Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Jangan menangis


__ADS_3

Gadis kecil itu turun dari bis nya dan berjalan ke rumah nya, tas ransel yang memiliki gantungan kunci serta membawa botol minum yang telah habis itu membuat nya menjadi ringan.


"Anna pulang!" ucap nya dengan mata dan senyuman yang ceria secerah mentari hari itu.


Namun yang gadis kecil itu tak tau adalah, mungkin ini adalah hari terakhir nya tersenyum tanpa beban seperti itu.


"Ma?"


"Mama?"


Tak ada sambutan untuk nya padahal sang ibu biasa nya mendatangi nya jika mendengar ia sudah pulang.


"Hiks..."


Gadis kecil yang masih berumur 10 tahun itu tersentak, kaki nya yang masih memakai kaus kaki sekolah nya pun berlari ke sumber suara.


"Mama!" panggil nya yang langsung mendekat ke arah sang ibu yang terduduk di lantai dan menangis tersedu.


"Mama kenapa?" tanya nya yang langsung memeluk sang ibu.


Wanita itu menengadah menatap ke arah putri cantik nya yang mewarisi wajah nya itu.


Ia memegang pipi bulat yang lembut dan seputih susu itu.


"Maaf, di ulang tahun kamu yang selanjutnya Papa bakal pulang yah? Kita nanti rayakan bert-"


"Papa terus! Memang nya Aku punya Papa?! Kalau punya mana? Mana dia?!" teriak nya yang langsung memotong.


Ia merasa bosan melihat sang ibu yang terus menunggu tanpa henti, berharap dan mengisi sesuatu yang bahkan terlihat enggan melihat ke arah nya.


Tak jarang sang ibu memukul nya untuk masalah sepele jika 'Ayah' yang ia miliki itu datang.


Apa yang anak kecil berumur 10 tahun tentang depresi? Tentang baby blues yang tak pernah di obati atau tentang stress yang berkepanjangan?


Plak!


Wanita itu memukul putri nya dengan keras sampai membuat nya tersungkur.


"Kamu diam! Memang nya kamu tau apa?! Kamu itu punya Papa! Dia akan pulang!" ucap nya yang kini sedang tak memiliki akal sehat nya yang jernih sehingga memukul putri yang sangat ia cintai lagi.


Gadis kecil itu memegang pipi nya, mata nya berair menatap dengan suara yang tercekat di tenggorokan nya.


Ia tak ingin lagi melihat sang ibu terus menerus seperti itu hanya untuk seseorang yang bahkan tak ia ingat karna tak pernah hadir untuk menghabiskan waktu dengan nya.


"Ma..."


"Sekarang itu kita! Cuma aku sama Mama! Ga ada yang lain!" tangis nya pada sang ibu yang kali ini tak diam seperti sebelum nya.


Akh!


Suara yang belum tumbuh dewasa itu teriak melengking saat rambut pirang kecoklatan nya itu di tarik.


Plak!


"Kamu itu ga tau apa-apa! Sekarang kamu tinggikan suara kamu?!" wanita itu merasa marah dan kesal.


Tak ada siapapun lagi tempat ia mengeluarkan beban di pikiran nya dan pada akhirnya melampiaskan amarah nya pada putri kecil nya.


Gadis kecil itu tak lagi bersuara, ia hanya melindungi diri nya dari pukulan sang ibu yang datang bertubi.


Setelah beberapa saat, tangan yang memukul nya berhenti, ia melihat wanita yang memukul nya tampak menangis.


"Ma..."


"Ka..kalau aku nanti udah besar, aku bakalan lindungi Mama, kita ga perlu Papa Ma..." tangis nya yang mencoba meraih sang ibu.


Deg!


Wanita itu tersentak, apa yang bisa ia dengarkan saat ia sudah mengalami guncangan mental selama bertahun-tahun?


"Papa kamu bakal kembali! Kamu dengar? Kita kelurga nya! Wanita itu cuma sesaat! Dia cuma buat Papa kamu lupa sebentar!" ucap nya yang masih belum bisa keluar dari siksaan batin yang di berikan oleh pria yang sayang ia cintai.


Gadis kecil itu tak lagi ingin mendengar, ia melepaskan tangan sang ibu dengan kuat dan bangun dengan wajah dah tubuh yang membiru di beberapa sisi akibat pukulan yang baru ia terima.


Tubuh nya gemetar, tangisan nya meleleh dengan mata biru yang menatap dengan berani.


