsung menyadari nya dan melihat ke arah gadis itu.


Kelopak mata itu terbuka perlahan, pandangan yang samar memperlihatkan wajah seseorang yang hampir membunuh nya tadi malam.


Deg!


Anna lambung terlonjak kaget, ia langsung bangun dengan wajah yang tampak begitu terkejut.


"Ma..maaf..." ucap nya lirih yang seakan ketakutan setengah mati.


"Lihat aku," ucap Lucas sembari menarik tangan gadis itu dan memaksa mata biru itu untuk melihat ke arah nya.


"Sa..saya salah! Maaf..." air mata gadis itu meleleh, ia melihat dengan rasa takut yang teramat sangat.


"Kau tidak dengar aku? Ku bilang lihat aku!" sentak Lucas sekali lagi.


Anna tak bisa melihat nya, ia sangat sensitif dengan pukulan namun kemarin ia kembali mendapatkan nya lagi.


"Ma..."


"Anna salah..."


Tangan nya meraih tangan pria yang lebih besar dari nya itu, menatap dengan tatapan yang gemetar seperti melihat seseorang.

__ADS_1


"Ma? Kau pikir aku ibu mu? Hey? Ku bil-"


"Ukh!"


Gadis itu menutup wajah nya dengan lengan yang ia gunakan seperti sebuah perisai.


Suatu gambaran seseorang yang seperti berusaha melindungi diri nya dari pukulan seseorang.


"Anna salah..."


"Maaf..."


Tangis nya dengan tubuh yang gemetar, Lucas terdiam. Ia mengernyit dan menatap bingung.


Perlahan pria itu turun dari ranjang gadis itu berdiri sejenak melihat tubuh kecil yang gemetar dan menangis takut itu.


"Baik, istirahat lah lebih dulu," ucap nya yang mulai berbalik ingin pergi.


Anna langsung menoleh, ia melihat ke arah seseorang yang ingin meninggalkan nya sendirian.


Bruk!


Tubuh gadis itu langsung terjatuh dari ranjang nya.


Sedangkan Lucas berbalik dan melihat ke arah gadis yang terduduk jatuh di lantai itu.


"Ja..jangan pergi..."


Tangis nya yang melihat seperti tatapan anak kecil yang tak ingin di tinggalkan di rumah sendirian lagi.


"Kau bukan melihat ku saat ini," ucap nya sembari berjongkok dan menatap ke arah gadis itu.


Greb!


Pelukan yang terasa erat walaupun sebelum nya gadis itu terlihat begitu ketakutan.


"Ja..jangan pergi..."


"A..aku bisa kok..."


"Li..lindungi mama juga..."


Lucas mengernyit, sesuatu yang aneh.


Gadis yang ketakutan akan di pukul itu menyebutkan ibu nya dan bahkan saat ia memohon dan memeluk nya pun juga menyebutkan ibu nya.


Hubungan apa yang di miliki nya? Sampai ingin melindungi seseorang yang menyiksa nya dan memohon tak ingin di tinggalkan.


Gadis itu masih menangis dengan tubuh yang gemetar dan sembari mengatakan kata-kata yang aneh.

__ADS_1


Entah karna ingatan tentang masa kecil nya atau karna bius yang tersisa membuat nya melakukan sesuatu yang berada di luar sadar nya.


__ADS_2