"Terserah Mama! Aku mau pergi aja! Mama tunggu aja orang itu!" teriak nya protes pada sang ibu.


Kemana anak berumur 10 tahun bisa pergi?


Ya, gadis kecil itu paling hanya akan pergi ke sekitar halaman rumah nya dan kembali lagi saat lapar, namun ia mengatakan kata-kata pada orang yang salah.


Sang ibu tak memiliki mental yang sehat. Ya! Wanita itu sakit!


Bukan sakit fisik yang terlihat dan dengan mudah bisa di obati melainkan sakit yang berada di dalam jiwa tanpa di ketahui memiliki bom yang sangat berbahaya.


Dan putri nya masih terlalu dini untuk mengenal apa itu penyakit jiwa ataupun tau saat jiwa seseorang sedang terluka sangat parah.


Wanita itu tersentak, ia membatu melihat satu-satu nya orang yang bersama nya mengatakan akan meninggalkan nya juga.


"Ti..tidak..."


"Ja...jangan pergi..." tubuh nya gemetar ketakutan.


Mata nya kosong seperti tak mampu lagi menggunakan akal sehat nya.


Langkah nya beranjak menyusul sembari mengambil sesuatu di dapur untuk menghalangi putri nya pergi.


Tusk!


Ukh!


Tubuh gadis kecil itu langsung tersungkur ke lantai, ia langsung berbalik menatap sang ibu yang menancapkan pisau di punggung nya.


"Anak Mama..."

__ADS_1


"Anak Mama mau kemana? Mau kemana sayang?"


Gadis kecil itu merasa takut, sang ibu tak pernah memukuli nya dengan benda kecuali tangan langsung.


"Ma..mama..." tangis nya yang terdengar ketakutan dan mencoba bangun dengan tubuh yang berdarah-darah.


Gadis kecil itu berlari mengambil telpon rumah nya dan dengan cepat menelpon 911 seperti yang di ajarkan di sekolah.


"Halo? Ada yang bisa kami bantu?"


Suara yang tersambung membuat gadis kecil itu langsung berteriak.


"Tolong! Mama marah! Tolong! Mama pisau- Akh!"


Tak sempat ia mengatakan kalimat panik nya sang ibu sudah kembali menyusul dan menusuk punggung nya lagi.


Gadis kecil itu berusaha meloloskan diri, ia merangkak ke bawah meja dan tempat kecil yang tak terjangkau lain nya namun,


Arghh!!!


Suara teriakan terdengar nyaring keluar dari mulut gadis kecil itu.


Kaki nya di tarik dan kembali di tusuk dengan pisau itu, "Kamu mau ke mana nak? Mama di sini..." ucap nya dengan suara yang lembut namun menusuk punggung putri nya yang telungkup itu secara membabi buta.


"A..ampun Ma.."


"A..aku sa..salah..."


"A..aku.. na..nakal..."


Suara yang bergumam itu lagi bisa keluar, ia menyerah, tubuh nya terasa tak lagi bisa di gerakan.


Lidah nya kelu tak mampu mengatakan ampunan nya agar sang ibu mendengar.


Deg!


Klang!


Wanita itu tersentak sampai menjatuhkan pisau nya. Tangan, lantai, dinding, kaki sofa dan kaki meja terlihat penuh darah.


"Akh!" ia berteriak histeris melihat putri nya yang sudah bersimbah cairan merah kental itu dan tak lagi mampu bergerak.


"A..apa yang ku lakukan?!" kewarasan nya kembali ia merengkuh tubuh kecil putri nya yang bersimbah darah.


"Ma..maaf..."


"Maafin Mama..."


"Maaf sayang..."


Tangis nya yang merasa begitu menyesal, memang setiap kali ia selesai memukul putri nya ia akan sangat menyesal namun kali ini penyesalan nya seratus kali lipat.


"Maaf nak..." tangis nya lagi yang penuh dengan penyesalan sedangkan ia memeluk tubuh putri nya yang masih setengah sadar itu.


Wanita itu merasa benar-benar putus asa sekarang, tadi baru saja ia mendapatkan surat cerai dari suami nya karna ia tak memberikan izin untuk menikah dua kali dan sekarang ia membunuh putri nya sendiri?


Tangan nya kembali meletakkan di lantai yang penuh dengan darah itu, ia mengambil pisau nya lagi.


Sedangkan mata biru gadis itu masih belum terpejam, ia menatap sayu melihat sang ibu dan tak mampu mengatakan apapun dengan tubuh yang terasa kaku dan sakit yang luar biasa.


"Kamu pasti benci Mama..."


"Iya..."


"Kalau Mama ga ada kamu sama Papa kamu pasti bahagia kan?"


Mental wanita itu kembali tak sehat, ia mengusap kepala putri nya dengan lembut dan menunduk mencium kening nya.


"Bahagia selalu anak ku..."


"Mama mencintai mu..."


Bisik nya dengan perasaan yang penuh kasih namun dengan apresiasi yang salah akibat tekanan batin.


Gadis kecil itu tak membalas namun,


Tusk!


Mata biru yang sayu itu tampak melebarkan iris nya.


"Ma..mama..." tak ada suara yang terdengar dari bibir nya, tangan nya berusaha meraih namun tak sampai.


Air mata turun melewati wajah yang penuh darah, ia menyaksikan sendiri satu-satu nya ibu yang ia miliki menusuk leher nya dengan pisau berulang kali yang di gunakan untuk menikam nya.


Brak!


Pintu nya terdobrak, telpon nya belum mati dan membuat penyelamat bisa datang dengan cepat.


Gadis kecil itu menangis tanpa suara yang bahkan tak bisa mengatakan pada sang ibu untuk tak menyakiti diri nya, tanpa gerakan yang bisa ia raih untuk mencegah sang ibu bunuh diri.


Ia tak tahan lagi, perlahan mata nya terpejam dan itu adalah hari di mana ia menatap sang ibu.


Waktu yang akan menjadi penyesalan terbesar nya sekaligus rasa amarah dan juga rasa bersalah pada sang ibu.


Jika saja ia tetap mengiyakan semua yang di katakan ibu nya mungkin ini tak akan terjadi, mungkin mereka akan makan cake di luar seperti yang di janjikan sang ibu sebelum nya.


...


Dua Minggu kemudian.


Gadis itu terbangun, ia melihat ke arah ruangan yang tampak seperti rumah sakit itu.


Setelah terbangun gadis kecil itu mengalami truama berat dan mengalami afasia yang membuat nya kehilangan kemampuan bicara nya.


Satu Minggu setelah ia bangun, ia mendapatkan terapi psikiater, tak ada yang memberi tau tentang keadaan sang ibu yang sudah di makamkan dan tak ada siapapun yang mengunjungi sampai suatu saat seorang wanita datang menjenguk nya.

__ADS_1


"Ini! Ibu mu sudah mati dan ini pemakaman nya, datang kalau kau mau." ucap wanita itu tanpa menatap iba pada anak kecil yang tampak memiliki wajah cerah seperti anak seusia nya sembari memberikan secarik kertas berisikan alamat.


Gadis kecil itu tak menjawab, ia kehilangan ekspresi nya, sekaligus kehilangan kemampuan bicara nya akibat trauma.


"Pakai ini, kita akan keluar." ucap nya dengan nada ketus pada anak kecil yang menatap nya dengan datar.


...


Panti asuhan Maria Glory


Gadis kecil itu hanya diam dengan wajah yang datar saat ia di serahkan ke panti.


"Sekarang ini yang jadi rumah kamu, maaf..."


"Mama lakukan ini yang terbaik untuk kamu..." tangis nya yang pura-pura memeluk gadis kecil itu di hadapan ibu panti agar merasa iba.


Gadis kecil itu tak tau apapun, ia baru saja bangun dari hari menyeramkan nya, ia di tanyai dan kini ia di tinggalkan di tempat asing yang tak ia ketahui.


Tes...


Air mata mata nya jatuh tanpa suara, ia menangis dan masih bisa merasakan sedih namun ia tak bisa mengeluarkan suara nya sama sekali ataupun memberikan ekspresi menyedihkan nya seperti anak berumur 10 tahun lain nya.


Ibu panti itu tampak mengusap air mata nya dengan lembut dan membawa nya masuk.


Sedangkan gadis kecil itu menangis sembari menggenggam kuat kertas yang berisikan alamat sang ibu di makamkan.


......................


JNN grup


Pria yang baru saja memasangkan chip di telinga nya itu mendengar sesuatu.


Ia mengernyit namun ia yakin suara yang ia dengar adalah suara tangisan.


"Anak itu menangis?" gumam nya yang mendengar suara tangisan dari gadis kesayangan nya itu.


"Luc?" Diego memanggil pria yang tak menyahut nya sama sekali itu.


"Ya?" Lucas kembali menoleh, ia menatap ke arah seseorang yang memberikan nya map.


"Kau sudah temukan orang nya?" tanya nya pada pria itu.


"Ya," jawab Diego singkat.


Lucas pun membuka data yang berisikan ayah biologis gadis itu beserta dengan sang istri saat ini.


"Mereka tidak punya anak?" tanya nya yang bingung melihat tak ada keturunan ayah gadis nya itu dengan wanita yang di nikahi saat ini.


Diego diam sejenak, "Entahlah, aku juga belum mendapatkan sampai sejauh itu." jawab nya mengelak namun dengan wajah yang kukuh sehingga seperti dapat di percaya.


Lucas tak lagi bertanya dan ia kembali melihat riwayat pria yang menjadi ayah gadis nya.


"Mereka bekerja di perusahaan kendali kita?" tanya nya yang meletakkan data tersebut.


Walaupun bukan JNN grup namun perusahaan di mana pasangan suami istri bekerja memiliki saham JNN di dalam nya dan memiliki arti lain jika Lucas sendiri yang memegang saham terbesar di perusahaan itu namun ia bukan pemilik nya.


"Apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Diego pada pria itu.


"Entahlah, kalau cumi-cumi bilang terserah aku mau jadikan koleksi untuk mainan ku saat bosan." jawab Lucas santai.


"Sekarang kau mengikuti apa yang di ingin kan anak itu?" tanya Diego tersenyum lirih melihat pria yang menahan hasrat ingin membunuh itu sesuai dengan pemintaan gadis nya.


"Bukan menuruti, ini kan masalah keluarga nya." jawab Lucas yang tampak mengelak.


"Kau juga kenapa di sini terus? Sana kembali kerja!" ucap nya yang tak ingin pria itu menanyai nya lagi.


Diego tak mengatakan apapun, ia tak peduli jika siapapun akan mati namun ia merasa berat saat tau teman ranjang nya itu akan terancam.


......................


Sekolah.


Samantha mengikuti langkah teman nya, ia merasa bersalah akan tindakan sang ayah yang memukul teman nya saat tadi bertemu setelah perkumpulan orang tua siswa.


"A..Anna! Ma..maaf..." ucap Samantha yang terus meminta maaf pada teman nya yang terlihat diam saja itu.


"Bukan kamu yang salah," jawab Anna dengan datar dan membuat Samantha tau jika teman nya benar-benar marah.


Seluruh anak remaja itu mulai berkeluaran dari kelas dan tentu karna waktu pulang sudah datang.


Samantha mengikuti teman nya saat keluar, ia merasa tak enak dan tak nyaman serta merasa bersalah.


"Aku traktir ya! Maaf Ann..." ucap nya lagi yang terus meminta maaf akan kesalahan sang ayah yang memukul teman nya secara tiba-tiba.


Langkah Anna terhenti, bukan supir yang datang menjemput nya seperti biasa melainkan seseorang dengan penampilan yang menarik perhatian yang berdiri di samping mobil mewah terbatas itu.


"Aku harus balik sekarang Sam," ucap nya yang mendekat ke arah pria yang menunggu nya itu.


Lucas melihat ke arah gadis itu, ia bisa melihat sedikit saja perubahan warna dari kantung mata yang tampak sembab itu.


Tangan nya memegang wajah dengan pipi bulat yang cantik itu namun kini tampak memerah.


"Terjadi sesuatu?" tanya nya sembari menyentuh pipi gadis itu.


"Ada apa?" suara yang kembali terdengar menanyakan kondisi nya membuat nya kembali ingin menangis.


"Heuk! Hiks..." gadis itu menahan suara tangis nya namun tetap memungkinkan semua orang tau ia sedang menangis.


Lucas tersentak, padahal ia tak melalukan apapun namun gadis itu tiba-tiba menangis.


"Sst..."


"Jangan menangis, wajah mu jadi jelek dan ingus mu keluar..." ucap nya yang tak tau cara membuat seorang gadis berhenti menangis.


Anna yang mendengar nya semakin menjatuhkan air mata nya.

__ADS_1


"Kenapa makin nangis?" tanya pria itu lirih yang tak mengerti.


"Ayo, aku belikan makanan kapas mu lagi." ucap nya yang kini memilih menarik gadis itu ke dalam mobil dan membelikan permen kapas seperti kemarin lagi.


__ADS_2